SHAPESHIFTER

SHAPESHIFTER
Part 19


__ADS_3

Entah Bella sengaja atau tidak, tangannya yang hangat saat menempel didada Marco, mampu membuat detak jantung Marco meningkat tajam.


Marco menatap Bella lekat-lekat, meski Bella tampak terpaku menatap dada Marco yang di sentuhnya.


Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara, keduanya hanya terdiam dengan posisi yang sama.


Bella mengangkat pandangannya, melihat mata Marco yang menatapnya, lalu tersenyum.


Marco memberanikan diri untuk menunduk perlahan-lahan, lalu mencium bibir Bella.


Bella tidak menolaknya, dan hanya terdiam, seolah-olah membiarkan Marco menciumnya.


Marco jadi semakin berani.


Kedua tangannya diangkat Marco, dan memegang kedua lengan Bella.


Wanita itu tetap tidak menolak perlakuan Marco kepadanya.


Perlahan-lahan, dengan lembut Marco memeluk Bella dengan kedua tangannya.


Kedua telapak tangan Bella, menempel dikulit dada Marco dari sela jubah mandi yang terbuka.


Saat ini, Bella mungkin sama canggungnya dengan Marco, karena tangannya yang hangat, namun diujung-ujung jarinya terasa agak dingin.


Marco tidak berhenti mencium bibir Bella, karena Bella juga membalas ciuman Marco, yang semakin mempererat pelukannya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Marco mengangkat Bella, yang kini melingkarkan kedua tangannya dileher Marco, begitu juga kedua kaki Bella yang melingkar di pinggang Marco, yang memegang bokong Bella agar tidak terjatuh.


"Apa kamu tidak akan marah denganku?" tanya Marco hati-hati.


Bella tidak menjawab pertanyaan Marco, dan hanya membenamkan sebagian wajahnya dibahu Marco.


Sambil tetap menggendong Bella, Marco membawa wanita itu kekamarnya, dan membaringkannya diatas tempat tidurnya.


Marco membuka pakaian Bella, sampai tidak tersisa apa-apa yang menutupinya.


Dari bibir Bella, Marco merayap turun, dan menyentuh semua kulit Bella yang terbuka, dengan mulutnya.


Perlahan-lahan, Marco melakukannya benar-benar dengan lembut, dan sangat perlahan-lahan.


Dengan berfokus hanya kepada wanita itu, Marco sama sekali tidak terpikirkan tentang hewan, meski hanya seekor lalat sekalipun, sehingga tidak ada sedikitpun tanda-tanda, kalau dia akan berubah menjadi sesuatu yang lain.


Marco bisa dan berhasil melepaskan nafsu seksualnya, tanpa membuat Bella merasa takut.


Wanita itu, bahkan tampak menikmatinya, ketika Marco sudah diatas, menindih tubuhnya, dan bergerak teratur untuk memuaskan satu sama lain.


***


Entah Marco harus merasa senang, atau harus khawatir.


Meski kejadian itu hanya terjadi secara mendadak, dan seolah-olah tanpa ada hubungan yang pasti, tapi kalau begitu keadaannya, ikatan jiwa itu akan tetap ada dan sudah terjadi.

__ADS_1


Baik itu akan menjadi cinta atau hanya sekadar nafsu belaka, ketika Marco melakukannya dengan Bella, sama saja seperti Marco memberikan sebagian dirinya kepada wanita itu.


Bella sudah tertidur disampingnya, dan Marco yang masih terjaga, menatap wajah Bella yang terpapar cahaya lampu meja, yang ada diatas meja disisi tempat tidur dimana Marco berbaring menyamping.


Apa mungkin, suatu saat nanti, Marco bisa mengakui bahwa dia itu mahluk apa, kepada Bella?


Mungkin karena merasa kedinginan, tanpa membuka matanya, Bella tampak bergeser semakin mendekat kepada Marco, sampai benar-benar menempel di badan Marco.


Marco memeluk Bella erat-erat, dan membagi kehangatan tubuhnya dengan wanita itu.


Tak lama, Marco tidak ingat apa-apa lagi, dan tampaknya dia bisa tertidur dengan nyenyak malam ini, tanpa mengalami mimpi yang biasanya mengganggunya setiap malam.


Atau itu hanya harapan Marco saja?


Karena ketika dia terbangun pagi itu, masih dengan badannya yang terasa sakit, dan penuh dengan ingatan, akan tempat dan suara yang ada didalam mimpinya.


Bella masih tertidur, ketika Marco perlahan-lahan beranjak turun dari atas tempat tidur.


Marco menutupi badan Bella dengan selimut, sebelum dia memakai pakaiannya, dan berjalan keluar dari kamar.


Sambil mengerjakan rutinitas paginya, Marco senyum-senyum sendiri, mengingat apa yang dia lakukan bersama Bella semalam.


Menyenangkan.


Kali yang pertama dan memuaskan.


"Duke! Apa kamu mau aku mengadopsi teman untukmu?" tanya Marco.


Duke yang sedang menggiring ayam-ayam keluar dari kandang, menggonggong kearah Marco sambil mengibas-ngibaskan ekornya kesana kemari.


"Tunggu sampai aku siap untuk menambah anggota keluarga baru, aku akan mengadopsi satu lagi yang sepertimu!" kata Marco, sambil mengangkat keranjang-keranjang telur, keluar dari gudang pertanian.


Ketika Marco meletakkan keranjang-keranjang telur diatas lantai beranda samping rumahnya, dari dalam rumah masih sepi, dan tidak terdengar apa-apa.


Bella mungkin masih tidur.


Marco melanjutkan pekerjaannya, yang masih harus mengambil beberapa keranjang telur lagi, dari gudang pertanian.


Ketika Marco sudah selesai mengangkat semua telur-telur dari dalam gudang pertanian, dan masuk kedalam rumah untuk mensterilkan susu, Bella baru keluar dari kamar, dengan mengenakan jubah mandi milik Marco.


Marco hanya melihatnya sambil tersenyum sebentar, lalu kembali menghadap kompor yang sudah menyala, dengan panci besar berisi susu diatasnya.


"Maafkan aku! Aku bangunnya kesiangan..." celetuk Bella, lalu memeluk dari belakang Marco, yang berdiri didepan kompor.


"Tidak apa-apa..." kata Marco, yang tersenyum lebar, karena Bella yang memeluknya erat-erat.


"Apa kamu lapar?" tanya Marco.


"Iya..." jawab Bella, lalu melepaskan pelukannya dari pinggang Marco, dan pergi membuka lemari es.


"Apa yang mau kamu makan?" tanya Bella, sambil tetap memegang pintu lemari es, dan membiarkan benda itu tetap terbuka.

__ADS_1


"Apa saja, tidak masalah!" jawab Marco.


Marco lalu sibuk menuangkan susu kedalam botol-botol kaca, dan tidak memperhatikan lagi apa yang sedang dilakukan Bella.


Susu-susu segar, sudah terkemas dengan baik, botol-botol susu itu kemudian dibawa Marco keluar dari rumah, dan memasukkannya ke dalam bak belakang mobilnya.


Bagitu juga telur-telur ayam milik Marco, yang disusun rapi didalam kotak-kotak kayu.


Ketika Marco kembali kedalam rumah, sarapan yang dibuat Bella baru saja selesai, dan diletakkan Bella diatas meja.


"Sarapan bersamaku dulu, sebelum kamu mengantar barang-barang itu," kata Bella, lalu duduk dimeja makan, dan menuangkan susu segar kedalam dua buah gelas.


Diatas meja dalam dua piring terpisah, terlihat berisikan roti isi dan potongan kentang goreng.


Marco lalu ikut duduk, dan memakan sarapannya disitu bersama Bella.


"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Bella tiba-tiba, saat mereka baru mulai makan.


Marco terbelalak, dan sedikit gelagapan.


Apa yang dicurigai Bella?


"Rasanya, belum ada yang bisa sekuat itu, kalau tidak memakai apa-apa," kata Bella lagi.


Marco berhenti mengunyah makanannya, dan menatap Bella lekat-lekat.


Kelihatannya, Bella sedang membicarakan hal yang lain.


"Kamu mengerti maksudku?" tanya Bella.


Marco menggelengkan kepalanya.


"Tidak!" jawab Marco.


"Tadi malam, saat bersamaku... Apa kamu memakai sesuatu? Mungkin... Obat-obatan?" tanya Bella.


Seketika itu, Marco merasa malu, menjadi kikuk, dan menundukkan wajahnya, dan hampir tertawa.


Marco berusaha menenangkan dirinya, kemudian kembali mengangkat wajahnya, dan melihat Bella, yang sekarang sedang menatap Marco lekat-lekat.


"Tidak... Aku tidak memakai apa yang kamu kira..." jawab Marco malu-malu.


"Hmmm... Benarkah?" tanya Bella, seakan-akan ingin memastikan.


"Iya," jawab Marco.


"Oke! Aku percaya denganmu," kata Bella, lalu lanjut memakan sarapannya.


"Kamu tidak marah denganku?" tanya Marco hati-hati.


"Marah? Tidak... Aku menyukainya!" jawab Bella, yang terlihat yakin.

__ADS_1


__ADS_2