
"Untuk Uncle !" Zack menyerahkan satu gelas kopi yang ia pegang kepada Duke Xander. Pria yang sedang duduk di kursi tunggu itu menerima kopi yang di berikan Zack setelah menatap lama ke arah pemuda itu terlebih dulu. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat menatap wajah Zack tadi.
"Duduklah !" Duke Xander menepuk bangku kosong di sebelahnya.
Zack mengangguk dan duduk dengan agak sedikit canggung di dekat Ayah kandungnya. Ini pertama kali bagi Zack bisa duduk sejajar dan sedekat ini bersama sang Ayah. Rasanya terlalu asing untuk Zack jabarkan.
"Terima kasih karena kau sudah memenuhi janjimu untuk selalu menjaga Leon !" ucap Duke Xander tanpa menoleh sedikit pun ke arah Zack. Lehernya seperti terkunci rapat sehingga tak bisa bergoyang kemana pun.
Pemuda di sampingnya langsung menengok menatap wajah sang Ayah yang masih tetap mengarahkan pandangannya ke arah depan. Ada rasa tidak percaya di dalam diri Zack ketika mendengar ucapan terima kasih itu dari mulut Duke Xander. Ayah yang bahkan tidak pernah ingin menatapnya berlama-lama selama ini.
Meski terdengar datar dan dingin seperti biasa, Zack bisa merasakan ketulusan di dalam kalimat yang baru saja Duke Xander lontarkan. Rasa bahagia langsung memenuhi rongga dada Zack hingga ia hanya bisa menunduk dan menahan desakan air mata yang meminta keluar karena perasaan haru.
"Nyatanya aku tetap gagal, Uncle ! Aku tetap tidak bisa mencegah hal seburuk ini terjadi pada Leon. Maafkan aku !" lirih Zack.
Duke Xander menoleh sekilas pada Zack yang tertunduk menatap pada lantai rumah sakit yang berwarna putih sebelum kembali menancapkan pandangannya ke arah depan lagi. Pria dingin itu menghela napas lemah. Merasakan sesuatu yang mulai mencair di dalam hatinya yang membeku. Ia mulai berpikir. Apa semua ini benar salahnya ? Apa semua yang ia lakukan selama ini memang bukan hal yang tepat ?
Pada akhirnya Duke Xander hanya terduduk diam. Ia tak tahu cara menghibur Zack karena sejatinya dia memang tak pernah melakukan hal seperti itu pada siapa pun. Hanya tangan Duke Xander saja yang bergerak menepuk-nepuk bahu Zack. Membuat pemuda itu lagi-lagi merasa tak percaya bahwa orang yang sedang melakukan hal tersebut benar-benar adalah ayah kandungnya.
* * *
Waktu sudah berlalu selama 12 jam. Pemuda berambut brunette yang terbaring pasca operasi itu mulai perlahan membuka matanya. Hal pertama yang menyambutnya tentu saja ruangan yang terasa asing baginya. Tatapan nanar pemuda itu sudah tahu dan bahkan sudah mengerti di mana dia sekarang tanpa perlu bertanya kepada siapa pun.
__ADS_1
Pandangan Leon yang kosong hanya menatap pada sinar mentari yang menerobos masuk ke dalam ruang VVIP tempatnya di rawat. Rasa kecewa itu hadir tanpa ia minta. Kecewa karena mengapa Tuhan masih membiarkannya hidup ketika dirinya sudah menyerah untuk melakukan itu. Untuk apa hidup jika bernapas dari detik ke detik berikutnya saja terasa begitu susah untuk ia lakukan ?
Semua yang menjadi sumber kehidupan baginya sudah musnah. Mulai dari sang ibu hingga Arumi. Semuanya pergi tanpa pamit terlebih dahulu. Semuanya pergi tanpa memeluk dan mengatakan kalimat yang bisa membuat Leon tetap bertahan. Semuanya pergi ketika Leon masih membutuhkan mereka sebagai alasannya untuk bersyukur dari hari ke hari.
"Leon ! Kau sudah sadar ?" Zack yang baru saja datang segera menghampiri Leon.
Melihat mata adiknya terbuka sayu, Zack segera keluar dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Leon. Dia sendiri sedang menunggu di luar sambil memberitahu kabar tersebut kepada Duke Xander dan Frederick lewat panggilan telepon.
"Kondisi pasien sudah stabil. Tidak ada lagi yang perlu di cemaskan," kata dokter yang bertanggung jawab menangani keadaan Leon.
"Terima kasih, Dokter !" ucap Zack seraya membungkukkan badannya.
Dokter itu mengangguk sambil tersenyum. Setelah menepuk bahu Zack sebentar, ia pamit untuk memeriksa keadaan pasien yang lain. Zack lalu masuk kembali ke ruang rawat Leon. Menggeser sebuah kursi ke dekat ranjang Leon dan duduk di sana dengan ekspresi wajah senang, haru dan khawatir yang bercampur jadi satu.
"Kenapa ?" tanya Leon lemah.
"Tentu saja karena kami semua menyayangimu," jawab Zack tersenyum.
"Kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja, Zack ?"
Senyum di wajah Zack mendadak surut. Ternyata maksud pertanyaan Leon tadi berbeda dengan maksud yang ia pikirkan.
__ADS_1
"Apa-apaan bicaramu itu ? Mana mungkin aku melakukan hal segila itu ? Membiarkanmu mati ? Kau pikir aku akan tega berbuat begitu padamu ?"
Leon membisu dalam kepedihan yang kian merongrong jiwanya. Pada kenyataannya, Leon memang pria yang terlalu lemah jika berhadapan dengan urusan cinta. Terkurung selama puluhan tahun dengan rantai peraturan yang selalu di pegang oleh Duke Xander mau tak mau melemahkan jiwa pemuda itu tanpa pernah ia minta. Membangkang dengan kekerasan tak pernah berhasil meluluhkan dinding es yang selama ini memenjarakan hati ayahnya. Ia berpikir, bahwa mata hati Duke Xander mungkin memang sudah terlanjur buta untuk melihat mana yang sebenarnya putranya inginkan.
* * *
Sekitar dua jam kemudian, Duke Xander baru tiba di rumah sakit. Dia pun bergegas menuju ke ruang rawat Leon dengan langkahnya yang terayun tak sabaran. Tiba di sana, dia pun segera membuka pintu dan menjumpai Zack sedang tertidur di sofa.
Ia kemudian melangkah pelan menghampiri Leon yang sepertinya juga sudah kembali terlelap.
"Uncle sudah datang ?" suara serak khas bangun tidur Zack menyapa indra pendengaran Duke Xander.
Pria itu menoleh sebentar seraya mengangguk. Setelahnya, dia kembali fokus pada Leon yang masih tertidur. Jemarinya pun bergerak menyentuh tangan sang putra. Mengelusnya dengan lembut sambil memperhatikan wajah pucat pemuda itu.
"Bagaimana keadaannya ?" tanya Duke Xander pada Zack.
Zack berdiri dan menghampiri Duke Xander. Bergabung menatap lekat pada wajah Leon yang kian terlihat cekung dari hari ke hari. Tubuhnya mulai kehilangan berat badan sejak kepergian Arumi. Hal itu kian menambah perih di hati Zack saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Leon runtuh secara perlahan.
"Kata dokter kondisinya sudah mulai stabil. Tapi, masih perlu pengawasan pada luka bekas operasinya selama beberapa hari ke depan," jawab Zack menjelaskan.
"Di mana Uncle Fred ?"
__ADS_1
"Belum datang. Beliau bilang masih ada urusan yang harus di selesaikannya," jawab Zack berterus terang.
"Urusan apa yang di miliki Frederick hingga harus menunda menemui Leon ? Apa orang tak bertanggung jawab itu punya rencana untuk menggagalkan rencanaku lagi ?