SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 40


__ADS_3

Rasanya, masih terlalu pagi, Bella sudah bangun dan memaksa Marco untuk ikut membuka matanya.


"Marco! Sayang! Ayo bangun!" kata Bella, sambil mengguncang bahu Marco, yang masih terlelap tidur.


"Sebentar lagi!" kata Marco pelan, lalu menarik Bella kedalam pelukannya.


Bella tertawa kecil, tapi tampaknya tidak mau menyerah begitu saja, kalau Marco masih tidak membuka matanya.


"Bangun sayang! Kita harus kembali kerumah. Jangan membuang-buang waktu...!" kata Bella.


"Aku masih ingin memelukmu," kata Marco.


"Aku tahu... Tapi, apa kamu lupa, kalau hari ini akan jadi hari yang sibuk?" kata Bella dengan suara memelas.


"Hmmm... Tidak mungkin aku melupakannya, sayang..." kata Marco, yang masih saja memejamkan matanya.


Sesuatu yang lembut dan lembab, terasa menyentuh pipi hingga ke bibir Marco, berhasil membuatnya memaksakan untuk membuka matanya, dan melihat wajah Bella yang berada dekat sekali dengan wajahnya.


"Itu cara yang licik!" kata Marco.


Bella tertawa.


"Mau bagaimana lagi? Kamu tidak mau bangun meski aku sudah memaksamu berkali-kali," ujar Bella, tampak membela diri.


Mau tidak mau, Marco kemudian duduk sambil mengumpulkan semua kesadarannya.


"Biarkan aku menciummu sebentar!" pinta Marco.


"Oke! Sebentar saja, ya?! Kita harus segera pergi," kata Bella.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Marco segera memeluk dan mencium Bella sesukanya.


"I love you, honey..." bisik Marco, sambil tetap memeluk Bella.


"Aku tahu... I love you too, babe!" kata Bella.


"Ayo kita pergi!" lanjut Bella, mengajak Marco kembali ke rumah Marco.


Marco memakai pakaiannya, dan hanya sekedar mencuci wajahnya di wastafel, Marco lalu berjalan keluar bersama Bella.


Suasana didalam rumah itu masih sepi, tampaknya semua orang disitu masih tertidur pulas.


"Apa kita tidak perlu memberitahu orang tuamu?" tanya Marco.


"Tidak usah. 'Kan tadi malam aku sudah memberitahu Mommy?!" kata Bella.

__ADS_1


Marco terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Dengan mengendarai mobil, Marco dan Bella kembali ke rumah Marco.


"Apa kamu mau langsung berubah bentuk?" tanya Bella, ketika keluar dari mobil sambil berjalan dengan pinggangnya, yang dirangkul Marco.


"Hmmm... Nanti saja, selesai sarapan denganmu," jawab Marco.


"Oke! Mau sarapan apa hari ini?" tanya Bella.


"Apa saja. Terserah kamu," jawab Marco, lalu mengecup kepala Bella.


Beberapa waktu kemudian, Bella sudah sibuk memilah bahan makanan yang ada didalam lemari es, yang ingin dimasaknya menjadi santapan pagi, bagi mereka berdua.


Marco membantu Bella mempersiapkan semua bahan makanan, yang dikeluarkan Bella dari dalam lemari es, kemudian memasaknya bersama-sama dengan wanita itu.


Bella memilih krim sup ayam yang dicampur dengan butiran jagung, dan parutan keju, roti keras, dan beberapa lonjor sosis yang digoreng dengan sedikit minyak, dan omelet telur sebagai tambahannya, untuk menjadi sarapan mereka pagi itu.


"Apa kamu mau yang lain?" tanya Bella.


Marco tersenyum lebar, sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Bella, dengan raut wajah heran.


"Tidak ada apa-apa..." jawab Marco.


Sembari memakan sarapannya, Marco hampir tidak bisa berhenti tersenyum melihat Bella.


Nafsu makan Bella sangat baik, meskipun semua makanan yang dia makan entah kemana perginya, karena Bella tetap kurus seperti seseorang yang melakukan diet ketat.


"Ada apa?" tanya Bella memelas.


Bella tampaknya sudah tidak tahan lagi dengan cara Marco melihatnya.


"Tidak apa-apa, sayang... Aku hanya senang, karena bisa selalu bersamamu," kata Marco, lalu lanjut memakan sarapannya.


Bella tampaknya tidak terlalu memperdulikan perkataan marco, dan lanjut memakan makanannya.


Setelah mereka selesai sarapan, Bella memberi kesempatan kepada Marco untuk berubah bentuk, di bagian belakang rumah.


Sedangkan Bella, pergi mengurus hewan ternak didalam gudang pertanian, tanpa mengeluarkan hewan-hewan itu dari dalam sana.


Kalau Marco mau cepat merasa puas, memang tidak ada pilihan lain selain menjadi seekor elang, dan terbang mengangkasa, jauh tinggi hingga menembus awan.


Sesekali saja, Marco terbang rendah untuk mengawasi rumah dan sekitarnya, agar tidak terlalu menarik perhatian orang-orang yang tinggal didekat rumahnya.

__ADS_1


Hari ini, Marco memang hanya akan memuaskan keinginannya untuk berubah bentuk, dan sama sekali kehilangan minatnya untuk kembali ke tempat tinggal shapeshifter.


Setelah kesekian kalinya Marco terbang rendah, Marco sempat melihat gerak-gerik tidak biasa dari sesuatu dibawahnya, tidak jauh dari peternakan miliknya.


Marco mengawasi gerakan dari seekor anjing yang tampaknya sedikit mencurigakan.


Anjing itu tampak berjalan kesana kemari tanpa arah yang jelas, seperti sedang kebingungan mencari sesuatu.


Marco tetap menjaga jarak ketinggiannya, sambil terus memperhatikan gerak-gerik hewan itu.


Tidak lama berselang, anjing itu akhirnya berlari menjauh dari lokasi peternakan milik Marco, dan sedikit mengurangi kecurigaan Marco.


Mungkin Marco hanya terlalu waspada, semenjak pertemuan terakhir dengan Adaline, ditambah lagi saat melihat serigala dihutan kemarin, hingga membuatnya menjadi terlalu khawatir, kalau-kalau status aslinya akan ketahuan.


Marco kembali menembus awan dan berputar-putar sebentar, lalu menukik turun tepat saat dia melihat seekor burung elang terbang menembus awan, dengan jarak yang cukup jauh dari tempatnya berada sekarang.


Marco hampir saja membatalkan untuk mendarat, dan sempat terpikir untuk mengawasi elang tadi sebentar.


Tapi, waktu luangnya yang tersisa semakin sempit, Marco tidak bisa menunda lebih lama lagi dengan tetap berada di angkasa.


Mau tidak mau, Marco harus kembali ke rumah.


Tidak mungkin, kalau Marco sampai harus terlambat datang di pernikahannya, hanya karena rasa was-was yang berlebihan, tanpa ada alasan yang pasti.


Sambil mengawasi dan memastikan kalau dia tidak sedang diikuti, Marco terbang rendah, hingga menapakkan cakarnya ketanah dibagian belakang rumahnya.


Marco terburu-buru masuk kedalam rumah lalu memakai pakaiannya lagi, kemudian berlari keluar dan memeriksa ulang dengan melihat ke langit, demi meyakinkan dirinya, bahwa dia memang tidak sedang diawasi.


Setelah memastikan kalau tidak ada apa-apa yang mencurigakan, Marco lalu berjalan ke gudang pertanian, dan memeriksa Bella didalam sana.


Bella sudah selesai mengerjakan semuanya, dan tinggal mensterilkan susu, yang sudah terisi didalam ember-ember.


"Sudah selesai?" tanya Bella, yang memegang keranjang telur, dan tampak hendak berjalan keluar dari gudang pertanian.


"Iya," kata Marco, lalu mengangkat ember-ember susu keluar dari gudang pertanian, bersama-sama dengan Bella.


"Biar aku saja yang mengerjakan sisanya," kata Marco, setelah meletakkan ember susu diatas lantai beranda.


"Tidak apa-apa. Aku mau membantu," kata Bella.


Mereka berdua lalu kembali ke gudang pertanian, dan mengambil sisa hasil hewan ternak, yang belum terangkat semua.


"Hmmm... Apa kamu bisa memberi makan Duke? Aku akan mensterilkan susu," tanya Marco.


"Tentu saja," jawab Bella, sambil membawa keranjang telur terakhir, keluar dari tempat itu bersama Marco.

__ADS_1


"Duke! Ayo ikut! Aku akan memberikanmu makan," kata Bella.


Tanpa perlu menunggu lama, Duke terlihat sudah menyusul Bella dan Marco ke rumah.


__ADS_2