Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#28


__ADS_3

"Kau sudah kenyang ?" Leon menatap heran pada Arumi yang masih menyisakan begitu banyak makanan di atas piringnya.


"Sudah. Perutku sedang tidak enak, jadi tidak bisa makan banyak." Jawab Arumi sembari menyesap air minumnya.


"Kenapa ? Kau terkena sakit maag atau apa ?" Tanya Leon yang tiba-tiba saja merasa cemas.


Arumi tertawa melihat reaksi Leon. "Bukan. Bukan seperti itu, Leon."


"Lalu ? Jika bukan maag, perutmu tidak enak karena apa ? Perlukah kita mampir ke dokter ?" Rasa cemas pria itu tampaknya masih berlanjut.


"Tidak usah. Perutku hanya kram biasa." Jawab Arumi yang kebingungan ingin menjelaskan keadaannya sekarang.


"Jangan di anggap remeh, Aru ! Penyakit ringan juga tidak boleh di pandang enteng. Siapa tahu itu hanya gejala awal dari penyakit yang lebih besar."


"Aku sungguh tidak apa-apa, Leon. Ku mohon, percayalah." Ucap Arumi memelas. Jika boleh, dia ingin segera mengakhiri percakapan ini sesegera mungkin. Tidak mungkin ia menjelaskan dengan gamblang pada Leon bahwa perutnya kram karena sedang datang bulan. Itu memalukan.


"Kau yakin ?" Mata cokelat pria itu menatap lamat-lamat penuh selidik.


"Aku yakin." Angguk Arumi meyakinkan. Pria itu tampak menghela napas meski pada akhirnya dia bisa menerima perkataan Arumi.


* * *


"Kenapa Aru tidak membalas email dariku ? Apa dia masih marah ?" Irgi bermonolog sendiri seraya memandang pada email yang sudah dia kirim berjam-jam yang lalu namun belum mendapatkan balasan.


"Apa dia sebenci itu pada sikapku dulu ? Tapi ini juga bukan salahku, kan ? Seandainya dia tidak menipuku dengan berpura-pura menjadi Beverly di hari pernikahan tentu masalahnya tidak akan serumit ini." Ucap Irgi dengan begitu gelisah. Jujur, dia merasa begitu kehilangan Arumi saat ini.


Keadaan semakin hari semakin memburuk di kehidupannya. Bahagia yang ia gadang-gadang akan di dapatkan dari sang pujaan hati justru berakhir menjadi neraka yang setiap hari ingin Irgi hindari. Bahkan, hidup dengan Arumi saja ia merasa tidak semenderita ini. Padahal, jika di pikir-pikir, bukankah harusnya Irgi justru merasa menderita hidup satu atap dengan gadis yang sangat dia benci karena sudah menipunya ? Tetapi, kenyataan justru berbanding terbalik. Dia justru baru merasakan penderitaan ketika sudah hidup bersama Beverly, wanita yang katanya amat dia sayangi.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan sekarang ?" Irgi menjambak rambutnya frustasi. Penyesalan karena sudah menyakiti Arumi begitu dalam membuat Irgi mulai merasa bersalah.


Ingatan tentang perkataan Arumi terakhir kali sebelum perempuan penyabar itu pergi membuat Irgi di sergap penyesalan yang begitu luar biasa. Rasa takut, jika omongan Arumi saat itu merupakan kebenaran nyaris tak pernah membuat Irgi bisa terlelap dengan tenang di malam hari. Bayang-bayang gadis itu menjauh dengan ancaman tak akan pernah kembali pada Irgi berputar terus menerus di dalam pikirannya.


"Haruskah aku mencari tahu kebenarannya ?" Gumam pria itu lagi.


"Ya, sepertinya harus." Angguk Irgi memantapkan hati. Mulai besok, ia akan mencari tahu kembali permasalahan ini. Apakah benar Beverly di culik Arumi di hari pernikahan, atau semua yang dia dengar hanyalah kebohongan, seperti yang Arumi katakan terakhir kali.


Selesai dengan segala urusannya di kantor, Irgi keluar dari gedung perusahaan miliknya tepat pukul 5 sore. Pria bermata sipit itu menghela napas malas. Rasanya ia tidak ingin kembali cepat-cepat ke rumah yang sama sekali tidak memiliki aura ketenangan sedikit pun.


Irgi memutuskan untuk mampir ke sebuah Cafe. Memesan segelas kopi hangat dan duduk di sebuah meja tepat di pinggir, dekat dinding kaca bening yang menghadap langsung ke jalan.


"Kau kemana, Aru ?" Lirih Irgi dalam hati. Jujur, dia sedikit merindukan keberadaan perempuan sederhana yang selalu menyambutnya dengan senyum tulus setiap kali dia pulang bekerja. Tetapi, sekarang gadis itu sudah pergi dan di gantikan oleh sesosok wanita yang hanya tahu meminta uang dan uang tanpa bertanya apakah Irgi lelah seharian bekerja atau tidak.


Tiba-tiba saja, mata Irgi menangkap seorang wanita yang melangkah tepat di hadapannya dengan rambut hitam panjang, kulit putih bersih dengan senyum manis yang akhir-akhir ini Irgi rindukan.


Segera, ia berlari terburu-buru mengejar wanita yang beberapa waktu terakhir sudah dia cari setengah mati namun tak dia dapatkan. Dan sekarang, gadis itu tepat berada di hadapannya dan sudah menyeberang jalan ketika Irgi baru keluar dari Cafe tadi.


Tanpa pikir panjang, Irgi langsung menyusul gadis itu meski lampu sudah berganti hijau. Ia tak peduli dengan umpatan pengendara yang hampir saja menabraknya karena sudah menyeberang sembarangan. Yang ia pikirkan hanya satu. Mendapatkan gadis itu kembali.


Irgi berjanji akan memberinya kesempatan untuk membuktikan semua perkataannya. Irgi berjanji akan meminta maaf dengan tulus andai hal itu memang benar dan Arumi tidak bersalah. Irgi bahkan berjanji, meski Arumi tetap terbukti bersalah, ia akan memberi kesempatan untuk Arumi bersamanya lagi dan melupakan kesalahan yang gadis itu perbuat di masa lalu. Tentu saja, setelah bayi yang di kandung Beverly lahir.


"Aru ! Kau darimana saja ?" Tanya Irgi yang begitu lega sembari memeluk gadis yang sudah lama di carinya itu.


"Siapa kau ? Jangan kurang ajar, ya." Gadis itu mendorong keras Irgi yang memeluknya hingga pria itu terpundur beberapa langkah.


Rasa kecewa menyergap perasaan Irgi begitu dalam. Itu bukan Arumi yang dia cari. Melainkan gadis lain yang sekilas memang hampir mirip dengannya.

__ADS_1


"Maaf, ku pikir kau orang yang ku kenal." Ucap Irgi pelan.


Gadis tadi mencebik kesal, kemudian berjalan kembali meninggalkan Irgi yang masih terpaku di tempat. Pria itu menertawai kebodohannya sendiri. Tanpa sadar, ia meninju tiang lampu jalan di sampingnya. Tak peduli pada rasa sakit yang menjalar pada kepalan tangannya akibat perbuatannya sendiri.


"Kenapa malah jadi sesulit ini hidupku ? Aru, sebenarnya kau berada di mana ?"


* * *


"Duke, ini foto-foto yang anda minta." Fotografer yang membuntuti Leon dan Arumi menyerahkan sebuah amplop cokelat berukuran cukup besar pada seorang pria paruh baya dengan aura kekuasaan yang luar biasa di depannya.


"Letakkan di atas meja dan ambil hadiahmu pada Rosalina." Ucap Duke Xander datar tanpa berbalik.


"Baik, Duke. Terima kasih." Tanpa menunggu balasan dari pria berkuasa yang berdiri membelakanginya, pria itu segera keluar dengan perasaan senang dan menemui Rosalina, sekretaris pribadi Duke Xander untuk mengambil hadiahnya.


Duke Xander masih betah menatap ke luar jendela kantornya. Pria dingin itu terlihat menghela napas dan kembali menuju meja kerjanya. Ia duduk di kursi dan mulai membuka amplop yang tadi di berikan orang suruhannya itu. Sesaat setelahnya, ia melempar kasar isi amplop itu ke atas meja dengan amarah yang membludak.


"Kau masih berhubungan dengan gadis asia itu rupanya."


Leon



Arumi



Irgi

__ADS_1



__ADS_2