Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#34


__ADS_3

Genap seminggu sudah Leon tidak pernah menampakkan batang hidungnya di hadapan Arumi. Bahkan, kabar pun pria itu tidak pernah ada. Asumsi positif Arumi bahwa Leon sedang sibuk tampaknya juga mulai menghilang dengan sendirinya. Arumi tahu. Pria itu tidak sedang sibuk melainkan mungkin saja benar-benar sudah berhenti mengganggu Arumi.


Namun, ada satu masalah yang kini terjadi. Mengapa Arumi merasa sangat tidak tenang ketika tak menemukan sosok Leon di mana pun ? Mengapa Arumi selalu terbangun di tengah malam karena memimpikan pria itu ? Apa benar kata Charlie bahwa dirinya sudah salah karena menolak perasaan Leon ?


Tapi, bukankah Arumi melakukannya hanya demi menghindar dari rasa sakit seperti kata Uncle Charles ? Lalu, mengapa rasanya justru Arumi tetap saja merasakan sakit meski sudah mengikuti anjuran dari Uncle Charles ?


"Aru, kau belum pulang ?" Suara bertanya Nyonya Nastya dari belakang sontak membuyarkan lamunan Arumi tentang Leon. Gadis cantik itu berhasil kembali tertarik ke dunia nyata.


"Belum, Nyonya. Aru harus menyelesaikan gaun pesta pesanan Nyonya Bennet malam ini juga. Jadi, mungkin Aru akan berada di sini sampai tengah malam."


"Kau tidak takut berada sendirian di sini ?"


"Tentu saja tidak. Bukankah restoran di sebelah juga buka 24 jam ? Jadi, Aru tidak akan merasa ketakutan." Arumi tersenyum. Berusaha meyakinkan Nyonya Nastya bahwa dirinya akan baik-baik saja.


"Baiklah ! Tapi, jangan terlalu larut pulangnya. Kau juga harus beristirahat cukup agar tidak sakit."


"Terima kasih, Nyonya."


Nyonya Nastya mengangguk lalu keluar dari ruangan Arumi untuk segera pulang. Meninggalkan gadis itu sendirian yang masih sibuk menyelesaikan gaun pesta pesanan salah seorang sahabat Nyonya Nastya yang akan berulangtahun dua hari lagi.


"Akhirnya, selesai juga." Gumam gadis itu puas. Segera, dia menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran sofa lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11.27 malam. Waktu yang sudah cukup larut untuk seorang gadis pulang sendirian. Tentu, aturan itu berlaku jika di Indonesia. Namun di sini, di kota Paris, aturan semacam itu sama sekali tidak ada.


* * *


Pagi-pagi sekali, Irgi sudah berangkat kerja sebelum Beverly sempat terbangun. Hal itu sengaja ia lakukan bukan hanya demi menghindari pertengkaran, melainkan untuk menemui Danu yang semalam meneleponnya untuk mengabarkan perkembangan kasus yang dia minta untuk orang itu selidiki.

__ADS_1


Irgi turun dari mobil dan melangkah dengan mantap memasuki sebuah gedung berlantai dua yang jika di lihat dari depan hanya sebuah tempat usaha percetakan yang nyaris bangkrut karena sepi. Namun, siapa sangka jika itu hanya sebuah kedok demi menutupi pekerjaan asli mereka yang bekerja sebagai mata-mata bayaran dengan imbalan cukup fantastis dari setiap relasi yang datang meminta bantuan.


"Silahkan masuk, Tuan Irgi !" Ujar Danu mempersilahkan.


Irgi yang di antar salah satu anak buah Danu yang kini sudah pamit untuk pergi lagi mengangguk dan duduk di depan Danu dengan meja persegi panjang yang menjadi pembatas di antara mereka.


"Bagaimana ? Sudah dapat yang aku minta ?" Tanya Irgi tanpa basa-basi. Kedua jemarinya saling bertautan dengan perasaan gugup yang sangat sulit untuk dia jelaskan.


Danu menyeringai tipis memperhatikan Irgi yang kelihatan begitu gugup. Dengan santai, pria itu menggeser sebuah amplop coklat ke hadapan Irgi dan mempersilahkan pria itu membukanya sendiri.


"Semua yang anda ingin cari tahu ada di dalam amplop itu." Ucap Danu.


Dahi Irgi mengkerut seiring alisnya yang kini mulai terlihat menyambung satu sama lain. Mata pria itu membola saat melihat beberapa bukti yang selama ini tidak pernah dia duga.


"Apa-apaan ini ?" Tanya Irgi gusar. Ia menghempas foto-foto yang dia lihat dengan kasar di atas meja kerja Danu.


"Tapi, bagaimana bisa ? Ini tidak masuk akal." Ucap Irgi dengan tatapan yang masih tidak bisa mempercayai semua bukti yang terpapar jelas di hadapannya.


"Nona Beverly tidak pernah di culik, Tuan ! Istri anda saat itu berangkat keluar negeri dengan bantuan ayahnya yang membayarkan seluruh biaya akomodasinya." Danu tersenyum. Begitu menikmati wajah frustasi Irgi yang mulai merutuki kebodohannya.


"Da-darimana kau tahu ? Kau bisa saja mengada-ada bukan ?"


Danu tertawa mendengar penyangkalan Irgi. "Bukti segala pengeluaran atas nama Tuan Jonathan Liem pada hari itu sudah ada di hadapan anda. Dan jika anda ragu, anda bisa mencari tahu pada agen yang lain. Tapi, saya bisa jamin bahwa bukti yang saya berikan pasti akan sama dengan bukti yang akan mereka temukan nantinya."


"Lalu, siapa pria ini ?" Irgi menunjuk seorang pria yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Seorang pria yang memeluk pinggang ramping istrinya dengan begitu mesra.

__ADS_1


"Namanya Matthew Oscott. Pria berkebangsaan Amerika yang tercatat ikut bersama nona Beverly pada hari itu. Jika saya boleh menyimpulkan, pria itu adalah selingkuhan Nona Beverly dan kaburnya Nona Beverly sudah pasti di rencanakan oleh keluarga besarnya. Bisa di bilang, semua anggota keluarganya turut andil dalam menipu anda."


"Tapi, kata mereka hanya Arumi yang terlibat. Nyonya Katherine dan Tuan Jo sendiri yang mengatakannya."


"Dan anda langsung percaya ?" Danu terkekeh kecil. " Tuan Irgi, orang yang tidak mengenal dengan baik mantan istri anda seperti saya saja bisa menyimpulkan dalam sekali lihat bahwa perempuan itu bukan perempuan yang punya kekuatan cukup untuk melakukan hal buruk seperti itu. Lantas, kenapa anda yang notabene-nya adalah suaminya pada saat itu tidak tahu ?"


"Apa maksudmu ?" Napas Irgi mulai tidak teratur. Ada berapa banyak fakta tersembunyi yang tidak Irgi ketahui selama ini ?


"Saya kira anda sudah tahu bahwa nona Arumi itu anak tiri Nyonya Katherine, bukan ?"


"Ya. Aku tahu." Angguk Irgi paham.


"Berarti anda juga tahu bahwa sejak kecil nona Arumi dan nona Beverly di perlakukan berbeda ?"


"Tentu saja aku juga tahu. Makanya, aku yakin bahwa Arumi yang melakukannya. Dia iri pada Beverly sehingga menculik kakaknya sendiri dan menggantikan Beverly menikah denganku."


Danu kembali terkekeh. Entah Irgi yang terlalu bodoh atau Beverly dan keluarganya yang terlalu pintar bercerita dan membolak balikkan fakta sehingga Irgi buta akan kebenaran yang sebenarnya.


"Saya melakukan penyelidikan tambahan dalam kasus ini. Tapi, tenang saja. Saya tidak akan meminta uang tambahan. Anggap saja ini servis khusus untuk tamu VVIP kami seperti anda."


"Penyelidikan apa ?"


Danu diam beberapa saat. Mengambil sebatang cerutu dari dalam laci meja kerjanya lalu membakarnya. Asap nikotin tebal ia biarkan menyebar ke setiap sudut ruangan yang kontras dengan bau tembaga yang menguar.


"Apa anda tahu bahwa mantan istri anda, Nona Arumi pernah sengaja di dorong dari lantai dua rumahnya oleh Nyonya Katherine saat berumur 9 tahun ?"

__ADS_1


"Apa ?" Mata Irgi mengerjab beberapa kali. Antara percaya dan tidak percaya, ia sama sekali tak menyangka bahwa hal seburuk itu pernah menimpa Arumi.


__ADS_2