
"Ayahmu membayarku satu juta dollar demi menjauhimu. Apa kau tidak tahu?"
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala Leon bahkan ketika ia kini sudah berada di rumah. Pemuda itu mengusap wajahnya kasar. Bertambah susah saja jalannya mendapatkan hati Arumi kembali jika ceritanya memang seperti itu.
Ayahnya yang dulu memang benar-benar keterlaluan. Namun, Leon tak bisa memarahi Ayahnya lagi karena itu semua hanya tinggal bagian masa lalu. Ya, walaupun dampaknya tetap ada sampai saat ini.
"Sedang apa kau?" Rick yang baru saja masuk ke dalam kamar Leon hampir terkena serangan jantung karena menemukan sosok Leon yang meringkuk sambil menenggelamkan kepalanya di kedua lutut sesaat setelah ia menyalakan lampu kamar pemuda itu.
Rick pikir Leon sedang tidak di dalam sana mengingat kondisi kamar yang gelap gulita sementara langit di luar sana juga sudah gelap.
Leon mengangkat kepalanya dengan lesu. Ia lalu menidurkan tubuhnya di lantai sambil masih memeluk kedua lututnya.
"Aku mau mati saja, Rick!" ujarnya putus asa.
"Ada apa denganmu? Bisa ceritakan dulu masalahnya?" Rick duduk di atas kasur. Membiarkan Leon masih tertidur di lantai marmer yang dingin.
"Dia tidak akan kembali padaku, Rick! Dia benar-benar membenciku sekarang."
"Memangnya ada apa? Apa yang sudah kau lakukan lagi padanya?"
"Bukan aku. Tapi Daddy," jawab Leon lemah.
"Baiklah. Apa yang Uncle Xander lakukan padanya?" Rick meralat ulang pertanyaannya.
"Daddy menyuap Aru dengan uang satu juta dollar demi menjauhiku," terang pemuda itu.
"Satu juta dollar," gumam Rick. "Apa? Satu juta dollar?" Pria itu sudah lompat berdiri. Ia bahkan jauh lebih kaget di banding saat menemukan Leon beberapa saat yang lalu.
"Aku bisa gila, Rick! Daddyku benar-benar manusia yang buruk di masa lalu," ringis Leon.
Alarick berpindah dan duduk di lantai di samping Leon berbaring. Pria itu menggoyang-goyangkan tubuh Leon yang tak di respon apapun oleh sepupu jauhnya itu.
"Apa Arumi menerima uang itu?" tanya Rick penasaran.
Leon menggeleng lemah. "Aruku bukan gadis seperti itu, Rick!"
"Lalu, apa yang terjadi setelahnya?"
"Aru meminta syarat yang lain. Dia ingin Daddy mengembalikan pekerjaan Ayah angkatnya lagi."
"Hanya itu?"
__ADS_1
"Ya. Hanya itu."
Sesederhana itulah gadis pilihannya. Bukan perempuan matre seperti kebanyakan wanita. Gadis milik Leon adalah sosok yang tidak silau akan materi. Gadis itu hanya memandang ketulusan orang lain dan itu yang membuat Leon terjerat. Semakin Leon berusaha untuk lepas, jeratan itu kian mengikatnya. Namun, bertahan juga tak membuahkan hasil.Perjuangannya masih belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sukses.
Tapi, tenang saja. Leon tak akan cepat menyerah. Waktu untuknya masih banyak. Ia akan tetap berusaha sampai Arumi benar-benar kembali padanya.
***
Arumi keluar kamar dengan sudah mengenakan piyama tidur berbahan satin. Gadis cantik itu melangkah menuju ke ruang makan dan menemukan ayahnya sedang sibuk menata makanan di meja makan.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan?" Arumi segera mengambil alih mangkuk sayur yang di bawa Jonathan dan meletakkannya di atas meja makan dengan hati-hati.
"Ayah hanya memasak sedikit untukmu! Kau pasti lelah bekerja, bukan?" ucap pria paruh baya itu dengan senyum teduh menghangatkan.
Arumi menarik salah satu kursi untuk Ayahnya sebelum menarik satu lagi untuk dirinya sendiri. Rasa haru menggelayuti perasaan Arumi. Seumur hidup, ini adalah momen terindah yang pernah ia miliki bersama Jonathan.
"Kau menangis?" Jonathan mengusap setetes kristal bening yang terjatuh dari mata Arumi tanpa gadis itu sadari.
"Maaf, Ayah. Aku hanya senang karena Ayah melakukan semua ini untukku!" jawabnya dengan jujur.
"Ayah akan melakukan hal ini setiap hari jika itu yang membuatmu senang." Jonathan lagi-lagi tersenyum. Pria itu bersungguh-sungguh dalam kata-katanya.
"Tidak, Ayah tidak harus melakukannya setiap hari. Bukankah Ayah masih belum pulih?"
Setelah makan malam, ponsel Arumi berdering. Panggilan dari Selina yang memintanya untuk ke apartemen milik aktris cantik itu. Arumi menurut meski awalnya ia menolak keras. Namun, Selina juga tak mau menyerah. Berkat aktingnya yang luar biasa, ia sukses membuat Arumi akhirnya luluh juga.
Sudah pukul 8 malam. Setelah berpamitan pada Jonathan yang sedang membaca buku di ruang tamu, Arumi keluar dan melangkah ringan menuju ke apartemen Selina. Gadis itu mengeratkan pegangannya pada cardigan berwarna putih yang ia pakai. Menutupi baju atasannya yang tidak berlengan agar tidak terlalu terkesan seksi.
Pintu terbuka dan menampilkan wajah Selina yang tersenyum ceria. Tanpa basa-basi, Selina menarik tangan Arumi masuk. Mengunci kembali pintu apartemen dan membawa Arumi menuju ruang tamu. Di sana juga ada Devan yang langsung melambaikan tangan menyapa Arumi ketika ia tiba.
Canggung, Arumi memilih duduk di sofa tunggal dan membiarkan Devan dan Selina duduk bersama di sofa yang agak lebih panjang.
"Kenapa kalian memanggilku kemari?" tanya Arumi.
"Siapa laki-laki tadi siang?" Selina balik bertanya.
Arumi tertunduk. Menggigit bibir bawahnya gugup. Astaga! Kenapa Devan dan Selina mendadak seseram ini? Kedua mata mereka menatap tajam ke arah Arumi. Seolah-olah, Arumi adalah pelaku kejahatan yang harus di adili seberat-beratnya.
"Aru! Jawab!" desak Selina dengan suara meninggi.
"Bukankah kau sudah tahu?" ucap Arumi.
__ADS_1
Selina mengangkat kedua alisnya lalu mencoba berpikir keras. "Jadi, dia benar Leon?"
"Tentu saja. Siapa lagi?" sahut Arumi kesal.
"Astaga! Aku melupakannya, Aru!" Perempuan cantik itu terkekeh sembari menepuk jidatnya. Kebiasaan lamanya kambuh. Ia suka melupakan seseorang yang pernah ia temui dalam beberapa hari.
"Kau kembali padanya?" Kali ini, suara Devan terdengar.
"Tidak," geleng Arumi cepat. Wajahnya tegang.
Devan menghela napas. "Lalu, apa yang kalian lakukan tadi siang? Astaga, Aru! Apa kalian tidak bisa menyewa kamar hotel?"
"Apa maksudmu?" Arumi mulai merasa khawatir. Nampaknya, salah paham Devan dan Selina terlampau jauh.
"Aku tidak menyalahkan kalian jika kalian sudah sangat ingin melakukannya bahkan sebelum menikah. Tapi, tidak bisakah kalian melakukannya di kamar hotel saja? Di kantor, bisa saja para pegawai yang memergoki adegan mesum kalian."
"Tunggu dulu!" Telapak tangan Arumi terangkat ke udara demi menginterupsi kalimat salah paham panjang lebar Devan.
"Apa?" sahut Devan dan Selina kompak.
"Hal yang terjadi tidak seperti yang ada di dalam otak kalian. Aku masih waras teman-teman," desah Arumi frustasi.
Memangnya, Selina dan Devan pikir dia dan Leon sedang melakukan apa? Adegan mesum? Ayolah! Arumi masih cukup sadar untuk tidak menyerahkan tubuhnya pada pemuda menyebalkan itu. Pemuda yang bisa saja, melukainya kembali suatu saat.
"Aku bahkan sudah tidak berniat kembali padanya. Lalu, untuk apa aku harus menyerahkan tubuhku pada pemuda yang sudah ku benci?" lanjut Arumi.
Devan dan Selina saling berpandangan. Keduanya meneguk saliva mereka gugup. Sepertinya, mereka sudah salah paham. Haruskah mereka meminta maaf?
Arumi
Leon
Selina
Devan
__ADS_1