
Arumi keluar sesaat setelah salah seorang pegawainya melaporkan bahwa ada Devan yang sedang menunggunya di luar. Gadis itu tersenyum saat menemukan Devan yang segera bangkit sesaat setelah ia datang.
"Kenapa, Kak ?"
"Aru, bisa aku meminta bantuanmu ?" Devan menggaruk tengkuknya karena merasa agak canggung.
"Bantuan apa ?" tanya Arumi penasaran.
"Begini ! Selina berulang tahun hari ini. Aku ingin kau menemaniku membeli kado untuk Selina."
"Selina berulang tahun hari ini ? Benarkah ? Berarti aku juga harus membeli kado untuknya. Baiklah ! Kita bisa berangkat bersama !" ucap Arumi.
"Oke ! Terima kasih !" Devan bernapas lega. Ia mengira akan sulit meminta Arumi untuk keluar mengingat gadis itu selalu berusaha untuk bersembunyi dari Irgi maupun keluarganya.
"Akan ku ambil tasku lebih dulu !"
"Ku tunggu di mobil !" ujar Devan yang sudah melangkah keluar butik.
Berselang lima menit kemudian, Arumi sudah keluar dan langsung masuk ke dalam mobil. Tujuan mereka adalah mall yang tak jauh dari butik Arumi. Sampai di tempat tujuan, mereka lalu menuju ke toko perhiasan. Devan berencana memberikan kalung sebagai hadiah ulang tahun Selina.
"Aru ! Menurutmu aku harus memilih yang mana ?" Devan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Dirinya pusing melihat koleksi kalung yang semakin bertambah banyak yang di keluarkan oleh pegawai toko.
"Tolong berikan saja model yang terlihat simpel !" pinta Arumi dengan sopan.
Pegawai toko itu mengangguk dan memasukkan lagi beberapa model kalung yang sudah ia keluarkan.
"Kak Dev, bagaimana dengan yang ini ?" Arumi mengambil sebuah kalung berliontin permata saphire biru berbentuk prisma.
"Itu terlihat cantik. Apa menurutmu Selina akan suka ?"
"Tentu saja, Selina itu penggemar warna biru. Tentu saja dia akan suka," jawab Arumi.
"Baiklah ! Akan ku ambil yang itu," putus Devan kemudian.
__ADS_1
Arumi lalu menyerahkan kalung tersebut kepada Devan dan Devan menyerahkan kalung itu kepada pegawai toko untuk segera di bungkus.
Sembari menunggu kalung hadiah Selina di siapkan oleh pegawai toko, Arumi melihat-lihat model yang lain. Matanya langsung terpatri pada sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga. Gadis itu kemudian mendekat ke cermin, berniat untuk mencoba kalung itu.
"Biar ku bantu !" ujar Devan menawarkan diri. Ia mengambil alih kalung itu dan mengenakannya pada Arumi. Selesai dengan pekerjaannya, Devan mencubit kedua pipi Arumi.
"Cantik sekali !" puji Devan gemas.
Arumi terkekeh mendengar pujian Devan yang terdengar begitu menggelikan di telinganya.
"Kau sudah persis seperti pegawai toko yang ingin jualannya laku, Kak Dev !" ucap Arumi.
"Jika kau suka, ambil saja. Aku akan membelikannya juga untukmu ! Anggap saja sebagai ucapan terima kasih," sahut Devan menanggapi.
Arumi masih mematut dirinya di depan cermin. Ia lalu menggeleng dan melepaskan kembali kalung itu dan meletakkannya di tempat semula.
"Sepertinya, tidak cocok denganku !"
"Kau yakin tidak mau ?" ujar Devan memastikan.
Devan mengangguk dan segera membayar kalung hadiah untuk Selina kemudian mengajak Arumi untuk pergi dari sana. Keduanya lalu berpindah ke toko tas dan membeli salah satu tas dengan brand ternama sebagai kado Arumi untuk tunangan Devan.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sejak tadi mengawasi mereka dengan amarah yang sudah mencapai puncak kepalanya. Rupanya, Irgi sejak tadi mengikuti mereka. Namun, pria itu belum berniat menampakkan diri meski dia saat ini sangat ingin menyarangkan tinjunya tepat di wajah Devan.
"Ternyata kau menipuku, Dev ! Sahabat macam apa kau ?" gumam Irgi dengan tangan terkepal.
Melihat keakraban yang di tampilkan oleh Devan dan Arumi semakin membuat Irgi panas. Pria itu baru menyadari bahwa ternyata cemburu semenyakitkan ini. Tapi, sayang ! Bukankah sudah terlalu terlambat untuk memiliki rasa seperti itu kepada perempuan yang sudah terlanjur ia campakkan ?
Irgi tahu bahwa tidak seharusnya ia marah pada Devan. Pria itu memang memiliki hak untuk menyukai Arumi mengingat status Arumi kini adalah seorang wanita lajang. Bukan lagi sebagai istri dari seorang Irgi Antonio. Tapi, tak bisakah Devan menghargai Irgi sedikit ? Setelah semua curahan hati Irgi selama ini tentang bagaimana dia menginginkan Arumi untuk kembali, kenapa Devan harus berpura-pura bersimpati jika kini dia yang menjadi pria yang berada di sisi Arumi ? Irgi merasa sudah di permainkan oleh Devan.
"Kau keterlaluan, Dev ! Lihat saja ! Aku akan membuat perhitungan denganmu !" Tangan Irgi terkepal kuat.
Setelah urusan membeli kado untuk Selina selesai, Arumi kembali di antar Devan kembali ke butik. Irgi pun tak melewatkan kesempatan itu dan mengikuti mereka berdua dari belakang tanpa Arumi dan Devan sadari.
__ADS_1
"Kak ! Terima kasih, ya," ujar Arumi tersenyum.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, Aru !" balas Devan ikut tersenyum.
Irgi segera turun dari mobilnya dengan buru-buru saat melihat Devan mengacak-acak rambut Arumi sambil tertawa. Demi apapun ! Irgi benar-benar sudah tidak tahan untuk tidak melabrak Devan.
"Pengkhianat kau, Dev !" tuduh Irgi sambil memukul wajah Devan.
Devan tersungkur ke tanah. Pria itu masih belum mengerti ketika Irgi sudah mencengkram bajunya dan memaksa ia kembali untuk berdiri.
"Selama ini aku selalu menceritakan tentang Arumi padamu. Dan, ternyata selama ini kau mengetahui keberadaannya tapi tidak memberitahuku ? Kenapa, hah ? Apa karena kau yang ingin mendapatkannya ?" teriak Irgi dengan tatapan mata yang nyalang.
"Gi, kau salah paham !" Devan berusaha melepaskan cengkraman tangan Irgi dari kerahnya. Namun, yang ada malah pria itu semakin mempererat cengkramannya di kerah Devan.
"Salah paham ? Setelah semua yang ku lihat, kau bilang salah paham ?"
"Lepaskan Kak Devan !" Arumi maju dan mendorong paksa Irgi agar menjauhi Devan. Gadis itu kemudian berdiri di tengah-tengah Irgi dan Devan dengan tatapan tajam namun berlinang air mata ke arah Irgi.
"Aru ! Kenapa selama ini kau tidak pernah menjawab satu pun emailku ? Kemana saja kau selama ini ? Aku merindukanmu, Aru !" Irgi memeluk tubuh Arumi dengan erat. Dan Arumi menerimanya dengan tubuh yang kaku tanpa berniat membalas pelukan pria itu sedikit pun.
"Lepaskan aku, Kak !" pinta Arumi dingin.
"Tidak. Kali ini, aku tidak akan melepaskan kau lagi, Aru ! Aku akan terus memelukmu seperti ini sampai kapan pun !" geleng Irgi yang semakin mempererat pelukannya di tubuh Arumi.
Pria itu menghirup aroma tubuh Arumi dengan serakah. Melampiaskan segala rindu yang selama ini terlambat untuk ia sadari. Sayang, kini Arumi sudah tidak menginginkan cinta sebesar ini dari Irgi lagi. Perasaan gadis itu untuk seorang Irgi benar-benar sudah terasa hambar.
"Kak Irgi, tolong lepaskan aku ! Ini tempat umum. Orang-orang akan berpikiran yang tidak-tidak tentang kita," ujar Arumi sekali lagi.
Irgi menuruti kemauan Arumi. Di lepaskannya gadis itu dari dalam pelukannya.
"Kita harus bicara, Aru !" tukas Irgi dengan tatapan mata yang mengunci pandangannya kepada sosok perempuan yang semakin bertambah cantik setelah lama tak ia temui.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Kak. Antara kau dan aku, semuanya sudah selesai."
__ADS_1