Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#83


__ADS_3

Claire menatap nanar pada bubur yang telah berserakan di lantai dengan mata yang berkaca-kaca. Di detik berikutnya, perempuan cantik itu segera meraih tasnya kembali lalu berlari keluar dari sana sambil menangis. Dua bodyguard yang berjaga di depan pintu pun turut mengikuti langkah Nona Mudanya dengan terburu-buru.


"Claire !" panggil Duke Xander yang tak sengaja berpapasan dengannya di koridor. Namun, gadis itu sepertinya tidak mendengar atau bahkan melihat figur Duke Xander sama sekali.


Mengabaikan rasa penasaran di kepalanya dengan sikap aneh Claire, Duke Xander memilih melanjutkan langkahnya menuju ke ruang rawat Leon.


"Apa Claire tadi dari sini ?" Duke Xander segera bertanya sesaat setelah dirinya masuk ke dalam ruangan.


Zack yang sedang membersihkan tumpahan bubur serta mangkuk yang pecah berserakan di atas lantai langsung menengok ke sumber suara sembari mengangguk.


"Apa yang terjadi di sini ? Kenapa mangkuk buburnya bisa pecah seperti itu ?" tanya Duke Xander penuh selidik.


Usai membereskan semua kekacauan yang ada di lantai, Zack segera menaruh alat pel yang ia pegang di sudut ruangan. Tak lama kemudian, ia pun menarik tangan Duke Xander untuk keluar dari sana.


"Lebih baik kita bicarakan di luar saja, Uncle !" kata Zack dengan suara pelan.


"Di sini saja !" Duke Xander menghela tangan Zack dari tangannya.


Hati Zack merasakan perasaan nyeri ketika Duke Xander menghempas tangannya begitu saja. Namun, pemuda itu tetap berusaha menyembunyikan rasa sakit hatinya di hadapan sang Ayah. Bukan demi dirinya, melainkan demi Leon. Zack sudah terlanjur mencintai Leon. Dan alasannya tetap bertahan dan menolak ajakan ibunya untuk pindah kota hanyalah demi adik tirinya itu.


"Tolong, Uncle ! Ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada Uncle," bujuk Zack penuh dengan tatapan memohon.


Duke Xander masih bergeming. Tak berniat menanggapi permintaan dari putra yang tak pernah ia anggap itu.


"Ini semua tentang Leon," kata Zack lagi.


Mendengar nama Leon sebagai kata kunci, Duke Xander akhirnya menurut. Ia berjalan lebih dulu keluar dari ruang rawat Leon kemudian di susul oleh Zack.


Mereka tiba di ujung lorong yang agak sepi. Duke Xander pun menghentikan langkahnya dan bertanya tanpa berbalik menatap lawan bicaranya seperti biasa.


"Apa yang ingin kau katakan tentang Leon ?"


Zack menarik napas panjang. Ia tahu ini bukan ranahnya, namun ia tetap ingin melakukan sesuatu untuk Leon.

__ADS_1


"Aku ingin Uncle membatalkan pernikahan antara Claire dan Leon, Uncle !" ucap Zack susah payah.


Duke Xander berbalik dan menatap tajam penuh penghakiman ke arah Zack.


"Kau pikir, siapa dirimu ? Berani sekali kau memerintahkan aku melakukan hal yang tidak akan pernah ku lakukan," desis Duke Xander dengan suara rendahnya yang mengintimidasi.


"Tapi, Leon tidak akan pernah bahagia dengan pernikahan ini, Uncle ! Tolong ! Dengarkan aku sekali ini saja," ucap Zack memohon.


"Tidak !" teriak Duke Xander keras. "Apapun yang sudah ku katakan, tidak akan pernah ku tarik kembali ! Jangan coba-coba mengajariku tentang hal yang harus dan tidak harus ku lakukan, Zack ! Ingat posisimu ! Kau bukan siapa-siapa bagiku."


Zack tertunduk dengan perasaan berkecamuk. Sebenci inikah Duke Xander terhadapnya ? Memangnya, apa salah Zack ?


"Jika anda memang tidak menginginkanku, harusnya anda tidak pernah melakukan hal yang membuatku bisa hadir ke dunia ini, Duke !" ucap Zack dengan suara yang menyiratkan banyak luka.


"Lancang mulutmu, Zack !" Duke Xander mengangkat tangannya dan bersiap menampar Zack.


Akan tetapi, di luar dugaan. Zack ternyata menangkap tangan Duke Xander yang melayang ke arahnya lalu menghempas tangan ayah kandungnya itu dengan keras sehingga Duke Xander terpundur dua langkah ke belakang.


Duke Xander gemetar menahan amarah yang kembali memenuhi rongga dadanya. Perkataan Zack seolah menamparnya dengan sangat keras.


"Perbaiki cara bicaramu, Zack ! Aku ini masih ayahmu !"


"Ayah yang tidak pernah menginginkan keberadaanku !" sergah Zack mengklarifikasi. "Apa anda pikir, saya ingin memiliki ayah seperti anda ? Jawabannya adalah tidak. Aku tidak sudi memiliki ayah sejahat dirimu, Duke !"


"Zack !" bentak Duke Xander.


"Cukup !" Frederick menarik Zack. Mengamankan pemuda itu dengan berlindung di belakangnya.


"Pergilah, Zack ! Pulanglah ke rumahmu untuk beristirahat. Kau pasti lelah !" perintah Frederick.


Zack mengangguk dan melakukan hal yang disuruh pamannya itu. Dan, kini hanya tersisa Frederick dan Duke Xander saja yang saling menyayat lewat tatapan mereka yang tajam satu sama lain.


"Hentikan, balas dendammu sekarang juga, Xand !" kata Frederick yang memulai percakapan.

__ADS_1


"Balas dendam apa, Fred ? Jangan mengada-ada !" balas Duke Xander seraya tertawa sinis.


"Balas dendam karena kau tidak bisa menyatu dengan kekasihmu dulu karena Daddy kita," terang Frederick bersungguh-sungguh.


Duke Xander tercenung sesaat. Hingga, di detik berikutnya ia tertawa dengan begitu kerasnya.


"Kau sedang bercanda ? Untuk apa aku ingin balas dendam untuk sesuatu yang sudah lewat ?"


"Nyatanya memang begitu, bukan ? Selama ini kau menderita karena tidak bisa melupakan Yuka. Gadis asiamu yang akhirnya menikah dengan orang lain karena kesalahanmu sendiri. Kau yang tidak bisa tegas membantah kemauan Daddy kita akhirnya ingin membuat Leon merasakan hal yang sama. Penderitaan yang sama seperti yang kau alami dulu !"


"Omong kosong !" Duke Xander berbalik membelakangi Fred.


"Itu kebenaran yang selama ini coba kau sangkal, Xander !" ucap Frederick tegas.


"Tidak," geleng Duke Xander yang berusaha menepis semua fakta yang Frederick katakan.


"Berhentilah, Xander ! Berhenti menyiksa dirimu dan juga kedua putramu ! Sudah cukup kau menghancurkan hidup semua orang ! Cukup hidupmu, hidup Yuka, Inessa bahkan Greysha yang kau hancurkan. Hidup Zack dan Leon jangan. Mereka sama-sama putramu yang berharga ! Tolong jangan seperti ini lagi," ucap Frederick lagi.


"Hidupku hancur ? Tidak. Hidupku tidak hancur sama sekali. Justru, hidupmu lah yang hancur, Fred ! Gara-gara kau menikahi perempuan kasta rendah, kau di hapus dari anggota keluarga. Bahkan, warisanmu pun semuanya di cabut. Kau sekarang miskin dan melarat. Lalu, kau mengatakan bahwa hidupku yang hancur ?" Duke Xander kembali tertawa sinis. Sementara Frederick hanya tersenyum dan menggelengkan kepala karena sikap adiknya yang tampak tak juga mau berubah.


"Aku memang sekarang miskin, Xander ! Pekerjaanku hanya seorang polisi di kota yang kecil. Gajiku juga pas-pasan untuk menghidupi istri dan kedua anakku. Tapi, aku bahagia. Setidaknya, aku tidak di hantui rasa bersalah yang menggerogotiku setiap hari sepertimu !" jawab Frederick tersenyum.


Mendengar hal itu, Duke Xander hanya bisa meneguk ludahnya dengan susah payah. Perkataan Frederick memukul telak dirinya tepat di ulu hati.


"Jika kau memang tidak berniat membuat Leon merasakan penderitaan yang pernah kau alami, maka batalkan pernikahan Leon yang sudah kau siapkan," lanjut Frederick lagi. Ia kemudian melangkah mendekati Duke Xander yang masih setia mematung terpaku di tempatnya. Di letakkannya sebuah amplop besar di tangan kanan adik kandungnya itu seraya menghela napas prihatin.


"Di dalam amplop ini ada bukti yang menyatakan bahwa Jane Claire Savich bukan wanita yang tepat untuk Leon ! Ku harap, kau akan mempertimbangkannya dan mengambil keputusan yang tepat demi kebahagiaan putramu !" tukas Frederick dengan suara yang mulai agak melunak.


Ia kemudian menepuk bahu Duke Xander singkat lalu bergegas meninggalkan pria dingin itu sendirian. Berharap agar adik keras kepalanya mau memikirkan dan merenungkan kembali semua hal yang sudah ia lakukan selama ini. Apa semua hal itu adalah hal yang tepat, atau justru sebaliknya.


Gemetar tangan Duke Xander mengeluarkan isi dari amplop itu. Sesaat kemudian, mata pria dingin itu melebar tak percaya. Itu adalah foto Claire bersama dengan pria di sebuah apartemen yang sedang berciuman panas. Di foto selanjutnya, juga masih foto Claire namun dengan pria yang berbeda. Dan, di foto yang terakhir adalah foto Ayah Claire, Ludwig Savich bersama saingan bisnis Duke Xander yang tampaknya sedang membicarakan sesuatu yang penting di dalam sebuah ruangan.


"Sialan !"

__ADS_1


__ADS_2