
"Tuan Muda ! Anda masih belum sehat ! Lebih anda beristirahat saja. Jangan kemana-mana !" kata Ronald yang berusaha mensejajari langkah terburu-buru Leon menuju ke garasi.
"Jangan pedulikan aku, Ronald ! Aku tidak apa-apa," Leon membuka pintu Maserati Levante berwarna putih miliknya dan masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Ia segera mengunci pintu mobil sebelum Ronald berhasil membuka pintu itu.
"Anda mau ke mana ?" tanya Ronald. Ia menggedor-gedor kaca mobil dengan panik.
"Bukan urusanmu !" Leon menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas keluar dari garasi dan melewati halaman beserta gerbang utama mansion kediamannya. Ia meninggalkan Ronald yang masih kebingungan sendirian di dalam garasi yang luasnya hampir menyamai lapangan sepak bola itu.
Ronald segera mendatangi Duke Xander di ruang kerjanya. Ketika dia datang, Zack masih berada di dalam sana. Duduk terdiam di sofa cokelat di sudut ruangan sementara Duke Xander sendiri duduk sambil memejamkan mata di belakang meja kerjanya.
"Ada masalah apa lagi ?" tanya Duke Xander jengah.
"Tuan Muda baru saja pergi meninggalkan rumah," jawab Ronald.
Duke Xander menghela napas dan mengusap wajahnya kasar. Sepertinya, Leon memang benar-benar ingin membuatnya murka besar.
"Zack ! Susul Leon dan bawa dia kembali ! Anak bodoh itu pasti ingin menemui gadis Asia itu lagi," perintah Duke Xander tanpa melirik Zack sedikit pun.
Zack mengangguk lemah dan segera melaksanakan perintah ayah kandungnya. Demi mendapat pengakuan yang bertahun-tahun ia impikan, Zack rela melakukan apapun untuk Duke Xander meski semua itu bertentangan dengan nuraninya.
* * *
Leon tanpa henti membunyikan klakson mobilnya tepat di depan gerbang kediaman keluarga Aldric. Para penjaga yang ada di sana sampai kebingungan. Harus dengan cara apa lagi untuk memberi tahu Leon bahwa Tuan mereka melarang dia untuk melewati gerbang barang sejengkal saja.
Pemuda itu tetap tak peduli akan seruan peringatan dari para penjaga. Dia masih terus membunyikan klakson mobilnya hingga setengah jam kemudian, pintu gerbang terbuka. Dan Leon melihat sosok gadis Asia kesayangannya melangkah keluar dari sana dengan wajah yang sembab.
Leon turun dari mobil dan segera berlari memeluk Arumi. Menghirup aroma tubuh gadis itu sebanyak yang ia bisa. Dia sangat-sangat merindukan Arumi sampai rasanya Leon hampir mati.
Arumi bergeming. Gadis itu hanya diam dan tak berniat membalas pelukan Leon sedikit pun. Hanya air mata yang keluar, yang memberi isyarat bahwa lukanya masih sama bahkan semakin parah. Setelah semua kebohongan Leon terbongkar dan Uncle Charles harus kehilangan pekerjaan karena ayah Leon, Arumi merasa bahwa takdir memang benar-benar sedang mempermainkannya.
"Mau apa kau ke sini ?" tanya Arumi dingin.
__ADS_1
Leon melepaskan pelukannya secara perlahan. Pemuda itu menatap manik hitam Arumi dengan perasaan sakit. Ia tak ingin di benci oleh gadis di hadapannya. Sama sekali tidak mau. Itu adalah mimpi terburuk yang sama sekali tak mau Leon alami.
"Aku merindukanmu Aru ! Kau pasti juga merindukanku kan ?" Leon menangkup wajah Arumi dengan tangan kanannya. Menyusuri wajah halus nan pucat gadisnya dengan perasaan hancur. Semua ini karenanya. Semua kesedihan yang terpatri di wajah yang saat ini ia sentuh adalah salahnya.
"Maaf karena aku sudah melukai hatimu Aru !" ucapnya dengan menyesal.
Arumi melepaskan tangan Leon perlahan dari wajahnya. Manik hitam itu menghunus tajam ke arah Leon dengan sorot penuh kebencian. Air mata sudah tertampung nyaris terjatuh dari pelupuk matanya.
"Lebih baik kau pergi sekarang ! Tinggalkan aku agar aku bisa hidup dengan tenang."
"Tidak. Aku tidak mau," geleng Leon dengan keras.
"Apa kau tahu apa yang telah terjadi hanya karena sifat keras kepalamu Leon ?" tanya Arumi.
"Apa ?" Leon balik bertanya. Suaranya terdengar lirih dan penuh dengan luka.
"Ayahmu sudah membuat Uncle Charles kehilangan pekerjaannya. Tidakkah kau tahu itu ?"
"Apa yang kau katakan itu benar Aru ?" tanya Leon memastikan.
"Apa menurutmu aku sedang berbohong ?" Arumi balik bertanya. Gadis itu tertunduk. Ia kembali terisak karena rasa bersalah yang menghantuinya.
"Semua ini salahku ! Jika saja aku mendengar nasehat Uncle Charles untuk tidak berhubungan dengan orang terpandang sepertimu, pasti semua ini tidak akan terjadi. Uncle masih akan tetap bekerja dan dia tidak perlu berpura-pura bahwa dia baik-baik saja di hadapan keluarganya," ujar Arumi sambil menyeka ujung matanya.
Leon memegang kedua sisi pundak Arumi. "Jangan menangis Aru ! Aku akan berusaha membujuk Daddy untuk mengembalikan pekerjaan Uncle Charles lagi. Aku janji !"
Arumi mendongak menatap Leon. Gadis itu tertawa kecil. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan ? Membantu dirimu sendiri saja kau tidak becus Leon !" kata Arumi sinis.
"Tapi, setidaknya aku akan berusaha untuk memperbaiki semuanya Aru ! Cukup beri aku kesempatan satu kali saja dan aku akan merubah semuanya."
"Kau benar-benar ingin memperbaiki segalanya ?" tanya Arumi bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Leon mengangguk antusias. Senyumnya mengembang cerah.
"Kalau begitu, jangan pernah muncul di hadapanku lagi ! Se-la-ma-nya !" ucap Arumi penuh penekanan.
Leon terpundur mendengar permintaan Arumi. Pria itu menitikkan air mata dengan perasaan hancur. Sementara Arumi sudah berbalik badan berniat untuk masuk ke dalam mansion kembali.
"Tunggu Aru !" Leon menahan lengan Arumi.
"Lepaskan !" sinis Arumi tajam.
"Jangan seperti ini Aru ! Jangan berkata bahwa kau tidak ingin menemui aku lagi. Aku mohon ! Jangan tinggalkan aku !" mohon Leon sambil berlutut di depan Arumi. Tangannya masih menahan lengan gadis cantik itu.
"Lepaskan !" Arumi meronta meminta Leon melepaskan tangannya.
"Tidak, sebelum kau menarik kata-katamu !" ucap Leon setengah berteriak.
Dua penjaga yang sejak tadi mengawasi mereka segera berlari mendekat. Satu di antaranya berhasil melepaskan pegangan Leon terhadap tangan Arumi dan yang satu lagi bergegas mengamankan Arumi untuk masuk ke dalam mansion kembali.
"Aru ! Aku mohon jangan tinggalkan aku !" teriak Leon histeris. Ia ingin mengejar Arumi yang sudah melewati gerbang mansion namun penjaga itu masih memegangi tubuhnya. Menahan langkah Leon untuk mendekati Arumi.
Tak berselang lama, Zack tiba di sana. Bergegas dengan cepat turun dari mobil dan menangkap tubuh Leon yang meronta-ronta seperti orang kesetanan.
"Kau kenapa Leon ? Hentikan !" kata Zack sambil memeluk tubuh Leon dari belakang.
Penjaga yang memegangi Leon tadi sudah melepaskan tubuh Leon. Pria itu kini berlari memasuki gerbang dan menutup rapat pintu itu kembali.
"Lepaskan aku Zack ! Aku ingin menemui Arumi ! Dia tidak boleh meninggalkanku seperti ini !" teriak Leon putus asa.
Perlahan namun pasti, tubuhnya kian melemah. Tenaganya yang memang masih belum pulih sudah terkuras habis. Ia jatuh terduduk di jalan sambil menangis.
Zack mendesah prihatin. Ia berjongkok di hadapan Leon dan memeluk Leon.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, Leon !"