
Dua bulan sudah Arumi bekerja di butik milik nyonya Nastya. Gadis itu merasa sangat senang dengan pekerjaan yang sekarang ia geluti karena benar-benar membuat dia bisa bebas berekspresi. Banyak ide yang sudah tertuang ke dalam kertas putih dari otak briliannya yang selama ini sudah bertumpuk dan tak pernah mendapat penyalur.
Arumi bahkan sudah seperti maniak kerja ketika bahkan di mansion keluarga Aldric pun, ia tetap betah menggambar dan hanya akan berhenti jika dia ketiduran sendiri. Tak ada yang mau memprotes gadis itu. Baik Charlie dan kedua orang tuanya hanya pasrah dan membiarkan Arumi melakukan apa yang dia inginkan.
Gadis itu sudah seperti burung yang baru terbebas dari sangkar emas yang mengurung bakatnya. Dan keluarga Aldric tentu tidak ingin merecoki kesenangan hidup yang baru Arumi temukan dengan terlalu ikut campur dalam urusan pekerjaannya.
"Aru ! coba lihat ini ! Apa menurutmu kain ini cocok dengan desain baru kita ?" Rose, rekan kerja Arumi yang bekerja sebagai penjahit menunjukkan contoh kain yang akan mereka pakai untuk baju keluaran musim dingin yang akan mereka luncurkan.
Arumi meraba kain yang di sodorkan Rose. Dahi gadis itu terlihat agak mengkerut dan sesaat kemudian ia berkata. "Ini masih terlalu tipis, Rose. Cari kain yang lebih hangat dan tebal lagi."
Rose mengangguk dan berlalu kembali ke belakang. Sementara Arumi masih sibuk memasang beberapa jarum peniti pada sebuah gaun pengantin pesanan seorang nona muda yang sekitar tiga bulan lagi akan menikah.
Meski terbilang begitu cepat memesan gaun pengantin, namun waktu yang di berikan memang nyatanya sepadan dengan permintaan nona muda itu yang ingin setiap detail gaunnya terbuat dari jahitan tangan. Tentu itu bukan hal mudah dan butuh tenaga ekstra, mengingat memasang satu per satu detail kecil di gaun itu bukanlah hal yang mudah.
"Aru, bagaimana dengan yang ini ?" Rose kembali dengan membawa kain yang baru.
"Itu kashmir ?" Tanya Arumi.
"Ya."
"Baiklah ! Itu lebih cocok. Gunakan itu saja." Arumi tersenyum pada Rose yang di balas anggukan oleh perempuan berambut golden blonde itu.
Pukul 5 sore, Arumi mengenakan jaketnya dan bersiap untuk pulang. Dia berpamitan pada beberapa karyawan lain yang masih memiliki pekerjaan dan bergegas keluar dan menapaki jalan untuk menikmati udara sore sebentar.
Gadis itu tiba di jalan yang tampak begitu ramai dengan orang yang berlalu lalang. Mungkin di depan ada festival atau semacamnya yang membuat orang-orang berkerumun sebanyak ini.
Penasaran, Aru segera menyibak kerumunan untuk maju ke depan. Dan benar dugaannya. Sedang ada karnaval yang menampilkan banyak orang dengan kostum menarik yang di iringi musik berjalan menyusuri sepanjang jalan. Gadis itu langsung tertawa senang, saat seorang badut tiba-tiba saja menghampirinya dan memberi bunga yang entah bagaimana tiba-tiba saja muncul dari telapak tangannya.
__ADS_1
"Aru !" Bisikan di telinga gadis itu membuyarkan kesenangan sesaat Arumi. Ia berbalik dan mencari kemana-mana. Tidak ada orang dengan suara yang ia kenal itu di antara kerumunan.
"Apa kau sudah melupakan aku, Aru ?" Suara itu lagi-lagi berbisik di telinga gadis itu. Hingga lagi-lagi dia berputar, mencari ke sana-sini di mana pemilik suara itu berada.
"Kau mencariku ?" Teriak seorang pemuda dari belakang Arumi.
Gadis itu membeku sesaat di tempatnya berdiri. Perlahan namun pasti, dia membalikkan lagi tubuhnya dan melihat seorang pria yang tengah berdiri sekitar dua meter darinya dengan wajah yang belum bisa dia lihat dengan jelas karena kerumunan orang yang ramai berlalu lalang.
Lama kelamaan, langkah pria itu terlihat semakin mendekat. Dan ketika wajah itu kini tinggal berjarak 5 langkah dari tempatnya berdiri, Arumi kembali berbalik badan. Berlari secepat mungkin agar terhindar dari pemuda yang sudah sempat ia lupakan.
Tiba di pinggir jalan yang agak jauh dari tempat karnaval berlangsung, tangan Arumi bergerak menghentikan sebuah taksi dan segera membuka pintu untuk masuk. Namun, belum sempat tubuhnya merengsek ke dalam taksi, pria tadi sudah lebih dulu memeluk tubuh Arumi dari belakang dan mengangkatnya kembali ke atas trotoar.
"Maaf, sir ! Tidak jadi." Leon tersenyum pada sopir taksi itu dan menyuruhnya pergi. Tangannya menggenggam erat tangan gadis asia yang sudah setengah mati dia cari selama ini dan baru dia temukan sekarang.
"Apa-apaan kau ?" Bentak gadis itu marah sambil menyentak tangannya yang di genggam erat oleh Leon.
"Kau tidak merindukanku sama sekali, Aru ?" Tanya Leon dengan senyumnya.
"Tidak." Jelas Arumi berpaling.
Pria tampan di hadapannya tampak meringis. "Sayang sekali. Berarti hanya aku saja yang merindukanmu setengah mati selama ini dan kau tidak. Hatiku sakit mendengarnya, Aru !" Ujar Leon sambil memegang dadanya.
Arumi yang melihatnya hanya mendengus sebal seraya berjalan cepat meninggalkan pria menyebalkan yang tiba-tiba saja muncul tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Aru ! Kau mau kemana ?" Leon menarik tangan Arumi yang langsung di sentak kembali oleh gadis itu.
"Bukan urusanmu, Leon." Dengusnya galak seraya tetap berjalan cepat tanpa arah.
__ADS_1
"Hei, kenapa kau semarah ini padaku ? Apa aku berbuat salah ? "
Leon sebisa mungkin menyetarakan langkahnya dengan Arumi.
"Jangan berbicara denganku, Leon ! Sudah kubilang, aku tidak memiliki urusan apa-apa lagi denganmu."
"Arumi ! Berhentilah sebentar. Ayo kita bicara !" Leon kembali berusaha meraih tangan gadis asia itu. Namun, penolakan lagi-lagi menjadi hadiah yang pahit untuknya.
"Maafkan aku karena sudah meninggalkan kau sendiri di Moorea, Aru ! Maaf karena aku tidak memenuhi janjiku." Teriak Leon yang sempat berhenti mengikuti langkah kaki Arumi lagi.
Rahang pria itu mengetat seiring deru napasnya yang terasa semakin cepat. Sungguh ! Dia benar-benar hampir gila karena merindukan gadis yang saat ini sedang berjalan menjauh memunggunginya.
Tak lama, langkah gadis itu berhenti sesaat sebelum kalimat Leon keluar sepenuhnya dari mulut pria itu. Ia kembali berbalik dan berjalan cepat menuju Leon. Sebuah tamparan berisi kekecewaan mendarat telak pada pipi pria yang sudah sempat memberikan harapan palsu selama dia di Moorea.
"Apa tujuanmu muncul kembali, ha ? Ingin mempermainkan aku lagi ?" Arumi menyeringai. Menahan air mata yang sudah menganak sungai untuk tidak tumpah ruah hanya demi menangisi pria menyebalkan seperti Leon.
Leon memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Arumi. Pria itu menatap sayu pada gadis yang setengah mati sangat sulit untuk ia lupakan.
"Apa kau sudah tidak marah lagi ?"
"Apa maksudmu ?" Alis Arumi terangkat heran.
"Apa dengan menamparku bisa membuat rasa bencimu berkurang padaku ?"
"Tidak." Kilatan amarah pada manik hitam milik gadis itu benar-benar menyayat Leon bagaikan tajamnya pisau. Leon menelan ludahnya kasar dan tertunduk sejenak untuk berpikir. Dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada Arumi tentang sikap sang ayah sekaligus acara pertunangannya yang sudah berlangsung sejak sebulan setengah yang lalu. Dia tidak ingin kehilangan gadis asia ini lagi.
Leon meraih tangan Arumi. Menempelkannya pada pipinya yang tadi di tampar oleh gadis itu. "Kalau begitu, lakukan lagi. Lakukan sampai kau tidak marah lagi padaku."
__ADS_1