Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#107


__ADS_3

Arumi duduk di ranjang besi rumah sakit dengan pergelangan tangan yang sudah di jahit oleh seorang dokter. Tatapan gadis itu masih nampak kosong. Jonathan duduk di salah satu kursi di dalam ruangan itu sementara Leon berdiri tepat di samping Arumi.


Perlahan, Leon meraih tangan Arumi. Di tatapnya bekas luka yang sudah tertutup perban putih itu dengan mata memerah. Setelah itu, ia kembali meletakkan tangan Arumi dengan hati-hati.


"Tolong jangan lakukan lagi!" Pria itu berusaha tersenyum demi menyamarkan kehancuran hatinya.


Arumi masih bergeming. Sedetik pun, ia tak ingin menatap wajah Leon.


"Aku akan pergi jika itu yang bisa membuatmu bahagia." Leon lagi-lagi tersenyum. Air mata kembali memenuhi pelupuk matanya. Membuat pandangannya terhadap sekitar menjadi buram.


"Berjanjilah untuk menikah dan bahagia bersama pria yang mencintaimu setulus hati. Nanti malam aku akan kembali ke Prancis. Aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi selamanya, Aru. Tapi, tetaplah tersenyum dan hiduplah dengan lebih baik tanpaku!" Leon mendekat. Mengecup dahi Arumi agak lama sebelum memundurkan kembali tubuh tegapnya.


"Aku pergi!" Pemuda itu melambaikan tangan. Mundur perlahan dengan senyuman dan berbalik dan melangkah cepat usai melewati pintu ruangan.


Bersamaan dengan itu, isak tangis Arumi sudah terdengar kencang. Jonathan yang terkesiap segera bangun dari kursinya dan berlari memeluk sang putri.


"Semua akan baik-baik saja, Aru!" ucap Jonathan.


Meski ia tak yakin bahwa semua akan berlangsung sesuai ucapannya, Jonathan tetap berusaha menguatkan dan meyakinkan Arumi.


Leon tersenyum dalam tangisnya. Berulangkali ia menyeka air mata yang keluar sambil tetap berusaha mengayunkan sepasang kakinya yang seolah lemas tanpa tenaga. Di ujung koridor, ia menemukan Alarick yang sudah berdiri di sana. Raut wajah sepupu jauhnya itu ikut bersedih atas apa yang Leon alami.


"Dia memilih menyerah tentangku, Rick!" ucap Leon selepas ia berada di hadapan Alarick.


Alarick menepuk bahu Leon sebelum memeluk sepupunya tanpa berkata apapun. Tak ada kata yang bisa menenangkan maupun menghibur Leon saat ini. Alarick sangat tahu itu.


***

__ADS_1


Pukul 10 malam, Leon terbang kembali ke Prancis dengan membawa kenangan sekaligus luka yang Arumi berikan. Gadis itu akan tetap menjadi yang terindah dalam hidupnya. Setiap jejak yang Arumi tinggalkan tak akan pernah Leon hapuskan barang sedetikpun. Arumi adalah cinta pertama meski bukan kekasih pertama untuk Leon. Arumi adalah cinta luar biasa yang selalu berhasil membuat Leon lupa untuk menapak bumi kembali saking bahagianya. Namun, Arumi juga adalah cinta beracun yang berhasil melumpuhkan Leon hingga ke tulang-tulang. Meresap dengan perlahan melalui jaringan darahnya. Menguasai setiap inti sel tubuh Leon hingga ketika waktu itu tiba, Cinta Arumi meremukkannya. Mencekiknya hingga ia kesulitan bernapas. Dan, langkah terakhirnya adalah mematikan Leon dalam sekejap.


Suara derap langkah Leon memasuki mansion besar milik keluarganya terdengar. Duke Xander dan Zack segera keluar untuk menyambutnya tak sabaran. Keduanya tersenyum senang. Namun, ketika menemui sosok putra dan adik mereka yang nampak rapuh, keduanya terdiam. Senyum itu musnah.


Duke Xander melangkah mendekat dan memeluk putranya. Leon membalas pelukan itu tak kalah eratnya.


"Aku gagal, Dad! Dia tidak menginginkan aku lagi," tangis Leon pecah. Mengadu seperti anak kecil kepada Duke Xander.


Duke Xander menepuk-nepuk bahu Leon. "Bersabarlah! Daddy yakin kau bisa melewati semua ini!" hiburnya.


Zack mengusap sudut matanya. Pemuda itu ikut bersedih atas apa yang telah menimpa adiknya. Hatinya turut merasa teriris kala melihat Leon lagi-lagi hancur sehancur-hancurnya.


***


Dua minggu kemudian, Arumi masih betah berdiam diri di kamar. Berulangkali Jonathan, Devan dan Selina berusaha menghiburnya. Akan tetapi, semua hal itu sia-sia. Arumi hanya tersenyum simpul dalam menanggapi kejutan ataupun lelucon dari mereka. Tak jarang, Arumi bahkan meninggalkan mereka di tengah-tengah obrolan dengan alasan lelah dan ingin beristirahat.


"Semua ini karena aku menikahkan Arumi denganmu! Dan sekarang, aku benar-benar menyesal. Andai saja Arumi tak tersakiti olehmu, dia tidak mungkin akan bertemu dengan lelaki itu. Putriku tidak akan semenderita ini sekarang!" ucap Jonathan yang selalu menyalahkan dirinya setiap hari.


Ya. Semua ini salahnya. Andai saja dulu dia lebih menyayangi Arumi. Andai saja dulu dia tidak meminta Arumi menggantikan Beverly di hari pernikahan. Mungkin, semua ini tidak akan terjadi. Putrinya mungkin saja sudah bahagia dengan seseorang yang sepantar dan mencintainya dengan tulus. Bukan lelaki seperti Irgi yang hanya bisa menyakiti dan bukan juga yang seperti Leon yang hanya memberi harapan kosong.


"Pergilah! Arumi tidak akan pernah kembali padamu! " usir Jonathan ketika menemukan sosok Irgi di depan pintunya lagi hari ini.


"Biarkan dia masuk, Ayah!" Suara lemah itu menginterupsi gerakan tangan Jonathan yang hendak menutup pintu.


Jonathan mau tak mau menuruti permintaan Arumi. Di bukanya kembali pintu itu meski ia mendengus kesal melihat Irgi.


"Menyerahlah, Kak!" ucap Arumi membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Apa aku benar-benar tidak memiliki kesempatan lagi?" tanya Irgi.


"Apa aku terlihat seperti orang yang akan mencintai lagi setelah kepergiannya?" ucap Arumi balas bertanya. Tatapan kosongnya menabrak netra Irgi yang masih terlihat begitu mendamba.


"Kita bisa memulainya pelan-pelan, Aru! Setidaknya, beri aku kesempatan untuk membantumu melupakannya."


"Aku sudah tidak bisa memberi Kak Irgi harapan palsu. Lukaku tidak akan sembuh dalam waktu dekat. Bahkan, mungkin saja tidak akan pernah sembuh." Arumi tersenyum.


Irgi menganggukkan kepala. Benar. Tak ada lagi kesempatan yang tersisa untuknya. Di mata Arumi hanya ada cinta untuk pria asal negara Prancis itu. Kesempatan untuk dirinya sudah lama hilang. Sejak ia memutuskan berselingkuh dengan Beverly di belakang Arumi yang begitu mencintainya sepenuh hati. Dulu.


"Maaf karena telah memberitahy segalanya pada Ayahmu!" Irgi tertunduk dan memohon maaf dengan tulus.


"Tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu, Kak!"


"Kau memaafkanku?" tanya Irgi setengah tak percaya.


"Tentu saja."


"Bisakah kita tetap dekat meski hanya sekedar teman, Aru?" tanya Irgi lagi.


Baginya, jika tidak bisa mendapatkan Arumi sebagai cintanya lagi, setidaknya ia masih bisa melihat Arumi meski melalui jendela pertemanan. Itu sudah lebih dari cukup untuk Irgi agar bisa menebus kesalahannya di masa lalu.


"Tentu saja, Kak!" jawab Arumi. Gadis itu berusaha tersenyum tulus meski raut wajahnya tak mendukung hal itu. Ia masih terluka. Namun, bukan karena Irgi lagi melainkan karena pemuda berambut brunette dengan mata kecoklatan yang ia temui di Pulau Moorea.


Di belahan benua lain, kondisi Leon tak jauh berbeda dengan Arumi. Pemuda itu lebih banyak diam. Ia lebih suka menyendiri atau menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan kantor.


"Aku siap, Daddy!" ucap Leon suatu hari. Sudah dua bulan berlalu sejak ia kembali dari Indonesia. Kini, pemuda itu siap untuk sesuatu yang baru. Ia telah banyak berubah dalam waktu yang singkat. Ia sudah menjadi lebih dewasa, bertanggung jawab dan menjadi pribadi yang bisa di andalkan oleh orang-orang.

__ADS_1


__ADS_2