
Suasana di meja makan semakin bertambah tegang ketika Charles menggebrak meja dengan sangat keras. Ia berdiri dengan napas naik turun karena marah. Wajahnya memerah seiring adrenalinnya yang semakin terpacu cepat.
"Apa ini semua karena Duke Xander, Aru ? Jawab !" bentaknya dengan sangat keras.
Arumi tersentak dan semakin memperkeras suara tangisnya. Seluruh tubuhnya mulai bergetar karena terlalu kaget dengan reaksi yang Charles berikan akibat kata-kata yang baru beberapa menit yang lalu ia lontarkan dengan susah payah.
Gadis itu baru saja mengatakan bahwa akan kembali ke Indonesia esok hari. Tujuannya menemui Nyonya Nastya kemarin pun adalah untuk mengundurkan diri dari pekerjaanya. Dan, tanpa pernah Arumi duga, Charles justru marah besar dan mengira semuanya pasti berhubungan dengan ayah dari pria yang Arumi cintai.
Hal itu memang sangat benar. Namun, Arumi tak mungkin mengakui itu. Ia tak ingin keluarga Aldric harus menanggung rasa bersalah yang seharusnya hanya Arumi yang boleh memilikinya. Dia yang sudah mengacaukan pekerjaan Charles dan membuat ayah sahabat baiknya itu berakhir dengan di pecat dari pekerjaan yang sudah belasan tahu ia geluti.
"Sudah ku bilang kan, Bella ? Pekerjaanku kembali bahkan aku naik jabatan pasti karena terjadi sesuatu ! Dan ternyata dugaanku benar, 'kan ? Lihatlah ! Arumi tiba-tiba meminta untuk kembali ke Indonesia setelah beberapa bulan yang lalu dia sendiri yang bertekad sekeras baja ingin memulai hidup baru di sini!" kata Charles kepada Isabella.
Isabella terdiam. Ia menoleh pada Arumi yang masih menangis sambil tertunduk dalam, menatap tautan jemarinya sendiri.
"Apa Uncle-mu benar, Aru ?" tanyanya penuh kelembutan. Tak ada amarah dalam setiap perkataannya. Berbanding terbalik dengan sikap yang di tunjukkan oleh suaminya, Charles.
"Sebenarnya ada apa ini ? Aku sama sekali belum mengerti dengan apa yang terjadi," imbuh Charlie yang masih bingung dengan apapun yang orang-orang bicarakan.
Isabella dan Charles saling bersitatap. Kedua suami istri itu menghela napas bersamaan. Charles kemudian kembali duduk di kursinya sambil melipat kedua tangannya di atas meja.
"Kau ingat ketika Daddy memukul Leon hari itu, Char ?" tanya Isabella lembut pada Charlie yang duduk berseberangan dengannya. Tepat di samping Arumi yang masih terisak dalam.
Charlie mengangguk. Tentu saja, kejadian beberapa hari yang lalu itu masih melekat di dalam ingatannya.
"Karena insiden itu, Duke Xander marah dan membuat Daddymu kehilangan pekerjaan," lanjut Isabella.
__ADS_1
"Apa ?" Charlie membekap mulutnya sendiri tak percaya. "Kenapa kalian tidak pernah membahasnya denganku ?" ucap gadis itu terkesiap.
"Itu karena Mommy dan Daddy tidak ingin kau dan Aru khawatir, Sayang !" jawab Isabella lagi.
Charlie tertawa sarkas. Tangannya terkepal erat sambil menggeleng tak percaya.
"Kurang ajar sekali laki-laki itu. Apa karena dirinya kaya dan punya kekuasaan dia berhak mempermainkan hidup kita seperti ini ?" ucap Charlie geram.
"Lalu, apa hubungannya dengan Arumi yang meminta ingin kembali ke Indonesia ?" lanjutnya lagi.
"Karena, semalam Mr. Hemsworth menghubungi Daddy dan mengatakan Daddy di perbolehkan bekerja kembali. Pria itu bahkan berkata akan menaikkan jabatan Daddy sebagai tanda permintaan maaf. Bukankah itu alasan yang terlalu di buat-buat ? Daddy sangat yakin bahwa alasan dari semua itu adalah perkataan Arumi yang meminta pulang ke Indonesia barusan." Charles menjawab dengan nada yang berapi-api.
Charlie beralih menatap wajah Arumi dengan tatapan berkaca-kaca. Gadis tomboy itu menyentuh pundak Arumi dengan begitu lembut.
"Apa yang Daddy katakan itu benar, Aru ?" tanya Charlie dengan lirih.
"Aru ! Ku mohon ! Jujurlah ! Bukankah kita ini keluarga ?" serak Charlie nyaris tak terdengar. Gadis itu menyeka ujung matanya yang mengeluarkan kristal bening dari sana.
Tangis Arumi semakin kencang. Keluarga. Ya. Mereka memang keluarga. Sebuah ikatan yang terjalin dengan rasa kasih sayang yang tulus dan ikhlas. Cinta yang begitu murni tanpa mengharapkan imbalan satu sama lain. Sebuah hubungan yang terjalin tanpa pertalian darah yang mengikat mereka namun tetap kuat bahkan mengalahkan hubungan keluarga yang sebenarnya.
"Justru karena kita keluarga aku melakukan ini," kata Arumi di sela tangisnya.
Kepala gadis itu mulai terangkat. Jemarinya di bawah meja mencengkram erat dress panjang yang ia pakai. Berusaha mendapatkan sedikit kekuatan agar apapun yang terpendam di dalam hati bisa terungkap tanpa tersisa sedikit pun.
"Kalian selama ini sudah melindungiku dengan sekuat tenaga. Kalian bahkan rela ikut menderita demi mencegah aku terluka lebih dalam. Tapi....." Arumi menggantung kata-katanya. Ia membiarkan isakan tangisnya menyela sebentar sebelum ia melanjutkan kembali.
__ADS_1
"Aku juga ingin melindungi kalian. Aku juga ingin mencegah kalian terluka. Apa itu salah ?" ucapnya dengan susah payah.
Charles menghela napas panjang. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kau tidak harus berkorban sebanyak ini demi kami, Aru ! Kau tidak harus menukar mimpimu demi kami. Jika Uncle tidak lagi bekerja untuk Mr. Hemsworth, Uncle bisa bekerja di tempat lain. Jangan cemas akan hal itu," tukas Charles dengan nada yang mulai melembut.
Arumi tertawa di sela tangisnya mendengar ucapan Charles. Ia kemudian menyeka air mata dengan punggung tangannya. Ujung hidung gadis itu tampak memerah.
"Aku tidak bodoh, Uncle ! Apa Uncle pikir aku tidak tahu bahwa Duke Xander sudah memblokir hampir semua usaha di kota ini untuk menerima Uncle ?"
Isabella memejamkan matanya. Air mata wanita itu ikut luruh mendengar ucapan Arumi. Arumi ternyata tahu lebih banyak dari yang ia duga. Gadis itu benar. Duke Xander memang sudah memblokir semua perusahaan untuk mempekerjakan suaminya. Padahal, dengan latar belakang dan riwayat kerja Charles, perusahaan manapun pasti akan memberikan suaminya itu pekerjaan tanpa pikir panjang.
"Jika tidak ada yang mau mempekerjakan Uncle, Uncle bisa membuat usaha sendiri. Mudah bukan ?" kata Charles.
"Merintis usaha dari nol butuh waktu lama, Uncle ! Sementara, berapa banyak orang yang harus Uncle hidupi ? Aru tahu bagaimana perhatiannya Uncle pada pekerja-pekerja Uncle. Uncle pasti tidak tega memecat beberapa dari mereka, bukan ? Jika sudah begitu, bagaimana Uncle bisa membayar gaji mereka untuk bulan ini dan bulan depan ? Sementara membuka usaha juga butuh modal yang besar !"
"Aru...."
"Uncle ! Tolong jangan keras kepala !" lirih Arumi. "Arumi benar-benar tidak apa-apa jika harus kembali ke Indonesia. Lagi pula, bukankah kalian bisa setiap saat datang untuk mengunjungiku ?" Arumi kembali tersenyum. Mencoba menguatkan diri sendiri agar keluarga angkatnya bisa ikut kuat.
Charlie tak tahan lagi. Gadis tomboy itu mendekap erat Arumi. Suara isak tangis tak mampu ia sembunyikan.
"Maaf karena aku tidak bisa membantu, Aru !" ucap Charlie yang merasa gagal telah melindungi Arumi.
Arumi menggeleng. "Kau sudah membantuku jauh lebih banyak dari yang kau tahu, Charlie ! Jangan menyalahkan dirimu lagi," jawabnya seraya tersenyum getir.
__ADS_1
Kalah. Itulah yang Arumi rasakan saat ini. Lagi-lagi cintanya harus kandas untuk kedua kali. Tidak hanya kecewa karena Leon telah berbohong. Hatinya turut merasakan pedih karena ayah dari pemuda itu telah menyeret keluarga angkatnya masuk ke dalam permasalahan ini. Jika dengan pergi bisa membuat keluarganya aman, maka Arumi dengan lapang dada akan melakukannya.