Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#92


__ADS_3

Arumi sudah bersiap untuk pulang lebih awal hari ini karena merasa sedang tidak enak badan. Dari awal berangkat kerja, kepalanya memang sudah terasa agak berat. Hidungnya juga terasa agak mampet. Mungkin, gejala akan terkena demam atau flu. Perempuan cantik itu sudah meraih tas dan bersiap memesan ojek online untuk kembali ke apartemen ketika ia melihat sosok pria paruh baya yang sedang bersandar di pintu mobil mewah di depan butiknya.


Arumi mengedipkan matanya beberapa kali. Berniat mengusir bayangan yang ada di depan sana namun terus gagal. Tampaknya, sosok itu memang nyata dan bukan khayalan Arumi semata.


Pria paruh baya itu melihat Arumi yang sedang berdiri terpaku di depan pintu butik. Ia lalu tersenyum canggung dan melambaikan tangan. Arumi pun segera memperbaiki letak tasnya dan menghampiri pria paruh baya itu meski sebenarnya ia tak ingin.


"Mau apa anda kemari ?" tanya Arumi dingin.


"Ayah ingin berbicara denganmu, Nak !" jawab Jonathan dengan suara lembutnya. Pandangan mata pria paruh baya itu tampak sayu.


"Apalagi yang ingin anda bicarakan denganku ? Bukankah hari itu aku sudah bilang bahwa hubungan kita sebagai Ayah dan Anak sudah terputus ?" Napas Arumi terdengar memburu. Genangan air mata itu kembali berkumpul di sudut matanya. Membuat penglihatan Arumi sedikit buram namun ia enggan untuk berkedip demi menahan air mata itu tumpah di depan Jonathan.


Ia tak ingin terlihat lemah dan tak berdaya lagi di hadapan pria yang tak pernah sekalipun menganggapnya sebagai anak selain untuk di jadikan tumbal mempertahankan nama baik keluarga. Demi apapun ! Arumi sudah cukup untuk hal itu. Ia sudah selesai.


Jonathan tertunduk dalam. Susah payah ia meneguk salivanya yang terasa mengering. Putrinya yang selalu menyayanginya sekarang sudah membencinya. Gadis lembut pemaafnya sudah menghilang. Dan, Jonathan sadar bahwa dia memang pantas menerima itu semua setelah perlakuan buruknya selama ini terhadap Arumi.


"Bisakah Ayah meminta waktumu sebentar ? Ayah hanya ingin berbincang denganmu. Ayah hanya ingin tahu kabarmu selama ini." Jonathan masih tertunduk. Sama sekali tidak berani menatap netra sang anak yang sudah pasti memancarkan aura kebencian terhadapnya.


"Untuk apa ?" suara serak Arumi mencoba untuk tetap terdengar tegar.


Jonathan tak tahan lagi untuk tidak meneteskan air matanya. Bibir pria itu bergetar dengan tangan kiri yang berusaha berpegangan pada pintu mobil di belakangnya agar tubuh ringkihnya tak merosot jatuh ke tanah.


"Ayah merindukanmu !" ucapnya dengan nada yang penuh kesakitan.


Arumi membuang pandangannya ke arah lain. Buliran air matanya sudah turut tumpah. Membenci seorang Jonathan rupanya tak semudah yang ia bayangkan. Hati kecil gadis itu masih saja tetap menyembunyikan rasa sayang pada sosok seorang Ayah yang selama ini selalu mengecewakannya.

__ADS_1


* * *


Arumi dan Jonathan kini sudah berada di sebuah restoran. Jonathan sengaja memesan ruangan VIP agar tak ada yang mengganggunya untuk berbincang dengan sang putri.


"Makanlah !" Jonathan menyendokkan lauk ke piring Arumi.


Gadis itu terdiam. Melihat irisan daging sapi panggang yang baru saja di letakkan Jonathan di piringnya.


"Kenapa baru sekarang ?" Suara bergetar Arumi kembali terdengar. Kedua tangannya terkepal di sisi piring putih di hadapannya.


Jonathan yang menikmati makanannya dalam diam segera mendongak. Meletakkan sendok dan garpu miliknya lalu mengunyah sisa makanan di dalam mulut dengan susah payah.


"Apa kau tidak bisa memaafkan Ayah, Aru ?"


"Apa perbuatan anda pantas di maafkan ?" Arumi balik bertanya.


"Ayah memang orang yang bodoh. Ayah sudah menyia-nyiakanmu hanya karena tak ingin kehilangan Katherine dan Lily ! Maafkan Ayah !"


Arumi menyeka air matanya yang keluar. Ia pun berdiri dan meraih tasnya dengan segera.


"Jika memang anda menganggap mereka jauh lebih berharga, seharusnya anda tidak kemari hari ini untuk menemuiku !" Arumi berjalan cepat hendak menuju pintu keluar. Namun, Jonathan segera menahan lengannya. Memaksa ia berbalik kembali menghadap pria paruh baya itu.


"Ayah menyesali semuanya, Aru ! Tolong beri Ayah kesempatan untuk menebus segala kesalahan Ayah padamu dan juga Ibumu ! Ayah mohon !" Jonathan berlutut memohon di depan Arumi.


"Jika memang anda ingin menebus kesalahan anda padaku dan juga ibuku, maka mulai sekarang, biarkan aku hidup dengan tenang. Jangan muncul di hadapanku lagi dan nikmati saja sisa hidupmu dengan istri dan anak yang jauh lebih kau cintai !"

__ADS_1


Perasaan Jonathan hancur. Dadanya terasa begitu sakit. Ia tak bisa menghentikan langkah cepat Arumi yang sudah berjalan menjauhinya. Tenaganya habis. Perkataan Arumi sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan Jonathan hingga ke tulang-tulang. Dan, sepersekian detik berikutnya, pria paruh baya itu jatuh tak sadarkan diri. Ia ambruk di depan pintu dan segera di tolong oleh seorang pelayan laki-laki yang kebetulan baru selesai mengantar pesanan di ruangan VIP sebelah.


"Nona ! Anda yang berada di ruang VIP tadi kan ?" Seorang pelayan wanita mengejar Arumi hingga ke depan restoran.


Arumi mengangguk heran. Ia baru saja akan memanggil taksi ketika pelayan wanita itu menghampirinya.


"Ada apa ?" tanya Arumi.


"Orang yang bersama anda pingsan di dalam."


"Apa ?"


Tak butuh waktu lama bagi Arumi untuk berpikir. Ia segera berlari menemui Jonathan yang benar-benar tak sadarkan diri di tempat di mana tadi Arumi meninggalkannya. Ia pun segera menelepon Ambulance untuk segera datang.


"Ayah ! Apa yang terjadi ?" Arumi menepuk-nepuk pipi Jonathan namun pria paruh baya itu tak juga sadar.


* * *


Tiba di rumah sakit, Jonathan segera di larikan ke IGD. Berdasarkan diagnosa awal, kemungkinan pria itu jatuh pingsan karena serangan jantung yang ia derita kambuh. Arumi hanya bisa menunggu dengan cemas di depan ruangan dan berharap ayahnya akan baik-baik saja.


Arumi meringkuk dengan memeluk kedua lututnya sendiri. Ia tak menyangka bahwa ayahnya akan seperti ini usai mendengar ucapannya.


"Maaf, anda keluarga pasien yang baru di bawa tadi ?" tanya seorang dokter yang baru keluar dari ruangan tempat Jonathan di masukkan beberapa saat yang lalu.


"Saya anaknya, Dok !" ucap Arumi seraya berdiri.

__ADS_1


"Ayah anda mengalami penyumbatan di pembuluh darah di dalam jantungnya. Untuk itu, kami butuh tanda tangan anda agar prosedur operasi bisa kami lakukan."


"Baik, Dok !" ucap Arumi sigap sambil menerima sebuah berkas yang harus ia tanda tangani dari seorang Suster. Setelah itu, Arumi segera di bawa ke ruang administrasi rumah sakit untuk menyelesaikan biaya rumah sakit sebelum operasi di lakukan.


__ADS_2