
"Jangan ada lagi yang bertingkah bodoh!" kata Beta memperingatkan.
Delta tampak menundukkan kepalanya, sedangkan Marco hanya memalingkan wajahnya, dari Beta dan Delta yang berdiri bersebelahan.
"Kami baru saja jeda berlatih. Alpha juga sedang terluka. Itu sebabnya dia tidak bisa terlalu memaksa untuk berlatih bertarung...
Dengan memaksakan keadaannya, tidak akan menguntungkan siapa-siapa," kata Beta yang tampak menjelaskan duduk persoalan kepada Delta.
"Apa yang terjadi? Hingga Alpha bisa terluka," tanya Delta, sambil menatap Beta.
"Pengikut Alpha pengganti datang memeriksa ketempat ini," jawab Beta.
"Jadi, Alpha terluka karena bertarung dengan mereka?" tanya Delta lagi.
"Aku ada disini. Kamu bisa menanyakan langsung padaku. Jangan berpura-pura seperti aku tidak terlihat di matamu!" ujar Marco.
Baik Delta maupun Beta akhirnya hanya terdiam mendengar perkataan Marco.
"Berikan aku sedikit waktu untuk beristirahat, dan kita bisa berlatih bertarung kembali," kata Marco.
Beta kemudian menghampiri Marco dan duduk disebelahnya, dan begitu juga dengan Delta yang tampak berhati-hati mengambil tempat duduk di sebelah Beta.
"Maafkan aku... Aku sama sekali tidak tahu kalau ada yang terjadi di sini," celetuk Delta, tampak menyesali tingkah buruknya.
Marco hanya mendengus, dan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, kamu sudah tahu cara menggunakan kemampuanmu, untuk membedakan shapeshifter?" tanya Delta.
"Iya. Tapi, aku belum bisa membedakan seorang dari yang lain. Aku hanya bisa membedakan antara kawan atau lawan," jawab Marco.
"Itu bukan masalah besar. Nanti kamu pasti bisa membedakan kami. Aku rasa mungkin saat Alpha pengganti sudah tersingkir, dan kamu menguasai tahtamu," kata Delta.
"Bagaimana dengan mengutuk dan melepaskan kutukan? Apa kamu sudah pernah mencobanya?" tanya Delta.
"Maksudmu?" Marco balik bertanya.
"Kamu seharusnya bisa melepaskan kutuk dari shapeshifter kepada manusia biasa," jawab Delta.
Marco teringat akan suster Martha yang menurut pengakuannya, suster Martha dikutuk agar menjadi *vegetatif oleh Alpha pengganti, dan Marco melepaskannya dari kutukan itu.
(*vegetatif \= merupakan keadaan di mana manusia tersebut hidup, bernapas dan jantungnya berdenyut, namun tidak ada kontak, dan tidak menyadari dengan kondisi di sekitarnya.)
"Aku sudah pernah melepaskan kutukan dari seorang suster yang melindungiku," jawab Marco.
"Maksudmu, kamu mengutuknya lalu melepaskannya lagi?" tanya Beta.
"Kamu bercanda? Untuk apa aku mengutuk seseorang yang baik kepadaku?" ujar Marco.
"Suster itu dikutuk Alpha pengganti, dan aku membuatnya kembali tersadar, dari mimpi panjangnya," lanjut Marco.
Beta dan Delta tampak bertatap-tatapan dengan raut wajah seolah-olah mereka sedang kebingungan.
"Kami tampaknya masih kurang tahu tentang dirimu..." celetuk Beta.
__ADS_1
"Tentang apa?" tanya Marco.
"Kamu ternyata bisa melepaskan kutukan dari shapeshifter lain..." jawab Beta.
"Apa kamu pernah mengutuk manusia?" tanya Beta.
"Tidak. Aku bahkan tidak tahu untuk apa ada kekuatan seperti itu. Hanya untuk menyiksa manusia biasa. Apa bagusnya?" tanya Marco.
"Sebenarnya kekuatan itu tidak berguna untuk melawan Alpha pengganti....
... Itu digunakan shapeshifter, agar bisa bersembunyi dari manusia biasa, saat kita sedang terdesak," jawab Beta.
"Yang berguna justru kemampuanmu untuk berdamai, dan berkomunikasi dengan hewan asli...
... Kamu bisa meminta bantuan mereka, saat kita bersiap untuk menyergap masuk kedalam kastil," lanjut Beta.
"Aku belum pernah mencobanya. Selain yang menurut kalian itu berdamai'," ujar Marco datar.
"Apa kamu tidak mau mencoba untuk berkomunikasi dengan hewan liar?" tanya Beta.
"Aku mau saja. Tapi, apa kalian mau aku mencari hewan liar sekarang?" tanya Marco.
"Di kota seperti ini, tidak mudah mencari hewan liar. Kecuali di malam hari. Kemungkinan ada coyote yang berkeliaran di sekitar sini," lanjut Marco.
Delta yang sedari tadi hanya terdiam, menampakan dengan jelas kalau ada sesuatu yang sedang dia pikirkan, dan belum mau untuk mengutarakan isi pikirannya itu kepada Marco maupun Beta.
Marco juga tidak tertarik untuk mengajaknya berbicara, dan tampaknya begitu juga dengan Beta, yang sekarang malah berbaring di bawah pohon maple itu.
"Siapa ini?" celetuk salah satu saudara laki-laki Adaline, yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.
"Namaku Fent!" kata Fent memperkenalkan diri.
"Marco! Aku datang ke sini di minta Bella, untuk menemuimu. Katanya, dia mau berenang di sungai bersama Adaline," ujar Fent.
"Kenapa dia tidak mengatakannya langsung kepadaku?" tanya Marco.
"Bella bersama Adaline sedang mempersiapkan bekal untuk makan siang di sana," jawab Fent.
"Dia tidak bisa pergi sendiri, aku akan menemaninya," ujar Marco, lalu berdiri dari duduknya, dan bersiap-siap berjalan ke rumah.
"Aku juga mau ikut!" kata Beta yang tampak buru-buru berdiri dan hendak berjalan bersama Marco.
"Bagaimana denganmu Delta?" tanya Beta.
"Aku ikut!" jawab Delta.
Marco kemudian berjalan sambil disusul Beta, Delta dan Fent.
"Aku pernah melihat sungai yang bagus di hutan lindung kota ini," celetuk Beta.
"Iya, aku tahu," kata Marco.
Ketika mereka masuk ke dalam rumah, Bella dan Adaline, serta Seba dan Fint terlihat sedang sibuk memasukkan makanan ke dalam tempat bekal.
__ADS_1
"Kalian semua mau ikut?" tanya Bella.
"Iya," jawab Marco.
"Tidak akan kubiarkan kamu ke mana-mana tanpa aku," lanjut Marco.
Bella hanya tersenyum sambil melanjutkan kegiatannya.
Adaline tampak senyum-senyum sendiri.
"Ada apa Adaline?" tanya Marco.
"Eh! Itu siapa?" tanya Adaline, sambil menunjuk Delta yang berdiri agak jauh dari mereka.
"Delta. Kamu berkenalan saja dulu dengannya," jawab Marco, lalu mengangkat sebagian barang-barang bawaan yang sudah dikemas.
"Tunggu sebentar! Aku tambahkan bekal makan siang kita dulu," kata Seba.
Seba kemudian memasukkan tambahan makanan, kedalam tempat bekal yang akan dibawa mereka.
"Biar kami saja yang membawanya!" kata Beta, kemudian mengambil barang-barang yang sudah dipegang Marco.
Berikut juga barang-barang yang lain, yang diambil Delta, dan kedua saudara laki-laki Adaline.
"Kita pakai mobilmu saja, ya?! Kami bisa duduk di bak belakang," kata Fent memberi saran.
"Oke! Terserah kalian saja!" ujar Marco.
Semua kini sudah siap untuk pergi, Marco yang menyetir, dan Bella duduk di sampingnya, sedangkan sisanya duduk di bak bagian belakang mobil Marco, sambil membawa barang-barang bawaan mereka.
"Tumben kamu mau pergi ke sungai..." celetuk Marco, ketika mobilnya mulai berjalan.
"Aku bosan di rumah terus. Tidak apa-apa 'kan? Sekalian, kita bisa piknik beramai-ramai, pasti akan seru," ujar Bella.
"Tidak apa-apa, asalkan kamu tidak pergi sendirian..." jawab Marco.
"Kamu mau pergi ke sungai yang ada di mana?" tanya Marco.
"Yang ada di hutan lindung. Aku dulu pernah pergi ke sana. Ada air terjunnya," jawab Bella tampak bersemangat.
"Tapi, berjalan kaki ke sana cukup jauh, dari pinggir jalan raya," ujar Marco.
"Hmmm... Jangan bilang kamu tidak mau ke sana..." kata Bella lesu.
"Tidak, sayang... Aku hanya berpikir, apa kamu tidak akan kelelahan berjalan kaki sejauh itu," ujar Marco pelan.
"Aku rasa, itu tidak jadi masalah... Kalau aku lelah, kamu bisa menggendongku, kan?" ujar Bella.
"Tentu saja," jawab Marco.
"Hmmm ... Apa ada yang terjadi tadi di antara kalian bertiga?" tanya Bella.
"Apa maksudmu? Setahuku, tidak ada apa-apa," ujar Marco.
__ADS_1
"Lalu, kenapa wajah Delta tampak terluka?" tanya Bella.