
Satu minggu berlalu terasa seabad bagi gadis Asia yang setiap harinya menanti kabar dan kedatangan dari sosok pria yang dia cintai. Hampir setiap saat Arumi menengokkan kepalanya ke sekitar butik demi mencari keberadaan pria berambut brunette yang beberapa waktu ini sudah mengisi hatinya. Tak ada. Hilang. Pria itu tidak pernah terlihat di manapun.
Arumi seperti kehilangan semangat hidup. Berulangkali dia menelepon atau mengirim pesan kepada Leon namun tak pernah di balas oleh pria itu. Kemana perginya Leon ? Apa dia baik-baik saja ?
Pertanyaan demi pertanyaan terus saja bermunculan di benak Arumi. Gadis itu memilih untuk menyibukkan diri dengan mempercepat pengerjaannya pada gaun pengantin milik Claire demi mengalihkan pikirannya. Tak jarang, Arumi sengaja lembur di toko sendirian demi mengusir bayangan Leon.
Berada jauh dari pemuda itu benar-benar menyadarkan Arumi tentang seberapa besar rasa cintanya dia terhadap Leon. Meski berjauhan, rasa cinta itu justru semakin membuncah memenuhi rongga dada Arumi. Tanpa sadar, setetes kristal bening lolos dari sudut matanya yang sedang fokus memperhatikan jemarinya memasang payet-payet kecil pada gaun malam pesanan seorang sosialita.
"Aru, kau baik-baik saja ?" Nyonya Nastya menyentuh bahu Arumi pelan. Membuat Arumi langsung sadar bahwa dirinya baru saja menangis.
"Saya baik-baik saja Nyonya. Jangan khawatir." Arumi tersenyum seraya mengusap air mata yang mengaliri pipi.
"Ada apa sayang ? Ada masalah yang mengganggumu ?" Tanya Nyonya Nastya cemas.
Pasalnya, sejak tadi dia sudah memperhatikan Arumi. Bahkan bukan cuma tadi. Hari-hari sebelumnya pun dia sudah melihat bahwa tingkah salah satu pegawainya itu terasa sedikit berbeda. Arumi yang biasanya menebar senyum lebar pada siapapun akhir-akhir ini lebih sering melamun dan menyendiri.
"Tidak ada Nyonya. Sama sekali tidak ada." Jawabnya berbohong. Dia kembali fokus pada gaun yang sedang dia kerjakan demi memperlihatkan pada Nyonya Nastya bahwa dirinya baik-baik saja.
Sayang. Air mata itu tidak bisa di ajak bekerja sama untuk membohongi Nyonya Nastya. Dia dengan lancangnya tetap mengalir keluar tanpa perintah dari sang pemilik. Melihat hal itu, Nyonya Nastya langsung memegang pipi Arumi. Mengusap air mata gadis itu dengan rasa prihatin.
"Jika tidak ada masalah, kenapa kau menangis sayang ?"
"Tidak. Aru tidak....." Mata Arumi terbelalak ketika meraba wajahnya sendiri. Terasa basah di sana. Sepersekian detik berikutnya dia berpaling membelakangi Nyonya Nastya untuk menyeka sendiri air mata yang keluar tanpa sadar itu.
"Maaf Nyonya. Saya tidak sadar jika air mata saya keluar." Lanjutnya setelah kembali berbalik menghadap atasannya itu. Ia benar-benar tidak tahu kenapa air matanya bisa keluar tanpa dia sadari.
Nyonya Nastya menghela napas berat. Wajahnya semakin menampakkan rasa khawatir yang luar biasa.
"Lebih baik kau pulang Aru ! Tenangkan dirimu. Aku tidak ingin kau sakit jika tetap memaksakan diri bekerja dalam kondisi seperti ini."
"Tidak Nyonya. Saya baik-baik saja." Arumi menolak perintah Nyonya Nastya sambil tetap menyibukkan diri dengan gaun yang sedang di hiasnya.
__ADS_1
"Aru ! Tolong ! Turuti perkataanku. Ya ?" Mohon Nyonya Nastya sambil memegang kedua bahu Arumi.
Gadis Asia itu tampak berpikir sebentar. Tangannya melepaskan pita ukur yang ia kalungkan di lehernya.
"Lalu, bagaimana dengan gaun ini ?" Arumi menatap pada gaun yang baru 70 persen sudah di pasangi payet.
"Biarkan teman-temanmu yang mengerjakannya. Kau pulang saja lebih dulu !" Kata Nyonya Nastya sambil tersenyum.
Pasrah. Arumi akhirnya mengangguk. Langkahnya gontai meraih tas di meja kerjanya kemudian memeluk Nyonya Nastya singkat sebelum berjalan keluar dari ruangannya. Ia berniat untuk pulang meski hatinya sebenarnya tidak berniat melakukan hal itu. Jika dia pulang dan hanya sendirian di kamar, justru dia akan semakin merindukan Leon. Dan Arumi tidak menginginkan dirinya kembali tersiksa karena menahan perasaan itu.
Arumi berjalan menyusuri trotoar jalan tak tentu arah. Ia hanya terus melangkah mengikuti kemana sepasang kakinya akan membawanya. Tampak beberapa pasangan yang tengah asyik tertawa bersama sambil melewatinya. Kembali mengingatkan Arumi pada sosok Leon yang selama satu minggu ini sudah dia rindukan.
"Kamu di mana ? Apa kau baik-baik saja ?" Gumam Arumi dengan suara nyaris tak terdengar.
"Aru ?" Seseorang menepuk bahu Arumi dari belakang. Gadis itu langsung tertarik dari lamunan yang sempat menghanyutkannya. Alisnya mengkerut melihat siapa yang menyapanya. Seseorang yang cukup dia kenal.
"Zack ?" Tanyanya ragu. Dia mengingat wajah pria itu namun sedikit lupa pada namanya. Apa benar dia Zack ? Iya kan ?
"Sedang apa kau di sini ?" Tanya Arumi lagi. Pandangan gadis itu mengedar ke sekitar Zack. Seolah sedang mencari-cari sesuatu.
Zack mengikuti arah pandang Arumi ke belakangnya. Pemuda itu sudah bisa menebak apa yang sedang Arumi cari.
"Aku datang sendiri. Leon sedang tidak bersamaku." Kata Zack yang sudah tahu apa yang di pikirkan Arumi.
Raut kecewa tercetak jelas di wajah cantik Arumi. Gadis itu tampak patah semangat saat mendengar perkataan Zack.
"Apa dia baik-baik saja ?" Tanya Arumi dengan suara mencicit penuh kecemasan.
"Dia baik-baik saja. Jangan khawatir." Jawab Zack dengan senyum menenangkannya.
"Mau minum kopi bersama ?" Ucap Zack menawarkan sambil menunjuk sebuah Cafe di seberang mereka.
__ADS_1
Arumi menetap bangunan Cafe itu sebentar sebelum mengangguk mengiyakan ajakan Zack. Keduanya kemudian berjalan beriringan memasuki Cafe dan mengambil tempat duduk kosong berdekatan dengan meja kasir.
"Apa kau yakin bahwa Leon baik-baik Zack ?" Sekali lagi Arumi bertanya memastikan. Dia tidak ingin kalau-kalau ternyata Zack hanya sedang berbohong mengatakan bahwa Leon baik-baik saja.
"Tentu saja. Bukankah tadi sudah ku katakan ?"
"Lalu kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi ?"
Zack menggaruk kepala yang tidak gatal. Bingung memberi jawaban yang logis untuk Arumi tanpa harus mengatakan hal yang sejujurnya.
"Leon sedang ada pekerjaan di luar kota. Dan di sana, sinyal ponsel sangat susah. Mungkin itu sebabnya dia tidak bisa di hubungi."
"Apa dia masih akan lama berada di sana ?"
"Mungkin sekitar tiga atau empat hari lagi. Aku juga tidak yakin." Jawab Zack.
Arumi mengangguk-anggukkan kepalanya. Paham akan penjelasan yang di berikan Zack.
"Aru ! Apa kau benar-benar mencintai Leon ?" Tiba-tiba saja mulut Zack terasa gatal ingin menanyakan hal itu pada Arumi.
Sedangkan Arumi yang mendengarnya hampir tersedak Ice Coffe Latte yang sedang dia minum.
"Kenapa kau menanyakannya ?"
"Tidak. Hanya ingin tahu saja." Jawab Zack asal.
Arumi hanya diam dan belum menjawab pertanyaan dari Zack. Membuat pria yang menunggu jawaban itu akhirnya menyerah dan mengira Arumi tidak akan mau menjawab.
"Sudahlah ! Jika kau tidak ingin menjawab tidak apa-apa."
"Aku mencintai Leon, Zack. Aku sangat mencintainya."
__ADS_1