
Marco tidak bisa mengendalikan perasaan bahagianya yang seakan-akan bisa meledakan dadanya, apalagi ketika melihat reaksi dari orang tua Bella, saat Bella memberitahukan kabar kehamilannya itu.
Baik Daddy dan Mommy Bella, terlihat tidak kalah bahagianya dibandingkan Marco dan Bella.
Mommy Bella hingga meneteskan air mata haru, dan hampir tidak mau melepaskan pelukannya dari Bella.
Begitu juga Ben, yang sampai-sampai berkali-kali mengucapkan selamat kepada Marco, bahkan berterima kasih, karena Marco dan Bella mau secepatnya memberikan mereka cucu.
"Benar-benar kabar yang luar biasa! Saya sempat mengira, kalau kalian akan menunda untuk memiliki keturunan...
Ternyata kalian mau memberikan kami tambahan kebahagiaan, sebelum kami menutup usia..."
Begitu kata Ben, dengan mata berbinar-binar sambil menepuk-nepuk bahu Marco.
Disepanjang perjalanan mereka kembali kerumah Marco, senyum diwajah Marco tidak pernah mengendur, dan sesekali melirik Bella disampingnya, yang tampak tersipu-sipu dengan pipinya yang merona merah.
"Sayang... Sudah cukup! Aku tahu kamu sedang senang. Tapi kamu membuatku merasa malu, kalau kamu melihatku terus seperti itu," kata Bella.
Marco hanya tertawa kecil, sambil tetap mengemudikan mobilnya perlahan, dijalanan kota yang lengang.
"Apa mungkin kamu akan lebih menyayangi anak kita, dan aku akan merasa iri dengannya nanti?" tanya Bella.
"Tentu saja tidak, sayang... Aku justru akan semakin mencintaimu," jawab Marco, lalu mengambil tangan Bella dan mencium punggung tangannya.
Setibanya mereka dirumah, setelah Marco membukakan pintu mobil untuk Bella, dan wanita itu keluar dari mobil, Marco kemudian menggendongnya lagi dan membawanya masuk.
"Sayang... Aku rasa, kamu sedikit berlebihan. Aku masih bisa berjalan," kata Bella memelas.
"Kata dokter tadi, kamu harus lebih banyak istirahat. Jadi, aku tidak mau melihatmu kelelahan," ujar Marco mantap.
Bella tertawa kecil, lalu membenamkan wajahnya didada Marco.
"Aku tetap harus banyak bergerak... Apa kamu mau aku nanti jadi lemah?" tanya Bella.
"Hmmm... Begitu, ya?! Kalau sesekali aku menggendongmu, rasanya tidak apa-apa," jawab Marco tidak mau kalah.
Marco memang sedang ingin memeluk kekasih hatinya itu, dan tidak mau menerima alasan apapun, agar dia menurunkan Bella dari gendongannya.
Ketika mereka berdua masuk kedalam rumah, disana Adaline dan Seba tampak sedang sibuk memasak didalam dapur.
Tidak ada Fint, Fent atau Beta yang terlihat.
Marco kemudian menurunkan Bella dari gendongannya, namun tetap merangkul pinggangnya dengan erat, seolah-olah dia tidak mau melepaskan wanita itu walau sekejap.
"Kalian sudah kembali!" kata Seba.
"Bagaimana? Apa Bella baik-baik saja?" tanya Seba.
__ADS_1
"Iya. Dia hanya sedang mengandung anakku," kata Marco.
Suasana diruangan itu mendadak menjadi hening, untuk beberapa saat.
"Itu berita yang bagus!" seru Seba yang tersenyum lebar, lalu setengah berlari menghampiri Bella dan memeluknya dengan erat.
"Selamat!" ucap Seba.
Adaline juga bergantian dengan Mommy-nya, memeluk Bella dan mengucapkan selamat untuknya, sebelum semua kembali seperti semula, dan Bella juga Marco duduk dimeja dapur.
"Kami memasak makan siang, dengan bahan-bahan makanan ada di lemari es," celetuk Seba.
"Iya. Terimakasih banyak atas bantuannya!" ujar Bella.
"Tidak perlu berterimakasih. Sudah seharusnya kami mengerjakan pekerjaan dirumah ini, dan bukan hanya berpangku tangan, menunggu untuk dilayani," kata Seba.
Setelah memastikan kalau memang hanya ada Seba dan Adaline yang berada didalam rumah, Marco jadi penasaran dengan keberadaan Beta dan saudara-saudara laki-laki Adaline.
"Dimana Beta, Fint dan Fent?" tanya Marco.
"Fint dan Fent sedang berada di gudang pertanian," jawab Adaline.
"Beta masih dibelakang rumah. Dia tidak berganti bentuk karena tidak memiliki pakaian ganti. Pakaian Fint atau Fent tidak ada yang cukup untuk dia pakai," jawab Seba.
"Sebenarnya bisa saja, tapi katanya dia tidak tahan kalau harus memakai pakaian yang sempit," lanjut Seba.
Marco hampir tidak bisa bernafas dengan baik, karena pakaiannya yang membuatnya merasa terjepit, karena ukurannya yang kekecilan, dan senantiasa merasa khawatir kalau-kalau kancing pakaiannya akan terlepas, atau bisa saja pakaian yang dia pakai akan terkoyak.
Marco tertawa sendiri, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Sayang... Aku tinggal kamu dulu, ya?! Aku akan meminjamkan pakaianku untuk Beta," kata Marco.
"Iya," jawab Bella singkat.
"Tolong, biarkan Bella beristirahat saja! Aku tidak mau dia terlalu lelah," kata Marco, sambil melihat Seba dan Adaline.
Seba dan Adaline terlihat menganggukkan kepala mereka, tanda setuju dengan permintaan Marco.
"Jangan mengerjakan apa-apa! Biarkan Seba dan Adaline membantumu," kata Marco kepada Bella.
Bella menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Marco.
"Iya. Kamu pergi saja sana! Aku tidak akan kelelahan kalau cuma duduk saja disini," kata Bella yang tampak mulai terganggu dengan sikap protektif Marco.
"I love you, honey!" ucap Marco lalu mencium kening Bella.
"Love you too..." jawab Bella datar, dan tampak seperti terpaksa saja mengatakannya.
__ADS_1
"Sayang...! Kamu marah kepadaku?" tanya Marco.
Bella menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan kasar.
"Tidak," jawab Bella.
"I love you, babe!" ucap Bella, lalu tersenyum lebar.
"Oke! Love you...!" ucap Marco, kemudian berjalan masuk kekamar, dan kembali dari sana sambil membawa pakaian untuk Beta.
Dibelakang rumah Marco, Beta masih dengan bentuknya sebagai serigala, tampak duduk bersantai dibawah pohon maple.
Beta terlihat mencolok dengan warna hitamnya, diantara daun maple yang rontok ketanah, yang berwarna oranye kemerahan.
"Beta! Kamu bisa pakai pakaianku!" kata Marco, lalu menyerahkan pakaiannya kepada Beta.
"Tolong, letakkan saja disudut situ!" kata Beta, sambil menunjuk kesalah satu arah, dan berjalan kesana.
Marco meletakkan pakaian itu, ditempat yang sesuai dengan arahan Beta.
Betapa terkejutnya Marco, ketika melihat Beta dalam bentuk manusianya.
Marco yang menduga kalau Beta mungkin sebaya dengan Flints atau Seba, ternyata masih sangat muda.
Beta justru tampak sebaya dengan Marco.
Beta memiliki wajah yang tampan, dan postur tubuh yang tidak kalah bagus dibandingkan dengan Marco.
Meskipun ukuran tubuh Beta masih agak kecil sedikit daripada ukuran tubuh Marco, tapi masih lebih besar dibandingkan dengan Fint dan Fent.
Jika saja Beta dan Marco adalah pemuda biasa, maka mereka berdua bisa saling bersaing dalam mencari pasangan.
Marco benar-benar tercengang melihat Beta, dan hampir tidak bisa mengedipkan matanya.
"Ada apa?" tanya Beta yang terlihat bingung.
"Eh! Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut, karena aku mengira kamu sudah tua. Atau paling tidak sudah seperti Flints dan Seba," jawab Marco.
"Hmmm... Apa kamu tidak terpikir, kalau bagaimana mungkin aku masih menjadi Beta, kalau aku sudah terlalu tua?" tanya Beta.
"Memang tidak. Aku tidak pernah terpikirkan tentang itu," jawab Marco.
"Aku menggantikan posisi Daddy-ku," kata Beta.
"Apa Daddy-mu masih hidup?" tanya Marco.
"Masih. Tapi karena usianya, membuat kekuatannya tidak sesuai lagi untuk tetap bertahan menjadi Beta," jawab Beta.
__ADS_1
"Berbeda ceritanya dengan Alpha, selama dia belum mau menyerahkan kekuatannya, maka selama Alpha masih hidup, dia akan tetap menjadi yang terkuat," lanjut Beta.