
Kelihatannya, Delta masih merasa tidak puas dengan apa yang dia pikirkan semalam.
Delta lebih banyak berdiam diri, dan tampak menghindari siapa saja yang mencoba mengajaknya bicara.
Hingga pagi ini pun, tingkah Delta masih sama.
Meskipun Marco bertanya ada apa, namun Delta masih saja mengunci mulutnya rapat-rapat.
Ketika Marco mengajak mereka untuk bertarung, Delta meminta izin kepada Marco untuk tidak ikut berlatih siang itu.
Karena itu juga, Marco mempersingkat waktu latihannya.
Pertarungannya yang hanya melawan Beta dan Gamma, dirasa Marco terlalu mudah, hingga membuat Marco merasa bosan.
"Apa yang sedang dipikirkan Delta?" tanya Beta, ketika mereka semua baru saja selesai berganti ke bentuk manusia, dan berjalan mendekati Delta yang tampak duduk dibawah pohon maple.
Marco maupun Gamma hanya terdiam, dan tetap berjalan pelan, hingga akhirnya ikut duduk dengan Delta dibawah pohon itu.
Delta terlihat seperti sedang melamun, dan menatap lurus, tanpa memperdulikan kedatangan Marco, Beta dan Gamma.
Untuk beberapa waktu lamanya mereka disitu, tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan sepatah kata pun.
Benar-benar hanya terdiam.
"Sayang! Tadi, ada telepon dari biara," kata Bella yang terlihat berjalan menghampiri mereka disitu.
"Ada apa?" tanya Marco.
"Katanya, suster Martha jatuh sakit, dan ingin bertemu denganmu," jawab Bella.
Marco tertegun.
Sudah cukup lama Marco tidak mendengar kabar tentang suster Martha, sejak kedatangan terakhir Marco ke biara, dan menyadarkan wanita itu dari tidur panjangnya.
Lalu sekarang, dia jatuh sakit?
"Sakit apa?" tanya Marco.
"Apa ada mereka beritahu?" lanjut Marco buru-buru.
"Tidak ada. Mereka hanya mengatakan kalau suster Martha keadaannya sekarang sangat lemah, dan ingin secepatnya bisa bertemu denganmu," jawab Bella.
"Hmmm... Baiklah! Aku akan kesana setelah makan siang," ujar Marco.
"Makan siang sekarang saja! Makanannya sudah siap," ajak Bella.
Marco kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan pelan sambil merangkul Bella.
"Kalian tidak mau makan?" tanya Marco tanpa berbalik.
Tidak berapa lama, Marco bisa merasakan kalau ada yang mendekat di belakangnya, dan berjalan mengikutinya.
"Mereka sudah lama tinggal disini. Tapi, mereka masih bertingkah seperti orang asing, yang perlu di ajak dulu, barulah mereka mau ikut makan," celetuk Marco.
__ADS_1
Ketika sudah didalam rumah, barulah Marco menyadari kalau Delta tidak ikut dengannya, dan hanya Beta dan Gamma yang menyusulnya tadi.
"Dimana Delta?" tanya Marco heran.
"Dia masih duduk dibawah pohon," jawab Gamma.
"Panggil dia masuk! Sampai kapan dia perlu terus-terusan menyendiri?!" ujar Marco.
Gamma kemudian setengah berlari, keluar dari rumah, sedangkan Beta, ikut duduk di meja makan bersama Marco.
Delta akhirnya terlihat menghampiri meja makan itu, bersama Gamma.
"Setelah selesai makan siang, kamu harus bicarakan tentang apa yang kamu pikirkan!" kata Marco tegas.
Delta kemudian menganggukkan kepalanya.
"Iya," jawab Delta.
Tanpa berlama-lama, setelah semua sudah selesai menghabiskan makan siangnya, dan Bella juga Seba sudah mengangkat semua peralatan bekas makan mereka, Marco mengajak delta untuk berbicara.
"Katakan, ada apa!" ujar Marco.
"Aku masih memikirkan tentang kemungkinan kalau Mommy-mu itu memang seorang Peri," kata Delta.
"Lalu apa?" tanya Marco.
"Justru itu aku belum bisa membicarakannya, karena aku juga masih bingung," jawab Delta.
"Maaf menyela pembicaraan kalian... Tapi, apa kalian bisa bicara di perjalanan ke biara saja?" tanya Bella pelan.
"Yang aku dengar di telepon tadi, mereka di biara tampaknya ingin kamu segera pergi kesana," lanjut Bella.
"Apa kamu akan ikut denganku?" tanya Marco.
"Aku masih merasa lelah karena perjalanan kita kemarin," jawab Bella.
"Kamu pergi dengan Delta saja! Biar aku dan Gamma menjaga Bella disini," sela Beta.
"Hmmm... Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri kesana. Kalian bertiga berjaga-jaga saja disini," ujar Marco.
"Sayang! Aku pergi dulu, kalau butuh sesuatu dan aku belum kembali, kamu bisa mengatakannya kepada mereka, atau hubungi saja telepon biara...
Aku akan segera kembali, kalau tidak ada yang perlu aku lakukan disana," lanjut Marco, lalu memeluk Bella sebentar.
"Iya. Hati-hati dijalan!" kata Bella.
Terik matahari tidak terlalu terasa panasnya, disaat memasuki musim gugur seperti sekarang ini.
Pepohonan di samping kiri-kanan badan jalan, dedaunannya kini mulai menguning, hanya dengan sedikit gangguan, maka akan habis terjatuh ketanah.
Pemandangan berbeda ketika memasuki wilayah biara dan panti asuhan.
Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, masih terlihat asri kehijauan, dan tampak menyegarkan penglihatan.
__ADS_1
Masih seperti saat Marco berkunjung kesana beberapa waktu yang lalu, di halaman biara dan panti asuhan tampak lengang, tanpa ada kendaraan yang terparkir.
Setelah memarkirkan mobilnya, Marco berjalan pelan mendatangi bangunan biara, dan nampaknya Marco memang sudah ditunggu kedatangannya.
"Selamat siang, Suster!" ucap Marco memberi salam.
"Selamat siang! Silahkan masuk! Suster Martha sudah menunggu didalam," kata salah satu wanita berseragam keagamaan, yang berdiri di depan pintu biara.
"Terimakasih!" ujar Marco, kemudian berjalan pelan memasuki biara.
Tidak berapa lama Marco berjalan, terlihat suster Maria berjalan dengan cukup cepat, dan menghampiri Marco.
"Sebaiknya kamu bergegas!" ujar suster Maria, tanpa memberikan Marco kesempatan untuk memberi salam kepadanya.
"Suster Martha sakit apa?" tanya Marco sambil berjalan mengikuti langkah suster Maria.
"Kami juga tidak tahu... Secara tiba-tiba saja, dia jatuh sakit, dan dokter tidak bisa memberikan diagnosa yang tepat untuk penyakitnya...
Itu sebabnya, kami menghubungimu. Karena, mengingat waktu itu, Tuhan bekerja melalui tanganmu," jawab suster Maria.
Marco tidak mengomentari perkataan suster Maria, karena dia tahu betul apa yang terjadi pada suster Martha waktu itu.
Bukanlah mukjizat Tuhan yang dibawa Marco, melainkan hanya mematahkan kejahatan makhluk kejam yang tidak memiliki belas kasihan.
Dan itu justru membuat Marco merasa malu, karena dialah penyebab utama, hingga suster Martha bisa mengalami kejadian itu.
Didalam ruangan yang sama seperti terakhir kalinya Marco bertemu dengan suster Martha, hari ini suster Martha juga terbaring disana.
"Dia mendadak kehilangan kesadaran, saat sedang belajar berjalan," kata suster Maria.
Marco manggut-manggut mengerti.
Wajar saja.
Selama kurang lebih lima belas tahun tanpa pergerakan apa-apa, tentu saja suster Martha akan butuh waktu untuk melatih tubuh dan saraf motoriknya, agar bisa berjalan dan bergerak normal kembali.
"Sudah berapa lama Suster Martha seperti ini?" tanya Marco.
"Sudah hampir tiga hari," jawab suster Maria.
Menurut Marco, tidak ada yang aneh dari penampilan suster Martha, jika dibandingkan dengan saat Marco melihatnya waktu itu.
Mungkin saja, memang tidak ada apa-apa.
Suster Martha memang hanya sakit biasa.
Untuk memastikan, Marco kemudian menyentuh tangan suster Martha yang tergeletak lurus disamping tubuhnya, yang ditutupi dengan selimut.
Tidak terjadi apa-apa.
Suster Martha tidak bereaksi dengan sentuhan Marco.
"Maaf, Suster!" ucap Marco.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Memang bukanlah kemauan kita yang jadi, melainkan semuanya adalah kehendak Tuhan!" ujar suster Maria.
"Terimakasih, karena sudah mau mencoba dan mengunjungi suster Martha!" lanjut suster Maria.