
Arumi mendengus sebal mendengar perkataan yang Leon ucapkan. Dia baru sadar bahwa Leon ternyata memang semenyebalkan ini sejak awal.
"Jangan mengganggu kak Aru kami !" Sky dan Blue berdiri di depan Arumi membentuk benteng pertahanan.
"Aku tidak mengganggu kakak kalian anak-anak kecil." Leon menggosok-gosok dagunya dengan tangan kanan.
"Kami bukan anak kecil. Kami ini sudah dewasa." Protes Sky sambil bersedekap dengan bibir mengerucut.
"Itu benar." Blue di sampingnya mengangguk membenarkan.
Beberapa detik kemudian, pengasuh Sky dan Blue datang menghampiri mereka dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Mungkin dia mencari kedua bocah kembar itu sudah sejak tadi.
"Kalian ternyata di sini ? Cepatlah ikut denganku. Mommy dan Daddy kalian mencari kalian." Kata sang pengasuh dengan napas terengah.
"Kami tidak mau ikut. Kami hanya ingin bersama kak Aru di sini." Sky dan Blue segera memeluk erat Arumi. Menolak untuk ikut dengan pengasuh mereka.
"Kalian harus pergi menemui Daddy dan Mommy kalian. Mereka pasti khawatir." Arumi mengelus puncak kepala Sky dan Blue secara bergantian. Berusaha membujuk keduanya agar mau ikut dengan pengasuh mereka.
"Tapi, kami masih ingin bersama dengan kak Aru !" Suara Sky terdengar pelan dan begitu sedih. Tatapan matanya tertunduk sayu dengan wajah yang mulai meringis menahan tangis.
"Tapi Sky dan Blue bukannya anak yang baik ?" Tanya Arumi mencari-cari alasan. Kedua bocah itu kemudian saling berpandangan dan mengangguk mengiyakan.
" Kalau kalian memang anak yang baik, kalian harus menurut apa kata kakak, ya ! Pergilah. Nanti Kak Aru akan menemui kalian lagi." Lanjut Arumi membujuk.
Sky dan Blue akhirnya tunduk dan mau mengikuti pengasuh mereka setelah di bujuk Arumi. Pengasuh tadi sempat mengucapkan terima kasih sebelum ia membawa Sky dan Blue pergi dari sana. Dan kini, hanya tersisa Arumi dan Leon saja.
Merasa suasana sudah semakin canggung, Arumi memutuskan pergi meninggalkan Leon. Namun, lengannya di tahan oleh lelaki tampan itu dan memaksa Arumi untuk duduk kembali di kursinya.
"Sudah ku katakan, urusan kita belum selesai, Aru !" Leon memerangkap tubuh kurus Arumi dengan kedua lengannya.
"Bagiku sudah selesai, Leon ! Bukankah sudah ku katakan bahwa kita tidak perlu bertemu lagi ?" Mata tajam Arumi memandang Leon dengan sorot penuh kebencian.
"Sayangnya, aku tidak peduli dengan apapun yang kau katakan. Semua hanya akan berakhir, jika aku berkata akan mengakhirinya."
__ADS_1
"Kau pikir karena kau putra orang penting, kau bisa semaumu memaksakan kehendak terhadap orang lain ?"
Leon menelan ludahnya dengan susah payah saat mendengar tuduhan Arumi. Sungguh ! Dia tidak pernah ada maksud untuk memanfaatkan kekuasaan ayahnya. Siapa juga yang mau hidup dengan penuh tekanan seperti dirinya. Menjadi putra seorang Duke Xander hanya membawa beban pikiran untuk Leon saja. Tidak lebih.
"Ya. Memang." Leon mengangguk dan duduk di kursi yang lain. Meski dirinya tidak seperti itu, namun apa salahnya mengaku saja demi menyenangkan Arumi. Toh, dia juga tidak pernah berpikir untuk membagi beban hidupnya dengan wanita mana pun termasuk Arumi. Biar saja dia hidup dengan penilaian orang-orang yang selalu menganggap dia memanfaatkan nama besar sang ayah.
"Kau egois, Leon !" Desis Arumi.
"Aku tidak peduli."
"Ku pikir, kau pria yang baik. Tapi nyatanya kau sama saja dengan...."
"Mantan suamimu ?" Potong Leon cepat. Pria tampan itu menyeringai dan menyilangkan kedua kakinya dengan santai.
Arumi terdiam. Ia sudah tahu bahwa Leon sudah mengetahui tentang masa lalunya lewat Charlie meski tidak secara detail. Dia hanya memalingkan wajah dan sebisa mungkin menahan perasaannya untuk tidak menangis lagi.
"Aku membencimu, Leon !" Arumi segera berdiri dan meninggalkan Leon yang masih betah duduk di kursinya. Dirinya tak habis pikir bahwa ada orang yang semenyebalkan Leon di dunia ini. Ia bahkan menyesal karena sudah berpikir bahwa pria itu orang yang baik selama beberapa saat.
Gadis cantik itu berhenti namun enggan untuk berbalik. Ia mengepalkan kedua tangannya, menahan diri untuk tidak meneriaki Leon di tengah pesta milik Mr. Kovalev.
"Akan ku buat kau jatuh cinta padaku dalam 5 hari ke depan. Pegang janjiku." Sambungnya lagi.
"Aku tidak peduli." Dengus Arumi.
Arumi hanya bisa menghela napas panjang sebelum melanjutkan langkahnya lagi. Ia tidak ingin percaya dengan bualan apapun yang lelaki itu katakan. Berbeda dengan Leon, dia hanya tersenyum kecil dan membiarkan Arumi pergi dengan perasaan kesal. Biarkan gadis asia itu membencinya. Karena dengan membenci Leon, gadis itu akan terus menaruh Leon dalam ingatannya. Hingga pada satu titik nanti, Leon yakin bisa merubah rasa benci Arumi menjadi cinta dan perlahan-lahan membuat Aru meletakkan nama Leon di dalam hati gadis itu selamanya.
Entah apa yang merasuki Leon. Dia tahu bahwa Arumi bukanlah gadis yang bisa ia dekati dengan mudah. Namun, ia juga merasa bahwa Arumi satu-satunya wanita yang bisa membuat dia merasa benar-benar bahagia tanpa perlu berpura-pura. Semua yang gadis itu miliki adalah kesederhanaan yang hanya bisa di nikmati oleh orang-orang yang benar-benar mengerti.
Ia bahkan tidak peduli jika suatu saat nanti ia akan melukai Arumi jika gadis itu tahu bahwa dia sudah memiliki tunangan sejak kecil. Bagi Leon, memiliki Aru untuk sementara saja, sudah cukup baginya.
5 menit setelah kepergian Arumi, Leon ikut beranjak dari kursinya. Ia ingin mencari keberadaan Zack yang entah sedang berada di mana karena dia meninggalkannya secara tiba-tiba saat melihat Arumi tadi.
Tak di sangka, di tengah banyaknya kerumunan tamu undangan yang datang, Leon sama sekali tidak menyadari bahwa Duke Xander, ayahnya ternyata sejak tadi memperhatikan dirinya. Pria paruh baya itu tampak sebisa mungkin menahan amarah untuk tidak menghukum putranya yang sudah begitu tidak tahu malu berdekatan dengan perempuan lain yang bukan tunangannya. Apalagi, latar belakang gadis itu tergolong tidak jelas dan bukan dari keluarga kaya mana pun.
__ADS_1
"Duke Xander ? Anda tidak apa-apa ?" Tanya salah seorang tamu yang mengajaknya berbincang.
"Tidak apa-apa." Duke Xander tersenyum dan kembali menyesap sampanye yang ia pegang.
*
*
*
"Kau darimana saja, Zack ?" Tanya Leon sambil memeluk Zack dari belakang.
"Kau yang darimana saja, Leon ? Ayahmu sejak tadi menanyakan keberadaanmu !" Geram Zack dengan nada berbisik. Terlalu banyak orang penting di dekat mereka sehingga dia harus sebisa mungkin menjaga sikap.
"Apa yang kau katakan pada ayahku ?"
"Ku bilang, mungkin kau sedang di toilet."
"Bagus !" Ujar Leon memuji sambil menepuk bahu Zack.
"Apanya yang bagus ?" Tanya Duke Xander yang tiba-tiba saja muncul dari belakang. Sosoknya yang tinggi besar dan berdiri tegap, cukup menyita banyak perhatian tamu undangan yang hadir. Beberapa di antaranya menunduk memberi hormat, dan beberapa lagi memberanikan diri untuk menyapa langsung.
Tentu saja Duke Xander hanya mengangguk sekenanya menanggapi sapaan dari orang-orang tersebut. Apalagi yang bisa di harapkan dari orang dingin itu ?
"Bukan apa-apa, dad." Jawab Leon.
"Bergaullah dengan sesamamu, Leon ! Jangan coba-coba bergaul dengan mereka yang kastanya lebih rendah daripada kita." Perkataan ambigu Duke Xander cukup membuat Leon bertanya-tanya. Apa maksud daddy-nya itu.
"Apa maksud, daddy ?"
Duke Xander menatap wajah putranya dengan raut muka yang datar. "Kau mengerti apa yang daddy maksud, Leon."
Bersambung....
__ADS_1