
"Hai, Ayah !" sapa Arumi sambil tersenyum.
Sepulang dari butik, gadis itu langsung ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya.
"Kau sudah datang rupanya. Apa kau tidak lelah jika harus kemari sepulang bekerja, Aru ?" tanya Jonathan yang merasa kasihan kepada putrinya.
"Tidak. Aru sama sekali tidak lelah," jawab gadis itu sumringah. Arumi sudah memutuskan untuk memaafkan kesalahan Jonathan dan berniat memberikan kesempatan untuk hubungannya dan ayah kandungnya tersebut. Tak ada alasan bagi Arumi untuk tidak memaafkan kesalahan Jonathan ketika pria paruh baya itu memintanya dengan sangat tulus.
"Apa kau sudah makan ?" tanya Jonathan lagi.
"Sudah. Ayah sendiri ?"
"Ayah juga sudah. Tadi, suster yang menyuapi Ayah dan membantu Ayah meminum obat," ujar Jonathan.
"Apa Ayah yakin tidak butuh ku panggilkan tante Katherine kemari ?"
Jonathan mendengus kasar karena mendengar nama wanita itu lagi-lagi di sebut Arumi. Demi apapun, Jonathan benar-benar sudah membenci mendengarkan nama itu.
"Tidak. Ayah tidak akan mau dia menemui Ayah sampai kapan pun," ucapnya sambil membuang pandangannya ke arah lain.
Arumi mendekati Jonathan. Di genggamnya tangan sang ayah yang terbebas dari cairan infus.
"Apa aku membuat Ayah marah ?" tanya Arumi dengan nada lembut.
Kemarahan di dalam hati Jonathan mendadak melunak. Bukan pada Arumi ia menyasarkan kebencian itu, melainkan pada Katherine. Ia kembali menatap wajah cantik sang putri sambil tersenyum lembut.
"Tidak, Sayang ! Kau sama sekali tidak membuat Ayah marah. Hanya saja, Ayah tidak ingin kau menyebut nama perempuan itu lagi dengan mulutmu ! Apa kau mengerti ?" tutur Jonathan dengan nada sepelan mungkin. Ia tak ingin melukai perasaan Arumi lagi seperti dulu.
Sudah cukup ia melukai perasaan sang anak yang begitu lembut persis seperti ibu kandungnya. Jonathan hanya ingin membahagiakan Arumi di sisa hidupnya yang mungkin saja tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Arumi mengangguk paham. Setelah memastikan bahwa ayahnya sudah tertidur, Arumi memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Sekarang, perjalanan bolak baliknya terasa lebih mudah karena ia memakai mobil milik Jonathan.
Sampai di apartemen, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Gadis itu cepat-cepat masuk ke dalam lift dan memencet tombol lift menuju ke lantai apartemen miliknya. Namun, sebelum lift itu tertutup, Irgi tiba-tiba saja masuk dan membuat Arumi tidak bisa merespon apa-apa.
"Kenapa Kak Irgi bisa ada di sini ?" Arumi memundurkan tubuhnya hingga menabrak dinding lift. Ia kaget karena Irgi bisa mengetahui di mana tempatnya tinggal sekarang padahal ia tak pernah memberitahu. Devan juga mustahil membocorkan tempat tinggalnya mengingat Devan bukan pria yang mudah mengingkari janji.
__ADS_1
"Aku di sini sejak tadi sore. Aku menunggumu kembali, Aru !" jawab Irgi seraya mendekat pada Arumi.
Gadis itu terlihat ketakutan. Namun, Irgi tampak tak begitu peduli. Ia mendekati Arumi dengan perlahan hingga gadis itu berlari ke sisi lift yang lain.
"Menjauh dariku, Kak !" ujar Arumi memperingatkan.
"Kenapa kau menjauh dariku, Aru ? Apa aku terlalu menakutkan bagimu ?" Wajah pria itu terlihat putus asa.
"Sudah ku bilang kalau aku tidak ingin bertemu dengan Kak Irgi lagi. Apa Kak Irgi lupa ?"
"Tapi kenapa ?" Irgi membentak dengan suara keras. "Jika memaafkan Jonathan saja bisa kau lakukan, lalu kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama denganku ? Kenapa ?" lanjutnya lagi hingga Arumi bergetar ketakutan di buatnya.
"Da-darimana Kak Irgi tahu ?" tanya Arumi dengan suara bergetar. Matanya sudah berkaca-kaca karena takut melihat tatapan Irgi yang seolah ingin mencabik-cabiknya.
"Kau tidak perlu tahu !" Irgi membuang pandangannya ke arah lain. Suaranya mendadak melunak ketika sadar bahwa dia baru saja menakuti Arumi.
Pria itu mundur dan menyandarkan punggungnya di sisi lift yang lain. Kini posisi mereka saling berhadap-hadapan di dalam ruangan kotak yang terus melaju naik itu. Tak berselang lama, pintu lift terbuka tepat di lantai yang Arumi tuju. Cepat-cepat gadis itu melangkah keluar tanpa berniat menengok ke belakang. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berdoa dalam hati agar Irgi tak lagi mengikutinya.
Suara pantofel yang berderap terburu-buru menyusul Arumi dari belakang memupuskan harapan gadis cantik itu. Secepat kilat, lengannya sudah di tarik dan tubuh kurusnya sudah di tabrakkan ke dinding dengan kasar oleh Irgi. Pria itu mengurung tubuh Arumi dengan kedua lengannya yang memenjarakan Arumi.
"Kau takut padaku ?" Irgi menatap nyalang ke arah Arumi.
Gadis itu membuang pandangannya ke arah lain. Ia takut Irgi akan melakukan sesuatu yang buruk kepadanya.
"Ku mohon ! Jangan seperti ini, Kak !" ucap Arumi serak.
"Kau yang memaksaku seperti ini, Aru !" ujar Irgi dengan suara rendah namun terdengar begitu dingin. "Tatap aku !" pintanya kemudian.
Gadis itu bergeming. Ia menolak menuruti perintah Irgi.
"Tatap aku !" Irgi menyentak tubuh Arumi dengan kasar.
Mau tidak mau, Arumi menurut. Kedua lengannya terasa sakit karena di cengkram dengan kuat oleh Irgi. Gadis itu menatap Irgi dengan wajah berderai air mata. Ketakutannya kian bertambah. Ia hanya berharap Selina dan Devan bisa muncul dengan tiba-tiba untuk menolongnya mengingat di lantai ini hanya ada dia dan Selina yang menghuninya. Tak ada tetangga lain lagi.
Setelah wajah Arumi kini mendongak menatapnya, Irgi menghapus air mata gadis itu dengan kedua ibu jarinya.
__ADS_1
"Ushhh ! Jangan menangis, Sayang !" ucapnya dengan begitu lembut.
"Apa yang kau inginkan, Kak ?" tanya Arumi di sela ketakutan yang kian bertambah.
"Mauku ?" Irgi berbisik di telinga Arumi. Menghembuskan napas panasnya di sana dengan kedua tangan yang kembali mencengkram kedua lengan Arumi lagi.
Gadis itu meringis menahan sakit. Cengkraman Irgi seolah ingin meremukkan kedua lengannya yang rapuh. Ia hanya bisa menutup matanya sambil mengigit bibir bawahnya.
Tangan kanan Irgi merambat perlahan naik ke atas. Setelah tiba di wajah Arumi, pria itu mengusapkan ibu jarinya dengan lembut di bibir gadis itu yang di gigit oleh pemiliknya.
"Jangan menggigitnya seperti itu, Sayang ! Kau bisa menyakiti dirimu sendiri."
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Kak ?" Kembali, Arumi mengulang pertanyaannya.
Irgi tak menjawab. Ia menabrakkan bibirnya dengan kasar ke bibir gadis itu sebagai jawaban. Arumi yang tak siap langsung membulatkan matanya dan reflek memberontak minta di lepaskan.
"Mmmmpphhh...." Gadis itu berusaha melepaskan diri dari Irgi namun tidak bisa. Pria itu lagi-lagi menahan kedua tangan Arumi yang sebelumnya melakukan pemberontakan dengan memukul dadanya. Kini, gadis itu tak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Untuk ke sekian kali, Irgi lagi-lagi menyakitinya.
"Menjauh darinya, br*ngsek !"
Seseorang baru saja tiba menarik paksa dan menghajar Irgi hingga pria itu berhasil jatuh ke lantai.
Hayoooo !!
Menurut kalian siapakah yang datang ?
Arumi
Irgi
Jonathan Liem
__ADS_1