
Gamma tampaknya merasa sangat kesakitan karena perlakuan Beta tadi.
Gamma bahkan hampir tidak bisa berdiri, dan Marco yang kemudian membantunya.
Marco dengan bentuknya yang separuh manusia dan separuh great horned owl, terbang mengangkasa mengejar Beta.
Dan tidak berapa lama, Marco sudah berhasil menangkap Beta, dan membawanya menukik turun dari angkasa.
"Aku hanya bercanda!" ujar Beta.
Marco tidak menanggapi perkataan Beta, dan tetap memegangnya, hingga akhirnya Marco mendarat di permukaan tanah.
"Masing-masing dari kalian harus memperhatikan tanda-tanda kecacatan antara satu sama lain...
Kalian juga harus melindungi titik kelemahan di badan kalian itu, dan menghindari serangan ke bagian itu, agar kalian tidak mudah dikalahkan..." ujar Marco.
"Dan jangan bercanda!" lanjut Marco tegas sambil menghadap ke arah Beta.
"Seperti apa?" tanya Delta.
Marco dan Beta sama-sama saling bergantian menunjukkan contohnya, hingga semuanya mengerti dengan apa yang dimaksud Marco.
Setelah saling memeriksa, baik Beta, Gamma, maupun Delta, memiliki satu tanda cacat di bagian tubuh mereka.
Masing-masing dari mereka bertiga, ada yang memiliki tanda di bagian leher, ada juga yang di perut, dan ada juga yang tandanya berada di bagian dada.
"Sekarang kalian harus memeriksaku! Apa ada tanda-tanda seperti itu," kata Marco.
Marco kemudian berubah bentuk tubuhnya, seluruhnya menjadi great horned owl.
Beta, Gamma dan Delta, kemudian memeriksa setiap bagian dari tubuh Marco.
Marco bahkan membuka sayapnya lebar-lebar, agar tidak ada bagian tubuhnya yang terlewatkan, dari pemeriksaan ketiga shapeshifter itu.
"Aku tidak menemukan apa-apa..." celetuk Beta.
"Periksa baik-baik!" ujar Marco tegas.
Beta terdiam, begitu juga Gamma dan Delta, yang sedari tadi mengerumuni Marco, dan melihatnya dari jarak yang sangat dekat.
"Tidak ada... Aku tidak menemukan apa-apa..." kata Beta lagi.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Beta.
"Tidak ada," jawab Delta.
"Kalau begitu, kami semua tidak ada yang menemukan satupun tanda itu di tubuhmu," kata Gamma.
Marco terdiam sambil memikirkan perkataan ketiga shapeshifter itu, dengan sedikit rasa tidak percaya, karena shapeshifter yang lain memiliki tanda cacat itu.
Marco kemudian terpikir untuk menyuruh mereka memeriksa telapak kakinya, dan Marco mengangkat satu persatu cakar-cakarnya.
"Lihat baik-baik!" ujar Marco.
Ketiga kepala elang itu saling menggelengkan kepala, setelah melihat cakar Marco.
"Nihil! Kamu memang tidak memiliki satupun titik kelemahan," kata Beta.
__ADS_1
"Apa kalian yakin?" tanya Marco.
Ketiga shapeshifter yang masih berbentuk elang, tampak saling melihat di antara mereka satu sama lain.
"Iya. Kami yakin!" jawab Beta.
Kali ini Marco yang terdiam.
Mudah-mudahan saja, mereka memang tidak melewatkan tanda ditubuh Marco.
"Ya, sudah!" ujar Marco.
"Kita bisa istirahat sebentar," lanjut Marco, lalu berjalan ke tempat dia meletakkan pakaiannya tadi.
Setelah kembali menjadi manusia dan berpakaian, Marco memilih untuk duduk dibawah pohon maple, dan ketiga shapeshifter tadi, satu persatu ikut duduk di situ.
"Aku rasa, kalau semua shapeshifter yang mendukungku bisa melihat tanda-tanda itu di tubuh pengikut Alpha pengganti, mereka akan menjadi petarung yang cukup kuat....
... Bahkan, aku rasa meski mereka hanya shapeshifter biasa, mereka tetap bisa mengalahkan pengikut Alpha pengganti," celetuk Marco.
"Dengan begitu juga, kita tidak perlu membunuh semua shapeshifter yang mengikuti Alpha pengganti. Cukup dengan memukul mereka jatuh saja....
... Kita bisa mengurangi korban jiwa sesama shapeshifter, yang bertarung hanya karena pergeseran kepemimpinan," lanjut Marco.
"Apa kamu yakin?" tanya Delta.
"Pengikut Alpha pengganti semuanya memiliki kekuatan yang sama seperti kami," lanjut Delta.
"Hmmm... Kalau kamu meragukanku, kita bisa mencobanya," ujar Marco.
Tanpa perlu Marco mengulang perintahnya, Gamma terlihat berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menuju ke rumah.
Tidak berapa lama berselang, Gamma terlihat berjalan kembali bersama Seba, dan mendekat ke tempat Marco, Beta dan Delta sedang duduk.
"Ada apa?" tanya Seba yang masih berdiri.
"Berganti bentuk sekarang juga!" kata Marco.
"Beta! Kamu juga pergi berganti bentuk!" lanjut Marco.
Seba kemudian tampak berjalan menjauh.
"Seba! Tunggu!" seru Marco menahan langkah Seba, dan membuat wanita itu akhirnya berbalik melihat Marco.
"Jangan memilih hewan yang besar! Cukup menjadi anjing seperti tadi," lanjut Marco.
"Baik!" jawab Seba kemudian lanjut berjalan menjauh.
"Sedangkan kamu ... Kamu harus memilih bentuk singa atau harimau!" ujar Marco kepada Beta.
Beta menganggukkan kepalanya, dan berjalan ke salah satu sudut di bagian belakang rumah Marco itu.
"Apa alasanmu menyuruh Beta untuk memilih bentuk di antara kedua hewan itu?" tanya Gamma, tampak penasaran.
"Tanda yang dimiliki Beta, ada di bagian dada, bukan?" tanya Marco.
"Iya," jawab Delta dan Gamma hampir bersamaan.
__ADS_1
"Kalau Beta berbentuk burung, dadanya akan terlihat dengan jelas, dan itu akan menjadi terlalu mudah...." ujar Marco.
"Oh, iya! Aku hampir lupa. Kamu juga harus berubah bentuk, tapi sebaiknya kamu menjadi seekor burung," kata Marco, sambil menatap Delta.
Meskipun Delta tampak belum mengerti dengan jalan pikiran Marco, Delta tetap melakukan perintah Marco.
Seba dengan bentuk anjingnya kemudian menghampiri Marco, dan dari sisi berlawanan, Beta juga tampak mendekat dengan bentuknya yang sudah menjadi seekor singa.
"Tunggu sebentar, hingga Delta kembali!" kata Marco.
Kini Delta datang mendekati Marco dengan bentuknya sebagai seekor elang.
"Oke! Seba dan Delta ikut denganku!" ajak Marco, sambil berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menjauh dari bawah pohon maple.
Setelah merasa sudah cukup jauh dari Gamma dan Beta, Marco kemudian berhenti berjalan.
"Seba! Aku mau kamu memperhatikan tanda ini baik-baik!" ujar Marco sambil menunjuk ke bagian perut Delta.
Seba tampak agak mendekat, dan memperhatikan bagian yang ditunjuk Marco.
"Kamu bisa mengingat bentuk tandanya?" tanya Marco.
"Iya," jawab Seba terdengar yakin.
"Oke!" ujar Marco.
"Delta! Kamu bisa kembali menjadi manusia, dan menonton pertarungan Beta dan Seba," lanjut Marco.
"Apa? Kamu mau aku bertarung melawan Beta? Tentu saja, aku akan habis dihajarnya," ujar Seba yang terdengar panik.
"Tenang saja!" ujar Marco.
Delta kemudian tampak berjalan menjauh dari Seba dan Marco.
"Kamu mungkin tidak bisa bertarung dengan cukup kuat. Tapi paling tidak, kamu pasti tahu cara untuk menghindar dari serangan," kata Marco.
Seba menganggukkan kepalanya.
"Iya," jawab Seba.
"Kamu harus ingat tanda yang kamu lihat tadi! Tanda seperti itu ada di tubuh Beta. Dalam jarak dekat saat kalian bertarung, kamu pasti bisa menemukannya....
... Kalau kamu sudah melihat letaknya di mana, kamu cukup menendangnya dengan keras tepat di tanda itu," kata Marco menjelaskan kepada Seba.
Seba seakan-akan meragukan dirinya sendiri, dan kemungkinan besar kalau saat ini dia merasa cukup takut.
"Tenang saja! Beta tidak akan memukulmu hingga berlebihan. Karena aku akan mengawasi....
... Tapi, aku mau kamu memperlihatkan kemampuan terbaikmu," kata Marco.
Seba kemudian berjalan ke tengah-tengah halaman belakang rumah Marco, di mana Beta sudah berdiri menunggunya di situ.
Untuk beberapa saat awal pertarungan antara Seba dan Beta, kelihatannya Seba masih kurang percaya diri, hingga lebih sering berlari menjauh.
"Seba! Yakin dengan dirimu! Ingat yang aku katakan tadi!" teriak marco.
Setelah beberapa saat Seba berputar-putar didekat Beta, sambil menghindari serangan dari Beta, tiba-tiba Seba berlari masuk di sela-sela kaki Beta.
__ADS_1