
Setibanya Marco, Duke dan kedua saudara laki-laki Adaline, dari rumah Marco tercium aroma harum makanan yang tampaknya sedang dimasak disana.
Bella terlihat sibuk memasak sambil dibantu Adaline, dan tampak akrab berbincang-bincang didalam dapur.
"Kamu sudah pulang!" ujar Bella, sambil tersenyum lebar.
"Hmmm... Saudara-saudaraku dimana?" tanya Adaline yang tampak bingung, mungkin karena Marco hanya berjalan masuk seorang diri.
"Mereka pergi ke gudang pertanian, membawa peliharaan baru milik mereka berdua," kata Marco, sambil terus berjalan menghampiri Bella, lalu mencium kening Bella.
"Peliharaan apa?" tanya Adaline terdengar bingung.
Marco kemudian mencuci tangannya di bak cuci piring, sebelum mengambil tempat duduk dimeja dapur.
"Aku membelikan mereka dua ekor biri-biri. Jadi, nanti kalian bisa belajar beternak," jawab Marco.
Sepotong apel yang ada didalam piring diatas meja, dikunyah Marco dengan perlahan-lahan.
"Kalian memasak apa?" tanya Marco.
"Rebusan daging dengan kacang merah. Berterima kasihlah kepada Adaline, karena dia yang mengajarkan," jawab Bella.
"Katanya, kamu terlihat menyukai makanan itu, waktu kamu berkunjung ke tempat tinggal mereka," lanjut Bella.
"Hmmm... Begitu, ya?!" ujar Marco.
"Belum ada tanda-tanda orang tuamu akan kembali?" tanya Marco kepada Adaline.
"Belum," jawab Adaline.
"Hmmm... Kamu tidak cukup pintar menyembunyikan rahasiamu sebagai Alpha," lanjut Adaline.
"Terimakasih untukmu, yang menceritakan semuanya kepada keluargamu," kata Marco datar.
"Kamu pikir kalau kamu terus bersembunyi, maka semua akan baik-baik saja?" tanya Adaline.
"Iya. Aku memang berpikir begitu," jawab Marco.
"Hmmm... Sudahlah... Yang penting sekarang kita berharap orang tuaku bisa secepatnya menemukan Beta, atau Gamma, atau Delta..." ujar Adaline.
"Maafkan aku, Bella! Aku tidak berniat untuk membuatmu jadi khawatir," lanjut Adaline, dengan nada penyesalan.
"Tidak apa-apa. Aku sudah tahu semuanya, meskipun kamu tidak mengungkitnya, aku tetap akan merasa khawatir," kata Bella, sambil mengaduk masakannya diatas api tungku.
Marco kembali berdiri dan memeluk Bella dari belakang.
"Yakin saja... Kalau semua pasti akan baik-baik saja," kata Marco pelan, dan hampir berbisik ditelinga Bella.
Bella tampak menganggukan kepalanya pelan.
"I love you, honey... Aku tidak akan membiarkan semua yang membuatmu khawatir, sampai terjadi," kata Marco.
__ADS_1
"Aku tahu..." kata Bella.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Marco.
"Hmmm... Tolong, perbaiki posisi kayu bakar itu, agar apinya tidak mati," jawab Bella.
"Oke!" jawab Marco, lalu berjongkok dan mengerjakan yang diminta Bella, ditungku perapian itu.
"Adaline! Mungkin sebaiknya kamu mengajak saudara-saudaramu untuk kembali kesini! Aku rasa makanannya sudah matang. Kita bisa makan siang bersama sekarang," kata Bella.
"Oke!" jawab Adaline, lalu bergegas pergi dari dapur itu.
Marco mengambil kesempatan itu, untuk mencium Bella yang tampak terkejut, dengan gerakan Marco yang tiba-tiba.
Bella sempat menahan Marco, namun akhirnya dia membiarkan Marco menciumnya, sampai Marco merasa puas.
"I love you, so much! Kamu tahu itu 'kan?" tanya Marco.
"Aku tahu sayang... Kamu selalu mengatakannya padaku," jawab Bella sambil tersenyum.
***
Beberapa minggu sudah berlalu.
Kalau Marco tidak salah menghitungnya, sudah lebih dari satu bulan, akan tetapi kedua orang tua Adaline belum juga ada tanda-tanda akan segera kembali.
Keseharian Marco berubah sejak Adaline dan saudara-saudara laki-lakinya, ikut tinggal dirumahnya itu.
Marco hanya sesekali mendatangi gudang pertanian, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Bella.
Baik ketika sedang berada dirumah, ataupun ketika sedang berada ditoko kue milik bella, Marco senantiasa menemani wanita itu, dan memberikan tanggung jawab untuk mengurus ternak, kepada saudara-saudara laki-laki Adaline.
Bukan tanpa alasan Marco melakukannya.
Selain dia memang senang saat bersama-sama dengan Bella, Marco memang berjaga-jaga dan semakin waspada untuk melindungi Bella.
Mengingat semua perkataan orang tua Adaline, Marco memang berusaha agar jangan sampai dia menjadi lengah.
Saudara Alpha bisa saja mengirim pengikutnya, untuk menyakiti Bella, agar Marco kehilangan semangatnya.
Itu memang kemungkinan terburuk.
Akan tetapi itu justru jadi pertimbangan terbesar bagi Marco, yang akhirnya memilih untuk menjaga Bella sendiri, daripada hanya mempercayakannya kepada Adaline, ataupun saudara-saudara laki-lakinya.
Dengan kesibukan baru, Adaline juga lebih sering ikut dengan Marco dan Bella, ketika mereka pergi ke toko kue milik Bella.
Adaline yang ternyata juga senang memasak, dengan senang hati ikut membantu Bella ditoko kuenya, dan sesekali membuat kue resep Adaline sendiri, untuk dijual ditoko milik Bella itu.
"Baru beberapa kali saja aku menjual kue, hasilnya lumayan untuk menambah tabunganku," celetuk Adaline, yang tampak senang dan bersemangat.
"Kamu pintar membuat kue, wajar saja kalau kue buatanmu laris dibeli orang," kata Bella.
__ADS_1
"Apa aku bisa tetap menitipkan kue ku ditempatmu?" tanya Adaline.
"Eh! Maaf... Aku terlihat seperti sedang mengambil keuntungan dari tokomu," lanjut Adaline buru-buru.
"Tidak apa-apa. Jangan merasa seperti itu...! Kamu bisa terus membuat kue, dan menitipkannya disana..." kata Bella.
"Aku justru senang, juga berterima kasih kepadamu, karena kamu juga membantu pekerjaan dirumah yang sering aku tinggalkan," lanjut Bella.
"Hmmm... Karena kamu mengungkitnya, kamu mungkin lupa kalau aku dan saudara-saudaraku, ikut menumpang tidur dan makan," kata Adaline.
"Eh! Kenapa kamu bicara begitu?" tanya Bella.
"Aku dan Marco tidak pernah mempermasalahkan hal itu," lanjut Bella, sebelum Adaline menjawab pertanyaan, yang memang tidak butuh jawaban itu.
Sembari Marco duduk bersama Bella dan Adaline, dia memang mendengarkan pembicaraan yang dilakukan antara Bella dan Adaline diberanda rumahnya.
Tetapi, mata Marco juga memperhatikan kearah gerakan tidak biasa dilahan jagungnya, dengan seksama.
Marco merasa kalau ada sesuatu yang aneh yang membuat tanaman jagungnya bergoyang.
Dan tampaknya memang ada sesuatu disana.
"Adaline! Bawa Bella masuk! Lindungi dia!" kata Marco dengan suara meninggi.
Tanpa berpikir panjang dan tidak sempat melepaskan pakaiannya lagi, Marco berubah bentuk menjadi seekor singa jantan besar dan meloncat turun dari beranda, membiarkan pakaian yang terkoyak, berhambur dilantai beranda.
Dengan tergesa-gesa, Marco berlari menuju sesuatu yang menggerakkan tanaman jagungnya.
Seekor serigala besar berwarna hitam, tampak terdiam terpaku melihat kedatangan Marco.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Marco.
"Apa kamu Alpha?" tanya serigala itu.
"Bukan, dan kamu belum menjawab pertanyaanku," kata Marco tegas.
"Namaku Beta," kata serigala itu, yang rupanya adalah shapeshifter yang dicari orang tua Adaline.
"Kamu jangan berbohong! Untuk apa kamu datang kesini?" tanya Marco yang tidak mau percaya begitu saja, pernyataan shapeshifter itu.
"Flints dan Seba. Mereka mencari dan bertemu denganku karena Alpha," jawab Beta.
"Lalu kenapa kamu ketempat ini?" tanya Marco memancing shapeshifter itu.
"Seba memberikan titik lokasi Alpha, dan sekarang Flints sedang mencari Gamma dan Delta," kata Beta.
"Rasanya, aku belum pernah meleset sebelumnya. Tapi, kalau memang bukan disini tempat Alpha, aku minta maaf... Aku akan kembali menyusul Seba," kata Beta, lalu berjalan pelan menjauh dari Marco.
"Tunggu!" kata Marco.
"Buktikan kalau kamu memang Beta..." lanjut Marco.
__ADS_1