
"Ronald !" Panggil Duke Xander sebelum kepala pelayan itu keluar dari ruang baca.
Tangan Ronald yang sudah memegang gagang pintu kembali di jatuhkan. Pria itu berbalik dan menunduk penuh hormat pada Duke Xander.
"Ya Duke !"
"Jangan biarkan Leon keluar dari rumah selama seminggu ke depan. Perketat penjagaan dan persilahkan para pengawal untuk menyeret Leon jika anak itu melawan."
Mata Ronald membulat tak percaya. Duke Xander sepertinya benar-benar menentang hubungan Leon dengan gadis asia yang sebenarnya Ronald belum tahu pasti identitasnya. Meski merasa keberatan dengan tindakan Duke Xander, Ronald tetap menganggukkan kepala.
"Baik Duke !"
"Kau boleh keluar." Duke Xander mempersilahkan dengan gerakan tangan.
Ronald segera meninggalkan ruangan itu dan bergegas memberi pengumuman kepada para pengawal akan titah baru yang di turunkan sang atasan. Air muka Ronald seperti sedang menahan sesuatu. Ya. Pria itu merasa sangat kasihan pada nasib Tuan mudanya. Tumbuh besar tanpa seorang ibu dan tak pernah bisa melakukan apapun yang dia inginkan benar-benar membuat Ronald merasa iba. Bagaimana bisa seorang pangeran yang tumbuh berlimpah kemewahan memiliki hidup semenyedihkan itu ?
Namun, apa daya yang bisa di lakukan Ronald ? Dirinya hanya sebatas pekerja di mansion besar itu. Dia tidak memiliki hak apapun untuk ikut campur dalam urusan keluarga atasannya. Itu jelas bertentangan dengan etika dirinya yang hanya bertitel kepala pelayan.
Ronald menghela napas berat dan segera berbalik untuk menuju ke belakang. Namun, pria itu terkesiap saat menemukan Tuan Mudanya sudah berdiri tak jauh darinya.
"Tuan Muda !" Ronald membungkuk, menyapa sambil menundukkan pandangan.
"Aku ingin keluar. Tolong jangan beritahu Daddy." Ucap Leon sembari melangkah hendak melewati Ronald.
"Maaf, Tuan Muda ! Duke sudah berpesan bahwa anda tidak boleh kemana-mana." Ronald menghalangi Leon dengan tangannya.
"Singkirkan tanganmu, Ronald !" Leon menggeram dengan tangan terkepal. Manik cokelatnya memberi tatapan sangat tidak suka terhadap Ronald yang hanya bisa menunduk pasrah.
"Sekali lagi maaf. Ini sudah perintah mutlak dari Duke."
Leon tak peduli dengan ucapan Ronald. Di tepisnya dengan kasar tangan Ronald yang menghalangi jalannya. Pria itu tetap dengan percaya dirinya melangkah hendak melewati pintu besar mansion.
__ADS_1
"Jangan biarkan Tuan Muda melangkahi pintu itu." Ronald berseru lantang yang langsung di respon cepat oleh beberapa penjaga yang berada di sana.
"Mau apa kalian ?" Leon semakin geram ketika dua dari 5 pengawal itu mendekat padanya. Memegangi kedua sisi lengannya dan tak membiarkan pemberontakan Leon membuahkan hasil.
"Ronald ! Suruh mereka melepaskanku !" Pinta Leon pada kepala pelayan mansion yang saat ini hanya memasang raut wajah datar. Persis seperti seseorang yang sangat Leon kenal.
Tak menghiraukan permintaan Leon, Ronald memberi kode lewat anggukan kepala kepada pengawal untuk menyeret paksa Leon kembali ke kamarnya. Pemuda berambut brunette itu tentu saja melakukan perlawanan namun tak memberi dampak memuaskan sedikit pun.
"Lepaskan aku ! Ronald, berani sekali kau berlaku seperti ini padaku !" Teriak Leon marah ketika melewati Ronald saat tengah di seret untuk naik ke kamarnya kembali.
"Kunci kamar Tuan muda dari luar ! Jangan sampai dia kabur." Ronald berseru mengingatkan para pengawal yang di balas anggukan kepala oleh mereka.
Leon tiba di kamar dan di dorong kasar oleh para pengawal agar masuk ke dalam. Setelahnya, para pengawal itu benar-benar melakukan apa yang Ronald perintahkan. Mengunci pintu kamar Leon dan membiarkan pemuda itu terkurung sendirian di dalam sana.
"Buka !" Teriak Leon sambil menggedor-gedor pintu kamar namun tak di gubris siapapun. Sekeras apapun suaranya berteriak, semua mengabaikan dirinya.
Pemuda berambut brunette itu berjalan menuju tepi ranjang. Menghempaskan bokongnya dengan kasar di atas sana dengan tangan yang mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana ini ? Padahal dia ada janji bersama Arumi akan ke DisneyLand lagi. Namun sayangnya, rencana itu sepertinya tidak akan bisa terwujud.
//Kau dimana ? Aku sudah selesai bekerja.//
Leon menghela napas berat ketika membaca isi pesan itu. Wajahnya nampak murung dan begitu menyedihkan. Apa yang harus dia katakan pada Arumi ? Apa dia harus jujur bahwa Ayahnya yang tidak berperasaan itu sedang mengurungnya ? Tidak tidak tidak. Leon menggeleng. Itu bukan opsi yang bagus.
Setelah cukup lama mengamati sikap gadis itu, Leon bisa menyimpulkan bahwa Arumi gadis yang sangat lembut dan baik. Gadis itu juga perasa dan gampang tersentuh akan hal-hal kecil. Dan jika dia berkata jujur, maka Arumi pasti akan menyalahkan dirinya karena permasalahan ini. Tentu Leon tidak mau itu. Karena biar bagaimanapun, Leon lah yang paling bertanggungjawab dalam masalah ini. Arumi sama sekali tidak bersalah.
"Aku masih banyak pekerjaan. Maaf ! Sepertinya hari ini kita tidak bisa pergi."
Leon menutup matanya usai mengirim pesan itu. Rasa bersalah karena sudah berbohong menikamnya tanpa ampun. Membayangkan bagaimana raut wajah Arumi yang kecewa ketika membaca pesan balasan darinya memberi penyesalan teramat dalam pada diri Leon. Bagaimana tidak ? Dia sangat tahu bahwa gadis itu begitu menyukai Disneyland. Dan ketika Leon mengutarakan akan mengajaknya ke sana kembali, Arumi melompat girang dengan sangat bahagia.
//Tak apa. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Kita bisa pergi kapan-kapan.//
__ADS_1
"Kau tidak marah ?"
//Tidak. Aku mengerti jika kau sangat sibuk. Lagipula, jika kita tidak jadi pergi, Charlie pasti akan senang. Dia juga mengajakku pergi malam ini.//
"Baiklah ! Pergilah dengan Charlie. Bersenang-senanglah Honey !"
//Kau juga. Jangan terlalu lelah dan jangan lupa makan. Kau harus tetap sehat dan jangan sampai sakit.//
Balasan dari gadis Asia kesayangannya membuat hati Leon semakin mencelos. Lihatlah ! Betapa pengertiannya gadis yang ia pilih sebagai tempat untuk menambatkan hatinya itu. Namun sayang, pengertian itu bukan syarat yang di sematkan Duke Xander untuk menjadi pendamping Leon di masa depan.
Ayahnya itu memilihkan pendamping hanya berdasarkan latar belakang keluarga perempuan itu saja. Jika hanya kalangan biasa, sebaik apapun dia, tak akan pernah masuk dalam pertimbangan Duke Xander. Tidak sekarang, tidak juga nanti.
* * *
"Apa Leon tadi ingin pergi ?" Duke Xander mengelap sudut mulutnya dengan serbet lalu bertanya tanpa menoleh sedikitpun pada Ronald yang berdiri di belakangnya. Pria itu baru saja selesai makan.
"Iya Duke !" Ronald menjawab sambil menganggukkan kepala.
"Apa yang kemudian kau lakukan ?"
"Saya meminta para pengawal untuk menyeret Tuan Muda ke dalam kamar dan mengurungnya."
"Apa anak itu melawan ?" Kepala Duke Xander sedikit menoleh. Tampak sedikit tertarik pada ucapan Ronald.
"Iya Duke. Tuan Muda sempat melawan."
Duke Xander terdiam sebentar. Kembali meneguk air minumnya di dalam gelas lalu berdiri usai menghabiskan makan malamnya sendirian di meja makan yang sangat besar. Hanya Ronald yang menemani tanpa anggota keluarga satu pun. Sangat sunyi.
"Antarkan makanan untuknya ! Dan katakan ! Suruh dia memutuskan hubungan dengan gadis Asia itu sebelum aku kehilangan kesabaran."
"Baik Duke." Ronald kembali mengangguk patuh. Hanya ini yang bisa dia lakukan di dalam rumah besar ini. Mengangguk dan mengangguk.
__ADS_1
Selepas Duke Xander meninggalkan meja makan, Ronald baru bisa menghela napas. Ia tahu benar mengapa Duke Xander membenci kekasih Leon. Namun, Ronald tetap tidak bisa mengerti jalan pikiran Duke Xander. Mengapa dia membenci gadis yang sebenarnya tidak ada salah sama sekali ? Padahal Duke Xander tentu tahu bahwa gadis itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan seseorang di masa lalunya. Seseorang yang mengubah pribadinya yang hangat menjadi sedingin ini.