
Kelihatannya pertarungan antara Seba dan Beta, memang akan berakhir dengan kemenangan bagi Seba.
Sesaat setelah berada di bagian bawah Beta, Seba terlihat menendang dada Beta, dan sesuai perkiraan Marco, dengan auman yang nyaring dan bergetar, Beta terbanting ketanah.
Beta meringis kesakitan, dengan nafasnya yang tersengal.
Seba kemudian berlari kearah Marco.
"Aku bisa mengalahkan Beta!" seru Seba yang terdengar bersemangat.
"Iya," ujar Marco.
"Sekarang, kamu bisa kembali ke bentuk manusia, dan melakukan apa yang sedang kamu lakukan, sebelum aku memanggilmu tadi," lanjut Marco.
"Baik!" jawab Seba, kemudian pergi menjauh dari sana.
"Bagaimana? Apa kalian percaya dengan perkataanku sekarang?" tanya Marco dengan rasa bangga
Marco tidak terlalu menghiraukan raut wajah dari Gamma dan Delta, yang tampak sangat keheranan, dan seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Dengan santainya, Marco kembali duduk dibawah pohon maple, hingga hampir berbaring disana.
"Sebaiknya kalian membantu Beta berdiri! Daripada hanya melamun disitu!" ujar Marco.
Perkataan Marco menyentak Gamma dan Delta, yang kemudian setengah berlari, pergi menghampiri Beta.
Marco hampir saja tertidur dibawah pohon itu, ketika dia mendengar kemarahan Beta yang mengomel kepadanya.
"Haruskah kamu menyuruh Seba memukulku sekeras itu?" tanya Beta yang terdengar sangat kesal.
"Apa kamu lebih suka kalau aku yang memukulmu?" tanya Marco tanpa melihat kearah Beta, dan tetap memejamkan matanya.
"Bukankah, aku tadi sudah bilang kalau kamu sengaja menyakiti Gamma, maka aku yang akan membalasmu," lanjut Marco datar.
Kali ini terdengar suara gelak tawa dari Gamma dan Delta, sedangkan Beta tidak bisa lagi memarahi Marco, dan hanya terdiam disana
Marco kemudian membuka matanya, dan melihat Beta yang wajahnya kini merah padam.
"Maafkan aku... Aku tidak tahu kalau Seba memiliki tendangan yang cukup keras. Mengingat, kalau dia hanyalah wanita yang sudah mulai berumur," ujar Marco.
Gelak tawa dari Gamma dan Delta semakin renyah dan nyaring terdengar di tempat itu.
"Tidak ada yang perlu kalian tertawakan!" ujar Marco tegas.
"Apa kalian tidak sadar, kalau kalian semua juga bisa dihajar jatuh oleh shapeshifter biasa?" tanya Marco.
Akhirnya, baik Gamma maupun Delta, berhenti tertawa saat itu juga, lalu duduk didekat Marco bahkan ikut berbaring dengan Marco disitu.
Beta tampak masih kesal, dan tidak mau duduk bergabung disitu, malahan masih berdiri tegak dengan memalingkan wajahnya kearah lain.
__ADS_1
"Kalau kamu terus-terusan merajuk, wajahmu akan jadi lebih berkeriput jika dibandingkan dengan Flints," ujar Marco.
"Dasar brengsek! Kamu sama saja brengseknya denganku!" ujar Beta, lalu tersenyum lebar.
"Tapi, kamu tetap mendukungku 'kan?" tanya Marco yang hampir tertawa.
"Tentu saja..." jawab Beta, lalu ikut duduk dan berbaring didekat Marco.
Sejuknya udara dibawah pohon itu, ditambah lagi dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi, memang memanjakan mereka, hingga mereka berempat hampir tertidur disana.
"Bagaimana caranya, agar kita bisa dengan cepat mengajari shapeshifter yang lain, tentang tanda itu?" tanya Gamma tiba-tiba.
"Nanti saja kita pikirkan itu! Aku rasa dalam beberapa menit kedepan tidak akan terjadi apa-apa..." tukas Delta.
"Iya. Aku sangat lelah... Aku mau tidur walau sebentar," kata Beta.
Marco hanya mendengarkan mereka bicara, tanpa mau menanggapinya, karena dia juga merasa cukup lelah dan mengantuk.
Entah berapa lama Marco tertidur di sana, hingga Bella yang bersandar di dadanya, membuat Marco terbangun tiba-tiba dan hampir saja meloncat.
"Aku mengganggumu?" tanya Bella pelan.
"Tidak. Aku hanya terkejut," jawab Marco, lalu mengecup kepala Bella sambil memeluknya.
Bukan hanya Marco yang tertidur nyenyak di situ.
Beta, Delta, dan Gamma juga tampak masih tertidur pulas, ketika Marco melihat ke samping-sampingnya.
"Apa kamu mau aku siapkan camilan sore untuk kalian?" tanya Bella.
"Hmmm... Iya," jawab Marco.
"Tapi, nanti saja dulu," lanjut Marco, lalu mempererat pelukannya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Bella.
Marco hanya terdiam, karena tidak tahu apa yang mungkin enak untuk dimakan saat itu.
"Bagaimana kalau *korvapuusti dengan kopi panas?" tanya Bella.
(*korvapuusti \= sejenis roti kayu manis, khas Finlandia.)
"Iya. Terserah kamu saja," jawab Marco.
"Kalau begitu aku pergi membuatnya dulu," kata Bella, lalu bersiap untuk kembali ke rumah.
"Sebentar..."kata Marco kemudian mencium Bella.
"Minta bantuan Seba membuatnya, agar kamu tidak terlalu lelah," lanjut Marco.
__ADS_1
"Iya... Love you!" ucap Bella.
"Love you too..." kata Marco.
Bella kemudian terlihat menjauh, hingga akhirnya masuk kedalam rumah melewati pintu belakang.
"Pasanganmu cantik, juga pintar membuat kue..." celetuk Gamma tiba-tiba.
"Sejak kapan kamu bangun?" tanya Marco.
"Sejak kamu menciumnya tadi... Benar-benar membuatku merasa iri," jawab Gamma.
"Apa aku boleh tahu? Kapan kalian berdua bisa saling mengenal?" tanya Gamma.
"Hmmm... Aku sekelas dengannya waktu masih di primary school. Tapi, kami sudah saling mengenal jauh sebelumnya, karena kedua orang tua Bella berteman dengan orang tuaku," jawab Marco.
"Berarti, kamu sempat merasa bersekolah di sekolah umum untuk manusia biasa?" tanya Gamma.
"Iya. Memangnya kalian bagaimana?" tanya Marco.
"Setahuku, semua pelarian tidak ada yang bersekolah di sekolah umum seperti itu...
Mereka bisa membaca dan menghitung, hanya di ajari oleh masing-masing orang tuanya dirumah nya," jawab Gamma.
"Itu sudah berlangsung turun temurun... Kecuali yang tinggal di pemukiman utama. Disana ada sekolah meski bukan untuk umum, dan hanya untuk shapeshifter," lanjut Gamma.
"Jadi kamu hanya di ajari oleh orang tuamu?" tanya Marco.
"Oh, tidak begitu. Keluarga kami masih tinggal di kastil, hingga aku berusia dua belas tahun, kalau tidak salah. Jadi, aku masih sempat belajar di sekolah yang ada di pemukiman utama," jawab Gamma.
"Tapi, setelah keluar dari kastil dan hidup sebagai pelarian, aku tidak lagi melanjutkan sekolahku, karena kaum pelarian tidak boleh datang ke pemukiman utama sesuka hatinya saja," lanjut Gamma.
"Kenapa tidak melanjutkan sekolah di sekolah umum?" tanya Marco.
"Hmmm..." Gamma bergumam lalu tertawa kecil.
"Terlalu beresiko... Bisa-bisa penyamaran kami akan terungkap, kalau tiba-tiba aku berubah jadi hewan di sekolah di antara anak-anak manusia biasa," jawab Gamma.
"Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak takut akan terjadi hal itu?" tanya Gamma.
"Aku dulu baru bisa berubah bentuk di usia sepuluh tahun, jadi aku tidak pernah memikirkan apa-apa. Setelah itu, barulah aku jadi lebih berhati-hati, agar jangan sampai aku berubah bentuk tiba-tiba...
Tapi, aku masih bisa melanjutkan sekolah, hingga usiaku tujuh belas tahun," jawab Marco.
"Mungkin, kalau Daddy-ku tidak meninggal dunia waktu itu, bisa saja aku meneruskan sekolahku hingga di universitas," lanjut Marco.
"Kamu pasti kebingungan waktu perubahan bentuk pertama kali, tanpa ada siapa-siapa yang bisa menjelaskan ada apa denganmu..." kata Gamma.
Marco terdiam.
__ADS_1
"Flints sudah menceritakan kepadaku, bagaimana kamu yang selama ini hanya tinggal dikelilingi oleh manusia biasa," kata Gamma lagi, seolah-olah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Marco.