Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#31


__ADS_3

"Apa yang bisa saya lakukan untuk anda, Tuan Irgi ?" Tanya seorang pria dengan setelan jas berwarna abu-abu yang tengah duduk di hadapan Irgi.


"Aku ingin kau menyelidiki apa yang terjadi di hari pernikahanku, Danu. Apa benar Beverly, istriku yang sekarang di culik oleh Arumi atau tidak."


Danu menyeringai tipis mendengar permintaan Irgi. Tangannya lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jasnya lalu menawarkan pada pria bermata sipit itu.


"Anda mau ?" Tanya Danu dengan tangan kanan yang menyodorkan rokoknya pada Irgi.


Irgi menggeleng. "Kau saja. Aku tidak merokok." Tolak pria itu.


Danu terkekeh kecil lalu menarik kembali kotak rokok yang dia tawarkan untuk Irgi. Mengambil isinya sebatang, lalu menempatkan di antara sela bibirnya dan menyalakan pemantik api. Sekali hisapan panjang, asap putih mengepul sesaat setelah Danu menghembuskannya ke udara.


"Kejadian itu sudah lama sekali, Tuan Irgi. Kenapa anda baru ingin mencari tahu sekarang ? Lagipula, apa bedanya jika cerita itu benar atau tidak ? Bukankah yang anda cintai pada akhirnya tetap Nona Beverly ?"


"Pokoknya cari tahu saja, Danu. Kalau bisa kabarkan hasilnya secepat mungkin." Ucap Irgi yang merasa tertohok dengan pernyataan Danu.


Pria itu sepertinya sedang menancapkan sindiran secara tidak langsung atas kebodohan Irgi yang melepas gadis sebaik Arumi hanya karena cinta butanya yang bodoh terhadap Beverly.


Danu mengangkat sebelah alisnya sembari memicing memperhatikan gerak-gerik Irgi. Bisa Danu tebak bahwa Irgi tampaknya tidak memperoleh kebahagiaan sama sekali setelah pernikahannya yang kedua.


"Sepertinya ini akan sulit, Tuan. Anda tahu sendiri bahwa kejadian itu sudah berlangsung sekitar dua tahun lebih. Akan sulit melacak orang-orang yang berkaitan dalam peristiwa itu di saat sekarang."


"Lakukan saja, Danu. Masalah uang, berapapun yang kau butuhkan, akan ku sediakan. Asalkan, kau bisa menjamin bahwa kau akan mendapatkan apapun yang aku inginkan."


"Baiklah ! Kita sepakat." Danu mengulurkan tangannya pada Irgi sebagai tanda jadinya kerja sama mereka.


Irgi menjabat tangan Danu singkat lalu melepasnya lagi. " Ingat, Danu ! Dapatkan secepat mungkin." Ucap Irgi menekankan.


"Tentu saja, Tuan Irgi. Asal ada uang, tidak ada yang tidak bisa anda dapatkan." Sahut Danu santai seraya menghisap kembali rokoknya.


* * *


"Kau darimana saja, Irgi ? Aku meneleponmu sudah berkali-kali sejak tadi. Kenapa kau tidak pernah sekali pun mengangkat ponselmu ?" Cecar Beverly yang kini mengikuti langkah Irgi masuk ke dalam kamar mereka.

__ADS_1


"Aku sibuk, Lily. Apa kau tidak mengerti ?" Sahut Irgi jengah. Pria itu bergerak melepaskan dasi dan dua kancing kemeja teratasnya karena merasa semakin tercekik akibat perdebatannya dengan Beverly yang hampir terjadi setiap hari.


"Tidak. Aku tidak mengerti, Irgi. Justru kau yang harusnya mengerti aku. Kau tahu kan, bahwa aku sedang mengandung ?"


"Lalu ? Apa maumu, Lily ?" Tanya Irgi geram. Di usapnya wajahnya dengan kasar menggunakan kedua tangan.


"Aku ingin uang." Ucap perempuan itu singkat. Tangan kanannya terulur ke depan. Menengadah meminta apa yang di ucapkannya barusan terhadap suaminya.


"Bukankah aku sudah mentransfer uang bulananmu, Lily ? Ini baru beberapa hari, tidak mungkin sudah habis, bukan ?" Irgi berbalik memunggungi Beverly. Demi apapun, kesabaran Irgi menghadapi Beverly yang hanya peduli pada uang dan uang benar-benar sudah habis.


"Memang sudah habis." Sahut Beverly santai. Posisinya bergeser dan berpindah ke depan Irgi yang semula membelakanginya.


"Kau gunakan untuk apa saja uang sebanyak itu ?"


"Tentu saja Shopping dan perawatan, sayang." Ujar Beverly tersenyum sembari mengalungkan kedua tangannya pada leher kokoh suaminya.


"Shopping, shopping dan shopping. Apa pekerjaanmu hanya itu-itu saja, Lily ?" Bentak Irgi dengan tangan yang melepaskan rangkulan Beverly di lehernya. Sungguh ! Rayuan semacam itu tidak mempan lagi terhadapnya.


"Kau itu kenapa ? Kenapa sekarang kau tiba-tiba marah begini, hah ? Bukankah sebelum menikah aku sudah bilang bahwa kebutuhanku banyak ?"


* * *


Mobil Irgi melesat cepat membelah jalanan kota. Tujuannya adalah sebuah rumah besar sekitar 30 menit jaraknya dengan berkendara dari tempat tinggalnya. Rumah Devan, sahabat baik Irgi sejak kecil.


"Jadi, kau bertengkar lagi dengan Beverly ?" Tanya Devan dengan tangan yang menuangkan sebotol wine ke dalam gelas yang sudah terlebih dulu di letakkannya di hadapan Irgi.


Kedua pria itu kini sedang berada di sebuah bar mini yang terletak di lantai 3 rumah mewah Devan.


"Jika sudah tahu, tidak usah bertanya." Cebik Irgi. Di raihnya gelas berisi wine yang baru saja di berikan Devan. Menyesap cairan berwarna merah di dalam gelas itu dan menaruhnya kembali.


Devan terkekeh dan beranjak duduk di sebelah Irgi setelah dia menuang minuman untuk dirinya sendiri.


"Memangnya, kali ini apa lagi masalahnya ?"

__ADS_1


"Biasa. Uang lagi." Jawab Irgi singkat. Pandangannya lurus ke depan, tertuju pada koleksi minuman beralkohol mahal yang terpajang indah di lemari bartender di hadapannya.


"Kenapa kau tidak menuruti keinginannya saja ? Bukankah itu yang selalu kau lakukan sejak dulu ?"


"Dulu dan sekarang itu berbeda, Devan. Sekarang dia itu istriku. Harusnya dia bisa lebih pintar mengatur keuangan keluarga dan menghemat uang. Apalagi, dia sedang hamil. Tentu biaya untuk bayi kelak juga tidak sedikit."


Devan terdiam beberapa detik sebelum meledakkan tawanya. Membuat alis Irgi tiba-tiba berkerut heran.


"Apanya yang lucu ?" Desis Irgi tersinggung.


"Tidak ada." Jawab Devan usai meredam tawanya. " Aku hanya bingung saja terhadapmu. Dulu, saat kau bersama Arumi kau terus mengeluh karena masih tidak bisa melupakan Beverly. Tapi, sekarang ? Setelah kau mendapatkan Beverly, kau malah tidak menyukai gaya hidup perempuan itu. Bukankah Beverly memang sejak dulu sifatnya memang tidak pernah berubah ?"


"Benarkah ?" Irgi bertanya ragu. Apa benar Beverly sejak dulu memang sudah matre ? Tapi, kenapa Irgi baru menyadarinya sekarang ?


"Tentu saja. Sikap Beverly tidak pernah berubah. Beverly yang dulu dan yang sekarang tetap sama."


"Memangnya, Beverly itu bagaimana menurutmu ?" Tanya Irgi penasaran. Sungguh ! Dia ingin tahu apakah selama ini dia sudah bersikap bodoh karena di butakan cinta sehingga tidak bisa melihat kebenaran bahwa Beverly bukanlah wanita yang baik untuknya ?


"Matre, suka bertindak sesukanya, egois, dan...." Devan terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.


"Dan ?"


"Selalu memperlakukanmu seperti seorang budak." Devan tersenyum tidak enak saat mengungkapkan kalimat terakhir. Takut jika sahabatnya itu tersinggung.


Irgi tampak tertegun memikirkan kata-kata Devan. Apa benar dia terlihat seperti budak Beverly di mata orang-orang ?


"Lalu, bagaimana dengan Arumi ? Apa yang kau lihat darinya ?" Tanyanya kemudian.


Kali ini Devan kembali tersenyum. Namun, bukan tersenyum karena merasa tidak enak pada Irgi seperti tadi. Melainkan tersenyum karena mengingat bagaimana bentuk wajah dan senyum tulus yang selalu terbit di wajah gadis itu.


"Dia gadis paling baik yang pernah ku temui. Aku bahkan masih belum percaya bahwa gadis sebaik dia tega memperlakukan saudarinya setega itu. Andai saja, dia tidak menggantikan Beverly menikah denganmu, mungkin aku yang sudah melamarnya lebih dulu." Devan terkekeh kecil dengan pandangan mengarah pada gelas wine-nya. Mengingat Arumi adalah salah satu memori terindah yang pernah Devan miliki seumur hidup. Walaupun, ia harus berbesar hati untuk menerima kenyataan. Arumi lebih memilih untuk mencintai Irgi di banding dirinya.


"Kau menyukai Arumi ?" Tanya Irgi dengan tatapan tajam menusuk.

__ADS_1


"Tidak ada laki-laki yang bisa menolak pesona wanita secantik dan sebaik Arumi, sobat ! Kecuali kau !" Devan kembali terkekeh seraya menepuk bahu Irgi.


Sementara Irgi hanya bisa meneguk ludahnya kasar. Entah kenapa, hatinya seperti di remas saat tahu bahwa ternyata sahabat baiknya sendiri telah memendam rasa terhadap wanita yang pernah dia nikahi dulu. Sepertinya, Irgi merasa tidak rela jika Devan menginginkan sesuatu yang sudah pernah menjadi miliknya itu.


__ADS_2