Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#40


__ADS_3

"Aru!" Panggil seorang pria berambut brunette ketika melihat Arumi sudah mulai menuruni tangga pelataran butik tempat kerjanya.


Di tangan pria itu sudah terdapat sebuket bunga mawar berwarna pink cerah yang bersiap menyambut kedatangan Arumi.


"Sejak kapan kau di sini ?" Tanya Arumi heran. Apa Leon tidak pernah lelah menunggunya setiap pulang kerja seperti ini ?


"Hmmm... Sekitar 15 menit yang lalu. Mungkin ?" Jawab Leon acuh seraya mengendikkan kedua bahunya. Ia tidak tahu pasti kapan dia datang. Jadi, dia hanya menjawab seadanya saja. Tangannya terulur memberikan buket bunga yang dia bawa kepada gadis asia kesayangannya.


"Untukmu !" Pria itu tersenyum.


"Terima kasih." Balas Arumi dengan perasaan sedikit haru.


Jujur, ini adalah bunga pertama yang ia dapatkan dari seorang pria. Karena, di saat menikah dengan Irgi, Arumi sama sekali tidak pernah mendapatkan perlakuan manis seperti ini. Jangankan bunga, senyum saja sangat jarang dia dapatkan. Hanya tatapan dingin yang selalu gadis itu terima dari pria bermata sipit penuh wibawa yang dulu pernah menyandang status sebagai suaminya itu.


"Ada apa ? Kau tidak menyukainya ?" Tanya Leon was-was. Menilik dari raut wajah Arumi yang terlihat sedih, Leon merasa bahwa mungkin saja Arumi tidak menyukai bunga yang dia bawa. Padahal, penjual bunga tadi sudah mengatakan bahwa setiap wanita akan menyukai mawar berwarna pink cerah. Karena itu adalah lambang dari cinta, ketulusan dan juga sukacita.


"Bukan begitu, Leon." Geleng Arumi pelan. Matanya masih mengunci mawar berwarna pink dalam genggamannnya.


"Lalu kenapa kau terlihat sedih ?"Lirih Leon dengan tangan yang kini merangkul lembut bahu kekasihnya.


"Aku tidak sedih. Aku hanya sedikit terharu." Arumi mendongak. Menatap dalam pada netra kecoklatan Leon yang selalu berhasil menyesatkannya dalam labirin cinta pria itu.


"Terharu ?"


"Baru kali ini seseorang memberiku bunga. Dan ini sangat indah, Leon. Terima kasih." Mata gadis itu berkaca-kaca. Rona bahagia jelas tercetak di wajahnya meski linangan air mata menggenang di pelupuknya.


"Jika kau begitu menyukainya, maka akan ku berikan untukmu setiap hari." Pria itu tersenyum. Membawa Arumi ke dalam dekapannya dan mengabaikan tatapan orang-orang yang melihat.


"Tidak perlu, Leon." Arumi kembali terkekeh. Perkataan Leon di rasanya terlalu berlebihan.


"Jadi, mau kemana kau akan membawaku hari ini ?" Tanya gadis itu antusias. Tubuhnya masih menempel pada tubuh pria yang di cintainya. Hanya kepalanya saja yang mendongak menatap wajah tampan pria itu.


" Kau ingin kemana ?" Leon balik bertanya.


"Terserah kau ingin membawaku kemana."


Hei, Aru ! Jangan berbicara seperti itu. Karena sekarang, otak Leon sudah mengartikan kalimatmu ke lain arah. Biar bagaimanapun, Leon bukan lagi remaja labil yang baru berpacaran. Dirinya pria dewasa yang sudah matang dan memiliki kebutuhan biologis yang tentu juga bersifat dewasa. Apalagi, ia tumbuh di negara yang menganggap hubungan intim sepasang kekasih itu sudah hal yang lumrah.

__ADS_1


" Apa kau akan ikut denganku kemanapun aku membawamu ?" Tanya Leon sungguh-sungguh.


"Ya." Jawab Arumi tanpa rasa ragu. Bola matanya berbinar, menanti tempat menakjubkan mana lagi yang akan Leon tuju untuk membawanya berpetualang.


"Kau tidak akan protes ?"


"Tidak." Gadis itu menggeleng dengan polosnya.


"Kau tidak akan marah ?"


"Tidak."


"Baiklah ! Ikut denganku !" Leon menarik tangan Arumi buru-buru. Di hentikannya sebuah taksi di pinggir jalan dan mempersilahkan Arumi masuk terlebih dulu sebelum dirinya.


* * *


"Apa yang akan kita lakukan di sini ?" Langkah Arumi terhenti saat menyadari kemana arah tujuan Leon membawanya.


"Ada apa ?" Alis Leon terangkat heran. Langkahnya turut terhenti saat jemari gadis asia yang di genggamnya tertahan di tempat.


"Memangnya kenapa ? Ada yang salah ?" Tanya Leon tanpa merasa ada yang aneh sama sekali.


"Ini kan hotel, Leon." Ucap Arumi dengan nada gusar. Setelah membaca tulisan besar yang terpajang di depan bangunan yang akan dia masuki, semangat Arumi langsung menciut. Berganti rasa takut bercampur grogi yang begitu besar.


Arumi tidak sepolos itu untuk tidak tahu apa maksud Leon membawanya kemari. Bukankah dia sudah menikah ? Tentu dia tahu betul apa maksud para lelaki jika membawa seorang wanita ke sebuah hotel.


"Aku tidak mau masuk." Geleng gadis itu___berputar balik dan buru-buru melangkah.


"Hei, kau mau kemana ?" Leon menahan pergelangan tangannya, membuat tubuh kurus Arumi tersentak dan masuk ke dalam dekapan Leon.


"Aku mau pulang." Ringis gadis itu setengah tertahan.


"Kenapa kau mau pulang ? Kita baru saja sampai, Honey ! Bermain saja belum." Leon terkekeh. Benar-benar menikmati wajah ketakutan Arumi.


"Be-bermain ? Bermain apa ?" Suara Arumi mulai bergetar. Ketakutannya semakin bertambah. Dia memang mencintai Leon. Tetapi, bukan berarti dia akan rela menyerahkan tubuhnya begitu saja pada pria itu sebelum mereka resmi menikah. Sungguh ! Arumi benar-benar tidak mau.


"Jika ingin tahu, lebih baik kita masuk saja. Bagaimana ?" Leon mulai tersenyum licik.

__ADS_1


"Aku tidak mau." Arumi berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari kungkungan Leon. Namun, hal yang di dapatkannya bukanlah kebebasan, melainkan pria itu malah menggendongnya di pundak persis seperti karung beras dan membawanya masuk ke dalam hotel tanpa menghiraukan teriakan protes Arumi.


* * *


Mata gadis itu kembali terbelalak menyaksikan hal yang ia lihat di hadapannya. Leon sudah bersiap dan memanggilnya bergabung.


"Kemarilah, Hon ! Ku jamin, kau akan menyukainya." Pria itu melambaikan tangan menyuruh Arumi mendekat.


Gadis itu menggeleng. Masih ragu dengan keputusannya.


"Ayolah ! Aku janji, kau akan suka." Leon mendekat, dia mengulurkan tangan meminta Arumi ikut dengannya.


"Kau saja Leon ! Aku tidak mau. Aku belum pernah melakukannya seumur hidup."


"Makanya, kau harus mencoba. Kau tidak akan pernah tahu bagaimana menyenangkannya permainan ini jika tidak mencoba."


Arumi tetap menggeleng. Rasa ragu dan tidak percaya diri sukses membuat dia hanya berdiri di pinggir arena.


"Honey ! Percayalah ! Ini benar-benar akan menyenangkan. Ayo lakukan bersama !"


Melihat kesungguhan di mata pria itu, Arumi akhirnya mau menerima uluran tangan pria itu. Pelan-pelan dia menggerakkan kakinya yang sudah mengenakan sepatu ice skating. Sesekali, ia hampir terjatuh jika saja Leon tidak memegang tangannya erat-erat.


"Leon, aku takut !" Ringis gadis itu.


"Jangan takut, Aru ! Aku selalu memegangmu." Ucap pria itu tersenyum.


Perlahan namun pasti, Arumi mulai meluncur di arena ice skating bersama dengan Leon yang tentu saja terus memegang tangannya. Menuntun Arumi dengan sabar, sambil sesekali tertawa jika berhasil mengerjai Arumi dengan melepaskan genggamannya secara tiba-tiba.


Tawa lepas mulai terdengar dari gadis cantik itu setelah beberapa saat kemudian dia mulai sedikit mengerti arah permainan ini. Ia mulai berani meluncur perlahan tanpa bantuan Leon dan memekik berteriak memanggil nama pria itu jika tidak bisa mengontrol kecepatannya. Arumi bahagia sekarang. Ia merasa benar-benar hidup jika bersama pria berambut brunette yang saat ini sedang merengkuh pinggangnya dengan erat.


Arumi



Leon


__ADS_1


__ADS_2