Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#47


__ADS_3

Leon semakin menggebu memperdalam ciumannya pada bibir manis Arumi yang kini pasrah berada dalam kungkungannya. Desahan tertahan dari perempuan itu semakin membuat Leon berani untuk bertindak lebih jauh lagi. Kini ciuman itu merambat ke leher Arumi. Memberi gigitan kecil dan hisapan di sana. Membuat sang pemilik leher merasakan sensasi aneh yang kini sudah merambat mengaliri seluruh tubuhnya.


Ini salah. Arumi tahu itu. Namun entah kenapa, seluruh persendian tubuhnya menolak bekerja sama untuk sekedar menepis Leon bertindak lebih jauh. Hingga ketika tangan pemuda itu sudah mulai merambat dan mencari pengait bra yang dia pakai, barulah kesadaran itu perlahan menghantam Arumi kembali.


"Leon ! H-hentikan.." Arumi menggigit bibir bawahnya ketika berusaha mendorong kepala Leon yang masih asyik menjelajah leher jenjang nan putih miliknya.


Tak ada respon. Pria itu masih sibuk dengan aktifitasnya tanpa peduli permintaan Arumi.


"Leon, cukup !" Arumi berusaha menahan tangan Leon yang masih tetap berusaha melepas pengait bra nya di belakang sana.


Leon masih tak bergeming. Pemuda itu seolah tuli akan permintaan Arumi. Di kepalanya sekarang hanyalah cara agar Arumi tidak akan pernah bisa lepas darinya. Dan cara yang terlintas di benaknya kini hanyalah membuat Arumi hamil. Ya. Hanya dengan cara itu, baik Ayahnya dan Arumi akan menuruti keinginannya.


Ayahnya tak akan memaksa Leon untuk melepaskan Arumi lagi meski dia tetap harus menikahi Claire. Dan gadis Asia itu mau tak mau harus tetap berada di sisi Leon meski hanya berstatus sebagai istri simpanan. Rencana yang sempurna bukan ? Toh, banyak lelaki dengan status yang sama dengannya di luaran sana yang menempuh jalan seperti itu. Menikah demi mempertahankan eksistensi keluarga namun tetap bisa berhubungan dengan orang yang di cintainya.


"Leon !" Gadis itu semakin memekik panik saat merasakan bahwa kini pengait bra nya sudah benar-benar lepas dan tangan pemuda itu sudah merambat ke depan. Membelai perut rata miliknya dan semakin ke atas hingga menangkup gundukan kenyal miliknya. Arumi yang ketakutan langsung mendorong Leon dengan sekuat tenaga.


Usahanya berhasil. Pemuda berambut brunette dengan tatapan mata yang sudah kian menggelap di selimuti gairah itu terdorong hingga menabrak pintu mobil di belakangnya. Arumi sudah bangun dan duduk sambil membenahi kancing piyamanya yang entah sejak kapan sudah terbuka separuhnya.


Napas gadis itu naik turun dan segera memasang kembali pengait penahan dadanya yang sempat di lepas Leon.


Namun, belum sempat selesai dengan kegiatannya, Leon kembali menyerang. Menindih Arumi kembali dan benar-benar berniat memperkosa gadis itu jika masih enggan di ajak bekerja sama.


"Ku mohon ! Menurutlah Aru ! Aku tidak ingin melukaimu." Ucap Leon dengan napas memburu. Pemuda itu kembali melepas paksa kancing piyama milik kekasihnya dengan kasar.

__ADS_1


"Jangan seperti ini, Leon ! Kau menakutiku, hiks !" Arumi menangis. Berusaha menahan tangan Leon yang berniat melucuti baju piyamanya lagi.


Sayang, usaha Arumi tak membuahkan hasil. Baju piyamanya sudah teronggok di bawah kakinya dengan Leon yang kini mulai menciumi dadanya. Tangis gadis itu kian mengeras saat ia tak bisa berbuat apa-apa sama sekali. Leon mengunci kedua tangannya di atas kepala hingga Arumi hanya bisa pasrah menerima perlakuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan akan mendapatkannya dari pemuda yang selama ini selalu menunjukkan perasaannya dengan tulus.


Akal sehat Leon kembali bekerja ketika merasakan kedua tangan Arumi kini mulai melemah dan tak lagi menunjukkan perlawanan. Pemuda itu kini mulai dengan jelas mendengar tangisan yang keluar dari bibir mungil Arumi. Perlahan namun pasti, dia yang kini tengah asyik bergerilya di perut rata gadis itu mendongak dan mendapati sorot mata ketakutan Arumi terhadapnya. Tubuh gadis itu bahkan bergetar ketakutan karena ulahnya.


Leon menjauh dari Arumi. Berusaha mengurai jarak antara dirinya dengan gadis itu di dalam ruangan mobil yang begitu sempit. Arumi, gadis itu langsung meringkuk dan memeluk tubuh atasnya yang telanjang di sudut sana. Sementara Leon hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menggeram marah.


"Apa yang sudah ku lakukan ? Bodoh !" Leon menampar dirinya sendiri beberapa kali. Manik cokelat miliknya kembali melirik Arumi yang masih menangis sambil memojokkan dirinya sendiri hingga menempel pada kaca mobil.


Tanpa sadar, Leon turut mengeluarkan air mata dan segera menghambur memeluk Arumi meski pada awalnya gadis itu tentu menolak.


"Maafkan aku, Aru ! Aku khilaf." Ucapnya lirih sambil mencium puncak kepala Arumi beberapa kali.


Demi apapun. Arumi ingin sekali beranjak dari sini. Berlari sejauh mungkin dari pria yang hampir saja memperkosanya itu dan tak berniat muncul lagi. Namun, hatinya tak sanggup merealisasikan pikiran itu. Dia marah. Dia membenci sikap Leon yang entah karena apa bisa berubah seperti ini. Akan tetapi, sekali lagi dia kalah pada perasaan cintanya yang sudah terlanjur dalam pada pemuda keturunan darah biru itu.


* * *


Hanya sayup-sayup dari suara kendaraan yang berlalu lalang yang kini memenuhi ruang antara Leon dan Arumi. Sepasang kekasih itu masih membisu dengan pikiran masing-masing yang berkelana ke ruang khayal mereka.


Terakhir kali Leon menggumamkan kata 'Maaf' sekitar 25 menit yang lalu saat dia membantu Arumi mengenakan bajunya lagi. Sementara gadis itu tak mengeluarkan apapun. Menyahuti ucapan maaf Leon masih terlalu berat baginya.


"Aku ingin pulang." Suara lemah dari gadis yang baru saja menghapus jejak tangis di wajahnya kembali menyapa pendengaran Leon.

__ADS_1


Pemuda itu langsung beralih menatap wajah sendu Arumi yang masih setia menatap tautan jemarinya.


"Apa kau sudah tidak apa-apa ?" Leon bertanya memastikan. Tangannya bergerak menyentuh puncak kepala gadis Asia nya.


"Hmm." Angguk Arumi. Masih sedikit takut untuk kembali memandang netra cokelat yang beberapa saat lalu memandanginya dengan tatapan seolah ingin mencabiknya tanpa ampun.


"Arumi. Apakah kau masih akan tetap mencintaiku ?" Tanya Leon lirih. Kini kedua tangannya beralih menggenggam tangan kecil milik Arumi.


Arumi masih terdiam. Desahan samar lolos dari mulutnya. Bohong jika dia bilang tak mencintai Leon lagi walaupun tindakan pemuda itu sudah terbilang keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi ? Hatinya tetap saja dengan lancangnya menyimpan rasa yang sama meski sudah hampir di lecehkan. Tunggu ! Hampir ? Bukankah dia memang sudah di lecehkan ?


"Tolong beri aku waktu Leon ! Jujur, tindakanmu malam ini benar-benar menakutiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi bisakah kau membicarakannya denganku di banding melampiaskannya dengan cara seperti ini ?" Pada akhirnya Arumi memberanikan diri menatap ke dalam mata Leon. Ada luka yang tersirat disana. Meskipun, Arumi tidak tahu karena hal apa luka itu bisa tergambar jelas di netra kecoklatan Leon.


"Maaf ! Aku ...." Leon tertunduk. Setetes kristal bening kembali lolos dari matanya.


"Aku hanya tidak tahu harus bagaimana. Aku bingung." Pemuda itu melanjutkan keluh kesahnya.


"Apa Daddymu sudah tahu tentang hubungan kita ?"


Leon mengangguk frustasi dan beralih menenggelamkan kepalanya di dalam pelukan Arumi.


"Apa yang harus aku lakukan Aru ? Daddy tidak merestui kita tetapi aku terlalu lemah untuk bisa memperjuangkanmu. Katakan ! Aku harus apa ? Bagaimana caranya aku tetap bisa memilikimu tanpa melukai ego Daddy yang selama ini sudah susah payah membesarkanku seorang diri ?"


Arumi kembali hanya bisa diam. Apa yang harus dia katakan ? Gadis itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil mengelus kepala Leon yang kini tenggelam sambil meluapkan tangis di dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2