
Sampai di rumah sakit, petugas medis sudah menunggu dan langsung mengambil alih Leon dari Zack dan Frederick. Mereka bertindak secepat mungkin demi menyelamatkan pasien. Leon pun di bawa ke ruang IGD guna mendapatkan perawatan.
Zack terlihat begitu sangat terpukul. Pemuda itu hanya bisa duduk di kursi tunggu sembari tertunduk dan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. Sementara Frederick sedang bersandar di dinding, menumpukan dahinya di tembok yang dingin sembari memejamkan mata frustasi. Tangannya yang terkepal memukul tembok beberapa kali.
"Bagaimana ini, Uncle ?" tanya Zack kepada Frederick.
"Entahlah, Zack ! Berdoa saja, semoga adikmu tidak apa-apa," jawab Frederick. Ia menepuk pelan bahu keponakan sulungnya dengan lembut.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang perawatan. Dokter tersebut membuka masker yang menutupi wajahnya sembari menghela napas prihatin. Zack langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut yang tengah berhadapan dengan Frederick.
"Bagaimana keadaan keponakan saya, Dok ?" tanya Fred dengan wajah kusut penuh kekhawatiran.
"Kondisinya tidak baik. Keponakan anda mengalami keracunan alkohol. Dia juga menderita luka pada hati dan lambungnya mengalami kebocoran. Kita harus melakukan operasi secepat mungkin," ucap dokter itu.
"Lakukan saja, Dok ! Apapun, asal Leon bisa sembuh akan kami ikuti !" balas Fred.
Dokter itu mengangguk dan kembali masuk ke dalam ruangan di mana Leon sedang di tangani. Beberapa saat kemudian, Duke Xander baru tiba bersama Ronald.
"Bagaimana Leon ?" tanyanya pada Zack dan Fred.
Frederick langsung bereaksi pada pertanyaan Duke Xander. Pria itu memegang kedua sisi kerah kemeja yang Duke Xander pakai lalu menabrakkan tubuh adik kandungnya itu ke dinding.
"Kau masih bertanya tentang keadaannya setelah kau sendiri yang melakukan semua ini, hah ?" Frederick menatap tajam.
"Dia putraku, Fred ! Tentu saja aku berhak menanyakan keadaannya," kata Duke Xander seraya mendorong tubuh Fred. Sekejap, Duke Xander sudah terbebas dari cengkraman Frederick.
Frederick mendengus kasar mendengar perkataan Duke Xander. Anak dia bilang ? Sejak kapan ada ayah yang bertindak seperti Duke Xander ? Ayah macam apa yang malah membuat anaknya menderita hingga sekarat seperti ini ?
"Kau masih mengaku bahwa kau Ayahnya ? Apa kau tidak malu Xander ?" desis Frederick.
__ADS_1
"Dia memang putraku ! Kenapa aku harus malu ?" Duke Xander juga tak mau kalah.
"Kau benar-benar Ayah yang egois !"
"Dan kau orang yang tidak semestinya ikut campur dalam urusanku dan putraku !" desis Duke Xander tak mau kalah.
"Cukup !" teriak Zack yang sudah jengah mendengar pertengkaran antara ayah dan pamannya.
"Apa kalian tidak malu bertengkar di tempat umum seperti ini ? Berapa umur kalian ?" bentak Leon pada dua orang tua yang justru malah bertingkah seperti anak-anak.
Fred dan Duke Xander hanya saling bersitatap benci sebelum berbalik saling membelakangi. Setelah itu, tak ada lagi suara yang terjalin hingga Leon di bawa keluar dari dalam ruang perawatan dan bersiap untuk memasuki ruang operasi.
"Jika sesuatu yang buruk terjadi pada keponakanku, kau orang yang pertama akan ku lenyapkan Xander !" ancam Frederick.
"Kau pikir, apa kau pantas mengancamku seperti ini ?"
Frederick tersenyum sinis. Senyum yang mengisyaratkan bahwa dia mampu melakukan apapun yang dia mau. Baik dulu maupun sekarang, Frederick tetap akan melakukan segala sesuatu yang di yakininya benar tanpa peduli siapa pun yang menghadang jalannya. Ia kemudian memutuskan berjalan menjauh dari sana usai ia mendapatkan telepon dari seseorang.
"Uncle ? Bagaimana Leon ?" tanya Claire yang baru saja kembali dari lokasi syuting. Setelah mendengar bahwa calon suaminya masuk ke rumah sakit, perempuan cantik itu segera buru-buru menuju ke sana. Wajahnya terlihat sembab. Tanda bahwa dia pasti menangis selama perjalanan kemari.
"Operasinya berjalan lancar. Hanya saja, Leon masih belum sadar juga sampai sekarang," jawab Duke Xander datar.
"Apa Jane boleh melihat Leon ?"
Duke Xander menggeleng. "Dokter belum memperbolehkan siapa pun untuk menjenguk Leon saat ini. Lebih baik kau pulang saja. Kembalilah kemari jika Leon sudah sadar," tolak Duke Xander dengan suara beratnya.
Claire menyeka air matanya sebelum mengangguk dan bergegas pulang sesuai perintah Duke Xander. Di tengah jalan ketika dia hendak keluar dari rumah sakit, Claire berpapasan dengan Zack yang baru saja membeli kopi dari mesin minuman.
Claire tersenyum sinis ketika melihat Zack. Dengan cepat, dia sudah mendaratkan telapak tangannya pada pemuda yang sedang memegang dua gelas kopi hangat itu.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa menjaga Leon dengan benar, Zack ? Teman macam apa kau ini ?" kata Claire yang di penuhi amarah.
"Kau menyalahkan aku ?" desis Zack dengan seringai sinisnya.
"Ya. Kalau bukan kau yang layak di salahkan, lantas siapa lagi ?"
Zack tertawa kecil menanggapi kemarahan Claire yang berapi-api. Pemuda itu melangkah mendekat pada Claire, yang menyebabkan perempuan cantik itu ikut mundur selangkah demi selangkah hingga tubuhnya membentur tembok di belakangnya. Zack mendekatkan wajahnya ke wajah Claire. Membuat bibir mereka begitu dekat hingga Claire pun memilih memalingkan wajahnya sembari mengepalkan kedua tangannya di bawah sana.
Zack menyentuhkan bibirnya di telinga perempuan yang berstatus sebagai calon istri adiknya itu. Berbisik dengan nada begitu rendah yang membuat mata Claire hanya bisa terpejam.
"Apa kau pernah berpikir bahwa ini semua bisa jadi adalah salahmu ?"
"Jangan mengada-ada, Zack ! Kenapa semua ini harus menjadi salahku ? Kau yang tidak becus menjaga teman baikmu itu," kata Claire dengan suara tertahan. Posisi Zack yang menghimpitnya dengan bibir pemuda itu yang masih berlarian di sekitar telinga dan lehernya membuat Claire benar-benar merasa tidak nyaman.
"Kau masih belum sadar juga ternyata." Zack kembali tertawa kecil. "Leon tidak akan seperti ini andai kau merelakan dia bersama gadis yang di cintainya," lanjut Leon.
Claire langsung mendorong tubuh Zack. Menyebabkan pemuda itu terpundur ke belakang dengan senyum meremehkan yang masih melekat di wajah tampan itu.
"Maksudmu Arumi ? Itu tidak akan pernah terjadi, Zack ! Leon hanya milikku dan bukan perempuan itu," ucap Claire dengan geram.
"Kau tahu siapa pemilik hati Leon yang sebenarnya, Claire ! Apa gunanya kau memiliki tubuhnya jika tidak dengan hatinya ? Apa menurutmu, kau akan bahagia hidup bersama pria yang tidak pernah menaruh hati padamu ?" Zack mengangkat sebelah alisnya.
Napas Claire terdengar memburu seiring dengan detak jantungnya yang berpacu semakin cepat. Perkataan Zack semakin membuat dia bertambah kesal.
"Aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku seiring berjalannya waktu. Dan, jika hari itu sudah tiba, kau orang pertama yang akan ku singkirkan dari hidup Leon !" Claire menunjuk wajah Zack dengan penuh percaya diri. Mengira bahwa ancaman itu bisa membungkam Zack.
Lagi-lagi Zack berjalan mendekat ke arah Claire. "Kau terlalu percaya diri, Cla ! Sayangnya, hal itu tidak akan pernah terjadi. Kau tidak memiliki kekuatan apapun untuk memisahkan seorang kakak dengan adiknya. Tidak akan pernah !" Zack berkata tegas di akhir kalimat.
"Apa maksudmu ?" tanya Claire dengan heran.
__ADS_1
"Tanyakan saja pada Duke Xander," Zack kembali tersenyum kemudian beranjak pergi meninggalkan Claire dengan seribu pertanyaan di dalam otak gadis itu.