
Sambil mengemudi mobilnya memasuki jalan kota Bridget, Marco memikirkan apa yang baru saja dia lihat.
Nyaris saja.
Kalau Marco terlambat keluar dari hutan, sedikit saja, maka kemungkinan besar Marco akan bertemu dengan orang itu tadi.
Jika dia memang saudara laki-laki Alpha, kemungkinan besar akan ada ketegangan, kalau mereka berdua sampai bisa bertatap muka.
Marco harus mencari tempat baru, karena hutan lindung itu sudah bukan tempat yang aman lagi bagi Marco, untuk mengubah bentuk di sana.
Bukan masalah besar, Marco masih bisa bernafas lega.
Kalau benar-benar terdesak, meski Bella sedang sibuk di toko kuenya, Marco masih tetap bisa berganti bentuk dirumahnya, dengan memilih hewan yang tidak akan menakuti hewan-hewan ternaknya.
Ketika Marco tiba dirumahnya, Bella terlihat sedang duduk bersantai di beranda rumah, seolah-olah memang sedang menunggu Marco pulang.
Marco tersenyum lebar, dan tanpa mematikan mesin mobilnya, Marco keluar dari mobilnya dan menghampiri Bella.
"Mari ikut denganku, sayang!" kata Marco, sambil mengulurkan tangannya ke arah Bella.
"Kita mau kemana?" tanya Bella yang berdiri, lalu memeluk Marco, alih-alih memegang tangan Marco.
"Bukannya aku sudah berjanji untuk ke toko perhiasan hari ini? Sekalian kita melihat-lihat gaun pengantin yang cantik untukmu," kata Marco, sambil memeluk Bella erat-erat, dan mengecup kepalanya.
"Kamu tidak mau makan dulu?" tanya Bella.
"Nanti saja! Sepulangnya kita dari berbelanja," kata Marco, lalu menggendong Bella yang tertawa geli, ketika Marco mengangkatnya.
"I love you!" kata Bella, sambil mencium pipi Marco.
"Love you too, honey!" ucap Marco, lalu memasukkan Bella kedalam mobilnya di bagian penumpang, dan mencium bibir Bella sebentar, sebelum menutup pintu mobil itu.
Marco kemudian memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, mengarah ke pusat pertokoan yang ada di kota Bridget itu.
Saat melihat-lihat cincin di salah satu toko perhiasan, Marco terpikir tentang toko-toko yang ada ditempat shapeshifter tadi.
Kalau saja Marco tadi memiliki uang, Marco bisa membelikan cincin permata yang indah di sana untuk Bella.
Setelah beberapa saat memilih, Bella menetapkan pilihannya pada sepasang cincin yang sederhana, tapi terlihat indah.
Marco kemudian membayar harga cincin itu, kemudian membelikan sebuah cincin tambahan untuk Bella.
"Untuk apa?" tanya Bella, ketika Marco membayar harga satu cincin itu lagi.
"Caraku melamarmu kemarin belum tepat. Aku berencana untuk melamarmu lagi," kata Marco, lalu berlutut dengan sebelah kakinya.
"Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Marco, sambil memegang kotak perhiasan berisi cincin yang terbuka.
__ADS_1
Senyum yang lebar, mengembang di wajah Bella yang cantik.
"Iya, aku mau!" jawab Bella, dengan menahan senyuman di wajahnya tetap mengembang lebar.
Marco lalu memasangkan cincin itu ke salah satu jari tangan Bella, kemudian berdiri dan memeluk Bella.
Mereka berciuman, sambil mendapat tatapan dan tepuk tangan meriah dari beberapa pegawai toko perhiasan itu.
"Selamat!" kata salah satu pegawai toko, yang melayani pembelian cincin tadi, kepada Marco dan Bella.
"Terimakasih!" ujar Bella dan Marco bersamaan, lalu berjalan keluar dari toko itu.
Mereka berdua lalu berjalan-jalan mencari toko yang menjual gaun pengantin, dan setelah menemukannya Marco dan Bella berjalan masuk, dan melihat-lihat di dalam situ.
Setelah beberapa gaun dicoba Bella, akhirnya ada satu gaun pengantin yang benar-benar cocok, dan terlihat sangat cantik, ketika Bella memakainya.
Marco hampir tidak bisa berkedip, melihat Bella dalam balutan gaun pengantin berwarna putih, dengan aksen yang tidak terlalu ramai.
"Oh, gosh! Kamu cantik sekali!" seru Marco senang, lalu menghampiri Bella.
"I love you, so much!" kata Marco, lalu mengecup kening Bella dengan lembut.
"Terimakasih pujiannya...!" kata Bella, sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu, ini cocok untukku?" tanya Bella.
"Iya," jawab Marco mantap.
"Oke! Tinggal setelan tuksedo untukmu saja yang perlu kita cari," kata Bella, lalu berbalik dan masuk ke dalam kamar ganti.
Tanpa perlu mencari ke mana-mana, pegawai toko gaun pengantin itu, menyodorkan satu setel jas pengantin yang cocok dengan gaun pilihan Bella dan Marco tadi.
Dengan sedikit menyesuaikan ukurannya, Marco sudah mendapatkan setelan untuk dia pakai besok, saat bersanding dengan Bella.
Semua belanjaan yang mereka butuhkan sudah terbeli, dan sebelum pulang ke rumah Marco, mereka berdua menemui Pastor yang akan memberkati pernikahan mereka besok siang.
Didalam gereja katolik yang berdiri dengan megahnya di tengah kota Bridget, Marco dan Bella membicarakan tentang rencana mereka untuk menikah, kepada Pastor yang melayani di gereja itu.
Tidak perlu berbicara terlalu lama dan bertele-tele, niat baik mereka untuk mengesahkan hubungannya dalam pernikahan, mendapat sambutan baik dari pihak gereja.
Pihak gereja menyanggupi permintaan Marco, dan Bella agar bisa diberkati di gereja itu siang besok.
Semua rencana Marco dan Bella tampaknya berjalan dengan baik, dan tidak mengalami kendala apa-apa.
Dengan senang hati, Marco dan Bella kembali ke rumah Marco.
Bella buru-buru mempersiapkan makanan untuk Marco, yang terlihat sudah mulai lemas, dengan perut yang hampir tidak bisa berhenti berbunyi.
__ADS_1
"Aku sudah mengajakmu untuk makan tadi... Tapi, kamu menolaknya," kata Bella dengan wajah cemas.
Marco tertawa kecil.
"Tidak perlu sepanik itu, sayang... Aku cuma lapar, bukannya sedang sakit," kata Marco, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya, aku tahu. Tapi, Lama-kelamaan kamu juga bisa sakit, kalau sering terlambat makan," kata Bella, seolah-olah tidak bisa kehabisan kata-kata, untuk menunjukkan rasa perdulinya kepada Marco.
Sepiring penuh terisi makanan, diletakkan Bella di atas meja tepat di depan Marco.
"Kamu mau membuatku menjadi gemuk?" tanya Marco sambil tertawa kecil.
"Iya! Dimakan saja! Kalau kamu gemuk, tidak akan ada wanita lain yang akan tertarik denganmu, lalu kamu akan terjebak selamanya bersamaku," jawab Bella ketus.
Marco tertawa terbahak-bahak, tapi seketika itu juga dia berhenti untuk tertawa, karena Bella menatap Marco dengan wajah merengut.
"Iya ... Iya, aku makan!" kata Marco.
Sambil menyuapkan makanannya ke mulutnya, sesekali Marco melirik Bella yang duduk di seberang meja, dan tidak berhenti menatap Marco disitu.
"Kamu menakutiku...!" ujar Marco, sambil menahan diri agar tidak tertawa.
Bella tidak menanggapi perkataan Marco, dan tetap menatap Marco yang sedang makan di depannya itu
"Aku sudah kenyang!" kata Marco, meski di piringnya masih tersisa sayuran rebus dan beberapa butir bola daging, yang berlumuran saus.
Bella berdiri dan berpindah tempat duduk ke atas pangkuan Marco.
"Sedikit lagi!" kata Bella, sambil menyuapkan sebutir bola daging kedalam mulut Marco.
Marco memaksa mengunyah makanan itu, lalu berkata,
"Sungguh, sayang... Aku terlalu kenyang..."
Bella memeluk Marco, dan menyandarkan kepalanya di dada Marco.
"Bukan karena rasa masakanku yang tidak enak?" tanya Bella.
Marco tertawa kecil, lalu mencium kening Bella.
"Tidak begitu, sayang ... Aku memang sudah kenyang... Itu saja," kata Marco pelan.
Marco menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan.
Timbul sedikit rasa khawatir, saat mengingat serigala yang dilihatnya di hutan.
Kalau memang benar dugaan Marco, bahwa itu saudara laki-laki Alpha, Marco benar-benar berharap agar mahluk itu tidak akan pernah menyakiti Bella.
__ADS_1