
"Leon, berhenti sebentar." Ujar Arumi seraya mengerem langkahnya.
"Ada apa ?" Tanya Leon bingung. Langkahnya ikut terhenti dengan paksa ketika Arumi menahan tangannya.
"Aku mau itu." Tunjuk Arumi pada sebuah stan yang menjual aneka ice cream berbagai rasa.
"Baiklah, ayo kita beli." Sahut Leon seraya mengacak rambut Arumi. Dirinya benar-benar gemas pada tingkah Arumi yang begitu mirip anak kecil sejak memasuki tempat ini.
Sejak tadi, gadis itu selalu ingin mampir membeli apapun yang di anggapnya lucu. Mulai dari bando dengan telinga mirip minnie mouse yang menyala, gantungan kunci, kaos bergambar, dan sekarang dia juga membeli ice cream yang berbentuk mickey mouse.
"Kenapa kau tidak beli juga ?" Tanya Arumi sambil memperhatikan bentuk ice cream yang dia pesan.
"Kalau aku mau, nanti aku bisa meminta punyamu."
"Tidak boleh." Sahut Arumi cepat. Reflek, gadis itu segera menjauhkan ice creamnya dari jangkauan Leon.
"Astaga, Aru ! Aku tidak akan merebut punyamu jika kau tidak mau berbagi." Ujar Leon terkekeh.
"Benarkah ?"
"Sungguh." Jawab Leon menyakinkan.
Beberapa detik kemudian, Leon kembali di buat bertanya-tanya oleh tingkah aneh Arumi. Gadis itu hanya diam sembari memperhatikan ice cream miliknya tanpa niat memakan. Padahal, ice cream itu sudah hampir meleleh karena hanya di diamkan begitu saja oleh sang pemilik.
"Kenapa tidak di makan ?"
"Sayang. Bentuknya terlalu cantik."
Leon menepuk dahinya tanpa sadar. Astaga ! Apa Arumi sedang bercanda, atau gadis ini memang begitu teramat polos. Dia tidak ingin memakan ice creamnya hanya karena terlalu sayang melihat bentuknya ? Ayolah ! Leon bahkan hampir sakit perut karena tertawa.
"Kenapa kau tertawa ?"
__ADS_1
"Aru, jika kau tidak memakan ice creammu sekarang, maka dia hanya akan meleleh percuma. Lebih baik habiskan saja sekarang." Saran Leon.
"Tapi..." Mata Arumi menatap kasihan pada ice cream yang di pegangnya.
"Makan saja. Ice cream itu di buat memang untuk di makan, bukan untuk di perhatikan."
"Leon !" Desis Arumi marah. Pria itu selalu saja mengolok Aru tanpa perasaan sedikit pun.
* * *
"Kau tidak ingin masuk ke dalam ?" Ucap Arumi menawarkan sesaat setelah Leon mengantarnya sampai di depan gerbang mansion milik keluarga Aldric.
"Tidak usah. Ini sudah malam, tidak baik jika aku bertamu di jam selarut ini."
Arumi kemudian mengangguk membenarkan kata-kata Leon. Pria itu benar. Sekarang sudah larut dan Leon memang lebih baik cepat pulang sebelum keluarga Aldric ada yang menyadari keberadaannya.
"Kalau begitu, terima kasih sekali lagi. Tadi benar-benar menyenangkan." Ucap gadis itu tulus.
"Jangan berterima kasih dulu, Aru ! Karena besok, acara kencan kita masih akan berlanjut." Seringai Leon penuh dengan rencana tersembunyi.
"Ya. Masih tersisa empat hari kencan lagi, dan pada hari terakhir nanti, aku ingin kau menjawab perasaanku saat di pulau Moorea dulu."
"Leon..."
"Jangan menolak, Aru ! Biarkan 4 hari ke depan memberimu waktu untuk berpikir. Aku tahu bahwa kau pasti berpikir aku hanya sekedar bergurau denganmu, tapi percayalah. Aku benar sungguh-sungguh. Aku menyukaimu, Aru. Sangat."
Manik mata Leon menyiratkan kesungguhan yang bisa Arumi temukan di dalam sana. Hingga mulut gadis itu hanya bisa bungkam dan tak bisa berkomentar apa-apa lagi. Bukan Leon yang tidak memiliki kesempatan untuk bersamanya. Namun, dirinyalah yang sesungguhnya tidak memiliki kesempatan bersama pria sesempurna Leon.
Tampan, ramah, suka tersenyum, kaya , anak orang terpandang, dan keturunan bangsawan. Pria itu adalah satu paket lengkap yang mewakili lebih dari sekedar kata sempurna. Pria itu adalah anugerah. Anugerah untuk wanita yang beruntung, namun sayangnya sudah pasti bukan Arumi.
Gadis itu cukup tahu diri. Apa yang dia miliki agar di nilai sepadan dengan Leon ? Bodoh, lemah, tidak di anggap, gampang di manfaatkan, dan berstatus sebagai janda. Bagian mana dari dirinya yang pantas menerima cinta dari lelaki sesempurna Leon ? Bahkan, di dalam mimpi pun rasanya begitu sangat mustahil.
Tanpa sadar, setetes kristal bening lolos dari matanya. Dan dengan segera, pria yang sempat dia lamunkan bergerak mengusap cairan bening itu dari wajah cantik Arumi dengan ibu jarinya. Leon menumpukan dahinya dengan dahi Arumi sembari memejamkan mata.
__ADS_1
"Jangan takut pada cintaku, Aru ! Aku berjanji akan memberikanmu kebahagiaan yang tidak pernah kau rasakan dari mantan suamimu. Tolong, percayalah padaku." Lirih Leon penuh kelembutan.
Dan pada akhirnya, jebol sudah tanggul yang Arumi sengaja buat untuk membendung luapan perasaannya pada Leon. Kalimat Leon barusan sukses memporak-porandakan hati Arumi sehingga gadis itu terhanyut dan larut dalam janji manis yang Leon ucapkan.
Tangis gadis itu justru semakin deras. Baru kali ini dia merasa di anggap berarti dan di perlakukan tulus oleh orang lain selain Charlie dan kedua orang tuanya. Bahkan, Irgi saat bersama dirinya dulu pun, tidak pernah memperlakukan Arumi seberharga ini seperti yang Leon lakukan.
Dan, Leon yang juga sama-sama terhanyut dalam pesona dan kerapuhan Arumi, benar-benar melupakan satu fakta penting. Janji yang dia sebutkan tadi, mustahil untuk dia tepati. Dirinya lupa, bahwa dia sudah memiliki ikatan pertunangan dengan gadis yang di pilihkan ayahnya sejak kecil.
* * *
"Hei, Aru ! Darimana saja kau ?" Tanya Charlie yang hampir membuat jantung Arumi melompat keluar.
Baru saja dia menyalakan lampu kamar yang semula mati, namun yang di jumpainya pertama kali adalah Charlie yang duduk di atas ranjang tanpa bersuara sejak tadi.
"Char, kau benar-benar ingin membunuhku ?" Desis Arumi lalu mengambil bantal dan melemparnya ke arah Charlie.
Dengan mudah, Charlie menangkap bantal yang Arumi lemparkan dan justru semakin mempertajam pandangannya pada Arumi yang tampak sedang berbunga-bunga.
"Jujur, Aru ! Kau darimana dan bersama siapa ?"
"Tidak ada. Aku hanya dari butik. Tidak kemana-mana."
"Sudah ku bilang, jangan bohong." Geram Charlie setengah kesal.
"Aku lembur , Char. Kau tahukan, kalau aku sedang sibuk mengerjakan gaun pengantin milik salah satu pengunjung VVIP di butik ?"
"Benarkah ? Kau tidak bohong ?" Tanya Charlie ragu. Jujur, dirinya setengah percaya pada Arumi. Gadis tomboy itu merasa masuk akal dengan jawaban Arumi, namun juga merasa ada yang janggal jika menilik dari ekspresi wajah Arumi. Sejak kapan, orang lembur bekerja terlihat senang ketika pulang ke rumah ?
"Tentu saja."
"Baiklah. Tapi, lain kali jika lembur lagi, telepon ke rumah. Daddy dan Mommy sejak tadi mengkhawatirkanmu tahu."
"Iya. Maaf, Char !" Seru gadis itu menyesal. Saking asyiknya tadi bermain, dia lupa mengabari orang rumah bahwa dia akan terlambat pulang. Jadi, wajar jika Charlie nampak gusar dan sengaja menunggunya hingga dia pulang.
__ADS_1
Keluarga Aldric tahu bahwa Arumi hanya tahu jalan antara mansion ke butik Nyonya Nastya. Selebihnya, gadis itu tidak hapal jalan ke mana pun lagi. Mengapa ? Karena Arumi memang tidak pernah keluar-keluar dan hanya akan pergi jika ada yang mengajak. Sementara, Charlie jika siang hari susah untuk di ajak pergi karena gadis tomboy itu harus kuliah. Dan kadang, jadwalnya bisa sampai malam.