Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#56


__ADS_3

Tak ada yang bisa Leon lakukan selain menyalahkan dirinya sendiri. Karena dirinya, Arumi harus merasakan penghinaan seperti itu dari Claire. Dan yang paling membuatnya muak adalah dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu gadis itu.


Jika Claire tidak sedang menyandera Zack, tentu hal ini bisa di hindari Leon. Namun, apa daya. Semua sudah terlanjur terjadi dan Leon menyadari bahwa semua memang salahnya sejak awal.


Harusnya, ketika memantapkan hati untuk mendapatkan cinta Arumi, Leon sudah memberitahu gadis itu mengenai keberadaan Claire terlebih dulu. Urusan Arumi akan tetap bertahan atau justru memilih pergi, biarkan gadis itu sendiri yang menentukan. Leon tidak memiliki hak untuk menahan Arumi tetap di sisinya dan akhirnya malah jadi terluka seperti ini hanya karena keegoisannya.


"Kau puas ? Apa yang ini yang kau inginkan, hah ?" Leon membentak Claire yang berdiri di depannya. Mata pemuda itu memerah menahan sakit yang semakin tak menaruh iba untuk terus menghantam hatinya.


"Leon, dengarkan aku !" Claire masih berusaha menahan lengan pemuda itu. Namun, Leon menghempasnya begitu kasar hingga Claire hampir menitikkan air mata.


Leon masuk kembali ke ruang ganti. Mengenakan kembali pakaiannya dan berderap cepat meninggalkan Claire yang masih terpaku di sana.


* * *


Arumi terus berlari tak tentu arah. Isak tangis masih terdengar lirih keluar dari mulutnya. Sakit yang dulu sudah mulai sembuh kini terbuka lagi. Di tempat yang sama namun dengan orang yang berbeda.


Gadis itu meringkuk sambil memeluk lututnya sendiri setelah sepasang kakinya tak mampu lagi membawa dia pergi lebih jauh. Arumi memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan. Berharap rasa sesak itu bisa sedikit pergi.


"Nona, kau tidak apa-apa ?" tanya seorang pejalan kaki yang kebetulan berjalan melewatinya.


"Saya tidak apa-apa. Terima kasih," jawab Arumi yang berusaha menghapus air matanya.


Gadis itu memilih kembali melangkahkan kakinya menjauh dari sana dan memutuskan untuk pulang ke kediaman keluarga Aldric.


* * *


Suara langkah kaki Arumi yang berderap menaiki tangga membuat perhatian para pelayan mansion tertuju padanya. Mereka saling bertatapan heran satu sama lain sebelum memutuskan untuk tidak turut ikut campur.


"Charlie ! Char ! Kau di mana ?" Arumi memasuki kamar Charlie. Berteriak ke seluruh penjuru kamar mencari keberadaan gadis tomboy itu. Nihil. Charlie sepertinya masih belum pulang.

__ADS_1


Arumi memutuskan untuk menunggu Charlie sambil meringkuk di tempat tidur sahabat baiknya. Air mata yang tak pernah lelah turun membasahi pipi putihnya masih setia menemani setiap kesakitan yang gadis itu rasakan.


Kenapa ini terjadi lagi ? Apa salahku ?


Gadis itu mengadu dalam diam. Bertanya pada apapun dan siapapun yang bisa memberinya jawaban. Arumi menangis hingga akhirnya tertidur di atas ranjang Charlie tanpa sadar.


* * *


Hari sudah petang ketika Charlie tiba di mansion. Sore tadi sebelum pulang, teman-teman kampusnya mengajak gadis tomboy itu untuk bergabung melaksanakan perayaan kecil-kecilan atas keberhasilan kelompok mereka.


Charlie meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku sebelum turun dari mobil yang ia kendarai. Gadis tomboy itu bersenandung lagu 'Attention' dari Charlie Puth sambil memutar-mutar kunci mobil di jari telunjuk. Suasana hatinya sedang dalam keadaan baik saat tahu bahwa presentasi kelompoknya mendapat nilai terbaik di kampus.


"Nona Charlie !" panggil salah seorang pelayan setengah berbisik.


Charlie menghentikan langkahnya dan menghampiri pelayan yang tadi memanggilnya.


"Ada apa ?" tanya Charlie.


"Ada apa ?" Charlie mengulang pertanyaannya bingung.


Si pelayan mengintip kanan-kiri terlebih dulu sebelum memulai pembicaraan dengan Charlie.


"Ini tentang nona Arumi."


"Ada apa dengannya ?" Charlie bertanya lagi.


"Sepertinya nona Aru sedang ada masalah. Tadi sewaktu dia datang, nona Aru menangis. Dia mencari-cari anda sejak tadi."


"Di mana dia sekarang ?" ujar Charlie berseru panik.

__ADS_1


"Sepertinya masih ada di kamar anda," sahut pelayan itu.


Charlie segera berlari terburu-buru menaiki anak tangga. Dia dengan cepat sampai di kamar, memutar gagang pintu dan mendapati Arumi yang tertidur dengan posisi meringkuk di atas tempat tidurnya. Wajah sembap Arumi membuat perasaan Charlie seketika berubah sedih.


"Aru !" panggil Charlie pelan sambil mengelus lembut surai berwarna hitam milik Arumi.


Merasakan sapuan lembut di atas kepalanya, mata Arumi mengerjap dan terbuka perlahan. Senyum berbalut sedih tercetak di bibir kemerahan itu saat mata bengkaknya menangkap sosok Charlie yang turut tersenyum teduh menatapnya. Seketika, Arumi terbangun dan mendekap tubuh Charlie dengan erat. Wajah sembapnya ia tenggelamkan di bahu Charlie sambil terisak semakin keras.


"Hushh !! Tenanglah Aru ! Ada aku," ucap Charlie menenangkan. Tangannya mengelus naik turun punggung Arumi.


"Charlie, Leon berbohong ! Dia menipuku ! hikss.. Dia sama saja dengan Irgi," Arumi mengadu persis seperti bocah yang mengadu pada ibunya.


"Katakan ! Apa yang terjadi Aru ?" tanya Charlie yang belum paham situasi.


Dan mengalirlah cerita gadis Asia itu mengenai kejadian siang tadi. Tentang Leon yang ternyata adalah calon suami dari Claire. Tentang bagaimana pemuda berambut brunette itu memainkan hatinya hingga bisa sesakit ini rasanya. Dan, tentang tamparan Claire yang menambah rasa sakitnya karena sudah mengira Arumi menggoda calon suaminya.


Charlie diam dan menjadi pendengar yang baik. Meski hati gadis itu memendam amarah dan rasa kesal, ia tak bisa berbuat banyak. Yang bisa dia lakukan hanyalah menenangkan Arumi. Berupaya mengambil sedikit saja beban yang menghimpit hati sahabat baiknya agar bisa sedikit berkurang. Tapi, apa itu mungkin ?


"Di mana ponsel dan tasmu ?" tanya Charlie ketika melihat Arumi sudah mulai agak tenang. Dia baru sadar bahwa Aru tadi bercerita kalau dirinya langsung pergi keluar dari butik begitu saja.


"Masih di butik," ucap Arumi yang baru ingat bahwa dia lupa membawa barang-barangnya.


Charlie menghela napas. Kembali tangannya mengelus lembut rambut panjang Arumi. Menyampirkan beberapa helai anak rambut yang menghalangi wajah sahabat baiknya.


"Besok, biar aku saja yang ke sana untuk mengambil barang-barangmu. Aku juga akan memberitahu Nyonya Nastya bahwa sakitmu bertambah parah. Kau lebih baik beristirahat saja dulu," putus Charlie kemudian.


"Terima kasih !" Arumi tersenyum lalu kembali merebahkan kepalanya di atas bantal empuk milik Charlie. Ia berbaring menyamping sambil membelakangi Charlie. Di gigitnya ujung selimut yang membungkus tubuh ringkihnya agar suara tangisnya tak di dengar Charlie. Dan Charlie cukup paham untuk berpura-pura tidak mengetahui bahwa Arumi kini kembali menangis lagi.


Charlie turun dari tempat tidur ketika mendengar dengkuran halus dan deru napas teratur dari gadis yang tertidur di sampingnya. Perlahan, Charlie melangkah dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara yang bisa saja mengganggu tidur lelap Arumi.

__ADS_1


Sudah cukup untuk hari ini sahabat baiknya menghadapi kenyataan yang pahit. Biarkan dia beristirahat sejenak dari kejamnya dunia dan larut ke dalam mimpi indah yang membuai jiwa. Meski hanya sebentar, Charlie berharap mimpi indah itu akan selalu menemani tidur singkat Arumi hingga menjelang pagi.


__ADS_2