Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#24


__ADS_3

Langkah kaki Leon terburu-terburu meninggalkan gedung perusahaan milik sang ayah. Di liriknya jam tangan di pergelangannya seraya berdecak beberapa kali. Setengah jam lagi Arumi akan pulang dan dia masih berada di lobby perusahaan dengan pakaian formal yang masih melekat di tubuhnya.


Pria itu segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Mencari-cari nama Zack di sana dan menelepon sahabat baiknya itu. Setelah tersambung, Leon segera mengutarakan apa yang dia inginkan tanpa basa-basi.


"Kau ingat restoran tempatmu membeli pizza kemarin ?" Leon terburu-buru membuka pintu mobil dengan ponsel yang ia tempelkan di telinga dengan tangan kanan.


"Ya. Memangnya kenapa ?"


"Bawakan pakaian santaiku dalam 20 menit ke sana." Ucap Leon yang sudah menyalakan mesin mobil.


"Apa ? Kau pikir aku superman bisa terbang ke sana dalam waktu sesingkat itu ?"


"Aku tidak peduli caramu untuk ke sana, Zack. Lakukan saja yang ku katakan jika kau memang teman baikku."


Suara protes Zack dari seberang sana masih terdengar namun tidak di pedulikan Leon. Pria tampan itu hanya melempar ponselnya ke kursi penumpang di sampingnya tanpa menutup panggilannya. Biarkan saja Zack yang nanti mematikannya. Yang terpenting sekarang adalah, dia harus tiba lebih awal sebelum Arumi pulang atau gadis asia itu akan kembali kabur darinya.


* * *


"Kau lama sekali, Zack !" Gerutu Leon yang sudah menunggu Zack selama 5 menit namun terasa seperti 5 tahun.


"Kau masih bertanya ? Aku bahkan meninggalkan mobilku dan memilih naik motor kemari hanya demi kau, Leon." Sungut Zack yang merasa menjadi korban justru malah dia yang di salahkan.


"Mana pakaianku ? Aku harus berganti sebelum Arumi keluar." Ucap Leon terburu-buru seraya menyambar paperbag di tangan Zack kemudian berlari masuk ke dalam toilet restoran untuk berganti pakaian.


Zack yang di tinggalkan begitu saja hanya terperangah tak percaya. Sejak kapan Leon yang terkenal cuek mendadak seheboh ini hanya karena wanita yang belum lama dia kenal ?


"Terima kasih kawan ! Doakan agar kencanku berhasil." Seru Leon begitu antusias. Pria tampan itu menepuk bahu Zack sebelum bergegas keluar restoran. Pakaian bekasnya dia berikan pada Zack untuk di bawa pulang oleh temannya itu.


"Leon, tunggu !" Cegah Zack.


Leon berhenti. Ia menengok dengan alis terangkat heran. "Ada apa ?"

__ADS_1


" Apa kau tahu apa yang sedang kau lakukan ?" Tanya Zack sarat akan makna yang kurang bisa di pahami Leon.


"Maksudnya ?" Pria tampan itu memiringkan kepala.


Zack menghembuskan nafas perlahan. Sahabat baik Leon itu tampak sedikit tidak enak untuk memberitahukan Leon apa yang ada di dalam isi kepalanya.


" Tentang Arumi. Apa yang kau inginkan dari gadis itu, Leon ?" Suara Zack terdengar begitu berat dan serius.


Kehebohan yang tadi jelas sangat terlihat pada diri Leon perlahan memudar. Mata pemuda itu berkedip-kedip kebingungan. Apa yang dia inginkan dari Arumi ? Tentu saja cinta. Iya kan ?


"Kenapa kau menanyakan tentang hal itu, Zack ?"


"Ingat nasehatku di Moorea ? Gadis itu gadis yang baik. Tolong, jangan memberinya harapan jika kau sudah tahu apa yang nantinya akan terjadi."


Leon menelan bulat-bulat rasa geramnya. Perkataan Zack benar bahwa dirinya hanya akan memberikan luka untuk Arumi saja suatu hari nanti. Namun, Leon bisa apa ? Pria itu sudah terlanjur mencintai dan menginginkan rasa itu tetap ada meski hanya sebentar. Anggap saja, sebagai kenangan terindah sebelum dirinya tenggelam dalam kehampaan yang tak berkesudahan ketika mengarungi bahtera rumah tangga tak bahagia bersama Claire nanti.


Leon hanya ingin mengecap rasa bahagia meski sebentar sekalipun itu akan menyakiti dirinya dan Arumi suatu saat. Ia tidak ingin memikirkan hal itu dulu. Yang ingin dia pikirkan hanyalah membahagiakan diri sendiri tanpa rasa terkekang dan bebas dari bayang-bayang sang ayah. Dan tentu saja bahagia yang dia rasakan sekarang karena adanya Arumi di dalam hidupnya yang datar dan kosong.


"Apa Leon sudah gila ?" Gumam Zack pelan nyaris tak terdengar. Pria itu mengacak rambutnya frustasi hanya karena memikirkan ulah Leon yang baru pertama kali keluar dari jalur yang di ciptakan Duke Xander untuknya.


* * *


" Kau di sini ?" Arumi tersenyum kaget ketika melihat Leon yang berlari kecil menghampirinya dengan dua buah paper cup kopi di tangannya.


"Untukmu." Leon menyerahkan satu gelas untuk Arumi.


Gadis itu menerimanya dengan senang hati. Sejak Leon membawanya ke disneyland Paris kemarin, gadis itu perlahan sudah mulai melupakan ketegangan yang dulu pernah dia alami dengan pria tampan itu. Perasaannya sekarang jauh lebih bisa menerima keberadaan Leon meski rasa ragu masih tetap menyelimuti. Ia ragu, bahwa hubungan yang sekarang mereka jalani akan bertahan lama. Entah itu pertemanan ataupun percintaan.


"Kenapa kau kemari lagi ?" Tanya Arumi dengan kedua tangan yang memegang kopi yang tadi di berikan Leon.


"Bukankah kencan kita masih tersisa 4 hari lagi ?"

__ADS_1


Arumi mengangguk tersenyum. Sepertinya, kali ini Leon benar-benar akan menepati janji.


"Jadi kemana kita hari ini ?"


" Jardin du Luxembourg."



Jardin du Luxembourg atau taman Luxembourg adalah taman yang awalnya di buat oleh Marie de' Medici , janda dari raja Henri IV pada tahun 1612. Terkenal dengan kecantikan tamannya yang luar biasa indah, taman Luxembourg merupakan salah satu tempat tujuan paling di minati di kota Paris dan merupakan taman yang paling ingin di kunjungi oleh Arumi namun sayangnya belum pernah kesampaian karena Charlie masih sibuk dengan kuliahnya.


Tentu berada di taman ini langsung membuat senyum Arumi mengembang sempurna. Mata gadis itu perlahan menutup dengan kepala mendongak ke atas. Di hirupnya dalam-dalam udara segar dari sekitar taman yang tampak asri dan menenangkan. Arumi bisa melepas penat sepuas hati dengan angin sore yang sejuk menemani.


"Kau menyukainya ?" Leon bertanya, memaksa Arumi kembali membuka mata indahnya yang terpejam.


"Sangat. Lagi-lagi aku berterima kasih karena kau sudah membawaku ke tempat yang menyenangkan." Gadis itu tersenyum tulus. Memberi gelombang getaran yang langsung menyengat jantung Leon hingga detaknya semakin cepat dan tak beraturan.


"Kita akan lebih sering ke tempat seindah ini, Aru. Aku janji." Lirih Leon setulus hati. Jemarinya tiba-tiba saja menggenggam jemari kecil Arumi yang sontak membuat gadis itu terkesiap kaget.


"Tanganmu kecil sekali, Aru !" Ujar Leon bergurau. Ia membandingkan ukuran telapaknya dengan milik Arumi yang tentu saja memang memiliki ukuran yang berbeda jauh.


"Tanganmu saja yang kebesaran." Sahut Arumi terkekeh.


"Tidak apa-apa. Aku menyukai jika jemarimu sekecil ini."


"Kenapa ?"


Tangan Leon yang awalnya terbuka kembali menautkan jemarinya dengan jemari tangan Arumi. Di genggamnya erat-erat jemari gadis asia itu lalu memberinya kecupan cukup lama di punggung tangannya.


"Karena aku bisa menggenggamnya erat seperti ini tanpa takut terlepas."


Arumi mulai tenggelam dalam manik coklat milik pria tampan berambut brunette di sampingnya. Pria itu sukses menyentuh bagian terdalam di dalam hati Arumi dan membuat gadis itu merasa benar-benar di inginkan. Sesuatu, yang selama ini tak pernah dia dapatkan dari seorang Irgi Antonio ketika menjadi istri dari pria itu bahkan selama dua tahun lamanya.

__ADS_1


__ADS_2