
Duke Xander menyesap kopinya sambil duduk santai berhadapan dengan calon menantunya, Claire. Keduanya sama-sama tersenyum puas saat rencana mereka memisahkan Leon dan Arumi bisa di bilang sempurna seratus persen.
"Kau sudah sangat bekerja keras, Jane ! Mari bersulang untuk itu, " ucap Duke Xander seraya menaikkan cangkir kopinya ke udara.
"Terima kasih banyak, uncle !" Claire tersenyum dan turut mengangkat cangkir teh miliknya.
"Jangan sakit hati dengan perlakuan kasar Leon. Setelah gadis Asia itu benar-benar sudah menghilang, Leon pasti akan berbalik menyukaimu. Percaya pada Uncle !" Duke Xander berusaha meyakinkan Claire.
Claire yang mendengar perkataan Duke Xander semakin melebarkan senyumnya. Perempuan yang berprofesi sebagai selebriti itu melompat girang dalam hati. Saingan terbesarnya sudah dia lindas serata mungkin. Ia bahkan bisa memastikan bahwa gadis Asia kesayangan tunangannya itu tidak mungkin memiliki muka lagi bahkan untuk sekedar menatap mata Claire saja.
Ya. Semua yang terjadi hari ini merupakan skenario yang dia rencanakan bersama dengan Duke Xander. Hari itu, saat dia mengetahui hubungan antara Arumi dan Leon, Claire menemui Duke Xander. Menangis terisak di hadapan pria itu sambil mengadukan sikap Leon yang terus saja mengacuhkan dia selama ini.
Tentu saja kisah karangan tentang keburukan Arumi tak luput dari pengaduan Claire. Dan, Duke Xander yang memang sudah membenci gadis Asia itu dari awal langsung menelan mentah-mentah umpan berisi kebohongan yang Claire berikan. Tak perlu lagi menelaah mana cerita benar dan mana cerita yang salah. Baginya, Arumi sudah seperti serangga yang harus dia basmi sekejam mungkin agar tidak mengganggu ketenangan hidupnya dan putranya.
Tak berselang lama, suara ketukan dari pintu luar membuat pandangan Duke Xander teralih ke arah pintu. Sekretaris Duke Xander masuk dan memberitahukan bahwa seorang pemuda ingin menemuinya. Duke Xander menyeringai. Dia tahu siapa pemuda yang di maksud oleh sang sekretaris.
"Persilahkan dia masuk !" perintah Duke Xander.
"Baik tuan !" sekretaris itu mengangguk paham dan menutup kembali pintu ruangan milik atasannya.
Sekitar satu menit kemudian, pemuda yang di maksud sang sekretaris memasuki ruangan. Ia terlebih dulu memberi hormat sebelum menyapa Duke Xander dan juga Claire tentunya.
"Duduklah !" Duke Xander mempersilahkan tamunya yang baru datang untuk duduk di samping Claire.
Pemuda itu menurut dan memandang Claire sekilas yang tampak mendengus melihat kedatangannya. Tak apa. Toh, dia juga tidak menyukai perempuan sombong itu.
"Senang bertemu denganmu lagi," sapa Claire ramah yang bisa Zack tebak hanya pencitraan di depan Duke Xander saja.
Zack tetap membalas sapaan ramah palsu Claire meski hanya dengan senyum sekenanya.
"Sudah kau lakukan tugasmu dengan baik Zack ?" tanya Duke Xander sambil kembali menyesap kopinya. Membuat pikiran Zack kembali teralih pada tujuan dia di suruh datang kemari oleh pria dingin di hadapannya.
"Sudah uncle," jawab Zack lemah. Kedua tangannya saling meremas gugup. Rasa bersalah karena telah melakukan sesuatu yang sangat-sangat salah terus saja menggerogoti setiap jengkal tubuhnya.
"Kerja bagus, Zack ! Tetaplah di samping Leon dan bujuk dia untuk menerima keberadaan Jane perlahan," kata Duke Xander.
Zack mengangguk meski hatinya kecilnya mengutarakan hal yang berlawanan.
* * *
Usai menemui Duke Xander dan Claire, Zack memutuskan untuk kembali ke kantor tempat dimana dia bekerja. Dia dengan lemah melangkahkan kaki menuju mobilnya yang terparkir di basement kantor 'W Corporation'. Perusahaan besar milik pribadi Duke Xander.
"Kemari kau br*ngsek !" umpat seseorang yang langsung menarik kerah kemeja Zack dan membantingnya keras ke badan mobil.
Mata Zack membulat saat tahu bahwa yang melakukan hal itu terhadapnya adalah sahabat baiknya sendiri, Leon. Orang yang sudah dia tipu dengan berpura-pura menjadi teman paling setia selama ini.
"Berapa banyak uang yang di berikan Daddyku sebagai imbalan untuk menipuku, hah ?" Leon meninju wajah Zack hingga pemuda itu tersungkur di lantai basement.
"Leon ! Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan !" ujar Zack membela diri. Dia bertumpu pada satu tangannya untuk menopang badan agar tak sampai jatuh terlentang di atas lantai. Tangannya yang sebelah lagi, bergerak menyapu darah yang keluar dari hidungnya.
__ADS_1
"Kau masih mau berpura-pura rupanya ?" Leon kembali menyerang Zack. Memukul wajah orang yang selama ini dia anggap sebagai teman baik namun justru malah menjadi musuh dalam selimut.
"Belum puas kau menghancurkan hidupku bersama ayahku ? Belum puas kau melihat aku dan Arumi hancur seperti ini ?" Leon tetap memukuli wajah Zack putus asa.
"Hentikan Leon !" Zack membalas pukulan Leon. Meninju sekuat yang ia bisa hingga Leon sedikit terpundur ke belakang dan menjauhinya.
Hal itu di manfaatkan Zack untuk mengambil celah agar bisa berdiri kembali.
Leon turut menyeka darah yang keluar dari dalam mulutnya. Pemuda bermata cokelat itu tertawa keras merutuki kebodohannya sendiri.
"Kenapa aku bisa mempercayaimu untuk ku jadikan teman Zack ? Aku menceritakan semua rahasiaku padamu selama ini karena ku pikir kau itu temanku. Tapi nyatanya apa yang terjadi ? Kau, Daddy dan juga Jane bersekongkol untuk memisahkanku dengan Aru !"
Kini Leon luruh dan bersimpuh di lantai. Kedua tangannya meremas surai kecokelatan di atas kepalanya sambil bersujud dan memukul-mukulkan kepalanya di atas lantai.
"Bodoh ! Aku benar-benar bodoh !" tangis Leon.
"Bagaimana bisa aku mempercayai orang-orang sekejam kalian ?" lanjutnya.
Zack segera berlari ke arah Leon. Menahan tubuh Leon agar pemuda itu berhenti membenturkan kepalanya sendiri ke lantai basement yang dingin.
"Jangan seperti ini Leon ! Ku mohon !" pinta Zack lirih.
Leon mendongak dan menatap sendu wajah bersalah Zack. Pemuda itu tersenyum di sela tangis kesedihannya sambil mencengkram erat bahu Zack.
"Jujur padaku Zack ! Kenapa kau tega melakukan hal sekejam ini padaku ?" tanya Leon sekali lagi.
Zack tertunduk. Dia mengatupkan kedua bibirnya sambil ikut menangis. Menyesali perbuatan bodohnya karena mau menuruti rencana gila Duke Xander dan Claire demi memisahkan Arumi dan Leon.
"Ceritakan semua padaku apa yang sudah kalian rencanakan selama ini !" pinta Leon serius.
Zack mengangguk dengan pasrah. "Baiklah ! Tapi tidak di sini," katanya.
Mereka berdua kemudian bergegas menuju ke apartemen Zack. Sekitar 25 menit berkendara, akhirnya Leon dan Zack tiba di tempat yang di tuju. Zack memencet bel apartemennya. Selang beberapa detik kemudian, seorang wanita berkisar 50 tahunan keluar dan membukakan pintu untuk mereka. Wajah wanita itu sepertinya kaget saat melihat Zack dan Leon datang dengan tampang babak belur.
"Apa yang terjadi dengan wajah kalian ?" Inessa, demikian nama wanita itu. Ibu kandung dari seorang putra bernama Zack Murphey.
Inessa memeriksa wajah Zack dan Leon bergantian. Tapi, sepertinya wajah putranya jauh lebih parah daripada wajah Leon.
"Tidak apa-apa, Mom ! Tadi, kami hanya terlibat sedikit masalah dengan beberapa orang," jawab Zack berbohong sambil memandang Leon sekilas.
"Masuklah ! Mom akan mengambilkan obat untuk mengobati luka kalian terlebih dulu !" pinta Inessa yang sudah lebih dulu melesat untuk mengambil kotak P3K di dapur.
Zack dan Leon duduk di sofa sambil menunggu Inessa membawakan kotak obat. Beberapa menit kemudian, wanita paruh baya yang terlihat jauh lebih muda dari usianya itu keluar dan langsung memakaikan obat pada luka Zack dan Leon bergantian.
"Kalian tunggu sebentar ! Mom akan ke swalayan terlebih dulu untuk membeli bahan makanan. Leon ! Tinggallah di sini untuk makan malam !" kata Inessa tersenyum.
Meski merasa sedikit canggung pada kebaikan yang di tunjukkan Inessa, Leon hanya tersenyum kecil mengiyakan. Biar bagaimanapun, Leon yang sudah membuat putra Inessa babak belur. Dan jika Inesaa tahu akan fakta itu, Leon tidak tahu lagi harus menjelaskan apa.
Selepas kepergian Inessa, Zack dan Leon masih beradu dalam diam. Hingga pada akhirnya Zack memilih untuk membuka suara terlebih dulu pada akhirnya.
__ADS_1
"Sekali lagi maafkan aku, Leon !" katanya menyesal. Meski sudah berulangkali kalimat itu lolos dari bibirnya, Zack merasa tak pernah cukup untuk mengatakannya lagi dan lagi.
"Sebenarnya apa yang terjadi ?"
Zack memejamkan mata sambil menghela napas. Kedua telapak tangannya saling bergesekan.
"Daddymu dan Claire sudah merencanakan memisahkanmu dan Arumi jauh-jauh hari. Semua kejadian yang kalian alami hari ini adalah hasil rancangan Claire dan Daddymu."
"Dan kau ? Apa peranmu ? Dengan ikut berakting sebagai orang yang di culik ?" Leon menyeringai sarkas.
"Tidak hanya itu." Zack menunduk. Tatapannya sayu dipenuhi rasa bersalah.
"Apa lagi ?" mata Leon memicing. Tak menyangka bahwa ternyata peran Zack tak hanya pada hal itu saja.
"Duke juga memintaku menemui Arumi beberapa hari yang lalu. Beliau memintaku untuk menyakinkan Arumi agar dia meninggalkanmu."
"Dan kau melakukannya ?" tanya Leon dengan nada tinggi.
"Tidak," geleng Zack lemah.
Leon meninju udara di depannya. Emosinya kembali menjalar membakar setiap persendian di dalam tubuhnya.
"Jadi, apa yang kau lakukan ?" lanjut Leon lagi.
"Aku hanya mengatakan pada Arumi bahwa kau akan menyakitinya suatu hari," aku Zack tanpa berusaha menutupi apapun lagi.
Leon kembali meremas surai kecoklatan miliknya. Pemuda itu begitu frustasi hingga ingin mencabik-cabik sesuatu saat ini juga.
"Maafkan aku, Leon !" kata Zack lagi tanpa rasa muak.
"Maaf ? Kau pikir kata maaf bisa memperbaiki hubunganku dan Arumi ?" bentak Leon semakin marah. "Kau tahu Zack ? Aku membiarkan Arumi mengetahui rahasiaku hanya demi dirimu. Hanya demi nyawa seseorang yang sudah ku anggap seperti kakak sendiri. Tapi apa yang ku dapat ? Tidak hanya Arumi yang membenciku, tapi aku juga mengetahui bahwa Daddy dan sahabatku sendiri terlibat dalam rencana jahat ini."
"Maaf !" Lirih Zack dengan suara yang nyaris tak bisa terdengar lagi.
"Simpan kata maaf omong kosongmu itu untukmu sendiri," ucap Leon seraya bangkit dari kursi.
Ia memutuskan meninggalkan apartemen Zack dan memilih pulang ke mansion. Zack sudah berusaha mengejarnya namun tak di gubris oleh Leon sedikit pun.
"Leon ! Jangan gegabah !" bujuk Zack seraya berusaha menghentikan langkah lebar Leon.
"Menyingkir dari hadapanku !" geram Leon marah seraya mendorong keras tubuh Zack agar tidak menghalangi jalannya.
"Leon ! Dengarkan aku !" Zack masih belum menyerah. Dia masih berusaha mencegah Leon agar tak berbuat nekat lebih jauh lagi.
Terlambat. Leon sudah memasuki lift dan menghilang dari balik pintu ruangan berbentuk kotak itu.
Leon
__ADS_1
Arumi