
Memakan waktu cukup lama bagi Marco mengajari saudara laki-laki Adaline, untuk mengemudi.
Dan kelihatannya kedua saudara laki-laki Adaline itu sangat bersemangat untuk belajar, dan panjang menyerah.
Untuk beberapa waktu, hasil belajarnya sudah sedikit terlihat.
Fint dan Fent yang diajarkan Marco secara bergantian, sudah bisa mengemudi meski masih belum lancar.
Paling tidak, mereka sudah bisa menjalankan mobil dari awal, tanpa membuat mesin kendaraannya mati.
"Besok kita mencobanya lagi!" kata Marco, ketika dia sudah berhenti mengajari Fint dan Fent mengemudi.
Hingga Marco keluar dari mobil, dan menghentikan kegiatan belajar mengemudi Fint dan Fent, Bella tampak duduk dibangku yang ada beranda rumah Marco.
Tapi, setelah Marco sempat beberapa kali pulang pergi dengan mobilnya, untuk kali ini Bella tidak lagi duduk sendirian.
Terlihat ada Beta yang sedang menemani Bella di beranda itu, meskipun Beta hanya duduk dilantai sambil bersandar dipagar, dan hanya Bella yang duduk di bangku.
Mereka berdua terlihat sedang berbincang-bincang disana, hingga Marco menghampiri dan pembicaraan mereka berdua juga terhenti begitu saja.
"Sedang membicarakan apa?" tanya Marco, kemudian duduk disebelah Bella.
"Kenapa kamu duduk dilantai?" tanya Marco kepada Beta.
"Tidak apa-apa... Aku hanya menemani pasangan Alpha, yang sedari tadi hanya duduk sendiri," jawab Beta.
Salah satu saudara laki-laki Adaline yang tertinggal, saat saudara kembarnya belajar mengemudi dengan Marco, memang terlihat selalu memilih duduk di beranda rumah bagian samping.
Walaupun demikian, meskipun Beta mungkin memang hanya berniat menemani Bella, tetap saja Marco merasa tidak terlalu senang, saat melihat Beta berada didekat Bella, tanpa adanya orang lain lagi disekitar mereka.
Apalagi, Beta tampak menunjukkan rasa tertariknya saat menatap Bella.
"Kenapa tidak mengajak Adaline untuk menemanimu didepan sini?" tanya Marco kepada Bella.
"Hmmm... Terimakasih untukmu! Karena aku tidak di izinkan untuk melakukan apa-apa, Adaline dan Seba jadi sibuk membuat kue untuk tokoku besok....
Dan aku tidak nyaman, kalau aku duduk didekat mereka, lalu melihat mereka bekerja, tanpa aku bisa ikut membantu," jawab Bella ketus.
"Bukannya memang lebih baik kalau kamu beristirahat saja?" tanya Beta, sambil menatap Bella.
"Aku bosan, kalau tidak ada yang bisa aku lakukan..." jawab Bella.
"Disini ada Marco, aku, Fint dan Fent, selain Seba dan Adaline, yang bisa kamu ajak mengobrol. Daripada termangu sendirian. Jadi, kamu tidak akan merasa bosan," ujar Beta.
__ADS_1
Kalau Marco memperhatikan baik-baik perkataan Beta, tampaknya Beta sekarang ini sedang menawarkan diri, untuk menjadi teman bicara Bella.
Apa memang benar dugaan Marco?
Jangan bercanda...
Marco akan selalu ada untuk Bella.
"Apa yang mau kamu lakukan, agar kamu tidak merasa bosan?" tanya Marco kepada Bella.
"Apa kamu mau jalan-jalan denganku?" tanya Marco lagi.
"Tidak. Aku juga tidak tahu mau pergi kemana... Mungkin lebih baik, kalau aku mendengarkan cerita Beta saja disini," jawab Bella.
Marco terdiam.
"Tadi, Beta sedang menceritakan pengalamannya, saat berkelana di beberapa kota lain," lanjut Bella.
Mau saja rasanya, Marco mengangkat Bella, dan membawanya pergi dari situ saat itu juga.
Tapi, sudahlah...
Bella akan makin sebal dengan Marco nanti, kalau Marco membuat terlalu banyak aturan, dan terlalu membatasi gerak-gerik Bella.
Setelah mendengarkan cerita Beta cukup lama, memang kedengarannya cukup menarik, ketika Beta menceritakan tempat-tempat baru, dan bagaimana shapesifter disana.
Lama kelamaan, Marco bisa ikut menikmati cerita dari pengalaman Beta, selama Beta pernah berkeliaran dengan bebasnya.
Tapi, disela-sela pembicaraan mereka, Marco merasa seolah-olah ada yang tidak beres.
Bulu kuduknya terasa berdiri, meskipun dia tidak merasa dingin sama sekali, dan kemarahannya memuncak tiba-tiba, hingga membuatnya berdiri dari tempat duduknya.
Seketika itu juga, Marco tersadar.
Perasaan itu, sama ketika dia memukul Beta diantara anggota keluarga Sums, waktu itu dibelakang rumah.
Tanpa sempat berkata apa-apa, Marco berlari mengarah kemana yang dirasakannya kalau ada yang tidak beres, meskipun sebenarnya dia tidak melihat ada apa dan dimana, dan hanya mengikuti instingnya saja.
"Ada apa?"
Suara Beta yang bertanya, tidak sempat dijawab Marco, saking cepatnya dia berlari.
Semua terasa spontan saja, Marco berubah menjadi seekor cheetah, dan berlari menembus area peternakan, hingga keluar dari pagar pembatas.
__ADS_1
Kini didepan Marco terlihat dua ekor serigala besar, dan tidak sebanding dengan ukuran cheetah yang kecil, Marco kembali berubah bentuk menjadi harimau.
Tanpa memperlambat laju larinya, Marco menyambar, dan menggigit salah satu dari serigala itu, dan membantingnya ketanah.
Tidak berhenti sampai disitu, Marco bertarung dengan serigala yang satunya lagi, yang tampak memang siap untuk menyerang Marco.
Marco menangkap bagian kepala salah satu serigala, dan tidak terlalu memperdulikan serigala yang lain, yang mengigit bagian punggung Marco.
Ketika Marco menggigit kepala salah satu serigala itu, suara tulang tengkorak yang pecah karena tekanan gigitan Marco, terdengar renyah seperti sedang mengunyah biskuit krekers.
Tapi, Marco tidak berhenti, dan memang tidak berniat untuk melepaskan gigitannya, hingga kepala serigala itu terbelah dua, dan separuh potongan kepala tertinggal dimulut Marco, saat serigala itu terbaring ketanah.
Marco meludahkan potongan kepala serigala yang satu itu, dan bersiap menghabisi serigala yang lain yang menggantung di punggungnya.
Hanya dengan Marco berguling ditanah saja, serigala yang terjepit dengan berat badan Marco, melepaskan gigitannya dari punggung Marco.
Serigala itu kemudian terlihat seolah-olah akan melarikan diri, tapi kesempatan bagi serigala itu tidak banyak.
Baru saja serigala itu hendak berlari, Marco sudah menangkap salah satu kaki serigala itu dengan mulutnya, dan mencabik-cabiknya hingga kaki serigala itu terlepas dari badannya.
Belum cukup, Marco menggigit bagian punggung serigala itu dan mematahkan tulang punggungnya.
Masih dengan rasa tidak puas, Marco masih mencabik-cabik setiap bagian tubuh serigala itu, hingga terpotong-potong dalam bagian-bagian kecil.
Marco melakukan hal yang sama, kepada serigala yang kepalanya sudah terbelah dua, dan memperlihatkan otaknya yang hancur, dan berhamburan keluar dari sisa tulang tengkorak yang masih menempel disitu.
Marco baru berhenti, ketika Beta menghampirinya dengan bentuk serigala, dan mencoba menenangkan Marco.
"Marco...! Mereka sudah mati...!" kata Beta pelan.
Marco menatap Beta dengan amarahnya, tapi Beta tidak mundur, dan tetap berusaha menenangkan Marco.
Beta kemudian tampak membungkuk, dengan kepalanya yang menyentuh tanah, seolah-olah sedang memberi hormat kepada Marco.
"Alpha tenangkan dirimu...! Maafkan aku yang datang terlambat. Tapi, mereka semua sudah mati," kata Beta pelan.
Marco seakan tersentak, dan baru tersadar akan apa yang baru saja terjadi.
Marco melihat kesana kemari.
Darah segar berceceran dimana-mana membasahkan rerumputan, yang sebagian besar sudah tergilas rata dengan tanah.
Berikut juga potongan daging, organ dalam tubuh, dan tulang yang berserakan, tempat itu menjadi tempat pembantaian, yang tampak cukup menjijikkan dan mengerikan.
__ADS_1