
Amis cairan darah lawannya, diludahkan Marco bersama sisa potongan daging berbulu kasar yang masih menempel, dan tertinggal didalam mulutnya.
Tanpa rasa bersalah atau menyesal sedikitpun, Marco seakan-akan sudah terbiasa membunuh, dan mengoyak daging dari mahluk hidup seperti itu.
Marco mendorong-dorong dengan kaki harimau-nya, semua potongan tubuh yang berhamburan, dan mengumpulkan semuanya yang masih bisa dia lihat, menjadi beberapa tumpukan.
Entah mengapa, Marco bisa merasakan, dan mencium aroma ketakutan Beta diudara, tapi Marco tidak mau terlalu memperdulikannya, dan tetap mengumpulkan sisa-sisa lawannya.
Akan tetapi lama kelamaan, aroma ketakutan Beta mengganggu penciuman dan perasaan Marco, dan itu memicu kekesalannya kepada Beta.
"Ada apa denganmu? Apa yang membuatmu takut?" tanya Marco dengan suara meninggi.
"Kamu bisa merasakan ketakutanku? Maafkan aku... Aku hanya khawatir kalau-kalau kamu marah, karena aku tidak cepat menyusul kesini," jawab Beta.
"Untuk apa kamu mengumpulkan itu semua?" tanya Beta.
"Agar coyote bisa memakannya dengan baik, tanpa perlu mengendus-endus sampai ke pagar pembatas," jawab Marco datar.
"Kamu lebih baik mencari kegiatan lain daripada hanya menontonku disini," lanjut Marco.
"Oh iya, aku baru ingat!" ujar Beta terdengar seperti sedang terkejut.
"Aku pergi memeriksa sekeliling wilayah ini dulu," lanjut Beta.
"Iya. Pastikan kalau tidak ada yang lain didekat sini, selain ini," ujar Marco, sambil menunjuk dengan kakinya, potongan daging serigala lawannya tadi.
Beta kemudian berlari menjauh, meninggalkan Marco yang seolah-olah hanya sedang menyapu sampah disitu.
Setelah semua potongan tubuh dirasa Marco sudah terkumpul, dan Marco memilih untuk duduk sebentar didekat situ, Marco kemudian bisa merasakan sedikit sakit di bagian punggungnya.
Punggung Marco mungkin terluka, karena gigitan serigala musuh tadi.
Marco kembali berdiri, lalu berganti bentuk menjadi seekor anjing biasa, dan berlari kembali ke rumahnya.
Bella masih berdiri di beranda bagian depan rumah, ketika Marco tiba disitu, dan berjalan masuk kedalam rumah.
Pakaian yang dipakai Marco tadi sudah habis terkoyak, dan Marco perlu mengambil baju ganti sebelum berubah bentuk kembali menjadi manusia.
Ketika, Marco berubah menjadi manusia didalam kamarnya dan hendak mengambil pakaian, Bella tampak berdiri disampingnya.
Bella berwajah tegang, bahkan terlihat seperti sedang ketakutan, bercampur cemas, Marco tidak bisa menggambarkan dengan baik, bagaimana raut wajah Bella saat ini.
"Kamu tidak apa-apa? Kamu berlumuran dengan darah, dan ada luka di punggungmu..." kata Bella pelan, dengan mata berkaca-kaca seolah-olah dia akan menangis.
"Aku tidak apa-apa... Tidak perlu cemas," kata Marco, lalu bergegas pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Marco buru-buru menyalakan air pancuran, dan membersihkan dirinya disitu.
Air bilasan yang mengalir dari tubuh Marco, keruh berwarna kemerahan.
Entah sebanyak apa darah yang menempel ditubuhnya kalau begitu.
Atau mungkinkah kalau itu darah yang mengalir dari lukanya?
Karena setelah beberapa saat Marco menyiramkan tubuhnya disitu, air bekas mandinya masih kemerahan.
Pintu kamar mandi kemudian terbuka.
Marco melihat kearah pintu, dan Bella sedang berjalan masuk, menghampiri Marco.
"Untuk apa kamu ikut kesini? Kamu jadi basah semua," ujar Marco, dengan memunggungi Bella, dan hanya menolehkan kepalanya saja, untuk melihat wanita itu.
Bella tidak berkata apa-apa, dan tampak memperhatikan punggung Marco.
Terdengar suara terisak dibelakang Marco, kelihatannya sekarang Bella sedang menangis, dan Marco buru-buru berbalik.
"Sayang... Jangan menangis... Aku tidak apa-apa," ujar Marco, sambil memeluk wanita itu, dan menciumnya dengan lembut.
Bella tampaknya sangat cemas karena melihat luka dipunggung Marco, hingga membuatnya tidak bisa berhenti menangis, meski Marco sedang menciumnya sekarang.
"Jangan menangis lagi..." kata Marco pelan, sambil mengusap wajah Bella.
"Oke! Kamu mau kita mandi sama-sama? Selesai mandi kita perginya," ajak Marco.
"Jangan menangis lagi, ya?!" kata Marco lagi.
Bella menganggukkan kepalanya, dan masih terlihat sesenggukan.
Marco menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan pelan.
"Maafkan aku, sudah membuatmu cemas," kata Marco, lalu kembali mencium Bella, sebelum mereka berdua mandi bersama didalam situ.
Selama ini, Marco tidak pernah melihat Bella menangis, dan kali ini bella menangis sampai matanya terlihat bengkak karena Marco.
Diperjalanan kerumah sakit, Bella tidak banyak bicara, dan hanya menatap lurus kearah jalanan, meskipun Marco sesekali meliriknya, dan mencium punggung tangan wanita itu, sambil mengemudi.
Luka Marco dirawat oleh dokter, dan tampaknya luka yang didapatkan Marco cukup besar, hingga perlu dijahit dengan beberapa jahitan.
Bella masih tidak mengeluarkan suaranya, sambil menunggu Marco dirawat didalam ruangan dokter itu.
Marco benar-benar tidak tega melihat Bella, yang wajahnya masih terlihat sembab, sambil memandangi Marco.
__ADS_1
Beberapa kali Marco berusaha membuat Bella untuk tersenyum, tapi tidak ada yang berhasil, meski Marco sudah memasang wajah konyol, Bella tetap terlihat tidak terpengaruh.
"Kamu sudah dengar kata dokter tadi, 'kan? Kalau aku tidak apa-apa. Tidak usah terlalu cemas, sayang..." ujar Marco, ketika mereka sudah dijalan pulang kerumah.
"Apa gunanya Beta?" tanya Bella tiba-tiba.
Mata Marco terbelalak.
"Apa gunanya Beta dan anggota keluarga Sums?" tanya Bella, dengan suara meninggi.
"Sayang..." kata Marco.
"Kamu berkelahi sendirian, bukan?" tanya Bella lagi.
Marco hanya bisa terdiam.
"Lalu, apa gunanya Beta dan anggota keluarga Sums? Kalau kamu harus melawan sendirian," kata Beta ketus.
"Karena dia lambat bereaksi, Beta sudah meminta maaf denganku tadi..." ujar Marco.
"Kalau keluarga Sums, mereka hanya shapeshifter biasa, dan tidak bisa diharap untuk bertarung..." lanjut Marco.
Bella terlihat kembali menangis, dan menyambar air mata diwajahnya dengan kasar menggunakan tangannya.
Marco menghentikan mobilnya dipinggir jalan, dan memarkirkannya disana, kemudian memeluk Bella dengan erat.
"Sayang... Apa yang harus aku lakukan? Agar kamu bisa berhenti menangis," ujar Marco pelan.
"Maaf... Aku hanya terlalu cemas, hingga tidak bisa berpikir jernih," kata Bella, sambil terisak-isak.
"Aku mencintaimu... Aku takut kalau terjadi apa-apa denganmu," lanjut Bella.
"Aku tahu, sayang... Aku tahu..." ujar Marco.
"Kalau ada sesuatu, aku tidak akan pergi sendirian lagi. Aku nanti menunggu Beta, untuk pergi bersamaku," lanjut Marco.
Bella menganggukkan kepalanya, dan tampak berusaha keras agar tidak lagi menangis.
"Apa sekarang aku bisa mendapat senyuman, juga ciuman darimu?" tanya Marco, lalu tersenyum lebar.
Bella memukul dada Marco, sambil memasang wajah sangar, dan menatap Marco lekat-lekat.
Tidak berapa lama, dengan kedua tangannya yang memegang kedua sisi wajah Marco, Bella kemudian mencium Marco.
"I love you, so much!" ucap Marco.
__ADS_1
"I love you, too..." kata Bella, lalu tersenyum.
Disisa perjalanan mereka berdua kembali kerumah, Bella sudah terlihat jauh lebih tenang, dan bisa tersenyum lebar, ketika Marco menggendongnya, dan membawanya duduk dibangku di beranda depan rumah.