Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#89


__ADS_3

Hujan sudah turun membasahi bumi sejak dua jam yang lalu. Memaksa Arumi hanya bisa berdiam di lantai dua butiknya sambil melihat tetesan air hujan yang meleleh pada dinding kaca bening yang melapisi area ruangan pribadinya. Gadis itu menghela napas. Telapak tangannya menempel pada dinding kaca seraya menumpukan dahinya di sana.


Hati Arumi masih belum bisa berdamai dengan masa lalu yang ia tinggalkan di langit-langit kota Paris. Pemuda bersurai brunette yang terlanjur mengambil hatinya jelas masih memiliki tempat di dalam rongga dada Arumi. Pria itu masih menjadi cinta yang tak akan pernah mudah Arumi lupakan meski ia tahu bahwa Leon sudah menjadi milik Claire.


"Apa yang sedang kau lakukan, Aru ?" Selina menghampiri Arumi. Menyentuh pundak gadis itu dengan begitu lembut dan seringan kapas.


Arumi menoleh dan perlahan membalik badannya ke arah Selina. Ia menyandarkan kembali tubuhnya pada dinding kaca transparan tersebut sambil meneteskan air mata.


"Aku masih mencintainya, Selina !" lirih Arumi dengan mata terpejam. Ia mendekap tubuhnya sendiri. Menahan hawa dingin yang menyergap tubuhnya yang hanya berbalut longdress tanpa lengan.


Selina menyisir rambut panjang Arumi sebelum jemari lentik itu berlari mendekap wajah Arumi.


"Aku mengerti perasaanmu !"


Singkat namun memiliki arti yang luas. Kalimat Selina cukup membuat Arumi memiliki sedikit penghiburan atas rasa sakit yang ia miliki. Setidaknya, masih ada Selina dan Devan yang mencintainya dan tak pernah meninggalkan Arumi sendirian di tengah patah hatinya yang tak kunjung membaik.


"Terima kasih karena sudah mencemaskanku, Selina !" Arumi memeluk leher Selina. Menghantarkan ketulusan yang langsung menyengat hati Selina begitu hangat. Aktris cantik itu balas memeluk Arumi.


"Sama-sama," lirih Selina pelan.


Sudah dua jam berlalu namun hujan belum juga tampak ingin beranjak. Awan hitam masih menggumpal di atas langit ketika Arumi menengok melalui kaca bening itu. Alam seakan turut memberi andil dalam mendukung rasa sakit yang Arumi derita karena patah hati.


Selina sudah pulang sekitar satu jam yang lalu dengan di jemput Devan. Kini, ia kembali sendiri setelah curhatan panjangnya tentang Leon yang tak akan pernah mengenyam kata tamat di akhir cerita. Leon adalah sebuah kisah tanpa ujung yang akan selalu Arumi ingat sepanjang masa. Meski, keduanya bukan jodoh, namun Arumi tetap menyimpan Leon sebagai kenangan terindah dalam hidupnnya.


Ponsel gadis itu berdering. Tertera nama Irgi di sana. Arumi masih diam dan memilih membiarkan benda pipih itu terus melantunkan lagu 'Bad Liar' hingga ketiga kali. Setelah itu, ponsel tersebut tak lagi bersuara.


* * *


Pintu ruangan kerja Arumi terbuka. Muncul sosok Irgi yang berdiri dengan gagah di sana. Arumi menghela napas berat karena harus melihat sosok pria itu lagi dan lagi. Ini sudah satu bulan. Dan, Irgi masih belum menyerah untuk mendapatkannya kembali.

__ADS_1


"Sudah ku katakan bahwa aku tidak ingin menemuimu lagi, Kak !" Arumi berdiri membelakangi Irgi.


Irgi perlahan mendekat. Memeluk tubuh Arumi dari belakang dengan erat sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis cantik itu. Arumi menegang. Hembusan napas berat Irgi bisa ia rasakan berhembus tak beraturan di sekitar lehernya.


"Lepaskan aku, Kak ! Kau tidak berhak memelukku sembarangan seperti ini," ucap Arumi sambil berusaha melepaskan lengan kokoh Irgi yang melingkari perutnya.


"Ku mohon, Aru ! Sudah cukup kau marah kepadaku ! Biarkan hatimu kembali terbuka untuk menerimaku ! Aku berjanji akan menjadi pria yang jauh lebih baik untukmu !" Irgi semakin mengeratkan pelukannya. Bibirnya yang semula diam kini mulai berani menggigit kecil leher Arumi.


Seketika, gadis itu menginjak kaki Irgi hingga ia memiliki celah untuk lepas dari pelukan mantan suaminya yang tak tahu malu itu.


"Pergi dari sini ! Keluar !" teriak Arumi dengan lantang dan keras. Air matanya menggenang menahan segala amarah atas perbuatan Irgi yang sudah terlalu kelewat batas.


"Aru ! Maafkan aku ! Aku tidak sadar...." Irgi menggantung kalimatnya. Sungguh ! Ia sangat bingung harus dengan kalimat apa dirinya menjelaskan kepada Arumi akan tindakan bodohnya barusan.


Aroma lily yang menguar dari tubuh Arumi untuk sesaat membuat Irgi lupa bahwa perempuan itu bukan lagi istrinya. Ia hanya melakukan kebiasaan yang sudah sangat lama tidak ia lakukan kepada Arumi. Dan untuk semua itu, Irgi benar-benar merutuki kebodohannya sendiri yang sudah lepas kendali tanpa sadar.


"Aku bilang keluar, Kak !" teriak Arumi lagi. Ia memegang lehernya yang bisa Arumi pastikan akan memiliki bekas merah keunguan setelah ini.


"Apa aku terlalu murahan di matamu ?" desis Arumi dengan tatapan nyalang.


"Demi Tuhan ! Bukan itu maksudku !" Irgi mendesah frustasi. Kemarahan Arumi semakin berkobar karena kebodohannya.


"Sudah berapa kali harus ku katakan, Kak ? Antara kau dan aku sudah selesai sejak lama. Bahkan, aku sudah pernah berkata di malam perpisahan kita dulu bahwa ketika kau sudah menyadari semuanya, maka hal itu sudah sangat terlambat. Rasaku padamu sudah mati sejak malam itu dan mustahil untuk bisa tumbuh lagi meski apapun cara yang kau upayakan !"


Irgi menutup telinganya. "Cukup."


Ia berlutut di depan Arumi. Bersimpuh dengan wajah putus asa. Dan ketika tangan kekar itu hendak meraih tangan Arumi, gadis itu melangkah mundur. Terlihat begitu ketakutan dan marah di waktu yang bersamaan.


Patah. Lagi-lagi hati Irgi patah. Arumi sungguh menganggapnya bukan apa-apa lagi. Gadis itu benar-benar sudah membencinya. Hal yang tak pernah Irgi mimpikan seumur hidupnya.

__ADS_1


"Aku tahu aku bodoh, Aru ! Aku tahu bahwa aku pria br*ngsek yang terlalu lancang menginginkan gadis sesempurna dirimu untuk memenuhi kehidupanku lagi. Tapi, tak bisakah kau memberi kesempatan terakhir untuk pria br*ngsek dan bodoh ini ? Sekali saja !" Suara Irgi terdengar serak. Nyaris menghilang dan tak bisa keluar dengan sempurna lewat tenggorokannya.


Arumi tidak menjawab. Gadis itu memilih membuang pandangannya ke arah lain. Air mata itu menetes tanpa ia minta.


"Mungkin jika hatiku masih berdetak untukmu, hal itu akan ku lakukan. Tapi, sayangnya tidak lagi. Hatiku sudah tercuri oleh pria lain, Kak ! Dan, hal itu tak bisa ku cegah sama sekali. Maaf !" Arumi tertunduk dalam rasa sakit yang sama dengan Irgi. Cintanya juga tak bisa bersama dengan orang yang ia kasihi. Mereka senasib. Meski jalan ceritanya jelas berbeda.


"Dan siapa pria beruntung itu, Aru ?"


"Aru ! Aku kemari untuk menjemputmu !" Devan melangkah masuk dan langsung terdiam begitu melihat pemandangan di hadapannya.


Ada Irgi yang sedang berlutut sambil menangis sementara Arumi berdiri di depan Irgi juga melakukan hal yang sama. Devan sepertinya masuk di saat yang sangat-sangat tidak tepat.


Arumi



Irgi



Devan



Selina



Bonus pict persahabatan Devan, Selina dan Aru

__ADS_1



__ADS_2