
"Leon !" pekik Claire senang saat melihat Leon datang bersama Zack yang terlihat memapah sang calon suami.
Leon menghentikan langkahnya. Ia mendengus kasar ketika melihat Claire berjalan mendekat ke arahnya.
"Mau apa kau kemari ?" tanya Leon sinis.
"Ku dengar kau sedang sakit. Tentu saja aku kemari untuk melihat keadaanmu, Sayang !" jawab Claire yang ingin memegang rahang Leon namun langsung di tepis oleh pemuda itu.
"Pergilah ! Aku tidak butuh di jenguk olehmu !" kata Leon.
"Tidak bisakah kau berkata lebih lembut sedikit pada calon istrimu sendiri, Leon ?" tanya Claire yang saat ini sudah mulai tersulut emosi karena perlakuan kasar Leon.
"Tidak bisa. Batas kelembutanku terhadapmu hanya sampai sini. Kau keberatan dengan itu ?" tanya Leon dengan senyum merendahkan.
"Tentu saja aku keberatan !" jawab Claire berapi-api.
"Kalau begitu, batalkan saja pernikahan bodoh ini jika kau keberatan," kata Leon.
"Bantu aku naik ke kamar, Zack !" pinta Leon kepada Zack kemudian.
"Baiklah !" angguk Zack paham.
"Aku belum selesai bicara, Leon !" teriak Claire tak terima.
Leon tidak menggubris teriakan Claire. Pemuda itu tetap berjalan lunglai dengan di papah oleh Zack menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Ada apa ?" Duke Xander yang mendengar suara keributan dari arah ruang tamu datang menghampiri Claire yang berdiri mematung dengan tangan terkepal erat.
"Leon sudah sangat keterlaluan Uncle ! Dia benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini sedikit pun," jawab Claire sambil menangis terisak. Kali ini, perempuan cantik itu jujur. Dia menangis dari dalam hatinya. Perlakuan kasar Leon terhadapnya barusan semakin menegaskan bahwa dia tak memiliki arti sama sekali di mata pemuda itu.
Duke Xander menghela napas lemah. Leon menurutnya memang sudah sangat keterlaluan.
"Sudahlah ! Jangan menangis. Biar Uncle yang mengurus semuanya," kata Duke Xander seraya menepuk bahu Claire. Menenangkan gadis itu yang masih terisak sedih.
* * *
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini, Leon ?" tanya Zack prihatin. Pemuda itu kini berdiri di samping Leon yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.
__ADS_1
"Entahlah !" Leon menghela napas. "Mungkin saja selamanya aku akan tetap seperti ini," kata pemuda bermanik cokelat itu sambil tertawa miris.
"Katakan padaku, Zack ! Kenapa sangat sulit untuk sekedar mengikhlaskan Arumi pergi ? Kenapa bisa sesakit ini rasanya hanya karena mencintai seorang perempuan seperti Arumi, Zack ?" lanjut Leon lagi.
"Belajar Leon ! Mau tidak mau kau harus tetap melepas Arumi. Gadis itu memang baik, tapi dia tidak di takdirkan untuk bersamamu," ujar Zack berusaha meyakinkan.
"Tapi rasanya terlalu sulit. Aku tidak bisa !" ucap Leon lirih.
"Jika kau benar mencintainya kau harus melepaskannya. Ini semua demi kebaikan Arumi. Agar Duke tidak lagi mengusik hidupnya. Mencintai tidak selalu tentang memiliki Leon ! Ada kalanya melepas jauh lebih indah demi kebahagiaan orang yang kita cintai," sahut Zack panjang lebar.
Leon tidak bersuara lagi. Pemuda itu memilih untuk berbaring di tempat tidurnya. Perkataan Zack sama sekali tidak membantu menurutnya. Mungkin, jika ia tertidur, semua mimpi buruk ini akan segera berlalu. Ya. Semoga saja.
* * *
Ponsel Arumi terus berdering tanpa henti. Gadis itu menghela napas lemah kemudian mengangkat telepon dari nomor yang sama sekali tak ia kenali.
"Siapa ?" tanya Arumi to the point.
"Ini aku !"
Gadis itu menurunkan ponselnya usai orang itu mengatakan apa tujuannya menelepon Arumi. Segera, Arumi menyambar tas yang berada di atas nakas dan bergegas ingin segera pergi. Orang itu, ingin mengajaknya bertemu sekarang juga.
"Aru ? Mau kemana kau ?" Charlie yang berpapasan dengannya di pintu utama langsung menegurnya.
"A-aku ingin ke butik. Ada sesuatu yang harus segera ku kerjakan," ucapnya berbohong.
Dahi Charlie mengerut. Di liriknya jam tangan di pergelangannya dengan tatapan heran. Sudah jam setengah enam sore dan Arumi ingin ke butik ?
"Apa tidak terlalu kemalaman, Aru ?"
"Tidak apa-apa," geleng Arumi. "Ada Jill yang sudah menungguku di sana," lanjut Arumi.
"Perlu ku antar ?" Charlie menawarkan tumpangan.
"Tidak, Char ! Taksiku sudah menunggu di depan," jawab Arumi mencari alasan.
"Baiklah !" angguk Charlie ragu.
__ADS_1
Arumi pun segera berlari menuju keluar gerbang mansion. Ia tidak sabar ingin menemui orang yang sudah meneleponnya tadi.
Sekitar 15 menit menaiki taksi, Arumi tiba di sebuah restoran bintang lima. Gadis itu menarik napas dalam, memperbaiki letak tas yang tersampir di pundak dan segera memasuki restoran itu dengan langkah yang mantap.
Arumi mengedarkan pandangannya ke setiap area restoran. Mencari-cari keberadaan orang yang ingin ia temui di tempat ini. Tak lama kemudian, salah seorang pelayan mendatangi Arumi sambil tersenyum ramah.
"Dengan nona Arumi ?" tanya pelayan wanita itu.
"Ya. Benar !" jawab Arumi tersenyum.
"Mari ikut saya !" Pelayan itu berkata sambil memutar balik tubuhnya. Dia berjalan dengan anggun dengan Arumi yang mengikutinya dari belakang.
Pelayan tersebut membawa Arumi ke sebuah ruangan khusus VVIP. Sebuah ruangan yang terpisah dari area restoran yang ramai. Ia kemudian membuka pintu di depannya dan mempersilahkan Arumi untuk masuk.
"Silahkan, Nona ! Tuan sudah menunggu anda," kata pelayan tersebut.
"Terima kasih," angguk Arumi lalu segera masuk. Setelah Arumi masuk, pelayan itu menutup pintu kembali dan bergegas menjauh dari sana.
Di dalam ruangan tersebut, gadis itu sudah bisa melihat pria yang ingin menemuinya. Seorang pria yang hanya pernah ia lihat sekilas di pesta Mr. Kovalev ketika di Pulau Moorea beberapa bulan yang lalu. Dan, ini pertama kali bagi Arumi berhadapan langsung dengan seorang Duke Xander yang katanya terkesan datar dan menakutkan. Ayah dari pria yang Arumi cintai.
"Duduklah !" perintah Duke Xander.
Arumi menuruti perkataan pria itu. Ia duduk tepat di hadapan Duke Xander yang tak berekspresi apapun. Mata gadis itu menantang penuh percaya diri pada netra Duke Xander tanpa rasa takut sedikit pun. Membuat Duke Xander sedikit terkesan dan mengangkat sebelah alisnya.
"Ada apa anda ingin menemui saya ?" tanya Arumi dingin.
Duke Xander belum menjawab. Dia saat ini sedang menuangkan wine pada gelas Arumi kemudian ke gelasnya sendiri.
"Aku ingin kau kembali ke negaramu !" kata Duke Xander usai meletakkan botol wine kembali ke tempatnya.
"Kenapa ?" tanya Arumi masih dengan sorot matanya yang menghunus tajam ke arah Duke Xander.
"Kau tidak perlu tahu apa alasannya," jawab Duke Xander datar.
Arumi terdiam beberapa detik. Gadis itu tersenyum sinis dengan kedua tangan yang terkepal erat di bawah meja.
"Maka saya dengan senang hati akan menolak perintah anda, Duke," ucap gadis itu dengan lantang.
__ADS_1