Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#43


__ADS_3

"Loh, Tuan Irgi ?" Seorang Dokter perempuan berusia sekitar 37 tahun menyapa Irgi dengan ragu ketika mereka berpapasan di koridor rumah sakit.


Keduanya reflek menghentikan langkahnya. Irgi menatap dokter itu dengan tatapan penuh tanya.


"Ya. Benar, ini saya." Jawabnya ragu.


Dokter perempuan itu tertawa. "Syukurlah ! Saya kira saya salah mengenali orang."


"Apa Tuan memiliki sedikit waktu ?" Dokter itu masih tersenyum ramah.


"Ada apa, Dok ?" Irgi masih belum mengenali siapa Dokter yang saat ini sedang mengajaknya berbicara.


"Apa anda sudah melupakan saya ?" Dokter itu seolah mengerti apa yang di pikirkan Irgi.


"Memangnya, Dokter siapa ?"


Dokter itu mengulurkan tangan dengan ramah. "Saya Dokter Mella. Dokter kandungan Nyonya Arumi dulu."


Irgi seketika terkesiap dan segera menyambut uluran tangan Dokter Mella. "Maafkan saya, Dok ! Saya melupakan anda."


"Tidak apa-apa." Dokter Mella menggeleng maklum. Orang sesibuk Irgi pasti tidak akan bisa menyempatkan diri untuk mengingat wajah setiap orang yang dia temui. Termasuk dirinya.


"Jadi, apa saya bisa meminta waktu anda sebentar saja ?" Dokter Mella masih menunggu jawaban Irgi sambil memiringkan kepalanya.


"Tentu, Dokter." Angguk Irgi.


"Kita bicara di ruangan saya saja." Dokter Mella melangkah lebih dulu dan di ikuti oleh Irgi di belakangnya. Setelah hampir 3 menit berjalan menyusuri koridor rumah sakit, mereka tiba di ruangan Dokter Mella.


Irgi kini mulai merasa familiar kembali dengan ruangan itu. Ingatan masa lalunya saat membawa Arumi memeriksakan diri mulai berkelabat dalam ingatannya.


"Silahkan duduk !" Dokter Mella mempersilahkan Irgi duduk dengan ramah. Pria itu hanya menurut dengan pikiran yang masih bertanya-tanya. Apa urusan Dokter Mella memanggilnya ?


"Ada apa anda memanggil saya, Dok ?" Irgi bertanya langsung.

__ADS_1


"Ah, sebenarnya ini sudah masalah yang lewat. Hanya saja, saya merasa harus memberikan sesuatu pada Nyonya Arumi karena beliau tiba-tiba saja mendadak menghilang dan tak bisa di hubungi."


"Sesuatu ? Apa itu ?" Tanya Irgi penasaran. Kedua alisnya mengkerut menerka-nerka akan hal apa yang ingin Dokter Mella berikan pada Arumi.


Dokter Mella berdiri dari kursi dan melangkah menuju rak lemari di belakangnya. Di tariknya sebuah amplop dari sana dan kemudian kembali duduk pada tempatnya.


"Ini laporan kesehatan kandungan Nyonya Arumi terakhir kali. Bisa saya minta tolong pada anda untuk memberikan padanya ?" Dokter Mella menyodorkan amplop itu pada Irgi yang semakin tampak mengernyit bingung.


"Saya tahu anda dan Nyonya Arumi sudah berpisah. Tapi, pasti anda masih memiliki hubungan yang baik dengannya, bukan ?" Sambung Dokter Mella yang masih belum di respon Irgi.


"Memangnya, isi laporan ini tentang apa ?" Tanya Irgi setelah hampir satu menit dirinya hanya terdiam membisu. Rasa khawatir bahwa dirinya semakin bersalah pada Arumi kini mulai membebani Irgi lagi.


"Laporan itu mengenai kondisi kandungan Nyonya Arumi, Tuan." Jawab Dokter Mella santai.


"Dan bagaimana dengan kondisi kandungannya ?" Tanya Irgi tak sabaran.


"Kandungan Nyonya Arumi baik-baik saja. Tidak ada masalah. Beliau bahkan sangat subur. Saya sendiri bingung, kenapa Nyonya Arumi ingin memeriksakan kandungannya waktu itu. Padahal, saya sudah berulangkali memastikan bahwa kandungannya baik-baik saja." Dokter Mella terkekeh kecil.


Terburu-buru Irgi membuka amplop itu. Membaca isi tulisan di dalam sana untuk memastikan bahwa apa yang sedang di dengarnya adalah kebenaran. Pria itu semakin bertambah lemas saat tahu bahwa Dokter Mella tak membohonginya. Lalu, jika Arumi subur, kenapa mereka belum juga memiliki keturunan meski sudah dua tahun menikah ? Atau jangan-jangan ?


"Terima kasih, Dokter." Irgi kembali memasukkan kertas yang barusan dia baca ke dalam amplop. Setelah itu, dia berdiri dan berpamitan pada Dokter Mella sebelum keluar ruangan.


* * *


"Mau kemana kau ?" Duke Xander mencegat langkah Leon yang hendak masuk ke dalam mobil. Tatapan datarnya menghujam Leon tanpa belas kasih.


"Hanya ingin mencari udara segar sebentar, Dad !" Jawab Leon berbohong. Tujuan sebenarnya adalah untuk menemui Arumi di butik sepulang kerja seperti biasa.


Pria itu kembali bergerak ingin memasuki mobil yang pintunya memang sudah terbuka.


"Kau tidak boleh kemana-mana." Duke Xander menahan lengan Leon. Sama sekali tak memberi celah untuk Leon bisa kabur darinya.


"Dad, hanya sebentar." Leon meminta pada Ayahnya putus asa. Selalu saja seperti ini. Kapan Leon akan bisa hidup sesuai keinginannya ? Pergi saja harus seizin Duke Xander, padahal Leon bukan lagi bocah kecil yang tidak mengerti apa-apa.

__ADS_1


"Daddy tidak mengizinkan." Ucap Duke Xander lantang.


"Dad !"


"Daddy tahu bahwa kau pasti ingin menemui gadis asia itu lagi, bukan ?"


"Apa maksud Daddy ?" Wajah Leon tampak begitu terkejut. Jangan-jangan Duke Xander kembali mengirim orang untuk memata-matainya.


"Daddy memata-mataiku seperti dulu lagi ?" Tanya Leon mendesak.


"Jauhi gadis itu jika kau masih memiliki belas kasihan pada keluarga Aldric." Tukas Duke Xander dengan tegas. Bukannya menjawab pertanyaan putranya, pria itu malah melayangkan ancaman.


Leon menghempas kasar kunci mobilnya ke lantai dengan geram. Beberapa pengawal yang melihat hal itu membulatkan mata mereka namun tak satu pun yang berani bersuara. Mereka tetap diam, tak bergeming dari posisi mereka.


Sementara Duke Xander masih berdiri tegap dengan pembawaannya yang tenang dan datar. Tak ada ekspresi marah akan tindakan Leon barusan. Pria itu sudah seperti patung tanpa nyawa. Matanya hanya memandang kunci mobil yang di hempaa Leon dengan posisi wajah tak menunduk sama sekali.


"Yang Daddy bisa lakukan hanya mengancam. Aku muak, Dad !" Teriak Leon tepat di depan wajah Ayahnya lalu bergegas masuk kembali ke dalam mansion mewah yang lebih terasa seperti penjara baginya.


Duke Xander berbalik dan menatap punggung putranya yang mulai menjauh. Pria itu menarik senyum nyaris tak terlihat di sudut bibirnya lalu ikut berjalan masuk ke dalam mansion. Entah apa maksud dari seringai tipis itu. Hanya Duke Xander yang tahu.


Prang !!!


Sebuah guci antik bernilai jutaan dollar yang terletak di dekat tangga jatuh karena Leon memang sengaja menyenggolnya. Ronald terkesiap dan langsung pucat saat menemukan Duke Xander yang ternyata sudah berada di belakangnya dan menyaksikan itu semua.


Ronald segera membungkuk hormat pada Duke Xander.


"Suruh pelayan membersihkan pecahan guci itu !" Perintah Duke Xander.


"Ba-baik, Duke !" Ronald mengangguk tak percaya akan ekspresi yang di tampilkan oleh Duke Xander.


Pria dingin itu tidak marah dan malah terkesan cuek pada tindakan membangkang sang anak. Suatu hal yang nyaris tak pernah Ronald jumpai selama bekerja di mansion besar ini.


"Buatkan aku kopi ! Antar ke ruang baca !" Duke Xander kembali menambahkan list perintahnya untuk Ronald sebelum berjalan menuju ke ruang baca yang memang menjadi tujuan awalnya. Masih banyak pekerjaan yang harus dirinya urus.

__ADS_1


Sementara Ronald, tanpa di suruh dua kali pun langsung mengerjakan perintah apa saja yang di perintahkan Duke Xander barusan. Pria paruh baya itu sudah sangat mengerti akan perangai majikannya itu. Duke Xander adalah orang yang paling benci menunggu.


__ADS_2