SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 28


__ADS_3

Sembari berjalan pelan bersama Adaline menembus semak belukar, diantara pohon-pohon besar didalam hutan itu, Marco memikirkan perkataan Adaline yang terdengar cukup menyedihkan, dan membuat Marco makin penasaran.


Berarti benar cerita suster Martha.


Daddy Marco yang asli adalah Alpha, yang meninggal dunia, dan digantikan saudara laki-lakinya.


Kalau begitu, Marco adalah pewaris Alpha, juga sebagai pemimpin baru bagi kaumnya.


Ah, Marco tidak terlalu mau memikirkan hal itu.


Marco tidak terlalu perduli dengan status kepemimpinannya.


Lebih penting untuk mencari tahu tentang kaumnya lebih jauh.


Bagaimana dengan anggota kaum yang melarikan diri?


Apakah mereka masih memiliki pasangan sesama kaum, ataukah mungkin menikahi manusia biasa?


Kemana-mana saja tempat mereka berpencar?


"Entah dimana pewaris Alpha sekarang... Mahluk bodoh itu hanya membuatku kesal saja," celetuk Adaline.


Marco tersentak, dan melihat kearah Adaline yang tampak sedang merengut.


"Memangnya kenapa?" tanya Marco.


"Kalau pewaris Alpha sudah kembali, maka ada kemungkinan agar kaum dari tempat lain bisa berkumpul ditempat ini. Jadi, bukan hanya keluarga kami yang akan dianggap sebagai pengecut," jawab Adaline.


"Dengan begitu juga, aku dan saudara-saudaraku kemungkinan bisa menemukan pasangan, diantara kaum pengecut yang lain," lanjut Adaline.


"Apa ada sesuatu yang kamu tahu tentang pewaris Alpha?" tanya Marco.


"Hmmm... Menurut Mommy, pewaris Alpha sudah lahir bertahun-tahun yang lalu. Tapi, disembunyikan atau dibuang, karena perebutan kekuasaan. Mommy tidak tahu jelasnya," jawab Adaline.


"Bagaimana Mommy-mu bisa tahu?" tanya Marco.


"Mommy bekerja sebagai pelayan pasangan Alpha," jawab Adaline.


Mata Marco terbelalak.


Pasangan Alpha adalah Mommy Marco yang asli.


"Apa Mommy-mu masih bekerja disana?" tanya Marco.


"Tidak lagi. Sesuatu terjadi, belasan tahun yang lalu, kemudian Mommy dan teman-temannya diberhentikan, dan tidak diijinkan lagi untuk mendekat ke kamar pasangan Alpha," jawab Adaline.


"Apa pasangan Alpha masih hidup?" tanya Marco.


Adaline melihat kearah Marco, dengan alisnya yang mengerut.

__ADS_1


"Kamu sama sekali tidak tahu apa-apa? Atau terlalu penasaran akan sesuatu?" kata Adaline, yang balik bertanya kepada Marco.


"Hmmm... Aku memang tidak tahu apa-apa. Orang tuaku meninggal, saat aku masih sangat kecil. Jadi, mereka belum sempat menceritakan apa-apa, kecuali kalau ada orang lain yang sama denganku," jawab Marco, berbohong untuk beralasan.


Adaline mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Nanti aku ceritakan lagi. Kalau kamu mau bertanya dengan orang tuaku juga bisa, karena kita sudah tiba dirumahku!" kata Adaline.


"Itu!" lanjut Adaline, sambil menunjuk sebuah rumah sederhana, yang tampak berdiri sendiri di antara perkebunan jagung.


Rumah berdinding batu, yang masih terlihat lekukan bebatuannya dibagian luar dinding.


Tampak kokoh dengan pagar yang terbuat dari bahan yang sama, yang mengelilinginya bangunan rumah itu.


Dari tempat Marco berdiri sekarang, terlihat asap putih mengepul dari cerobong asap, yang ada dibagian atas rumah.


Dengan berjalan pelan, sambil tetap beriringan dengan Adaline, Marco melihat kesana kemari.


Sepanjang matanya bisa memandang, tidak ada lagi rumah lain yang bisa Marco lihat.


"Kenapa?" tanya Adaline.


"Hmmm... Tidak apa-apa. Aku hanya melihat-lihat..." jawab Marco.


"Kenapa tidak ada rumah lain didekat sini?" tanya Marco.


"Hey! Kamu tidak menyimak perkataanku?" tanya Adaline ketus.


Marco terdiam saat mendengar bentakan keras Adaline kepadanya, dan berjalan dengan menundukkan pandangannya.


"Maafkan aku..." kata Marco pelan.


Adaline tampak menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan.


"Maaf, aku tidak berniat meneriakimu... Aku memang terlalu sensitif. Aku selalu saja terbawa perasaan, kalau mengingat gelar yang disematkan kepada keluarga kami," kata Adaline.


"Sudahlah... Mari masuk ke rumah kami!" lanjut Adaline, mengajak Marco masuk kedalam rumahnya, setelah membuka pintu depan.


Didalam rumah yang tampak nyaman, dengan perabotan rumah tangga yang cukup lengkap, meski masih lebih sederhana, jika dibandingkan dengan yang ada dirumah Marco.


Seorang laki-laki yang kelihatannya sudah memasuki usia paruh baya, dua pemuda yang tampak seumuran dengan Marco dengan wajah yang sangat mirip, sedang duduk berkumpul disalah satu meja, yang kelihatannya berada didalam dapur.


Tungku perapian yang menyala, dengan panci diatasnya, dan mengeluarkan aroma masakan yang harum, dengan wanita yang juga kelihatannya sudah memasuki usia paruh baya, terlihat sibuk mengaduk isi panci diatas api.


"Mommy, Daddy, Fint, Fent! Ini, Marco! Pemuda yang aku ceritakan kemarin," kata Adaline, memperkenalkan Marco, ketika mereka berdua sudah berdiri didekat meja.


"Halo, Marco! Saya Flints Sums, dan itu pasangan saya, Seba!" kata Daddy Adaline, menyapa Marco, sambil menunjuk wanita yang sedang didekat tungku perapian.


"Halo! Ternyata cukup tampan. Pantas saja Adaline mau menjemputmu!" kata salah satu pemuda disitu, yang adalah saudara laki-laki Adaline.

__ADS_1


"Fint! Jaga mulutmu!" kata Adaline ketus, dan terdengar seperti sedang membentak pemuda itu.


"Maafkan, kakakku yang bodoh itu!" kata Adaline.


Marco hanya tersenyum melihat Adaline, lalu melayangkan pandangannya didalam ruangan itu, berganti-gantian melihat anggota keluarga Adaline.


"Halo!" kata Marco.


"Silahkan duduk!" kata Seba, Mommy Adaline.


"Marco bisa makan siang bersama kami. Pasti lelah 'kan saat harus melakukan perjalanan kesini?!" lanjut Seba.


"Terimakasih, Ma'am!" kata Marco, lalu duduk disalah satu kursi kosong yang ada disitu.


"Kata Adaline, kamu tinggal di kota Bridget, tapi katanya kamu tidak terlalu tahu, tentang anggota kaum yang lain," ujar Seba.


"Iya, Ma'am! Saya hanya tahu orang tua saya saja, tapi mereka semua sudah meninggal sejak aku masih kecil," kata Marco.


"Hmmm... Kasihan sekali! Pasti sulit melewati waktu saat harus sendirian seperti itu," kata Seba.


"Tidak sesulit itu... Saya ditinggalkan sebuah rumah, yang bisa saya tinggali, dan rasanya cukup nyaman," kata Marco.


Adaline duduk disebelah Marco, setelah selesai menata peralatan makan diatas meja.


Baik Flints, saudara laki-laki Adaline, yang kemungkinan besar adalah sepasang anak kembar, Fint dan Fent, senyum-senyum melihat Marco, dan Adaline bergantian.


"Ada apa?" tanya Adaline dengan suara meninggi.


Flints, Fint, dan Fent tertawa kecil, sambil mengalihkan pandangan mereka dari Marco dan Adaline, lalu berpura-pura sibuk sendiri.


Adaline tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melihat kearah Marco yang ada disampingnya.


"Tidak perlu kamu menanggapi tingkah bodoh Daddy, dan kakak-kakakku," kata Adaline.


Marco hanya menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.


"Maafkan saya, kalau terlalu lancang..." kata Seba, sambil meletakkan panci ketengah-tengah meja.


"Apa orang tuamu kedua-duanya shapeshifter?" tanya Seba.


Sontak pertanyaan itu, membuat semua pandangan mata mengarah kepada Marco.


"Maaf, Ma'am! Tapi, kenapa anda menanyakannya?" kata Marco, untuk mengalihkan pertanyaan Seba, Mommy Adaline.


"Hmmm... Karena setahu saya, banyak dari kaum kita yang pergi dari sini, memilih untuk berpasangan dengan manusia biasa...


Tapi, kebanyakan tidak ada yang berhasil melahirkan anak yang sama dengan kita...


Sebagian besar, hanya melahirkan manusia biasa..." kata Seba.

__ADS_1


"Orang tua saya, kedua-duanya adalah shapeshifter," kata Marco berbohong.


__ADS_2