
Udara segar... Sambil memejamkan matanya, oksigen yang dikeluarkan oleh dedaunan pohon maple, dihirup Marco dalam-dalam.
Paru-paru Marco kali ini terasa lebih dingin, dan pikirannya yang lebih jernih setelah pertarungan dengan Beta, yang cukup melelahkan.
"Marco!" seru salah satu kakak laki-laki Adaline.
"Ada apa?" tanya Marco, tanpa melihat kearah suara yang memanggilnya itu.
"Eeh... Apa kamu bisa mengajariku mengemudi mobil?" tanya saudara Adaline itu, yang terdengar seolah-olah sedang bertanya dengan hati-hati.
Marco kemudian menoleh kesampingnya, dan melihat saudara laki-laki Adaline yang bertanya kepadanya.
"Kamu mau belajar mengemudi?" tanya Marco.
"Iya... Kalau aku bisa mengemudi sendiri, kamu tidak perlu repot-repot membawa hasil ternak ke pedagang. Aku yang akan melakukannya," jawab saudara laki-laki Adaline itu.
"Hmmm... Ide yang bagus. Tapi, apa itu tidak berlebihan? Hingga kalian yang harus melakukan semua pekerjaanku," tanya Marco.
"Tidak masalah. Kami juga tidak merasa nyaman, saat menumpang tinggal disini, lalu kami tidak bisa banyak membantu pekerjaanmu," jawab laki-laki itu.
"Aku tidak pernah berpikir seperti kalian adalah beban. Kalian sudah banyak membantu pekerjaanku," kata Marco.
"Alpha kita tidak mengerti..." celetuk Beta.
Marco berbalik dan melihat disisi sebelahnya lagi, dimana Beta sedang berbaring.
"Apa yang aku tidak mengerti?" tanya Marco.
"Apa kamu tahu bagaimana cara hidup seorang raja? Alpha harus dilayani oleh kaumnya, sebagaimana raja dilayani rakyatnya," ujar Beta.
"Pekerjaan Alpha melindungi kaumnya, dan mengambil keputusan besar untuk kelangsungan hidup semua anggota kelompok shapeshifter...
Dan perhatian Alpha tidak boleh teralihkan, hanya oleh pekerjaan remeh. Apalagi, kalau sampai Alpha malahan yang melayani kaumnya...
Itu akan jadi terasa aneh. Jadi, wajar saja kalau pengikutmu, melakukan pekerjaan untuk melayanimu," lanjut Beta.
"Jadi maksudmu, aku harus membiarkan mereka bekerja, menggantikan pekerjaanku yang biasanya sehari-hari aku lakukan?" tanya Marco.
"Iya, tentu saja. Jadi, kamu bisa berfokus untuk menjadi Alpha yang sesungguhnya," jawab Beta.
"Seumur hidupku, aku tidak perlu bekerja. Apalagi pekerjaan manusia, kalau hanya untuk aku bertahan hidup. Baik makanan, pakaian, maupun tempat tinggal, itu disediakan shapeshifter biasa yang aku kunjungi," lanjut Beta.
"Pufftt...! Bagaimana kamu bisa bertahan seperti itu? Menjadi beban bagi orang lain," kata Marco, sambil tertawa kecil.
"Tidak ada yang lucu untuk kamu tertawakan. Memang sudah seperti itu hakikatnya," ujar Beta ketus.
__ADS_1
"Alpha, Beta, Gamma, dan Delta, tidak perlu memikirkan urusan perut yang lapar, atau pakaian agar tidak bertelanjang, apalagi tempat tinggal...
Tugas kita hanya menjaga kelompok...
Terlebih lagi kamu, sang Alpha. Kamu bahkan tidak perlu berkeliaran untuk memeriksa kawanan, cukup berjaga-jaga saja, dan seharusnya bertingkah selayaknya seorang raja," lanjut Beta.
"Hmmm... Aku memang tidak paham dengan konsep hidup seperti itu. Karena bagiku, tidak ada yang lebih rendah, atau lebih tinggi harga dirinya," ujar Marco.
"Iya, aku tahu kalau kamu Alpha yang berbeda. Tapi tetap saja, pengikutmu akan merasa aneh, kalau kamu yang melayani mereka," kata Beta.
"Memang benar begitu!" celetuk saudara laki-laki Adaline.
"Kami merasa ada yang ganjal, saat Alpha tidak memerintahkan kami melakukan sesuatu. Bahkan, Alpha yang melakukannya sendiri semua pekerjaan rendahan, yang seharusnya kami lakukan," lanjut saudara laki-laki Adaline itu.
Marco terdiam dan hanya mendengarkan saja, apa yang dikatakan saudara Adaline tanpa mau menanggapi apa-apa.
Beta kemudian mendadak tertawa terbahak-bahak sendirian.
"Apa ada yang lucu?" tanya Marco.
Beta terbatuk-batuk, seolah-olah dia sedang berusaha agar bisa berhenti tertawa.
"Maafkan aku... Aku hanya membayangkan, kalau kamu, Alpha, raja dari semua shapeshifter, atau pasanganmu, sang ratu, memasak dan mencuci peralatan makan di kastil," jawab Beta.
"Dimana wibawamu sebagai raja?" tanya Beta.
Pantas saja, baik Fint, Fent, Adaline, maupun Seba, selalu saja tampak mencoba menggantikan pekerjaan harian dirumah Marco, yang biasanya dilakukan Marco atau Bella.
Kalau dipikir-pikir, memang kelihatannya akan jadi lucu, kalau sampai mereka sudah menguasai kastil, lalu membayangkan saat Bella memakai gaun seperti gambar di buku dongeng anak-anak tentang putri, lalu Bella harus berkutat didapur.
"Mau belajar mengemudi sekarang?" tanya Marco, sambil bangkit dari pembaringannya.
"Iya!" jawab saudara laki-laki Adaline bersemangat.
"Ayo kita pergi!" ajak Marco, kemudian bergegas pergi menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan.
Ketika Marco melewati bagian depan rumah, Bella tampak sedang berdiri di beranda, sambil memandangi kebun jagung milik Marco.
Marco menyempatkan singgah menghampiri Bella, dan memeluknya dengan erat.
"Kamu meninggalkan aku tertidur sendiri," celetuk Bella.
"Iya... Aku tadi berlatih dengan Beta. Sekarang, aku mau mengajari Fint dan Fent mengemudi mobil," ujar Marco.
"Oh, begitu... Hati-hati, sayang..." kata Bella.
__ADS_1
"Tentu saja... Kalau ada perlu apa-apa minta saja dengan Seba atau Adaline. Jangan memaksa, untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri," kata Marco.
Bella tampak mengerutkan keningnya, sambil menatap Marco lekat-lekat.
"Tidak perlu membantah ucapanku... Aku tidak mau kamu kelelahan. Aku mau kamu dan bayi kita selalu sehat," kata Marco, tanpa menunggu Bella berkata apa-apa.
Bella terlihat menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar, tampak seolah-olah dia tidak terima dengan perkataan Marco.
"Tolong turuti perkataanku... Kalau kamu mau aku tidak perlu khawatir dengan keadaanmu," kata Marco memaksa.
"Oke...!" kata Bella pelan, meski dengan wajahnya yang terlihat lemas.
Marco tersenyum lebar, lalu mencium Bella.
"Aku pergi dulu, ya?! I love you, honey..." ucap Marco, sambil beranjak turun dari beranda.
"Love you too..." ujar Bella.
Fint dan Fent tampak sabar menunggu Marco, sambil berdiri didekat mobil.
"Siapa yang mau belajar duluan?" tanya Marco.
"Biar Fint saja," kata salah satu dari kembar itu.
"Kalau begitu, Fent menunggu disini saja dulu. Nanti kami kembali, baru kalian bergantian," kata Marco.
Dengan begitu Marco juga tidak bingung memanggil nama mereka, karena sudah pasti Fint yang pertama bersama Marco didalam mobil.
Fent kemudian duduk dilantai beranda depan rumah Marco, sedangkan Fint masuk kedalam mobil, dan duduk dibelakang kemudi, dengan Marco yang duduk di jok penumpang disebelahnya.
"Pedal gas, pedal rem, pedal kopling!" kata Marco, sambil menunjuk tiga pedal dilantai mobilnya.
"Yang ini tuas rem parkir, ini tuas persneling," lanjut Marco.
"Apa yang dilakukan pertama kali?" tanya Fint.
"Nyalakan mesinnya lebih dulu!" jawab Marco.
"Tekan pedal kopling hingga menyentuh lantai, geser tuas perseneling seperti ini," lanjut Marco, sambil menunjukkan arah persneling.
Fint mengikuti arahan Marco, dan tampak benar-benar memperhatikan apa yang Marco ajarkan.
"Oke?! Sekarang turunkan tuas rem parkir, sambil pedal gas ditekan, bersamaan dengan pedal kopling yang diangkat perlahan," kata Marco.
Untuk beberapa kali percobaan, mesin mobilnya malah mati, sebelum mobil itu sempat bergerak biar sedikit.
__ADS_1
"Coba lagi!" kata Marco.