Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#27


__ADS_3

"Apa kabar ?"


Pesan itu baru saja masuk ke email Arumi. Pesan dari laki-laki cinta pertamanya, sekaligus mantan suaminya yang menikahi kakak tirinya sendiri. Hah ! Rasanya Arumi ingin tertawa jika mengingat permainan takdir di hidupnya. Bukankah kisahnya sudah sangat bagus untuk di angkat ke layar kaca sebagai FTV yang sedang populer di Indonesia ? Kalian pasti tahu, FTV apa yang Arumi maksud.


Gadis cantik itu kembali menghela napas. Jemarinya masih berada di atas keyboard laptop dengan perasaan bimbang. Haruskah Arumi membalas atau lebih baik mengabaikan ?


"Aku merindukanmu, Aru !"


Satu lagi pesan yang masuk. Kali ini Arumi benar-benar tidak tahan untuk tidak mengeluarkan tawanya. Ada apa dengan Irgi ? Apa dia sudah gila atau sedang amnesia ? Sejak kapan dia merindukan Arumi ? Bahkan, saat menjadi istri Irgi pun, jangankan kata rindu, ucapan selamat pagi saja tak pernah Arumi dapatkan. Gadis itu yakin, pasti Beverly yang ingin mengerjainya dengan berpura-pura sebagai Irgi.


Benar kan ? Hanya itu jawaban yang paling masuk akal dalam kasus ini.


"Apa yang sedang kau lihat ?" Leon yang baru saja tiba menanggalkan mantel yang dia pakai, menyampirkannya pada kursi kosong di sebelah dan duduk tepat di hadapan Arumi.


"Tidak ada." Jawab gadis itu gugup. Di tutupnya segera laptop itu agar Leon tidak melihat pesan dari Irgi.


Leon mengangguk walaupun merasa sedikit janggal. Namun, pria itu memilih masa bodoh dan tidak terlalu banyak berpikir. Tidak mungkin Arumi menyembunyikan sesuatu yang aneh darinya.


Arumi dan Leon sedang berada di sebuah Cafe yang tak jauh dari kediaman keluarga Aldric. Karena Arumi tak ingin di jemput Leon di mansion Tuan Charles, maka mereka memutuskan untuk bertemu di tempat yang sudah Arumi tentukan yaitu di Cafe ini. Arumi takut, jika uncle Charles akan marah karena Aru tidak mendengarkan nasihatnya yang melarang dirinya untuk dekat dengan putra orang penting, apalagi yang sekelas Leon.


"Kau ingin memesan minum ?" Tanya Arumi menawarkan.


"Tidak usah. Kita akan kesiangan jika tidak berangkat sekarang." Geleng Leon menolak.


"Baiklah." Arumi mengangguk. Memasukkan laptop ke dalam tasnya dan mengajak Leon untuk segera pergi.


Ya, hari ini adalah hari terakhir mereka kencan. Hari ke-5 misi Leon dalam mendapatkan hati Arumi. Kebetulan, hari ini Arumi sedang libur bekerja di butik Nyonya Nastya, maka Leon mengajak Arumi untuk berkeliling melihat tempat-tempat terkenal di kota Paris.


Tempat tujuan pertama mereka adalah Istana Versailles. Sebuah peninggalan sejarah monarki yang terletak sedikit terpencil dari hiruk pikuk keramaian perkotaan namun tetap merupakan objek wisata paling di minati ketika para wisatawan berkunjung ke Paris.

__ADS_1



"Kau menyukainya ?"


"Ini indah, Leon." Jawab Arumi takjub. Ia tak menyangka perjalanannya yang cukup melelahkan akan membuahkan hasil sememuaskan ini.


"Aku senang jika kau menyukainya." Sahut Leon sungguh-sungguh.


Arumi menoleh menatap Leon. Secarik senyum terbit menghiasi wajah cantiknya. Lalu kemudian, ia kembali menatap kagum pada arsitektur istana bersejarah yang saat ini mereka datangi. Keindahan Istana Versailles cukup menjadi alasan baginya untuk menghindari kontak mata dengan pria tampan berambut brunette yang berjalan beriringan dengannya.


Jika boleh jujur, Arumi masih merasa bimbang terhadap perasaannya sendiri. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya di inginkan hatinya. Melihat pesan dari Irgi tadi, hati Arumi masih merasakan kerinduan untuk mantan suaminya itu. Meskipun, amarah dan benci saling tumpang tindih dengan rindu yang dia rasakan. Namun, pada Leon, Arumi merasa bahwa pria itu orang yang baik. Matanya selalu menampakkan ketulusan. Arumi selalu merasa di anggap dan di inginkan jika mata kecoklatan Leon menyorotnya begitu dalam.


Dan, hati Arumi selalu berdebar tak karuan karena hal manis yang selalu Leon berikan terhadapnya.


"Aru ! Boleh aku bertanya sesuatu ?"


"Silahkan !" Balasnya tersenyum.


Langkah Arumi terhenti mendengar pertanyaan Leon. Pria itu juga turut berhenti. Menghadap pada Arumi dengan wajah sedih, takut dan tertunduk. Ia bahkan mengepalkan kedua tangannya yang dia sembunyikan di balik saku mantel yang dia kenakan.


"Kenapa kau menanyakan hal itu, Leon ?"


"Tidak. Hanya penasaran saja." Jawab pria itu berbohong. Jawaban yang benar adalah karena dia tidak akan pernah rela jika harus kehilangan Arumi di dalam hidupnya.


"Tidak." Jawab gadis itu tanpa rasa ragu sedikitpun.


"Kenapa ?" Leon masih penasaran.


Arumi kembali melangkah. Di susul Leon yang ikut dua detik kemudian.

__ADS_1


"Untuk apa aku kembali pada seseorang yang sudah menyakitiku, Leon ? Demi apapun, aku juga tidak terlalu sebodoh itu." Arumi terkekeh kecil.


"Sekali pun dia sudah meminta maaf dan mengaku salah ?" Sahut Leon menanggapi.


"Ya. Pantang bagiku untuk kembali pada orang yang sudah menyakitiku. Untuk apa ? Itu tidak berguna sama sekali."


"Apa kau membenci pembohong, Aru ?"


Langkah Arumi kembali terhenti. Ia menatap serius pada manik cokelat milik Leon.


"Sangat. Aku membenci pembohong dan pengkhianat. Dan, aku berharap. Orang yang akan mendampingiku suatu hari nanti tidak akan pernah melakukan itu."


Leon berusaha menetralkan air mukanya yang mulai terlihat panik. Jawaban Arumi barusan memberi dampak cukup besar untuk hati Leon. Rasa takut kehilangan Arumi jika gadis asia itu tahu tentang keberadaan calon istrinya membuat Leon mulai di hantui rasa bersalah. Namun, apalah daya. Leon terlalu menyukai Arumi sehingga rasa bersalah itu ia tepiskan jauh-jauh.


"Kenapa kau berdiri di sana ?" Teriak Arumi yang ternyata sudah melangkah jauh sejak tadi.


"Ha ? Tunggu aku." Jawab Leon terkejut. Terlalu banyak berpikir membuat dia sempat melamun dan tidak sadar kalau Arumi ternyata sudah meneruskan langkahnya.


"Habis ini, kau ingin membawaku kemana ?" Gadis asia di samping Leon bertanya antusias.


"Itu rahasia. Ikuti saja aku dan percayakan semuanya pada pemandu yang berpengalaman ini." Leon membusungkan dadanya untuk menyombongkan diri yang langsung di sambut tawa renyah oleh Arumi yang terlihat begitu bahagia.


"Kau terlalu sombong, Mr. Wellington." Ucap Arumi dengan jejak tawa yang masih membekas.


"Sama sekali tidak, Miss Liem." Jawab Leon jumawa.


Perjalanan berlanjut ke tempat selanjutnya. Sudah memasuki tengah hari saat mereka singgah untuk mengisi perut terlebih dulu. Tanpa sadar, seseorang baru saja memotret kedekatan mereka dari jarak jauh. Orang yang berada di dalam sebuah mobil yang parkir di depan restoran yang Leon dan Arumi tuju berhasil memperoleh gambar yang majikannya minta.


"Saya sudah mendapatkan apa yang anda minta."

__ADS_1


Fotografer misterius itu tersenyum. Tentu jumlah yang akan dia dapatkan dari hasil fotonya bukanlah nominal yang sedikit. Dan, membayangkannya saja, sudah membuat pria itu puas bukan main.


__ADS_2