
Sepulangnya dari hutan tadi, Marco yang rencananya hanya akan beristirahat sebentar, dengan berbaring di tempat tidurnya, malah tertidur lelap sampai sore menjelang malam.
Marco memang kelelahan, setelah berbuat aksi nekat menyelamatkan jiwa orang dihutan tadi.
Marco melompat turun dari atas tempat tidurnya, ketika dia terbangun, dan menyadari kalau dia sempat tertidur terlalu lama.
Mau tidak mau, Marco harus membatalkan rencananya untuk menemui suster Martha.
Meskipun Marco memaksa keadaan untuk pergi ke biara sekarang, dia pasti tidak diijinkan untuk menemui suster Martha.
Jangankan dijam-jam seperti saat ini, Marco yang datangnya masih pagi saja, selalu ditolak.
Apalagi kalau sudah terlalu sore dan hampir malam?
Bukan cuma ditolak, Marco pasti akan diusir dari biara.
Entah apa penyakit yang dialami suster Martha.
"Suster Martha sedang sakit! Sudah lebih dari tujuh tahun berlalu, dan masih belum ada perubahan. Suster Martha masih belum sadar, dan kondisinya masih lemah, tanpa kami ketahui apa penyebabnya."
Hanya itu saja yang dikatakan oleh salah satu suster yang menemui Marco, ketika Marco pergi ke biara, tak lama setelah dia kembali kota Bridget itu.
Menurut suster itu, suster Martha ditemukan tidak jauh dari panti asuhan, dalam keadaan pingsan.
Benar-benar tiba-tiba, karena suster Martha tidak terlihat sedang sakit atau bergelagat aneh, saat mereka mengadakan misa subuh di hari itu.
Tanpa sedikitpun luka, atau tanda-tanda terkena racun, atau apapun yang bisa menjadi dugaan penyebab sakitnya, suster Martha ditemukan oleh beberapa suster yang hendak memetik buah berry liar, dibelakang bangunan panti asuhan.
Sejak saat itu, suster Martha dimasukkan kedalam ruangan khusus, dan hanya beberapa orang saja yang bisa menemuinya.
Dokter yang memantau kesehatannya, dan beberapa suster yang bergantian memeriksa, merawat dan membersihkan tubuhnya.
Selain daripada orang-orang itu, tidak ada lagi orang lain yang diijinkan masuk, untuk menemui suster Martha didalam ruangan itu.
Jika dihitung-hitung, semenjak saat itu sampai saat ini, berarti sudah lebih lima belas tahun berlalu.
Suster Martha belum mati, tapi tidak bisa dibilang hidup.
Suster Martha masih bernafas, tanpa pernah tersadar selama itu, seolah-olah sedang tertidur panjang tanpa tahu caranya untuk bangun lagi.
Benar-benar aneh, dan tidak masuk di akal.
Tapi, kalau dipikir-pikir, segala sesuatunya bisa saja terjadi.
Apa yang terlalu mengherankan?
__ADS_1
Bukannya Marco juga aneh?
Siapa yang bisa menganggap, kalau Marco yang bisa berubah menjadi hewan, itu bukan hal yang aneh dan masuk akal?
Marco memeriksa keadaan semua hewan ternak didalam gudang pertanian miliknya.
Bangunan besar dan luas, menyimpan semua ternaknya, pakan ternak, peralatan berkebun, dan hasil panen jagungnya yang belum habis terjual
Petak demi petak tempat peliharaannya, diperhatikan Marco baik-baik, jangan sampai ada ular yang menyelinap masuk didalam situ.
Ayam-ayam peliharaan Marco, sudah tidur didalam petakkannya, begitu juga sapi-sapinya yang sudah berhenti makan.
Biri-biri peliharaan barunya sekitar sebulan belakangan ini, masih kecil, dan butuh perhatian ekstra agar tidak mati, dan bisa menghasilkan wol untuk Marco nanti.
Tumpukan karung berisi jagung kering, tampak ada beberapa yang berlubang.
Kalau bukan tikus, pasti rakun yang mencuri jagung-jagungnya itu.
Marco tetap berjalan pelan, sambil memeriksa semuanya dengan teliti.
Ada beberapa pagar petakkan yang tampaknya perlu diperbaiki.
Marco besok harus segera memperbaikinya, karena pagar yang mengelilingi areal perkebunan, dan tempat hewan peliharaannya berkeliaran disiang hari, juga ada beberapa yang rusak.
Semakin lama hewan ternaknya yang bertambah-tambah jumlahnya, akan semakin sulit untuk di awasi sendirian.
Setelah merasa semua hewan ternaknya lengkap didalam gudang pertanian, dan kelihatannya semua dalam keadaan baik-baik saja.
Marco mengemudikan mobilnya, menuju ke tempat penampungan hewan.
"Saya mau mengadopsi anjing!" kata Marco, ketika dia disambut oleh dua orang, yang menjaga tempat itu.
"Anda mau anjing jenis apa?" tanya salah satu penjaga penampungan hewan, yang kini berjalan pelan bersama Marco didalam ruangan, yang menyimpan binatang terlantar.
Didalam ruangan berpagar, Marco melihat-lihat beberapa ekor anjing yang tampaknya sehat, meski ada dari mereka yang terlihat sudah sangat tua.
Marco mau anjing yang masih belum terlalu tua.
"German shepherd!" jawab Marco, yang terpaku pandangannya kepada seekor anjing, yang kelihatannya cukup menarik perhatiannya.
"Pilihan yang bagus!"
Penjaga itu kemudian membuka pintu kandang, dan mengeluarkan seekor anjing, yang kelihatannya berusia pertengahan antara satu sampai dua tahun.
Tanpa berlama-lama, anjing itu tampak menyukai Marco untuk jadi teman dan majikannya yang baru.
__ADS_1
Anjing pilihan Marco menggoyangkan ekor, saat mengendus Marco yang berjongkok, sambil mengelus anjing itu perlahan dengan tangannya.
"Dia menyukai anda!" celetuk penjaga itu bersemangat.
"Anda masih perlu mengisi dokumen, sebelum anda bisa membawanya pulang," lanjut penjaga itu.
Sambil berjalan pelan, Marco dan anjing peliharaan barunya, menyusul dibelakang penjaga, keluar dari ruangan itu, dan menandatangani dokumen dimeja depan.
Setelah berterimakasih, saat semua kelengkapan dokumen adopsi sudah beres, Marco membawa anjingnya memasuki mobilnya.
"Ayo, Duke! Naik!" ajak Marco, yang memberi nama anjingnya secara spontan, sambil membuka pintu dibagian penumpang.
Duke meloncat naik, dan duduk di jok disamping Marco, lalu Marco menutup pintu mobilnya, kemudian berjalan ke bagian supir.
"Kamu akan jadi temanku yang baik bukan?!" kata Marco, sambil mengelus Duke, dan disambut dengan gonggongan yang tampak bersemangat.
"Oke! Kita kerumahku, sekarang!" kata Marco.
Dengan memacu mobilnya di kecepatan sedang, Marco membawa Duke pulang.
Sesekali, Duke menggonggong dengan kepalanya yang dia keluarkan, dari kaca jendela mobil Marco yang terbuka.
Jangan ada yang heran.
Marco memang dengan mudahnya menjinakkan, dan berteman dengan jenis-jenis hewan peliharaan, tapi tidak begitu dengan hewan liar.
Marco tidak bisa mengatasi ataupun mencoba-coba untuk menjinakkan naluri liar, yang memang sejatinya ada di hewan-hewan yang terbiasa liar dan buas.
Itu sebabnya, Marco tidak bisa mengatasi coyote sendirian, dan membutuhkan bantuan.
"Duke! Kita singgah membeli makanan untukmu sebentar!" kata Marco, lalu berbelok ke sebuah minimarket, yang ada diperjalanan menuju ke rumahnya.
Setelah Marco mengisi bahan bakar mobilnya, Marco lalu berjalan masuk kedalam minimarket bersama-sama dengan Duke, dan memilih makanan anjing yang ada didalam sana.
Atau lebih tepatnya Marco hanya membelikannya saja, karena Duke memilih sendiri makanan yang dia mau.
Marco membayar sekarung makanan kering dan beberapa kaleng makanan basah untuk anjingnya, berikut juga membayar bahan bakar yang diisi didalam mobil semi truknya tadi.
Bersama Duke, Marco melanjutkan perjalanan sampai ke rumahnya.
"Ini rumah barumu! Kamu mau tidur disini atau bersama peliharaanku yang lain?" tanya Marco, setelah selesai memberi Duke makan.
Duke menggonggong dan pergi kepintu rumah Marco, seolah-olah meminta Marco membawanya keluar dari rumah.
Marco lalu mengajak Duke ke gudang pertanian, dan kelihatannya Duke lebih suka untuk tidur disitu.
__ADS_1
Melihat Duke yang tampak nyaman didalam gudang pertanian itu, Marco lalu meninggalkannya, dan kembali ke rumah.
"Duke! Aku titipkan mereka kepadamu!" kata Marco, dan disambut dengan gonggongan Duke.