
Arumi dan Beverly saling bersitatap benci. Kali ini, Arumi tidak akan mengalah untuk Beverly lagi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Aru ! Kenapa kau ada di sini ?" bentak Beverly kesal.
Arumi tidak peduli. Ia berjalan dengan santai melewati Katherine dan Beverly lalu berdiri tepat di samping Jonathan yang duduk di brankar tempat tidurnya.
"Untuk apa kau kembali kemari, anak haram ?" tanya Katherine.
"Jaga bicaramu, Kath ! Sudah ku bilang kalau Arumi bukan anak haram !" bentak Jonathan yang tidak terima putrinya di hina oleh Katherine.
"Hah !" Katherine mendengus sinis. "Sekarang kau sudah mulai membela anak sial ini rupanya," ujarnya yang merasa kesal.
"Ya. Aku sekarang membelanya, Kath ! Bahkan, aku menyesal karena kenapa baru sekarang aku melakukan hal itu." Jonathan menjawab tegas sambil memegang erat tangan Arumi.
Gadis itu tersenyum teduh pada Jonathan. Tak di sangka bahwa ayahnya kini benar-benar sudah mencoba menjadi ayah yang baik untuknya.
"Kau !" Beverly menunjuk Arumi. "Kau pasti kemari karena tahu bahwa aku dan Irgi sudah bercerai bukan ? Kau pasti ingin merebut Irgi lagi. Iya kan ? Dasar wanita murahan !" tuduh Beverly.
"Aku tidak tertarik sedikit pun pada Kak Irgi lagi. Urusan kepulanganku dengan dia tidak ada hubungannya."
"Bohong ! Semua ini pasti karena kau kan ? Kau yang mempengaruhi Irgi untuk menceraikanku !"
"Apa ?" Arumi tertawa mengejek. "Apa Kak Lily dan Tante Katherine belum sadar juga ? Semua kesialan yang menimpa kalian itu murni karena ulah kalian sendiri ! Kenapa malah aku yang di salahkan di sini ?"
"Jaga mulutmu ! Dasar anak haram !" teriak Beverly sambil melayangkan tangannya pada pipi mulus Arumi.
PLAK ! Arumi memegang pipinya yang terasa perih karena tamparan Beverly. Namun, bukannya emosi, gadis itu malah kembali tertawa.
"Kakak menamparku ?" tanya Arumi.
"Ya. Aku menamparmu ! Kau mau lagi, hah ?"
"Cukup, Lily !"Jonathan mendorong tubuh Beverly yang sigap di tahan oleh Katherine.
"Ayah ! Ayah tega melakukan hal ini padaku demi membela anak haram Ayah ?" tanya Beverly dengan air mata berlinang.
"Ya. Kau benar-benar keterlaluan, Jo !" imbuh Katherine yang tidak terima Jonathan berlaku kasar pada putrinya.
"Berhenti menyebut putriku dengan kata anak haram ! Bukan dia yang anak haram, tapi kau !" bentak Jonathan murka. Ia menunjuk Beverly dengan tangan bergetar.
"Ayah ! Tenanglah !" Arumi mengelus dada Jonathan. Ia berusaha meredam emosi ayahnya agar penyakit jantungnya tidak kembali kambuh.
__ADS_1
"A-pa maksud ayah ?" Beverly bertanya dengan suara serak.
"Tanyakan pada ibumu ! Kau bahkan bukan anak kandungku ! Aku tidak tahu ibumu hamil dengan siapa dan malah menjebakku untuk bertanggung jawab !"
"Hah ?" Beverly tak kuasa untuk tidak menumpahkan tangisnya. Ia berbalik menatap sang ibu. Perkataan Jonathan sukses meruntuhkan segala harga diri yang tersisa darinya.
"Ibu, apa yang Ayah katakan benar ?"
Katherine menggeleng dengan air mata yang bercucuran. "Lily, Ibu bisa jelaskan, Sayang !" ucapnya dengan lembut. Ia berusaha memegang tangan putrinya namun di tepis dengan kasar oleh perempuan itu.
"Apa Ayah bukan Ayah kandungku ? Benarkah itu ?" desak Beverly yang menuntut penjelasan dari ibu kandungnya.
Katherine hanya bisa menangis. Ia tidak tahu Jonathan bisa mengetahui rahasia yang sudah ia simpan rapat selama berpuluh tahun lamanya.
"Lily !" Kembali Katherine berusaha meraih putrinya.
"Jangan sentuh aku !" Beverly menatap Arumi dengan malu lalu segera berlari keluar dari ruang rawat Jonathan yang di susul oleh Katherine.
Arumi berniat menyusul Beverly juga. Ia juga sama terkejutnya dengan Beverly. Namun, Jonathan segera melarangnya untuk melakukan hal itu.
"Biarkan mereka mengurus urusan mereka berdua, Aru ! Kau jangan ikut campur !" ucap Jonathan dengan lembut.
Setelah itu, Jonathan lalu menceritakan segalanya pada Arumi. Di mulai sejak kepergian Arumi, Jonathan yang merasa selalu tidak tenang pada akhirnya mencoba menggali informasi tentang masa lalu Katherine. Dan, semua akhirnya satu per satu terkuak. Katherine memang sudah hamil satu setengah bulan saat mereka menikah. Ia hamil dengan pria yang ia temui di sebuah diskotik dan akhirnya menjebak Jonathan tidur bersama lalu memaksa melakukan pernikahan dengan dalih hamil oleh Jonathan karena tidak tahu kemana harus mencari pria yang menghamilinya.
* * *
"Untukmu !" Sebuket bunga mawar merah tiba-tiba muncul di depan Arumi. Setelahnya, wajah pria yang membawa bunga itu muncul dari balik tembok sambil tersenyum.
"Leon ?" Arumi terperangah. "Mau apa lagi kau kemari ? Bukankah sudah ku katakan bahwa kau harus pulang ? Kenapa kau masih di sini ?" tanya Arumi yang kini berganti wajah menjadi datar kembali.
"Ambil dulu bunga ini ! Setelahnya, akan ku jawab pertanyaanmu !" jawab Leon dengan senyum termanis yang pernah ia tampilkan.
Arumi hampir meleleh di buatnya. Jika tidak mengingat luka yang Leon berikan terakhir kali, mungkin Arumi akan segera luluh dan berlari memeluk pria itu.
Setelah satu minggu lebih berlalu, ia mengira bahwa pemuda ini sudah menyerah. Namun, nyatanya Leon masih kembali. Entah apa lagi rencananya kali ini.
Pada akhirnya Arumi menerima buket bunga yang di bawa Leon meski dengan wajah kesal. Dan sebaliknya. Pria itu terlihat puas.
"Kenapa kau selalu tersenyum ?" tanya Arumi sinis.
"Dan kenapa kau selalu marah-marah ?" balas Leon sambil mencolek dagu Arumi.
__ADS_1
Beberapa karyawan butik yang melihat interaksi mereka tersenyum kecil. Arumi yang sedikit tidak nyaman pada pandangan mereka langsung menarik tangan Leon dan masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa ini ? Kau mulai mau menerimaku ?" tanya Leon sambil memperhatikan Arumi yang sedang mengunci pintu.
Arumi berbalik dan melempar buket bunga mawar yang diberikan Leon ke tempat sampah. Wajahnya masih terlihat kesal dan menyeret Leon lagi dan mendorong tubuh pria itu agar duduk di sofa. Siapa sangka, sebelum jatuh ke sofa, Leon berhasil menarik tangan Arumi sehingga gadis itu terjatuh tepat di atas pangkuannya.
Arumi terkejut dengan bola mata yang membulat sempurna saat bibirnya tak sengaja menabrak bibir pemuda itu. Cepat-cepat ia bangkit dan berdiri sambil menyeka bibirnya dengan telapak tangan.
"Ahhhh ! Kau ternyata lebih agresif dari yang ku kira, Aru !" Leon tersenyum puas sambil memegang bibir bawahnya.
"Itu tadi tidak sengaja ! Jangan berpikir macam-macam, Leon !" ujar Arumi memperingatkan.
"Siapa yang berpikir macam-macam ?" Pemuda itu mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Aku hanya berpikir satu macam saja."
"A-apa itu ?"
"Kau ingin tahu ?" Alis Leon terangkat sebelah.
Arumi tak menjawab. Gadis cantik itu melipat kedua tangannya dengan pandangan sinis ke arah Leon.
"Bukankah sudah ku katakan bahwa aku memilih Irgi dan bukan dirimu ? Kenapa kau masih tidak tahu malu dan datang kemari ?"
Leon terkekeh. Pria itu kini menaikkan kedua kakinya ke atas meja dan menyilangkannya dengan santai.
"Aku tahu bahwa kau dan mantan suamimu tidak akan bisa bersama lagi, Aru ! Aku tahu bahwa hari itu kau hanya membohongiku ! Jadi, jika ingin memakai nama Irgi untuk membuatku pergi, maka lupakan saja ! Itu tidak akan pernah berhasil !"
Arumi tidak terlalu heran akan hal itu. Leon lebih dari mampu untuk sekedar menyewa mata-mata untuk mencaritahu hubungan sebenarnya antara dia dan Irgi. Sama seperti ketika pemuda itu menemukan tempat kerjanya.
"Lalu, apa maumu ?"
"20 hari, Aru !" kata Leon dengan serius.
"Apa maksudmu dengan 20 hari ?"
"Beri aku waktu 20 hari untuk meyakinkanmu bahwa aku dan Claire benar-benar sudah tidak berhubungan lagi. Beri aku kesempatan sekali lagi demi mendapatkanmu kembali !"
"Dan jika aku tidak mau ?"
"Maka aku akan bermalam di sini sampai kau mau !" ucap Leon dengan seringai tipisnya.
"Kau gila ?" Arumi lagi-lagi terkejut.
__ADS_1
"Tentu saja. Semua ini karenamu ! Jadi, kau setuju atau tidak ? Kau pasti tahu bahwa aku ini orangnya nekat bukan ?" Leon mengangkat kedua alisnya dengan senyum mengembang.