
Arumi membasuh wajahnya di depan kaca kamar mandi. Membiarkan air yang segar bercampur dengan air mata yang sudah lebih dulu membasahi kedua pipinya. Gadis cantik itu menatap wajahnya di dalam pantulan cermin dengan tatapan iba. Mengasihani diri sendiri.
Kenapa harus seperti ini lagi ? Kenapa aku harus jatuh cinta pada lelaki yang sudah lebih dulu di miliki perempuan lain lagi ? Apa salahku Tuhan ? Kenapa nasibku selalu senaas ini ?
Arumi mencengkram erat pinggiran wastafel. Tertunduk dalam dan menumpahkan rasa sakitnya dalam tangis yang tak dapat dia bendung lagi.
Kenapa harus seperti ini ? Kenapa Leon juga bisa sejahat ini padaku ? Apa aku terlihat benar-benar seperti mainan untuknya ?
Terdengar beberapa pegawai wanita yang asyik bercerita mendekati toilet tempatnya kini berdiam. Arumi segera berlari masuk ke salah satu bilik dan mengunci diri di dalam sana. Air matanya berusaha dia hapus agar tak membuat kecurigaan untuk orang lain.
"Apa tadi kau melihat Nona Claire dan tunangannya ? Ya ampun... Mereka benar-benar sangat serasi." Wanita A memulai pembicaraan.
"Iya. Aku juga berpikiran begitu. Apalagi yang ku dengar tunangan Nona Claire itu adalah putra tunggal Duke Xander. Kalian tahu kan siapa dia ?" Wanita B ikut menambahi.
"Ya. Kami kenal. Siapa yang tidak mengenal pejabat penting sekaligus pengusaha kaya raya itu ? Aku iri pada Nona Claire. Dia mendapatkan calon suami yang benar-benar sempurna." Wanita C turut mengemukakan isi hati.
"Ya. Tuan Muda keluarga Wellington benar-benar tampan. Belum lagi dia pewaris satu-satunya dari Duke Xander. Apa kalian juga mengenal keluarga mendiang Duchess Greysha ? Ku dengar, beliau juga memiliki aset kekayaan yang tak kalah besar dengan suaminya. Nona Claire benar-benar wanita yang beruntung mendapatkan calon suami tampan dan kaya raya." Wanita B kembali bersuara.
"Kenapa bukan kita saja yang menikah dengan Tuan muda Wellington ?" Wanita C terdengar sangat berharap.
"Sadarlah ! Kau pikir orang yang terlahir dengan sendok emas sepertinya mau melirik kasta rendah seperti kita ? Ayolah ! Jangan bermimpi ! Ini bukan dunia dongeng. Ini kenyataan. Mana ada cerita si miskin dan si kaya bisa bersama dalam dunia nyata ? Apalagi dengan status sosial dan garis keturunan bangsawan seperti Tuan Muda Wellington. Pasti dia hanya akan melirik golongan seperti kita untuk di jadikan boneka yang bisa dia buang kapan saja jika sudah merasa bosan. Setelah itu, tentu dia akan kembali pada calon istrinya yang cantik dan setara dengannya itu." Terang Wanita A panjang lebar.
"Ya. Tuan Muda kaya dan selebriti terkenal. Mereka benar-benar pasangan yang sempurna."
Arumi yang berada di dalam bilik toilet mendengar percakapan ketiga wanita tadi dengan serius. Semua yang mereka ucapkan terasa benar. Ya. Mustahil Leon bisa jatuh cinta padanya semudah ini. Mustahil orang seperti dirinya bisa memperoleh tempat di hati Leon hanya dalam waktu yang singkat. Memikirkan segala kebodohannya yang telah mempercayai omongan pemuda itu membuat Arumi kembali menumpahkan air matanya.
__ADS_1
Dasar gadis bodoh kau Aru ! Bodoh ! Bodoh ! Bodoh ! Gumam gadis itu yang memaki dirinya sendiri dalam hati.
Dia kembali mengingat pertemuannya dengan Zack beberapa hari yang lalu. Waktu itu, Zack mengutarakan sesuatu yang sempat membuat Arumi langsung tertegun. Sesuatu yang di utarakan tanpa sadar oleh Zack yang kemudian hanya di akui sebagai bahan bercandaan oleh sahabat baik Leon itu.
"Ya. *Aku mencintai Leon, Zack. Sangat mencintainya." Begitu jawaban Arumi ketika Zack bertanya perihal perasaan Arumi yang sebenarnya terhadap Leon.
Zack seperti terdiam untuk beberapa saat. Matanya mengunci sosok Arumi yang terlihat sedikit canggung karena ulahnya.
"Dia hanya akan menyakitimu !" Gumam Zack tanpa sadar.
"Apa ?" Arumi bertanya memastikan.
"Ha ? Apa aku mengatakan sesuatu ?" Tanya pemuda itu tersadar.
"Kau bilang dia hanya akan menyakitimu. Apa kalimat itu kau tujukan untukku ?"
"Drama musikal kantor ? Apa ada hal yang seperti itu ?" Arumi bertanya heran.
"Tentu saja. Kau tahu kan kalau aku bekerja di perusahaan yang bergerak dalam industri pertelevisian ? Tentu saja hal itu ada dan malah di perlombakan setiap tahunnya."
Arumi manggut-manggut menelaah kalimat panjang lebar Zack. Mungkin saja hal aneh seperti itu memang ada dan Arumi tidak tahu. Wajar, karena dia memang tidak pernah bekerja dalam bidang semacam itu sebelumnya*.
Merasa sudah cukup lama berdiam di dalam toilet, Arumi memutuskan untuk kembali ke ruangan Nyonya Nastya untuk menemui Claire dan juga Leon. Dia harus bisa seprofesional mungkin dengan tidak mencampur-adukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Meski dirinya tak baik-baik saja, Arumi tetap melangkah tegar. Membiarkan kepingan hatinya jatuh berserak dan hancur satu per satu.
"Maaf Nyonya ! Saya sedikit lama." Ujar Arumi sambil berusaha menguatkan hati.
__ADS_1
Tak ada niat sedikit pun untuk melirik ke arah Leon walau hanya sedetik. Arumi merasa tak akan sanggup membendung tangisnya lagi jika harus menatap wajah pria yang sudah dengan tega membodohinya. Mempermainkan Aru layaknya boneka persis seperti perkataan para wanita yang tadi dia dengar di dalam toilet.
"Apa kau baik-baik saja ? Apa sakitmu masih belum sembuh ?" Ucap Nyonya Nastya cemas .
Mendengar kalimat Nyonya Nastya, Leon langsung terkaget sendiri di tempatnya. Apa Arumi sakit ? Sakit apa ? Perasaan Leon semakin di selimuti kekhawatiran.
"Saya baik-baik saja Nyonya. Tadi hanya sedikit sakit perut saja." Elak Arumi dengan baik.
Nyonya Nastya mengangguk percaya. Claire tersenyum meledek sedangkan Leon masih terus merasa khawatir.
"Kalian lebih baik ke ruang fitting. Akan lebih leluasa mencoba pakaian kalian di sana daripada di dalam sini." Usul Nyonya Nastya.
"Baiklah ! Aru, kau bisa mengantar kami ?" Sahut Claire.
"Tentu saja. Ikut aku !" Kata Arumi serah mungkin.
Mereka bertiga berjalan bersama. Hanya saja, Arumi sedikit memimpin jalan dengan dua langkah lebih cepat sementara Claire dan Leon menyusul di belakang.
Arumi meremas kedua tangannya. Ia menarik napas sepanjang mungkin demi mengusir sesak yang kian menjalar. Demi apapun ! Arumi tidak ingin menangis di depan Leon dan Claire. Apalagi, Claire pasti tidak tahu perihal hubungan Arumi dan Leon selama ini. Terbukti dari cara perempuan itu yang tetap ramah pada Arumi sampai saat ini.
Mereka tiba di ruang fitting. Arumi mengambil jas Leon dan memberikannya pada pria itu. Pria yang sudah meremukkan hatinya untuk kedua kali.
"Ini jas pengantin anda. Silahkan di coba !" Ucap Arumi dingin tanpa berniat menatap wajah Leon sedikit pun.
Leon menerima jas yang di berikan Arumi sambil berusaha memegang jemari gadis itu. Namun, kekecewaan harus ia telan saat gadis itu dengan cepat memindahkan tangannya dan pergi menjauh. Seolah tak ingin di sentuh olehnya walau seinci pun. Tatapan datar Arumi yang enggan menatap wajahnya juga semakin menghancurkan Leon.
__ADS_1
Kenapa sesakit ini di abaikan olehmu Aru ?