
Mata Leon berkilat penuh amarah dengan tangan masih terkepal erat memandangi pria yang kini terduduk di lantai dengan hidung berdarah akibat ulahnya. Napasnya berderu cepat sehingga bahunya pun ikut naik turun seiring tarikan napas yang ia lakukan. Matanya kemudian beralih pada gadis di sampingnya yang masih tampak begitu syok karena kejadian barusan.
"Kau tidak apa-apa ?" Tanya Leon penuh kekhawatiran. Kedua tangannya menangkup pipi Arumi seraya mengelusnya pelan.
"Aku baik-baik saja." Jawab Arumi mengangguk. Ia masih memandang pada pria asing yang beberapa menit lalu memaksanya untuk keluar yang kini malah berakhir dengan hidung berdarah akibat ulah Leon.
"Jangan mengganggunya lagi, atau kau akan dapat masalah lebih besar daripada ini." Ucap Leon penuh ancaman.
Pria asing tadi bangkit berdiri sambil menyeka darah yang masih keluar dari hidungnya. Dia tertawa sarkas sambil menatap menantang pada Leon.
"Kau mengancamku ? Justru kaulah yang seharusnya takut karena aku akan melaporkan hal ini pada polisi."
"Polisi ?"
"Ya. Polisi."
"Leon. Bagaimana ini ?" Cicit Arumi khawatir. Dia mengcengkram lengan Leon karena takut.
Leon mengusap tangan Arumi yang berpegangan pada lengan kokohnya kemudian menampilkan senyum yang biasa ia berikan untuk gadis itu. Seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Dia kemudian beralih kembali menatap pria tadi. Terkekeh kecil begitu santai dengan tangan yang ia sembunyikan di balik saku mantel coklat yang dia pakai.
"Bukankah kau yang seharusnya di laporkan ke polisi karena sudah melakukan pemaksaan kepada kekasihku ?"
Arumi yang mendengarnya langsung terbelalak kaget. Pun dengan Grace, yang berdiri tak jauh dari mereka. Apa tadi Leon mendekatinya hanya demi membuat kekasihnya cemburu ? Br*ngsek sekali pria itu.
__ADS_1
"Lakukan saja. Aku tidak takut. Kita berdua sama-sama akan di tangkap, tetapi hanya kau yang akan berakhir di balik jeruji besi penjara." Pria asing itu menyeringai. Sudah merasa bahwa dirinyalah pemenang dalam perkara ini.
Orang-orang yang menyaksikan bahkan tidak ada yang berani ikut campur dan memilih menjadi penonton.
"Oh ya ?" Alis Leon terangkat.
"Ya. Asal kau tahu ! Ayahku adalah kepala polisi di wilayah ini. Dan semua orang di daerah ini, tidak pernah ada yang berani mencari masalah denganku."
Leon menghela napas panjang. Ia kemudian menarik tangan Arumi untuk keluar dari cafe itu. Tapi, sebelum dia membuka pintu keluar cafe, dirinya kembali berbalik dan berkata. " Laporkan saja. Jangan lupa, kirim surat penangkapannya ke kediaman Duke Xander Wellington. Aku yakin kau dan seluruh orang di kota ini sudah tahu dimana alamatnya." Terang Leon santai.
Tangannya bergerak membuka pintu. Namun, kembali dia berbalik lalu melanjutkan kalimatnya tadi. "Jangan lupa, katakan bahwa surat penangkapan itu untuk putra Duke Xander, Leon Wyatt Wellington. Tulis dengan besar-besar, agar ayahku bisa membacanya dengan jelas." Kekeh Leon sambil mengedipkan sebelah matanya.
Pria asing tadi hanya diam dan tidak berkata apa-apa. Dia kemudian menatap ke sekeliling sebelum bergegas keluar dari Cafe itu, tak berselang lama setelah Leon dan Arumi sudah tak terlihat lagi. Dia sudah tahu benar ke arah mana kasus ini. Biarkan saja, seperti angin yang berlalu atau justru malah ayahnya lah yang akan kena masalah jika dia berani melaporkan putra tunggal Duke Xander. Dia cukup tahu diri untuk tidak berurusan dengan orang berkuasa macam mereka atau justru dirinyalah yang akan hancur sendiri.
"Leon ! Lepaskan !" Pekik Arumi kesakitan saat Leon terus saja menyeretnya sambil berjalan terburu-buru.
"Ku bilang, lepaskan aku Leon !" Arumi masih saja meronta dan memukul tangan Leon yang mengcengkram tangannya kuat.
"Leon !"
Akhirnya pria itu melepaskan pegangannya dengan begitu kasar hingga Arumi terhuyung ke depan. Mereka sudah tiba di sebuah tempat, di pinggir sungai dengan bangku-bangku yang terlihat berderet di sepanjang jalan. Leon meninju besi pembatas sungai itu dengan marah.
"Leon, apa yang kau lakukan ?" Pekik Arumi sambil berusaha menghalangi tindakan bodoh Leon yang akan menyakiti dirinya sendiri.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan ?" Teriak Leon masih sangat emosi.
__ADS_1
Arumi bahkan tidak menyangka perubahan emosi setenang air yang tadi Leon tampilkan di Cafe itu, bisa berubah sedrastis ini hanya dalam hitungan detik.
"Aku berusaha menghentikanmu." Jawab Arumi balas berteriak. Ia tidak tega melihat buku jari pria itu yang kini sudah mulai tampak memerah karena lecet.
"Bukan sekarang, Aru ! Maksudku tadi. Apa yang kau lakukan, ha ?" Sekali lagi Leon membentak Arumi.
"Apa kau tidak tahu bahwa tindakanmu itu berbahaya ? Kenapa kau membiarkan pria asing duduk denganmu dengan mudahnya ? Kau ingin membuatku cemburu ? Kau pikir itu hal yang lucu ? Bagaimana jika aku marah dan malah meninggalkanmu ? Apa kau bisa membayangkan apa yang akan pria itu lakukan terhadapmu ? Jawab Aru !" Lanjut Leon masih dalam keadaan di kuasai emosi. Dirinya bahkan tidak tahu kenapa dirinya bisa semarah ini. Namun yang pasti, dia tidak rela jika lelaki lain menyentuh gadis asia yang sangat ingin dia miliki.
"Kau yang memulainya, Leon !" Ujar Arumi balas membentak. Air matanya sudah lolos karena amarah tak berdasar Leon padanya.
"Aku ?"
"Ya. Kau. Bukankah kau sendiri yang meninggalkanku dan memilih duduk bersama Grace ? Lalu, jika kau bisa duduk bersama wanita asing, kenapa aku tidak bisa melakukannya dengan pria asing juga ? Lagipula, mana aku tahu kalau dia akan memaksaku pergi seperti tadi." Ujar Arumi terisak.
Gadis itu kemudian berbalik membelakangi Leon sambil berusaha menyeka air matanya. Biar bagaimana pun, Arumi tidak rela jika Leon menyalahkan dirinya dalam hal ini begitu saja.
Leon mendesah samar seraya menyusun kembali tatanan emosinya yang sempat kacau. Baru kali ini dia lepas kendali dan meluapkan emosi dengan begitu gamblang seumur hidupnya. Untuk ukuran pemuda yang harus tumbuh di bawah tekanan dan aturan ketat dari ayahnya, Leon sejak dulu tidak pernah berhak melayangkan protes apalagi amarah seperti yang dia lakukan sekarang.
Seumur hidup Leon, dia hanya selalu memendam segala hal yang ingin dia luapkan dan memilih bungkam. Namun hari ini, untuk pertama kalinya Leon keluar dari kotak yang selama ini sudah membatasinya. Dia tahu, bahwa hanya Arumilah yang bisa membuatnya benar-benar nyaman untuk meluapkan apapun yang selama ini tidak bisa dia lakukan.
"Maafkan aku ! Aku yang salah !" Ucap Leon lembut. Tangannya melingkar pada pinggang ramping Arumi dari belakang dengan kepala yang bersandar pada bahu gadis di hadapannya.
"Jangan menangis, Aru ! Ku mohon !" Lirihnya memohon.
"Kau memarahiku !" Jawab Arumi terisak. Tangannya berusaha melepas pelukan pria itu. Namun, yang terjadi justru pelukan pria itu semakin mengerat seiring kepalanya yang semakin tenggelam di ceruk leher Arumi.
__ADS_1
"Aku cemburu, Aru ! Tolong jangan lakukan hal itu lagi di depanku."
Pukulan Arumi kian melemah dan akhirnya terhenti. Ucapan lirih Leon yang terdengar begitu sungguh-sungguh membuat hati Arumi seakan kembali goyah. Apa yang di miliki pria ini sehingga Arumi merasa berdebar-debar ketika dia mengatakan bahwa dirinya cemburu ? Atau apakah memang Arumi, yang terlalu mudah jatuh cinta ?