
"Turunlah !" Perintah Leon lembut ketika mobilnya sudah sampai di depan mansion keluarga Aldric.
Tanpa berkata apa-apa, Arumi menuruti perintah Leon. Dia turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam mansion.
"Aru !" Panggil Leon melalui kaca jendela mobil yang sudah di turunkannya.
Arumi meski merasa enggan meladeni Leon malam ini tetap memaksakan diri untuk menatap pria itu kembali. Amarah masih jelas tersirat di sorot matanya.
"Ada apa ?" Tanyanya dingin.
"Apa kau masih marah ?" Lirih Leon.
"Entahlah !" Arumi membuang pandangannya ke arah lain. Mata itu kembali hendak melesakkan buliran kristal bening namun sebisa mungkin ia tahan. Dia tak ingin menunjukkan bahwa dirinya terlalu lemah untuk menampung cinta dan benci di lubuk hati yang sama untuk pria yang sama.
"Maafkan aku ! Maaf karena aku terlalu bodoh Aru ! Seharusnya aku tidak melakukan hal tercela seperti itu padamu." Ucap Leon penuh penyesalan.
"Pulanglah ! Kita akan membahas masalah ini lain kali. Ini sudah terlalu malam." Kata Arumi tanpa menghiraukan kata maaf yang di ungkapkan Leon.
Hati gadis itu masih terlalu sulit untuk menerima perlakuan Leon yang di rasanya sudah sangat keterlaluan padanya malam ini. Apapun masalah yang terjadi, tindakan Leon sama sekali tak bisa di benarkan Arumi begitu saja.
"Baiklah ! Aku akan pulang." Angguk Leon.
Arumi balas mengangguk dan kembali mengayunkan sepasang kakinya memasuki mansion keluarga Aldric. Sementara Leon sudah melajukan mobilnya menjauhi area mansion keluarga Aldric sesaat setelah Arumi menghilang di balik gerbang besar mansion itu.
* * *
Arumi mendudukkan tubuhnya dengan lemas di depan meja rias. Gadis itu sedikit bernapas lega karena ketika dia datang, Charlie dan kedua orang tuanya masih belum kembali. Setidaknya ia akan terbebas dari pertanyaan demi pertanyaan dari Aunty Bella dan Charlie jika melihat Arumi baru kembali ke mansion dengan di antar seseorang.
Arumi menyingkap sedikit baju piyama yang ia pakai. Gadis itu menghembuskan napas berat saat menemukan bercak merah keunguan yang di tinggalkan Leon di beberapa bagian leher dan tulang belikatnya. Gadis itu beralih menutup wajah dengan kedua tangan putihnya. Mengusap-usap wajah putih itu dengan kasar sebelum menabrakkan pandangan ke arah cermin di hadapannya.
Apa yang harus kulakukan Tuhan ?
__ADS_1
Arumi merasa bimbang akan keputusan yang akan dia ambil. Haruskah dia tetap keras kepala mempertahankan cinta tanpa restu dari orang tua pria yang di cintainya ? Sementara pria itu sudah mengaku bahwa dirinya terlalu lemah untuk memperjuangkan Arumi. Akan seperti apa akhir kisah percintaannya kali ini, Arumi hanya berharap semua akan baik-baik saja di akhir cerita.
* * *
"Tuan Muda !" Panggil Ronald dengan raut wajah terkejut.
Leon hanya terus melangkah memasuki mansion dan melempar kunci mobil yang baru saja dia pakai ke arah Ronald. Ronald menangkap kunci itu dengan reflek.
"Kenapa kau masih berdiri di sana ?" Tanya Leon pada Ronald. Pemuda berambut brunette itu menghentikan langkahnya di anak tangga ke empat saat akan kembali ke kamarnya.
"Apa maksud Tuan Muda ?" Tanya Ronald heran. Alisnya bahkan sudah saling bertautan akibat kerutan yang dia ciptakan di atas dahinya.
"Bukankah kau harus mengunci pintu kamarku lagi ?" Kata Leon tanpa rasa bersalah. Seolah perkara kaburnya dia dari mansion beberapa jam yang lalu bukanlah persoalan yang serius.
Dia tidak tahu saja bagaimana paniknya Ronald saat mencarinya tadi. Dan dengan santainya dia kembali seolah tak ada hal yang perlu di bahas lebih lanjut.
Ronald mendesah samar sebelum melangkahkan kakinya menyusul Leon yang sudah turut melangkah lagi menuju ke kamarnya. Sampai di kamar, Leon langsung masuk dan mempersilahkan Ronald menutup pintu dan menguncinya kembali dari luar melalui isyarat tangan.
"Tuan Muda !" Panggil Ronald saat Leon hendak melangkah menuju kamar mandi.
"Jangan melakukan hal seperti tadi lagi. Duke Xander benar-benar mengkhawatirkan anda." Kata Ronald.
Leon tertawa sinis menanggapi ucapan Ronald. Ayolah ! Mana percaya dia bahwa ayahnya yang dingin itu memiliki rasa khawatir terhadapnya. Bahkan secuil pun, Leon tak akan mempercayai mitos semacam itu.
"Jangan berkata hal omong kosong Ronald. Aku bukan bocah 5 tahun lagi yang bisa kau berikan kebohongan semacam itu."
"Saya bersungguh-sungguh Tuan Muda."
Leon kembali tersenyum tipis. "Simpan kebohonganmu untuk putra Duke Xander yang lain Ronald."
Selepas mengatakan hal itu, Leon sudah benar-benar masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Ronald yang hanya bisa menggeleng melihat kelakuan putra atasannya. Dia mulai menutup pintu kamar Leon dan menguncinya dari luar sesuai perintah dari Duke Xander.
__ADS_1
"Tuan Muda sudah kembali. Kalian juga kembalilah !" Kata Ronald pada pengawal yang dia utus untuk mencari keberadaan Leon melalui sambungan telepon.
"Tuan Muda sudah berada di mansion Duke !" Lapor Ronald pada Duke Xander.
"Ya. Awasi dia baik-baik. Jangan sampai tertipu olehnya lagi." Kata Duke Xander melalui sambungan telepon.
Pekerjaan yang penting masih menyita waktu Duke Xander di luar kota sehingga pria dingin itu tidak bisa kembali saat mendengar putranya kembali berulah. Meski tangannya begitu gatal untuk memberi pelajaran langsung pada Leon, hal itu harus dia tahan setidaknya hingga dua hari ke depan.
Suara ketukan pintu membuat Leon yang baru saja ingin terlelap kembali membuka mata. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang saat Ronald membuka pintu kamar dan membungkuk hormat padanya.
"Ada apa kau kemari ?" Tanya Leon.
Ronald tampak merasa tidak enak ingin mengutarakan maksud kedatangannya. Dia masih diam dengan tatapan mata menabrak lantai.
"Apa Daddy menginginkan sesuatu dariku lagi ?" Lanjut Leon menebak.
"Duke Xander ingin saya menyita ponsel anda Tuan Muda. Dan juga, masa hukuman anda akan Duke perpanjang hingga 10 hari ke depan." Ujar Ronald dengan perasaan ragu.
Leon menyisir rambutnya dengan jemari tangannya sambil tertawa sarkas. Kali ini Ayahnya benar-benar ingin melihatnya jauh lebih tersiksa.
Tak lama kemudian, Leon meraih ponsel di atas nakas dan mengulurkannya pada Ronald.
"Ini ! Ambillah !" Pinta Leon.
Ronald melangkah untuk mendekati Leon. Mengambil ponsel pemuda itu dari tangannya dan kembali berputar balik menuju pintu keluar.
"Selamat beristirahat Tuan Muda." Ronald membungkuk kembali sebelum menutup pintu.
"Sialan !" Leon melempar telepon rumah di atas nakas hingga membentur dinding sesaat setelah Ronald menutup pintu kamarnya.
Langkah Ronald yang belum terlalu jauh meninggalkan kamar Leon sontak terhenti. Ia kembali menoleh pada pintu kamar yang sudah dia kunci dengan rapat sambil menghela napas.
__ADS_1
Maafkan saya Tuan Muda ! Saya sama sekali tidak bisa membantu anda !
Selesai dengan gumaman kecil di dalam hatinya, Ronald lanjut menuruni tangga untuk kembali ke kamar tidurnya sendiri. Malam sudah semakin larut dan dia harus beristirahat yang cukup agar memiliki tenaga untuk kembali berdiri di tengah-tengah permasalahan ayah dan anak di dalam mansion besar ini esok hari.