
Malam sudah semakin larut.
Suara binatang malam pun, tak lagi bisa didengar Marco, selain suara nafasnya sendiri yang berat, dan cepat.
Meski sudah sedari tadi, Marco mengungkapkan jati dirinya kepada Bella, dan Bella tidak menolaknya, bahkan seolah-olah ingin berbagi jiwanya dengan Marco, tapi Marco masih merasa sulit untuk bisa mempercayai semuanya.
"Kenapa kamu terlihat cemas?" tanya Bella, yang menjadikan lengan Marco sebagai bantalan kepalanya.
"Kamu sama sekali tidak menganggapku aneh?" Marco balik bertanya.
"Apa sekarang kamu sedang mencari-cari alasan untuk berpisah denganku? Apa kamu terpaksa menerimaku, karena aku terlalu mendesakmu?" Bella menarik dagu Marco, agar wajah mereka bisa berhadap-hadapan.
"Bukan begitu. Aku bersungguh-sungguh menanyakannya... Aku bukan seperti orang kebanyakan, apa kamu tidak menganggapku aneh?" ujar Marco.
"Apanya yang aneh? Bukannya didunia ini tidak ada yang benar-benar normal? Kamu masih memiliki wajah, juga tubuh selayaknya manusia biasa. Lalu apa? Kelebihanmu itu spesial, bukan aneh," kata Bella.
Marco menatap mata biru terang Bella, yang melihatnya sekarang, dengan penuh rasa ingin tahu, dan ingin memastikan kalau wanita itu bicara sejujurnya.
"Selama ini, kamu merasa kalau dirimu aneh? Itu yang membuatmu menjaga jarak dengan orang lain?" tanya Bella, sambil memegang salah satu sisi wajah Marco.
"Aku mungkin bukan wanita sempurna, diantara wanita lain yang bisa kamu pilih. Tapi, mulai saat ini, aku akan selalu berada di sisimu... Tolong, ijinkan aku agar bisa tetap bersamamu. Jangan pernah mendorongku untuk menjauh," kata bella.
Bella terlihat bersungguh-sungguh mengatakannya, sambil mengelus-elus pelan pipi Marco dengan jempol tangannya, yang masih memegang wajah Marco.
Wanita mana yang bisa dipilih Marco?
Meski ada kesempatan bagi Marco untuk memilih pun, Bella sudah lebih dari sempurna baginya.
Tidak semudah itu bisa menemukan wanita yang lebih baik dari Bella.
Bella yang cantik, pintar, lengkap dengan hatinya yang luas dan penyayang, mungkin tidak ada laki-laki lain, yang bisa lebih beruntung dari Marco.
Perasaan tenang, dan damai, mengalir dalam hati Marco, dari sentuhan lembut tangan Bella, dan tatapan teduh wanita itu yang menyapu wajahnya.
"Kamu tidak akan meninggalkanku 'kan?" ujar Bella.
Sambil memejamkan matanya, Marco menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu..." jawab Marco, lalu menatap mata biru terang didepannya itu.
"Aku justru masih tidak bisa percaya, kalau kamu bisa mencintaiku," lanjut Marco.
"Kenapa tidak? Kamu tampan, hatimu yang lembut. Apalagi, sekarang aku tahu kalau kamu kuat, dan bisa membawaku terbang. Kurang apa lagi?!" ujar Bella, lalu tersenyum lebar.
Marco tertawa kecil, lalu mendekatkan wajahnya dan mencium Bella.
"Bagaimana rasanya menyimpan hal itu selama ini? Pasti sulit!" ujar Bella.
__ADS_1
Marco hanya terdiam, sambil mengelus rambut Bella pelan.
"Maafkan aku yang terlambat mengetahuinya... Tidak bisa kubayangkan, bagaimana kesulitan yang kamu hadapi, saat harus menyembunyikan rahasia itu selama bertahun-tahun," kata Bella.
"Aku tidak bisa memutar waktu, tapi aku berharap, aku bisa menjadi sesuatu yang istimewa untukmu nanti," lanjut Bella.
Marco bergeser mendekat, hingga Bella bersentuhan badan dengannya, dan mengecup kepala wanita itu.
"Bukan salahmu... Kamu selalu istimewa bagiku..." kata Marco pelan.
"Sekarang, cobalah untuk tidur. Kamu pasti lelah... Aku tidak akan kemana-mana..." lanjut Marco, lalu memejamkan matanya sambil tetap memeluk Bella.
***
Rasanya, masih cukup pagi, ketika Marco terbangun, dan Bella tidak ada disampingnya.
Terburu-buru Marco memakai pakaiannya, lalu berjalan keluar dari kamar, dengan rasa panik.
Apa mungkin Bella meninggalkannya?
Apa mungkin semua yang terjadi semalam hanya mimpi?
Marco menarik nafasnya panjang, dan menghembuskannya pelan, ketika melihat Bella yang hanya mengenakan salah satu kemeja Marco, sedang menata dua piring berisi sarapan diatas meja.
"Aaah... Kamu sudah bangun!" ujar Bella.
"Kenapa kamu terlihat pucat? Apa kamu sakit?" tanya Bella.
"Tidak," jawab Marco, sambil berjalan mendekat ke meja.
"Aku pikir kamu pergi tanpa mengatakan apa-apa denganku," lanjut Marco.
Bella tertawa kecil, lalu duduk dimeja makan.
"Lucu! Aku yang sepatutnya khawatir, kalau kamu mungkin akan meninggalkanku..." kata Bella.
"Jangan hanya berdiri saja disitu! Ayo, sarapan denganku! Aku sangat lapar!" lanjut Bella.
Marco lalu ikut duduk disalah satu sisi meja makan, yang berhadapan dengan Bella.
"Tidak mungkin aku meninggalkanmu... Apalagi hanya memakai ini!" celetuk Bella, sambil menunjuk kemeja Marco yang dia pakai.
Marco tersenyum, lalu menyuapkan sedikit makanannya, setelah menyesap sedikit susu segar yang dituangkan Bella kedalam gelasnya.
"Selesai sarapan, aku akan pergi ke toko kue milikku," celetuk Bella, disela-sela sarapan mereka.
"Hmmm... Aku nanti akan ke hutan, kalau-kalau kamu kembali kesini, lalu aku belum pulang," kata Marco.
__ADS_1
"Untuk apa? Mencari jamur?" tanya Bella.
"Bukan. Aku harus berganti bentuk disana..." jawab Marco.
Bella terlihat kebingungan, dan hanya terdiam menatap Marco.
"Aku harus melakukannya, agar aku bisa mengendalikan keinginanku untuk berubah bentuk," kata Marco menjelaskan.
"Oh... Begitu...?!" kata Bella, sambil manggut-manggut seolah-olah mengerti maksud Marco.
"Oke!" lanjut Bella santai.
"Tidak masalah untukmu?" tanya Marco pelan.
"Hey! Jangan mengungkitnya lagi! Aku mencintaimu, sebagaimana kamu ada. Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Oke?!" ujar Bella tegas.
Marco terdiam, dan melanjutkan memakan sarapannya.
"Tapi... Apa disana aman untukmu?" tanya Bella, terlihat cemas.
"Hmmm... Selama ini, aku selalu disana. Tampaknya, aman-aman saja," jawab Marco.
"Oke! Berhati-hati! Entah apa yang akan terjadi denganku, kalau ada apa-apa denganmu," kata Bella.
"Iya," jawab Marco singkat.
Menyenangkan rasanya, saat ada yang mengkhawatirkan keadaan, dan keselamatannya seperti itu.
Apalagi, Bella yang terlihat memang sungguh-sungguh menyayanginya.
Rasanya belakangan ini, dewa keberuntungan kini mulai berpihak kepada Marco.
Selesai menghabiskan sarapannya, dan membersihkan semua peralatan makan yang kotor, Bella memberi Duke makan, sebelum dia bersiap-siap pergi ke toko kue miliknya.
Sedangkan Marco, melakukan pekerjaannya didalam gudang pertanian, dan melanjutkan rutinitas lainnya, sebelum pergi ke hutan.
Hari ini, Marco akan kembali mengunjungi tempat kaum shapeshifter berada.
Setelah semua yang harus dilakukan Marco, sudah selesai dikerjakan, Marco memacu mobilnya dijalanan menuju ke hutan.
Dan seperti biasanya, membuka pakaiannya lalu berubah bentuk menjadi seekor burung elang, dan terbang naik, menembus payung hutan.
Marco sudah tahu, dan menghapal jalur dan rute perjalanannya, sehingga dia tidak lagi perlu berputar-putar diangkasa, dan membuang energinya disitu.
Marco bisa terbang mengarah langsung ke tempat kaum shapeshifter bersembunyi, dengan menghemat tenaga dan waktunya.
Mudah-mudahan, Adaline sudah menunggunya disana dengan pakaian ganti untuk dipakai Marco.
__ADS_1