Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#62


__ADS_3

Sarapan pagi hari ini berlangsung seperti biasa. Charles dan Isabella sama sekali tidak menampakkan wajah bersedih di depan Charlie dan Arumi sama sekali. Mereka terlihat baik-baik saja dan bahkan sesekali melempar candaan bermaksud agar mengundang tawa Arumi.


Arumi berusaha mengikuti permainan. Gadis itu juga berpura-pura seperti orang bodoh yang belum tahu apa-apa. Dia tersenyum ketika Isabella dan Charles berusaha menghiburnya. Walaupun sebenarnya, hal yang paling ingin dia lakukan saat ini hanyalah menumpahkan air matanya.


"Bagaimana bisa kalian masih berusaha membuatku tertawa sementara kalian sendiri sedang tidak baik-baik saja ?" batin Arumi seraya menatap lekat wajah Charles dan Isabella yang tertawa.


"Kau kenapa ?" Charlie menyikut lengan Arumi.


"Tidak apa-apa," jawabnya sambil memasukkan sepotong sandwich ke dalam mulutnya.


Charlie mengusap lengan Arumi singkat kemudian kembali menimpali setiap obrolan santai kedua orangtuanya. Gadis tomboy itu masih belum tahu perihal ayahnya yang di keluarkan dari pekerjaannya sama sekali.


Beberapa menit kemudian, Charlie berpamitan untuk berangkat ke kampus. Charles menyusul pamit berangkat kerja tak berselang lama setelah Charlie berangkat.


"Aku berangkat !" Charles mencium bibir istrinya singkat.


"Semoga berhasil !" bisik Isabella dengan senyuman tulusnya.


Charles mengangguk dan berjalan melewati Arumi. Dia hanya mengacak rambut gadis Asia itu sebentar kemudian memberikan senyuman. Setelahnya, dia pun pergi.


Dada Arumi sesak melihat pemandangan pagi ini. Bagaimana bisa Charles dan Isabella berkorban begitu banyak hal demi dirinya yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah ? Charles sudah rela kehilangan pekerjaan. Dan mereka masih berusaha menyembunyikan segalanya. Arumi menghela napas. Ia memutuskan masuk kembali ke dalam kamar setelah Charles dan Charlie meninggalkan rumah.


* * *


Leon masih meringkuk di bawah tempat tidur. Sudah berkali-kali Ronald mengetuk pintu kamarnya namun pemuda itu masih bergeming. Telinganya seolah tuli mendengar suara ketukan dan teriakan Ronald yang memintanya untuk keluar sarapan.


"Tuan Muda ! Anda harus sarapan. Sejak kemarin malam anda belum makan dengan benar. Tolong ! Nanti anda bisa sakit," bujuk Ronald yang masih setia berdiri di depan pintu.


Leon yang berada di dalam kamar tak bergerak. Dia masih berbaring dalam posisi menyamping dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke leher. Nampak, bulir air mata berjatuhan membasahi sarung bantal berwarna hitam yang menyangga kepalanya. Hati pemuda itu mati ketika Arumi memintanya pergi menjauh.


"Tuan Muda ! Jika anda tidak mau membuka pintu, maka saya akan mengambil kunci cadangan. Saya tidak ingin anda kenapa-kenapa," ucap Ronald yang tetap saja tak di pedulikan oleh Leon.


Kepala pelayan itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia kemudian berjalan hendak menuju kamarnya untuk mengambil kunci cadangan kamar Leon.


Selang 10 menit kemudian, pintu kamar Leon berhasil di buka Ronald. Seorang pelayan wanita di perintahkan masuk oleh Ronald untuk membawakan makanan agar Tuan Muda mereka bisa sarapan. Namun, sekali lagi pemuda itu tak kunjung memperlihatkan respon yang di inginkan Ronald.


"Keluarlah !" perintah Ronald pada pelayan wanita itu.


Pelayan tersebut mengangguk patuh dan segera pergi meninggalkan kamar Leon. Kini tersisa hanya Ronald dan Leon berdua saja di dalam ruangan itu. Ronald memandang prihatin pada punggung Leon yang berbaring membelakanginya.


"Tuan Muda !" panggil Ronald.


"Apa anda baik-baik saja ?" lanjut Ronald.


Leon tetap diam. Air matanya masih terus turun. Ia menghirup udara untuk meringankan sesak yang menghimpit dadanya.

__ADS_1


"Jika anda sudah merasa lebih baik, makanlah walau hanya sedikit. Makanan anda sudah saya taruh di atas nakas."


"Kenapa hidupku seperti ini Ronald ?" suara serak Leon membuat Ronald terkesiap. Dia yang sudah menyerah untuk membujuk Leon sebelumnya dan bersiap untuk pergi kembali berbalik menatap punggung Tuan Mudanya.


"Apa maksud anda ?" tanya Ronald.


"Kenapa aku tidak bisa memperoleh bahagia yang ku mau ? Kenapa harus Daddy yang menentukan segalanya ?" kata Leon putus asa.


Jelas sekali bahwa pemuda itu merasakan sakit yang luar biasa. Ronald yang melihat kerapuhan Leon turut merasakan penderitaan yang pemuda itu rasakan. Andai saja, Duke Xander berada di sini dan melihat betapa menderitanya Leon karena perbuatannya.


* * *


Malam hari, Duke Xander akhirnya pulang. Ronald sudah menunggu di depan pintu dan segera mengambil alih mantel yang di pegang Duke Xander dan mengawal pria dingin itu sampai ke kamar. Tiba di dalam kamarnya, Duke Xander duduk di sofa yang terletak di tengah ruangan. Tepat di ujung ranjang tempat tidurnya.


"Apa yang Leon lakukan selama aku pergi ?" tanya Duke Xander sembari melepas jas dan ikatan dasi miliknya.


Ronald segera mengambil jas dan dasi yang baru di lepaskan Duke Xander dengan cekatan. Seolah ia sudah paham betul apa yang harus dia lakukan meski Duke Xander belum memerintahnya. Kemudian, pria itu kembali ke posisinya. Berdiri tegak di samping sofa yang di duduki Duke Xander dengan tangan yang memegang jas dan dasi majikannya.


"Seperti yang sudah saya kabarkan pada anda. Sejak Tuan Muda kembali dari kediaman keluarga Aldric, beliau belum pernah keluar kamar. Tuan Muda juga mogok makan," terang Ronald.


Duke Xander menyeringai sinis mendengar laporan Ronald. " Biarkan saja jika dia tidak mau makan. Itu hanya akal-akalan anak itu saja demi meluluhkan perhatianku. Tapi sayang, usahanya tidak akan pernah berhasil." Duke Xander tertawa.


"Tapi Duke, saya rasa..."


"Jangan bertindak seolah-olah kau lebih mengenal putraku di banding diriku sendiri Ronald !" kata Duke Xander dengan tajam.


"Maaf Duke ! Saya sama sekali tidak bermaksud seperti itu," ucap Ronald tertunduk.


"Keluarlah !" perintah Duke Xander dingin.


Ronald membungkuk hormat dan pergi meletakkan jas dan dasi Duke Xander di keranjang pakaian kotor terlebih dulu sebelum keluar dari dalam kamar pria dingin itu. Ronald memijit pangkal hidungnya. Merasa buntu untuk menemukan cara agar Duke Xander bisa meredam ego dan keras kepalanya sedikit saja.


Sesampai di kamarnya, Ronald memutuskan untuk beristirahat sejenak. Namun, pikirannya tak bisa tenang memikirkan keadaan Leon. Ronald berpikir harus melakukan sesuatu sebelum hal yang buruk bisa saja terjadi pada Tuan Mudanya. Pria itu mengambil ponsel dari saku jasnya. Ia berniat menghubungi seseorang yang mungkin saja bisa menjadi penengah yang bijak. Seseorang yang sudah lama tak di temui Ronald.


"Tumben sekali kau meneleponku ? Ada apa ?" Suara pria di seberang sana langsung berkata to the point.


Ronald menghela napas. Ia terdiam sebentar sebelum menjawab. "Sesuatu sedang terjadi ! Bisakah anda datang kemari untuk membantu ?"


* * *


"Cepat panggilkan dokter Norris kemari !" teriak Ronald berseru panik.


"Baik !" salah seorang pelayan wanita mengangguk dan segera berlari untuk menghubungi dokter Norris.


"Bangunlah Tuan Muda ! Ku mohon !" ujar Ronald berseru panik.

__ADS_1


"Bantu aku mengangkat Tuan Muda kembali ke atas ranjang !" perintah Ronald pada dua orang bodyguard.


Mereka langsung melaksanakan perintah Ronald dan meletakkan hati-hati tubuh pemuda itu kembali di atas tempat tidur. Ronald pun langsung menelepon Duke Xander untuk memberitahukan keadaan Leon.


Tadi, Ronald seperti biasa berniat membawakan makanan untuk Leon ke dalam kamar. Akan tetapi, ketika dia sampai di dalam kamar, Ronald tidak menemukan Leon. Di dalam kamar mandi terdengar air kran yang terus mengalir. Ronald mengira Leon sedang mandi. Tapi, sampai setengah jam Ronald menunggu Leon tak juga keluar. Karena khawatir, Ronald memutuskan masuk ke dalam kamar mandi dan langsung terkejut saat menemukan Tuan Mudanya sudah jatuh tak sadarkan diri di lantai kamar mandi dengan dahi yang berdarah. Sontak Ronald panik dan segera memanggil semua orang.


Dokter Norris tiba 20 menit kemudian. Ia segera mengobati luka Leon dan memeriksa denyut nadi pemuda itu. Dokter Norris menghela napas dan menatap Ronald prihatin.


"Bagaimana, Dok ?" tanya Ronald.


"Leon sepertinya pingsan gara-gara kelaparan dan dehidrasi. Aku sudah memberikan infus untuknya dan menjahit luka yang ada di dahi. Seorang perawat akan tinggal di sini untuk mengawasi perkembangan Leon sekaligus mengganti cairan infusnya jika sudah habis," kata Dokter Norris panjang lebar.


"Apa Leon memiliki masalah pribadi akhir-akhir ini ?" tanya Dokter Norris.


"Hubungan Tuan Muda dan Duke akhir-akhir ini memang sedikit tegang," jawab Ronald.


"Apa itu yang menyebabkan dia tidak mau makan dan minum ?"


Ronald mengangguk mengiyakan.Tak masalah jika dia memberitahu masalah keluarga Duke Xander pada Dokter Norris. Dokter berusia 40 tahun itu sebenarnya adalah suami dari adik sepupu Duchess Greysha. Dia juga termasuk keluarga dekat Leon yang masih tersisa dari pihak ibu kandungnya.


"Kau harus lebih ekstra menjaga keselamatan Leon, Ronald. Jangan sampai hal ini terjadi lagi. Jangan mengecewakan Duchess Greysha di atas sana," kata Dokter Norris.


"Saya mengerti Dok ! Tapi, anda juga tahu bagaimana keras kepalanya Duke Xander bukan ? Tidak ada yang berani membantah beliau satu pun." Ronald berkata pasrah.


"Bukankah masih ada 'dia' ?"


Ronald menoleh menatap Dokter Norris yang berjalan beriringan dengannya. Pria itu lagi-lagi menghela napas pasrah.


"Ya. Hanya beliau yang berani membantah Duke Xander. Tapi, saat ku hubungi dua hari yang lalu, beliau belum memberi keputusan."


"Percayalah ! Dia pasti akan datang," ucap Dokter Norris penuh keyakinan.


"Ya. Semoga saja," balas Ronald penuh pengharapan.


"Bagaimana keadaan putraku ?" Duke Xander berderap melangkah terburu-buru menghampiri Dokter Norris dan Ronald.


Dua orang pria yang tadi sempat mengobrol panjang lebar itu memberikan hormat sambil membungkuk untuk menyambut kedatangan Duke Xander.


"Leon dehidrasi dan kelaparan. Itu yang menyebabkan dia pingsan dan kepalanya terbentur wastafel di kamar mandi," ucap Dokter Norris berterus terang.


Duke Xander tampaknya benar-benar khawatir. Setelah mendengar penjelasan dari Dokter Norris, ia buru-buru menghampiri Leon yang di ikuti Ronald dan Dokter Norris dari belakang.


"Apa dia sedang tidur ?" tanya Duke Xander dengan suara pelan. Ia berdiri di samping tempat tidur Leon dan menatap lekat wajah putranya yang terlihat begitu pucat dengan bibir yang kering dan pecah-pecah.


"Leon belum sadarkan diri sampai sekarang. Mungkin sekitar satu atau dua jam lagi baru dia akan siuman," jawab Dokter Norris.

__ADS_1


__ADS_2