
Kunjungan Marco kerumah keluarga Graham semalam, untuk membicarakan tentang pernikahannya dengan Bella, nampaknya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala yang berarti.
Perencanaan yang dibantu kedua orang tua Bella, membuat Marco tidak perlu terlalu kerepotan dengan semua urusan persiapan pernikahan.
Satu hal saja yang harus dipikirkan Marco.
Dihari pernikahannya besok nanti, Marco berarti akan lebih banyak menghabiskan waktu, untuk acara pernikahan mereka itu.
Dan entah bagaimana, Marco akan mengambil kesempatan diantara sela-sela kesibukan besok agar bisa mengubah bentuk, tanpa menarik perhatian.
Hanya satu hari.
Tapi, kalau sampai Marco tidak bisa mengendalikan dirinya, maka akan terjadi kehebohan diantara orang banyak.
"Bella...!" kata Marco pelan disela-sela sarapan mereka pagi itu.
Bella yang baru saja menggigit sedikit bacon, lalu mengangkat wajahnya dan melihat kearah Marco.
"Paling lambat ditengah hari, aku harus berganti bentuk... Bagaimana caranya, kira-kira menurutmu besok? Agar aku bisa melakukannya, tanpa menarik perhatian orang," lanjut Marco.
"Hmmm... Aku tidak terpikirkan tentang itu sebelumnya," kata Bella, yang kini memasang wajah serius.
Bella meletakkan sisa potongan bacon yang dipegangnya, keatas piring makannya, dan menyandarkan punggungnya kekursi.
"Pemberkatannya di gereja, sekitar jam sebelas siang..." kata Bella, sambil memainkan garpu yang ada diatas piring.
"Berapa lama kamu butuh waktu untuk berganti bentuk?" tanya Bella.
"Satu sampai dua jam, sudah cukup..." jawab Marco.
"Apa kamu memang harus berganti bentuk ke hutan?" tanya Bella lagi.
"Sebenarnya, bisa disini saja. Tapi, biasanya aku merasa tidak puas kalau tidak berubah menjadi seekor elang. Sedangkan ayam-ayam ternak, pasti akan ketakutan, kalau aku menjadi elang, lalu berkeliaran diatas peternakan ini," jawab Marco.
"Hmmm..." Bella bergumam.
"Aku hanya membuatmu kesulitan..." celetuk Marco.
"Marco...! Sayang...! Jangan berkata seperti itu...! Aku tidak merasa sulit sama sekali. Aku hanya ingin agar semua bisa direncakan dengan baik..." kata Bella.
Marco terdiam, dan menatap Bella lekat-lekat.
"Kalau kamu berganti bentuk disini, dipagi hari, bagaimana? Aku yang akan mengawasi sekitar sini, agar tidak ada yang melihatmu," tanya Bella.
"Ayam-ayam... Bahkan, semua ternak tidak dikeluarkan dari kandang sampai kamu selesai. Bagaimana? Tidak apa-apa?" lanjut Bella.
__ADS_1
"Hmmm... Bisa saja," jawab Marco.
"Kalau begitu, kamu ajari aku sekarang, apa saja yang harus aku lakukan di gudang pertanian," kata Bella bersemangat, lalu lanjut memakan sarapannya.
"Untuk apa?" tanya Marco.
Bella mendecakkan lidah, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku harus bisa menggantikanmu besok pagi. Agar kamu bebas berganti bentuk, tanpa perlu harus mengkhawatirkan ternak," jawab Bella.
"Memangnya, kamu tidak pergi memeriksa pekerjaan ditoko kue?" tanya Marco.
"Untuk dua hari ini, rasanya tidak akan ada yang terlalu mendesak, hingga aku harus kesana," jawab Bella.
"Hmmm... Baiklah kalau begitu...! Maafkan aku merepotkanmu," kata Marco.
"Marco...! Jangan memulainya lagi! Kamu masih menganggap aku seperti orang lain bagimu?" ujar Bella.
"Maaf... Bukan begitu maksudku..." jawab Marco pelan.
"Sudahlah...! Habiskan sarapanmu! Agar kita bisa cepat pergi ke gudang pertanian," ujar Bella.
Marco mengganggukkan kepalanya, dan tanpa banyak bicara lagi, menghabiskan semua sisa makanan yang masih ada dipiringnya.
Di gudang pertanian, Marco mengajari Bella yang pertama harus dilakukan, yaitu memerah susu sapi.
Bella tampak memperhatikan dengan bersungguh-sungguh, semua yang dijelaskan oleh Marco.
Bahkan, saat Bella mencoba melakukannya sendiri, dia bisa memerah susu sapi, hingga mensterilkannya, persis seperti yang diajarkan Marco.
Sisa pekerjaan yang lain, bukanlah hal yang sulit, tanpa Marco mengajarkan Bella, wanita itu bisa melakukannya sendiri.
Rutinitas pagi itu, memakan waktu singkat, karena Bella dan Duke yang membantu Marco di gudang pertanian itu.
Sepulangnya Marco dari menjual hasil ternaknya, tanpa berdiam terlalu lama dirumahnya, karena Bella yang membersihkan botol bekas susu, Marco kemudian pergi ke hutan, setelah berpamitan dengan Bella.
Seperti biasa, Marco mengubah bentuknya di tempat yang sama, kemudian terbang mengangkasa, mengarah langsung ke tempat tinggal keluarga Sums.
Disana, salah satu dari kakak kembar Adaline, menunggu Marco di lumbung, dengan membawa pakaian ganti untuk Marco.
"Terimakasih!" ucap Marco, setelah berpakaian dan berjalan keluar dari dalam lumbung.
Didepan rumah keluarga Sums, hampir semua anggota keluarga Sums, terlihat sudah berkumpul, dan tampaknya sudah siap untuk pergi ke pemukiman utama shapeshifter.
Yang agak mengherankan bagi Marco, semua anggota keluarga Sums, tidak mengubah bentuk mereka, dan tetap dengan bentuk manusianya saja.
__ADS_1
"Kita tidak berganti bentuk?" kata Marco.
"Tidak," jawab Flints.
"Sebaiknya kamu melihatnya saja sendiri. Kalau saya hanya menceritakannya, kamu mungkin akan kebingungan," lanjut Flints.
Dengan berjalan kaki, Flints mendorong gerobak bermuatan beberapa karung berisi jagung, dibantu oleh kedua kakak laki-laki Adaline.
"Apa saya bisa membantu?" tanya Marco.
"Tidak perlu... Tenaga kami bertiga sudah lebih dari cukup," jawab Flints.
Mereka semua berjalan menyusuri jalan setapak, diantara padang ilalang yang tingginya hampir sedada orang dewasa.
Menurut Marco jarak perjalanannya di padang ilalang itu, kurang lebih sama, dengan jarak dari pantai kerumah keluarga Sums, sebelum mereka berjalan menembus beberapa pohon besar, yang tampak seperti pagar hidup.
Dibalik pepohonan besar, Marco bisa melihat pemukiman yang tampak mewah, dan cukup padat.
Sepanjang mata Marco bisa memandang, rumah-rumah yang ada disitu, terlihat megah dengan pekarangan di masing-masing rumah yang lapang.
Jauh sekali perbedaannya dengan tempat tinggal keluarga Sums yang sederhana.
Pemukiman yang tampak seperti perumahan elit, cukup mengejutkan bagi Marco.
Benar-benar tidak seperti bayangan Marco, yang berpikir kalau pemukiman itu, kemungkinan akan tampak seperti pedesaan.
Jalanan yang di aspal hitam mulus, dengan ramai kendaraan bermotor yang berlalu-lalang.
Marco rasanya tidak bisa percaya, dengan apa yang sedang dia lihat sekarang.
"Hari perdagangan seperti sekarang, bukan hanya kaum shapeshifter saja yang ada disini. Banyak manusia biasa yang datang untuk berbelanja, dan berjalan-jalan didaerah ini," kata Seba.
"Itu sebabnya, kita harus menjadi manusia. Agar tidak menakuti para turis dan pelaku perdagangan," lanjut Seba.
"Dimana letaknya kastil Alfa?" tanya Marco.
"Dikaki gunung disebelah sana!" jawab Seba, sambil menunjuk kesalah satu arah.
Tidak terlihat bangunan apa-apa disana, hanya ada pepohonan yang rindang.
"Kamu tidak akan bisa melihatnya dari dataran ini," celetuk Seba.
"Hutan itu terlalu tebal. Kamu hanya bisa melihat kastil, jika kamu terbang naik keatasnya, atau kamu berjalan menembus pepohonan didalam hutan itu," lanjut Seba.
"Satu lagi! Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan mendekat ke kastil tanpa ijin. Kalau terlalu berani, bisa-bisa dibunuh, atau disiksa terlebih dahulu sampai mati," sela Flints.
__ADS_1
"Penjaga kastil, tidak berhenti berpatroli selama dua puluh empat jam bergantian, tanpa ada sela waktu lengang," lanjut Flints.