Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#50


__ADS_3

Pertemuan dengan Zack siang tadi sedikit membawa angin segar untuk menenangkan kegundahan Arumi. Setidaknya dia tahu bahwa Leon baik-baik saja meski tidak melihatnya langsung.


Usai minum kopi bersama Zack, Arumi dan pemuda itu akhirnya berpisah. Arumi memutuskan untuk pulang lebih dulu meski Zack sudah berulangkali menawarkan diri untuk memberi Arumi tumpangan.


Tetapi Arumi karena sudah di traktir minum kopi merasa sungkan terhadap Zack. Dia merasa tidak enak jika harus menerima kebaikan dari Zack lagi. Terlebih, Arumi tidak bisa memberi apa-apa selain rasa ucapan terima kasih yang benar-benar tulus.


"Kau sudah pulang ?" Tegur Charles yang kebetulan hari ini sedang cuti kerja. Pria paruh baya itu sedikit bingung ketika memandang jamnya sendiri. Apa jamnya salah atau Arumi yang memang pulangnya terlalu cepat.


"Sudah Uncle." Arumi tersenyum.


"Kau pulang siang. Tumben sekali ?" Kata Charles dengan tatapan heran.


"Aru sedang tidak enak badan Uncle. Jadi, Nyonya Nastya mengizinkan Aru untuk pulang lebih cepat hari ini."


"Kau sakit ? Apa perlu Uncle panggilan dokter untuk memeriksa keadaanmu ?" Ucap Charles khawatir.


Arumi tersenyum kecil sebelum menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Uncle. Aru hanya sedikit kelelahan. Istirahat sebentar pasti juga akan sembuh."


"Kau yakin ?"


"Iya Uncle."


"Baiklah ! Naik ke kamarmu untuk beristirahat. Uncle akan meminta pelayan untuk membawakanmu teh herbal ke atas kamar." Ucap Charles.


"Terima kasih Uncle." Kata Arumi tulus. Keluarga Aldric memang benar-benar sangat baik padanya. Entah dengan cara apa Arumi harus membalas kebaikan mereka suatu saat.


* * *


Tok tok tok !


Suara ketukan pintu terdengar pelan dari arah luar. Arumi yang sedang menyaksikan pertunjukan Paris Fashion Week yang di selenggarakan 3 bulan lalu melalui laptopnya segera beranjak membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Char ?" Sapa Arumi.


Charlie tersenyum tipis sebelum memasuki kamar Arumi. Mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur di ikuti Arumi seusai menutup pintu kembali.


"Kata Daddy kau sedang sakit. Sakit apa ?" Tanya Charlie sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Arumi.


"Tidak panas."Sambungnya sambil menurunkan tangannya.


"Aku hanya kelelahan saja Char ! Bukan sakit yang serius." Ujar Arumi menanggapi.


Charlie mendesah samar kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kedua lengannya dia letakkan di belakang sebagai bantalan kepala.


"Apa karena Leon lagi ?"


"Bukan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Leon Char." Jawab Arumi mencoba berbohong.


"Sudah berulangkali ku katakan bahwa kau tidak bisa berbohong padaku Aru !" Kata Charlie mengingatkan.


Arumi menurut. Dia melakukan apa yang di perintahkan Charlie. Berbaring di sisi sahabat baiknya sambil menatap langit-langit kamar yang sedang menampakkan bayangan Leon yang sedang tersenyum dan melambai padanya di atas sana.


"Ada apa Aru ? Ceritakan padaku !"


Arumi tanpa ragu lagi menceritakan kejadian malam ketika Leon hampir saja melakukan hal yang tidak baik terhadapnya. Dia juga bercerita tentang menghilangnya Leon selama satu minggu belakangan semenjak kejadian malam itu. Tak ketinggalan, cerita tentang cinta mereka yang terhalang restu Ayah Leon turut di kisahkan Arumi dengan jujur dan apa adanya. Tidak di kurangi, tidak juga di lebih-lebihkan.


Charlie beberapa kali sempat menyela dan mengumpat marah terutama pada bagian ketika Arumi menceritakan bahwa dirinya hampir saja di paksa Leon melakukan hubungan terlarang itu. Beruntung, Arumi bisa menenangkan sahabatnya untuk tidak meledak.


"Lalu, keputusan apa yang ingin kau ambil Aru ? Apa tetap bertahan atau memilih menyerah ?" Tanya Charlie selepas Arumi menamatkan ceritanya.


"Entahlah Char ! Aku juga masih bingung. Aku sangat ingin berjuang bersama Leon meski aku merasa takut. Aku ingin tetap di sampingnya meski aku tahu bahwa suatu saat aku pasti akan terluka karena Ayahnya. Menurutmu, jalan mana yang harus aku tempuh ?"


Charlie berpikir sejenak. Menimbang baik-baik perkara yang menyebabkan kegamangan di hati sahabat baiknya itu.

__ADS_1


"Jadi kau ingin tetap berjuang demi hubungan kalian ?" Charlie menoleh. Menatap lamat-lamat wajah sendu Arumi yang berbaring tepat di sampingnya.


"Apa aku mengatakan seperti itu ?" Arumi turut menoleh hingga pandangannya kini bertabrakan dengan tatapan Charlie.


"Ya. Kau mengatakan seperti itu Aru." Jawab Charlie sambil menggenggam tangan Arumi.


Keduanya saling melempar senyum tulus ke arah masing-masing. Senyum yan cukup mengalirkan semangat dan rasa percaya diri terutama untuk Arumi yang memang sangat memerlukannya.


* * *


Tiga hari berikutnya masih berjalan terlalu lambat untuk Arumi. Entah kenapa, setiap kali dia meminta waktu bergerak lebih cepat, dirinya justru merasakan bahwa waktu berjalan sebaliknya. Semakin lambat sehingga Arumi rasanya ingin berteriak karena tak kuasa menahan rindu.


Arumi benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Jujur, dia pernah mencintai seseorang di masa lalu. Menyayangi seorang pria hingga rela bertahan selama dua tahun meski hanya selalu tersakiti setiap harinya. Namun, yang Arumi tak habis pikir adalah kenapa dulu dia tidak merasakan perasaan seperti ini saat tidak bisa bertemu dengan Irgi lagi ? Sebuah perasaan tersiksa yang Arumi tak bisa jabarkan dengan kata-kata demi menguraikan betapa sakitnya dia. Apa ini yang di namakan dengan cinta setengah mati ?


"Kau sudah datang ? Kenapa tidak mengambil cuti sehari lagi ?" Tanya Nyonya Nastya saat melihat Arumi sedang berada di ruang jahit bersama beberapa pegawai yang lain.


"Saya sudah merasa lebih baik Nyonya. Lagi pula, ada klien yang hari ini akan melakukan pengukuran untuk jas pengantin."


"Baiklah ! Terserah kau saja. J?Tapi ingat, jika merasa lelah, lebih baik kau beristirahat. Kalian juga !" Ucap Nyonya Nastya pada karyawan yang lainnya juga.


Matahari semakin tinggi seiring dentang jam yang berbunyi di sudut ruang kerja Arumi. Salah seorang rekan kerjanya masuk memberitahu bahwa klien yang ia tunggu sudah datang. Dengan antusias Arumi berdiri dan cepat-cepat menyusul rekannya itu menemui salah satu klien penting yang akan melakukan pengukuran hari ini.


Langkah Arumi berhenti beberapa meter dari sepasang pria dan wanita yang tampak mesra di hadapannya. Gadis Asia itu sedikit terpundur. Tidak percaya sama sekali dengan sosok yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.


Mata pria yang awalnya belum menangkap sosok Arumi yang berdiri tak jauh darinya itu masih asyik menyaksikan pertunjukan kriket yang di tayangkan lewat televisi yang memang terpasang di tengah ruangan. Tak lama kemudian, pria itu baru menyadari keberadaan Arumi ketika rekan Arumi melaporkan bahwa desainer yang bertanggung jawab pada jas pengantinnya sudah tiba.


"Di mana dia ?" Tanya pria itu.


"Dia di sana." Jawab rekan Arumi sambil menunjuk padanya.


Mengikuti arah telunjuk salah satu pegawai butik itu, pria tersebut juga tak kalah kaget saat melihat siapa yang di tunjuk pegawai itu. Seseorang yang sangat dia kenal.

__ADS_1


"Aru ?"


__ADS_2