
Mungkin karena terlalu lama tertidur selama belasan tahun, tanpa pernah menggerakkan tubuhnya sama sekali, selain berbicara, suster Martha sejak tersadar tadi, hanya bisa menggerakkan tangannya, dan sedikit kepalanya.
Itupun, suster Martha masih terlihat kesulitan menstabilkan gerakan tangannya.
Kekuatannya pun seakan-akan hampir tidak ada, terlihat lemas dan tidak bisa berhenti gemetar, ketika suster Martha mencoba menggerakkan tangannya, meski hanya sekedar memindahkan tangannya dari dada ke atas tempat tidur, atau sebaliknya.
"Dia mungkin tahu kalau kamu kesini...!" celetuk suster Martha.
"Maafkan saya Suster! Tapi, apa suster bisa menceritakan, tentang bagaimana anda sampai bisa ditemukan pingsan, dan tidak terbangun lagi, hingga saat ini?" tanya Marco penasaran.
"Apa Suster masih mengingat kejadian itu?" tanya Marco lagi.
Suster Martha memejamkan matanya untuk beberapa saat, dan terlihat menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan.
Sampai beberapa kali suster Martha terlihat mengatur nafasnya, seolah-olah sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Suster Martha lalu membuka matanya, dan kembali melihat Marco, yang masih duduk disampingnya.
Tak lama, suster Martha terlihat menatap lurus ke langit-langit kamar itu.
"Dia datang waktu itu, dan bertanya-tanya siapa yang menerima seorang bayi, yang diantar seorang laki-laki ke panti asuhan...
Tidak ada yang mengerti maksudnya, selain saya...
Ketika penglihatan mata kami bertemu, saya benar-benar ketakutan. Karena, ada sesuatu dimatanya yang seakan menampakkan kengerian..." kata suster Martha.
"Saya yang gemetar ketakutan, lalu berjalan menjauh meninggalkannya bersama suster yang lain...
Waktu itu, saya pikir kalau dia tidak akan mencurigai saya. Apalagi, kalau saya tidak lagi berhadap-hadapan dengannya...
Ternyata, dugaan saya salah..." lanjut suster Martha yang menceritakan kisahnya perlahan-lahan.
"Dia menemui saya, yang waktu itu pergi ke bagian belakang panti asuhan, dan berpura-pura sedang sibuk membersihkan tanaman sayur dari rumput liar, lalu bertanya kepada saya...
Dia ingin tahu dimana kamu saat itu, dan dia mau, agar saya mempertemukan kamu dengannya...
Tapi, saya tetap berpura-pura tidak mengerti dengan maksud pembicaraannya..." kata suster Martha.
"Terlihat jelas, kalau dia tidak percaya dengan perkataan saya...
Dia lalu berkata, kalau Alpha sudah mati, dan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Alpha mengatakan kepadanya kalau kamu ada dipanti asuhan ini...
Itu adalah hal yang tidak bisa saya percaya...
__ADS_1
Saya tidak percaya, kalau Alpha memberitahu tentang keberadaanmu secara sukarela...
Saya tetap menjaga janji saya kepada Alpha, kalau saya akan melindungimu, dan tidak akan memberi tahu siapa-siapa, dimana kamu berada..." lanjut suster Martha.
"Dia terlihat sangat gusar, dan seakan-akan hendak memukul saya saat itu juga, saat saya tetap bersikeras kalau saya tidak tahu apa-apa...
Sebelum dia pergi waktu itu, dia sempat berpesan, kalau dia akan kembali keesokan paginya, dan saya harus membawamu agar bisa bertemu dengannya, kalau saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi...
Saya tidak berkata apa-apa, dan hanya membiarkan dia pergi begitu saja..." kata Suster Martha.
Suster Martha kembali terlihat menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum lanjut bercerita.
"Seperti Alpha, dia juga menepati janjinya...
Keesokkan paginya, dia kembali ke panti asuhan dan langsung menemui saya, yang sedang memetik buah berry liar, dibelakang panti asuhan...
Dia terlihat sangat marah, ketika saya tetap bersikeras, untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa, dan saya tidak bisa membawa anak yang dia maksud, untuk bertemu dengannya..." lanjut suster Martha.
"Dengan geram, dia berkata kalau dia akan membuat saya merasakan kesengsaraan, daripada membuat saya merasakan kematian...
Kalau salah seorang dari shapeshifter tidak datang melepaskan saya, maka saya akan tetap tenggelam dalam kesengsaraan itu...
Dia lalu mengubah bentuk tubuhnya menjadi seekor ular, kemudian mematuk tangan saya, tanpa ada kesempatan bagi saya, untuk melarikan diri...
Marco yang sedari tadi mendengarkan cerita dari suster Martha, masih merasa kurang puas.
Memang benar sekarang Marco jadi tahu, kalau ada orang lain lagi yang sama dengannya.
Tapi...
Kenapa orangtua kandungnya tidak berusaha melindungi Marco, malah menitipkannya kepada orang lain?
Sekarang, kemungkinan memang benar, kalau Daddy-nya sudah meninggal dunia.
Lalu, bagaimana Mommy-nya?
Seperti apa kaum shapeshifter, yang dimaksud suster Martha dalam ceritanya?
Dimana mereka tinggal menetap?
Bagaimana cara mereka hidup, tanpa diketahui kaum manusia biasa?
Masih banyak pertanyaan yang mengganjal dikepala Marco.
__ADS_1
"Maafkan saya, Suster! Suster saat ini mungkin sudah kelelahan. Tapi, apa ada hal yang lain lagi, yang suster ketahui?" tanya Marco hati-hati.
"Apa mungkin ada petunjuk, tentang keberadaan kaum shapeshifter?" lanjut Marco, yang masih merasa sangat penasaran.
Suster Martha melihat Marco, melihat kearah langit-langit kamar, kembali melihat Marco lagi, dan akhirnya terhenti pandangannya kearah langit-langit kamar.
Melihat dari gerak-geriknya, seolah-olah Suster Martha sedang berusaha mengingat-ingat semuanya.
"Hmmm... Rasanya tidak ada lagi yang saya tahu. Saya sudah menceritakan semuanya..." jawab suster Martha.
Tiba-tiba, suster Martha terlihat mengerutkan keningnya, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sepertinya ada sesuatu yang dikatakan Alpha. Tapi, saya tidak mengingatnya dengan baik. Karena saat itu, kamu menangis saat Alpha mengembalikan kamu kepada saya," kata suster Martha.
"Oh, iya! Liontin!" seru suster Martha, dengan suara tertahan.
Suster Martha kini menatap Marco lekat-lekat.
"Liontin milikmu...! Apa masih ada denganmu? Apa kamu masih menyimpannya?" tanya suster Martha.
Marco menganggukkan kepalanya.
"Iya, Suster! Saya masih menyimpan liontin itu. Tapi, menurut saya, benda itu hanya perhiasan biasa...
Berkali-kali saya memperhatikannya, bahkan mencari-cari jika ada sesuatu yang bisa jadi petunjuk. Tetap saja tidak ada apa-apa..." jawab Marco lemas.
"Hmmm... Benarkah?" tanya suster Martha.
Marco menganggukkan kepalanya.
"Iya, Suster! Malahan, saya pernah melihat liontin yang sangat mirip dengan liontin milik saya, dan itu hanyalah perhiasan yang dibelikan mantan suami, dari wanita yang menjualnya..." jawab Marco.
"Padahal, kalau tidak salah, Alpha berkata kalau di liontin itu, kamu akan mengetahui tentang kaum mu, kalau kamu memang seorang shapeshifter..." kata suster Martha, yang terlihat bingung.
"Maaf, Suster! Tapi, kenapa suster tampaknya sangat mempercayai perkataan Alpha?" tanya Marco hati-hati.
"Marco... Apa kamu tidak menyimak cerita saya dengan baik?" Suster Martha balik bertanya.
Marco terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan suster Martha.
Bukannya Marco tidak menyimak, tapi, dengan semua cerita yang terdengar seperti dongeng pengantar tidur yang menakutkan, rasanya sulit bagi orang biasa untuk mempercayainya.
"Alpha berkata, bahwa dia khawatir kalau-kalau saudara laki-lakinya mengincar nyawamu, itu terbukti. Bahkan, saya pun ikut menjadi korban...
__ADS_1
Apa mungkin saya tidak akan percaya dengan perkataannya?" tanya suster Martha.